Movie and Book Review : The Perks of Being a Wallflower

Free Web Proxy

a wallflower is a shy or unpopular individual who doesn’t socialize or participate in activities at social events. He or she may have other talents but usually does not express them in the presence of other individuals. The term comes from the image of a person isolating themselves from areas of social activities at ballroom dances and parties, where the people who did not wish to dance (or had no partner) remained close to the walls of the dance hall.

Oke ini bakal kupas tuntas ampe ngelotok ya. Setelah menunggu2 sekian lama, sampe bela2in baca novelnya dulu, akhirnya saya nonton The Perks of Being a Wallflower juga! tadinya sih mau nungguin suplai dari sepupu saya si Ombink, tapi tiba2 hari ini kepengen liat Ezra Miller, jadi sekalian aja nonton filmnya.

Seperti biasa, biarlah saya kasih review tanpa spoiler-nya dulu :

The Perks of Being a Wallflower (2012) -> score 4 dari 5, cocok buat…… buat semua orang di atas 15 tahun? ini tentang fase hidup yang semua orang pasti melewati sih, fase remaja, SMA menuju kuliah gitu. Buat yang suka film2 genre psikologi, terutama yang menyenggol2 soal friendship, yang introvert, yang punya temen introvert, yang lagi nunggu kelulusan, disarankan nonton yah :). Terus yang suka baca, disarankan baca juga bukunya, novel berjudul sama karya Stephen Chbosky (dia juga yang direct filmnya). Gue sih pribadi lebih suka novelnya :D.

Sekarang review aslinya (bakal panjang ya gue ceramahnya, ini nunggunya lama buat bisa bahas tuntas) :

Continue reading “Movie and Book Review : The Perks of Being a Wallflower”

The Penderghast

Sebelum ini, saya selalu blank kalau ditanya soal rencana berkeluarga. Secara ini adalah topik favorit yang seringkali ditanyakan di acara-acara semacam… Lebaran, Idul Adha, Ulang Tahun, Kawinan, Sunatan, Reuni, Bukpus (loh? kok ini kayak jadi ngelist acara2 dalam setahun ya? *nyinyir*) jelas banyak sekali momen2 dimana saya terpaksa menjawab keingintahuan orang2. Awal2 sih sempet berasa agak tertekan ya, karena seakan2 harus menjawab harapan banyak orang untuk beranak-pinak, tapi setelah paham bahwa pada kenyataannya sedikit sekali orang yang benar2 bertanya karena peduli (kebanyakan karena gak tau mau ngomong apa lagi), dan fakta bahwa ibu saya sampai saat ini juga masih cool2 aja, saya juga jadi santai aja jawabnya.

Sejujurnya, dari dulu itu saya selalu kepengen punya anak. Kalau bisa makin banyak makin bagus soalnya saya suka mikirin nama2nya… (udang di balik batu). Pokoknya udah jelas lah nanti kalau punya anak laki mau dinamain siapa, anak perempuan siapa, terus nanti pas hamil maunya disuruh denger lagu apa (lupakan gubahan klasik! anak gue harus denger Louis Prima sama Caro Emerald!), pas udah lahir bakal ditawarin les apa aja, dll dsb. Soal anak dan parenting mah mimpinya udah macem2 ya, tapi saya gak pernah bisa mikirin, kehidupan pernikahan macam apa yang saya inginkan, bahkan pernah juga saya berencana untuk ga menikah dan adopsi aja.

*dikejar penghulu*

Continue reading “The Penderghast”

Mistake.

taken from http://www.stockfreeimages.com

Halohalohalo,

Sebenernya sekarang lagi dikejar deadline gambar, tapi entah kenapa malam ini lagi bosennn ampun2an, jadi memutuskan untuk nulis2 barang sedikit. Pertama-tama, semoga banjir Jakarta cepet surut, yang mengungsi semoga tetep sabar, tetep kuat, tercukupi makan, minum, kesehatan dan tetep bisa berpikir positif, terus berdoa, terus inget sama gusti Allah, semoga rezeki segera lancar kembali, semoga korban jiwa tidak bertambah. Yang sehari2 mesti pulang pergi kantor dan terpaksa makan ati karena macetnya jadi tambah ampun2an, semoga bisa tetep sabar mengais rezeki. Amin.

Soal hujan yang awet ini, saya yang freelance dan kerjanya dari rumah juga kena imbasnya nih, 3 hari belakangan badan greges2 karena masuk angin, leher kaku, perut kembung, kepala pusing. Terus mau olahraga pagi juga suka ragu gara2 kemaren sempet dengan hepinya jalan pagi sekitar kompleks, tau2 ujan kecil2 (tapi kata Mamah : model2 ujan begitu tuh yang bikin masuk angin duduk) terus lari secepat kilat menuju rumah yang berakibat perut kram sampe sempet susah napas =)).

Ya maaf deh, kata Mama Didin kan aslinya belum boleh lari, disuruh jalan2 cepet aja.

Terus yaudah deh setelah hampir seminggu nunda2 olahraga, hari ini olahraga di rumah. Tapi aku senang karena tadi pagi, matahari sempet nongol sebentaaaaaaaar banget (terus langsung ngarahin muka ke jendela biar dapet vitamin, stabilisasi hormon, dll). Oh well, count your blessings, right?

Btw, bukan itu yang mau diomongin (padahal udah panjang banget nyerocosnya). Malam ini saya mau ngomongin soal mistake, kesalahan.

Continue reading “Mistake.”