night!

Belakangan, saya lagi kangen banget untuk jalan-jalan malam. Baik naik mobil, bonceng motor atau jalan kaki – jalan di waktu malam, apalagi saat jalanan udah sepi, itu enak banget. Dulu, waktu masih kuliah di Bandung, saya paling senang kalau ngambil jadwal Xtrans Jakarta-Bandung (atau sebaliknya) after jam 11 dini hari. Karena saat itu umumnya jalanan udah sepi, terus penumpang yang naik (kalaupun lagi penuh) pasti udah pada tepar di tempat duduk masing2, jadi sepi. Cuma ada saya, lampu2 jalanan berwarna kuning yang terang-redup berganti sesuai kecepatan mobil, dan lampu dari mobil lain yang jumlahnya juga ga banyak. Apalagi kalau ditambah AC mobil yang super dingin, my shuffle ipod, jaket hangat sama bekal cheese burger dan ice milo yang saya beli sebelumnya di McD sebelah Xtrans Bandung (tetep ya harus ada makanan), udah deh kondusif banget buat bengong2 cantik.

Kalau lagi ada masalah, biasanya bengongnya disertai mata berkaca2 (mellow), atau kalau lagi terlalu kreatif suka ngebayangin jadi karakter film layar lebar yang harus ngungsi sementara karena situasi lagi ekstra berbahaya, jadi terpaksa harus meninggalkan keluarga dan teman (program witness protection gitu). Pernah juga ngebayangin kalau ada manusia2 yang diem2 berkekuatan super tau2 lari di sebelah mobil (kok mulai horor ya) atau loncat di antara lampu2 jalanan dan plang hijau tua penunjuk arah yang tinggi2 itu, entah ngapain, parkour kalik. Atau kalau mau lebih najong lagi, ngebayangin lagi duduk2 di kursi belakang, tau2… jreng!, yang duduk di sebelah itu Surya Saputra (TANPA DIDAMPINGI ISTRI. aaaaaakkk gue pasti minta turun, atau duduk di sebelah pak supir, di atas rem tangan).

Terus kalau udah bosen ngayal2 absurd, ya tidur aja deh sampai tempat tujuan (antiklimaks).

Intinya sih, inpirasi dan ketajaman indra saya lebih kuat di waktu malam. Mungkin itulah juga sebabnya selama ini saya susah banget nentuin mau menggambar siang atau malam. Gambar malam berarti mengorbankan my beauty sleep (kulit berminyak+sensitif pantang bergadang), gambar siang berarti gambar dengan keadaan kurang sip gitu. But that’s life, jadi seperti apa yang selalu saya dan Mama Didin bicarakan di akhir curhatan2 dangdut kami, dijalani aja.

Serius deh lagi kangen banget muter2 malam2. Saya jadi inget dulu waktu saya masih SMP, saya pernah ikut trip sekeluarga besar ke Solo, naik mobil beramai-ramai, konvoi. Berangkat malam dan rencananya sampai di tempat tujuan saat matahari sudah terbit. Di tengah perjalanan, saat jam menunjukkan kira2 pukul 1 pagi, Ibu saya mengeluh harus ke belakang, maka mobil kami memutuskan untuk mampir di sebuah kedai teh di Jatibarang. Saya langsung terkagum-kagum sama situasi disana. Romantis, batin saya waktu itu.

Jangan bayangkan tempat yang indah, dengan api lilin bergoyang2, waiter2 berseragam tuxedo dan alunan musik klasik ya, karena selera saya memang agak nyeleneh, jauh dari standar cewek normal. Kedai teh itu terletak di sebuah jalanan yang sepi, diapit oleh deretan rumah dan toko yang sebagian besar dindingnya terbuat dari kayu, sedangkan sisanya bercat warna norak yang sudah mengelupas. Karena sudah malam, sumber pencahayaan malam itu cuma satu lampu jalan berwarna kuning remang dan lampu dari kedai teh. Anginnya kencang, membuat debu2 jalan mengambang ke udara, pohon-pohon bergemerisik. Kayak kota koboi lah, cuma lokasinya lokal, di pulau Jawa :D.

Kedai-nya sendiri juga ga elit, hanya menyediakan teh, kopi tubruk dan pisang goreng yang rasanya super legit. Selain kami, tamu2 yang datang rata-rata supir truk, mengobrol dengan logat macam2, tapi yang saya dengar jelas cuma logat Indramayu. Meja kayunya berderit, dilapisi taplak plastik yang sudah agak mengelupas. Kursi plastiknya usang, beberapa malah sudah diperbaiki paksa dengan ikatan rafia seadanya. Sebuah tivi 14 inch menampilkan sinetron jadul yang hanya diputar ulang saat semua orang sudah tidur. Udara malam yang dingin menusuk membuat saya harus memasukkan kedua tangan ke kantung jaket dan merapatkan syal yang melilit leher.

Tapi anehnya, di tengah2 kebisingan logat yang campur aduk, tiupan angin dingin, dan aroma kopi yang kental, saya merasa tenang. Bahagia. Bahkan ada rasa excited yang tidak bisa saya jelaskan, menimbulkan sensasi kupu-kupu dalam perut layaknya orang jatuh cinta. Bukan karena ada yang ganteng ya, bukan. Tapi saya rasa saya jatuh cinta sama situasi di sana. Saat itu saya berpikir, one day, saya mau balik lagi ke tempat ini, sendirian. Saya mau menikmati dan menghirup suasana ini lebih lama, tanpa desakan untuk melanjutkan perjalanan, karena saya sudah sampai di tujuan.

Sudah bertahun-tahun berlalu dan saya belum jadi2 juga mengunjungi kedai teh yang tak bernama itu. Mungkin sekarang kedai teh itu sudah berubah menjadi restoran Padang, tepat di depan minimarket Alfamidi dan warung pulsa 24 jam bercat kuning biru hijau. Mungkin bukan hanya satu lampu jalanan yang menyala, tapi jalanan itu sudah terang benderang oleh lampu-lampu billboard. Mungkin bintang sudah malu menampakkan diri, kalah pamor dengan cahaya yang mereka naungi. Mungkin….mungkin kenangan kedai teh itu memang tinggal ada di memori saya saja.

Tapi sensasinya masih jelas terasa. Kupu-kupu dalam perut. Udara dingin dan aroma kopi tubruk.

Saya rasa saya mulai menyukai perjalanan malam sejak saat itu.

Setelah itu, saya menemukan beberapa tempat favorit saya lainnya. Sebuah restoran nasi rames yang hanya buka malam hari di Bandung, yang penjualnya selalu memanggil pengunjung wanita dengan Geulis dan prianya Kasep. Meskipun warungnya sendiri berlokasi di lantai dasar sebuah gedung tua, pengunjung dibiarkan makan hanya beratapkan langit dan duduk di kursi plastik tanpa sandaran. Selalu ada satu-dua pengunjung yang menumpahkan teh botol atau makanan, karena minimnya fasilitas bernama meja. Kucing-kucing liar berjaga, menunggu jatah makanan untuk mereka.

Tapi anehnya, lagi-lagi saya jatuh cinta.

Begitu juga dengan sebuah jalan di pusat Jakarta. Tempat berdiri sebuah mall kecil yang sudah eksis sejak zaman saya masih minum susu dalam botol. Jalan tempat saya membeli somay super enak berukuran besar, dimsum murah meriah, dan bakpau yang sekarang tidak bisa saya beli lagi karena konon mengandung minyak babi. Saat malam mulai semakin larut dan toko-toko mulai tutup, jalanan itu menjadi sedikit lebih lengang tanpa mobil2 yang parkir seenaknya dan kemacetan di perempatan lampu merah. Satu2nya aktivitas adalah sekumpulan penjual gerobak dan kaki lima yang menjajakan jualannya, dan para pembeli yang mencari snack malam. Pengunjung duduk di meja dan kursi kayu yang hanya dinaungi langit. Satu dua pengamen memainkan musiknya dari meja ke meja, menyanyikan lagu apapun yang sedang hits saat itu.

Saya juga merindukan sebuah kafe yang menempel di sisi gedung mall berlambang pohon palem. Saat malam mulai larut dan cuaca cukup cerah, jendela-jendela besar kafe tersebut yang menghadap ke sebuah taman air mancur dibiarkan terbuka lebar. Angin bertiup cukup kencang di taman tersebut, karena letaknya yang diapit oleh gedung mall dan gedung parkir. Air mancurnya bukanlah dari sebuah bak yang berisi air menggenang, tapi lantai berlubang-lubang kecil yang memuncratkan air bergiliran, hampir mirip seperti air mancur Brooklyn Museum of Art di New York. Kafenya didekor sangat sederhana dan bersahabat, satu sisi berbatasan dengan dapur, satu sisi lainnya dilengkapi dengan sebuah bar yang rak-raknya penuh dengan botol minuman berwarna warni. Bartendernya berseragamkan kemeja putih dan aprom berwarna hijau lumut tua. Pintu masuknya ada dua, satu pintu yang menghadap air mancur yang sudah saya gambarkan sebelumnya, dan satunya lagi pintu menuju departemen store mall tersebut, yang dihiasi display cake dengan lapisan gula berkilau yang menggugah selera. Awalnya saya kesana hanya untuk mencicipi Red Velvet Cake yang rasanya luar biasa maha enak. Tapi siapa sangka saya juga jatuh cinta dengan suasananya.

Setelah meneliti semua tempat favorit saya itu, sepertinya bagi saya tempat yang romantis itu punya 5 syarat :

  1. malam dini hari
  2. tempat yang saya datangi sendiri, atau dimana saya bisa berkhayal sesukanya
  3. berlampukan kuning remang-remang
  4. akses udara bebas (jendela besar/atap langit)
  5. dingin

Sisanya bonus, apakah beraromakan kopi tubruk, sedang dalam perjalanan, ataukah menghadap air mancur.

Gara2 cerita begini saya jadi makin kangen jalan-jalan malam :D. Tapi gimana caranya ya biar ga bikin khawatir orang rumah? -_-; (kuliah merantau jelas lebih mudah kemana-mana)

berpikir keras,

Manda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s