The Penderghast

Sebelum ini, saya selalu blank kalau ditanya soal rencana berkeluarga. Secara ini adalah topik favorit yang seringkali ditanyakan di acara-acara semacam… Lebaran, Idul Adha, Ulang Tahun, Kawinan, Sunatan, Reuni, Bukpus (loh? kok ini kayak jadi ngelist acara2 dalam setahun ya? *nyinyir*) jelas banyak sekali momen2 dimana saya terpaksa menjawab keingintahuan orang2. Awal2 sih sempet berasa agak tertekan ya, karena seakan2 harus menjawab harapan banyak orang untuk beranak-pinak, tapi setelah paham bahwa pada kenyataannya sedikit sekali orang yang benar2 bertanya karena peduli (kebanyakan karena gak tau mau ngomong apa lagi), dan fakta bahwa ibu saya sampai saat ini juga masih cool2 aja, saya juga jadi santai aja jawabnya.

Sejujurnya, dari dulu itu saya selalu kepengen punya anak. Kalau bisa makin banyak makin bagus soalnya saya suka mikirin nama2nya… (udang di balik batu). Pokoknya udah jelas lah nanti kalau punya anak laki mau dinamain siapa, anak perempuan siapa, terus nanti pas hamil maunya disuruh denger lagu apa (lupakan gubahan klasik! anak gue harus denger Louis Prima sama Caro Emerald!), pas udah lahir bakal ditawarin les apa aja, dll dsb. Soal anak dan parenting mah mimpinya udah macem2 ya, tapi saya gak pernah bisa mikirin, kehidupan pernikahan macam apa yang saya inginkan, bahkan pernah juga saya berencana untuk ga menikah dan adopsi aja.

*dikejar penghulu*

Tenang bukan sesuatu yang besar kok, cuma berpikir terlalu panjang aja kayaknya =)), emang dasar udah hobi aja meribetkan sesuatu yang sebenernya sederhana.

Namun itu dulu, pemikiran saya berubah begitu saya menonton sebuah film berjudul “Easy A” (2010) yang disutradarai oleh Will Gluck. Bukan, ini bukan drama percintaan menye2 dunia pernikahan, genrenya komedi remaja kok. Film ini jugalah yang semakin mengangkat nama Emma Stone menjadi artis komedi yang handal. Beneran deh harusnya si Emma stay aja di genre komedi, bakat dan ekspresinya terlalu mubazir untuk sekedar main jadi Gwen Stacy di The Amazing  Spiderman. Bagus sih, tapi mubazir!.

Back to topic,

[AGAK SPOILER] “Easy A”ini menceritakan tentang seorang cewek bernama Olive Penderghast (Emma Stone) yang karena suatu dan lain hal namanya jadi sedikit tercemar di sekolah (bahasa kasarnya : dicap gamp*ngan). Padahal awalnya dia cuma ingin berbohong sedikit + menolong teman, tapi konsekwensi dari kebaikannya itu menjadikan dia sebagai objek gosip. Sampai cewek2 satu sekolah mulai risih dengan kehadiran Olive di sekolah – antara takut pacar2 mereka pada direbut sama mencemooh moral Olive yang dinilai kurang baik. Olive kesal (tapi gak bisa menjelaskan karena udah kadung janji mau bantuin si temen) dan memutuskan untuk membuat teman2nya semakin terganggu dengan mengakui gosip itu sebagai fakta.

Jadi ya ceritanya si Olive ini waktu kejadian itu berlangsung, sedang diberi tugas sama guru bahasa-nya untuk membuat laporan dari sebuah karya sastra berjudul The Scarlett Letter by Nathaniel Hawthorne. Novel yang bercerita tentang Hester Prynne, wanita yang terbukti berselingkuh terus dikenai hukuman sosial, harus menggunakan huruf A (dari kata ‘Adultery‘ – perselingkuhan) berwarna merah menyala di bajunya kemanapun dia pergi.

Karena kesal dan terlanjur terlibat dalam gosip, Olive mengubah fashion style-nya menjadi provok*tif (bukan baju sekolahan banget). Lalu terinspirasi dari Hester Prynne, diapun menambahkan huruf A berwarna merah menyala pada pakaian yang dikenakannya. Itulah mengapa film ini berjudul Easy A :).

Olive Penderghast with a scarlet ‘A’ on her chest

Menurut gue film-nya bagus banget, sampe kadang masih gue tonton ulang. Kalau gak percaya coba aja intip rating-nya di Rotten Tomatoes, 85% saja bung! (saya lebih klop sama Rotten Tomatoes ketimbang IMDB). Berbeda dari komedi cinta remaja dari Hollywood yang rata-rata adegan2nya suka bener2 ‘menjurus’, Easy A yang ngebahas soal seorang anak perempuan baik2 yang dituduh mur*han ini malah gak begitu parah loh (tapi tetep rating remaja). Semuanya bener2 mengocok perut.

Saya suka hampir semua tokohnya, saya suka ceritanya, pesan moralnya dapet, saya jadi kagum sama Emma Stone gara2 film ini, tapi yang paling berbekas buat saya adalah karakter orangtua Olive, yaitu pasutri Dill and Rosemary Penderghast (Stanley Tucci & Patricia Clarkson). Video di bawah ini salah satu potongan adegan saat Olive cerita kalau dia baru ngadep kepala sekolah karena ngomong suatu kata yang ga pantes diucapkan di kelas, tapi gak bisa ngomong ‘kata’nya apa karena adeknya lagi ada di ruangan yang sama (adek adopsi), terus Dill sama Rosemary coba nebak, tapi kelihatan oon bersama. Manis!

Mungkin karena genre film-nya yang komedi, makanya karakter keluarga si Olive ini juga lucu. Dilll sama Rosemary itu santai, menyenangkan, hepiiiii banget, suka bercanda2 gitu. Cara mereka ngebilangin Olive tentang masalahnya di sekolah dan tentang perubahan style-nya yang mulai gak pantes, itu sama sekali tidak menggurui, cenderung mengayomi, meyakinkan Olive untuk jangan ragu meminta bantuan, tapi tetap membiarkan Olive untuk mencoba mencari jalan keluarnya sendiri. Terus ada satu momen dimana mereka nonton DVD bareng dan lagi debat mau milih film apa, saya rasanya bener2 kepengen gabuung soalnya manis banget *loh* (itu foto yang paling atas postingan ini).

Olive and Mom, Rosemary.

Olive and Dad, Dill

Terus ada juga adegan dimana Rosemary (ibu Olive) secara tidak langsung cerita kalau dia itu dulu pernah pacaran sama gay, dan di lain kesempatan, Dill (bapaknya Olive) cerita kalau dulu pernah jadi gay, jadi mereka gak akan ngejudge kalau Olive pacaran sama gay (yah ada bagian itu juga). Menurut saya itu manis banget loh.

Bukannya saya kepengen nikah sama gay ya, karena tentu saja saya semua orang pasti pada akhirnya mengharapkan pasangan yang straight, kehidupan yang adem ayem sejahtera normal2 aja gak pake drama (meskipun iya, pernah janjian sama seorang gay untuk nikah kalau masing2 gak ada yang dapet jodoh di umur 35, tapi PUPUS PUPUS SOALNYA PERSAHABATANNYA RENGGANG. Sama gay aja GUE PUPUS *banting kepala ke meja* *lari ke pantai*). Tapi secara saya hidup di jaman dimana sex preferences udah jauh lebih beragam dan manusia2nya udah mulai terbuka tentang pilihan hidup mereka (at least sama orang2 terdekat), saya kenal beberapa orang, dan saya tahu cerita pedih mereka. Gak semuanya datang dari background broken home, atau penuh masalah, bahkan ada juga yang sehari2nya belajar untuk nantinya menyebarkan ajaran agama.

Melihat hal itu, cuma soal waktu untuk gue benar2 berpikir, apa yang akan terjadi kalau suatu hari nanti gue punya anak dan ternyata dia gak straight? Apa gue sanggup ngadepinnya? Apa yang harus gue bilang sama dia? apa harus gue paksa menjadi straight? apa harus gue biarkan dia memilih hidupnya sendiri meskipun dalam hati gue kebat-kebit karena gue menghormati dan meyakini ajaran agama yang gue anut? Apa gue sanggup kalau nantinya anak gue merasa gue sebagai ibunya gak bisa menerima dia apa adanya? Di luar masalah sex preferences, gimana coba kalau anak gue ternyata korupsi? atau masuk penjara? *knock2 on the wood*

Bagaimanapun gue berusaha untuk menjadi orang baik dan mendidik anak gue dengan semua yang terbaik yang bisa gue kasih, gue gak pernah tahu nasib. Who knows one day gue terlibat masalah yang membuat gue gak bisa merhatiin anak gue 100%? atau gak bisa ngasih yang terbaik? atau gue meninggal dan entah siapa yang nantinya akan mendidik dia? yang mana nantinya berpengaruh ke cara pikir dia? kalau udah kayak gitu, apa gue berhak untuk nyalahin dia kalau dia berbuat sesuatu yang diartikan ‘salah’ dalam agama dan masyarakat?

Gue mikir dan akhirnya gue memutuskan, mungkin memang ini semua tipe kejadian2 yang baru bisa lo bener2 tahu reaksinya apa saat lo benar2 mengalaminya, jadi dipikirin ampe mules juga gak akan ada jawaban yang bener2 pasti karena bisa aja yang terjadi malah kebalikannya. Tapi gue berharap apapun yang terjadi, susah senang, kepengennya hubungan antara gue dan anak2 gue nanti tetap terjaga. Bahkan saat ada perbedaan pendapat dan prinsip, gue tetep kepengen bisa sama2 makan bareng pas Lebaran, ngerayain ulang tahun, nonton2 DVD bareng2. Di antara kebahagiaan, kabar baik, pasti ada berantem, pasti ada nangis, ada marah, tapi gue berdoa semoga itu gak akan lama, dan pada akhirnya semua anak2 gue dan juga gue akan ingat bahwa yang paling penting adalah semuanya tetep dihadapin bersama2, biarin orang di luar mau ngomong apa, asal antar keluarga tetep saling sayang dan percaya. Sambil nanti gue terus doa2 semoga anak gue mendapatkan yang terbaik di dunia dan akhirat, jadi kalaupun mereka mencicipi hal yang salah menurut apapun, pada akhirnya akan ada jalan yang membuat mereka tetap berkumpul di tempat yang baik bersama2 gue juga. Bukan karena gue menganggap mereka salah, dalam hal ini bukan salah atau benar, tapi mencoba untuk tetep bahagia meskipun yang dimiliki itu gak semuanya sempurna. Kalau permasalahan bisa dioper, mending gue aja yang tanggung kali, biar mereka gak susah, gak sedih, hidupnya damai aman sentosa, tapi gue pun gak berkuasa apa2 atas hal ini.

Nah pertanyaannya setelah itu adalah : emang suami gue sepaham ama gue nantinya? apa gue yang posisinya harus nurut kata suami ini bisa dapet yg ngerti cara pikir gue?

Dan yaudah, yang ini belum terjawab karena sampai detik ini pun belum nemu yang kayak gitu *muka datar*. Tapi karena udah tahu kalau hidup dipikirin terlalu serius dan takut2 yang ada entar ga bisa ngapa2in, maka diputuskan yaudah we’ll see aja lah, insya Allah kalau doanya kuat, niatnya baik, pasti dikasih yang terbaik, jadi yaudah kalau nemu yang oke dan diajak nikah ya nikah aja terus punya anak banyak2 *ketawa puas*. Syukur2 dapet yang sepaham, syukur2 anak2 gue hidup aman damai sentosa. Amin ya Allah, Amin….

Makanya begitu liat si pasangan Dill sama Rosemary Penderghast ini, rasanya kepengennnn banget punya kehidupan pernikahan yang kaya gitu. Yang hepi2 aja, yang fun, berpikiran terbuka, ketawa2 aja. Menyikapi ketidaksempurnaan dengan bijaksana dan candaan. Tidak mengekang, tapi selalu melindungi. Tidak menjudge, tapi coba mengerti. Dan apapun yang nanti terjadi, tetap ingat untuk memperlakukan satu sama lain selayaknya keluarga, yang wajar untuk kadang saling menyakiti, tapi bukan alasan untuk saling menghancurkan. Jadi doanya sih biarpun suatu saat mungkin harus pisah (karena hidup gak ada yang tahu), tetep consider kebahagiaan satu sama lain, gak main cut terus main ngeloyor aja, tetep sopan *berusaha realistis namun tetap manis*.

Aku mau kayak gituuu T-T. Ini masuk ikhtiar gak sih? semoga doanya gak terdengar sok tahu, tapi dikabulkan dalam bentuk yang lebih baik menurut Allah yah *rakus*.

Oh satu lagi, kepengen tuanya manis kayak Rosemary, keriput leher boleh ngewer2 tapi tetep keliatan berseri2. Amin! *ditimpuk SK-II* *tangkap* *minum sekalian*

Dill and Rosemary Penderghast

Mau nonton Easy A untuk kesekian kalinya ah,

Mandhut.

Advertisements

7 thoughts on “The Penderghast

  1. jangaaaaan, jangan dengan gei ituuu nyahahaha (soktau).

    ombing mana ombing!, tolong ambilkan tali… cepaaat, iya tali itu (teriak sambil menunjuk ke arah tumpukan tali yg entah dmana)

    mandaaa bertahan yaaaa (suara ber-echo yg terdengar samar karena hujan petir dimalam gelap itu yg semakin menjadi)

    lempar talinya kebawah bing, ayo! psiuw psiw duar psiw (anggep aj ini bunyi petir)
    pegang yg erat ya kk (masih ber-echo juga ini)
    tarik ayo tarik… satuuuu, duaaa tiga, tariiiik

    -bersambung-

    ane sepaham mbak, yg bginian:
    “kalau hidup dipikirin terlalu serius dan takut2 yang ada entar ga bisa ngapa2in”

    entah maksudnya sama apa ngga. tapi pernah, berasa kayak asing banget, padahal udah maksain diri ikut futsal rame2 bareng tmen2 tapi ya itu, berasa sepi banget.
    saya rasa, banyak sekali pimikiran (ciee, pemikiran wkwkwk sok banget) yg sebenarnya bisa bikin stuck, kejebak, buntu, sayangnya belum mau dan mungkin gak bisa terbahasakan karena gak tau kenapa haha.

    yang pasti, kalo kata orang ye, everything happens for a reason. dan satu kata yg selalu saya ingat dari mentor KP (maksdnya kerja praktek yg kuliah itu) yaitu nrimo, saya lupa mas siapa itu namanya, dan gak ngerti maksud sbenarnya tapi kayakna deket2 ke ikhlas gitu kali ya.

    tapi memang harus terus berpikir dan tetap belajar, dan tentunya semua ada batasannya. dan kata mereka harus dengan ilmu.

    -bunyi bel sekolah (end)-

    keren, postingannya keren, berusaha realistis tapi tetap manis wkwkwkwkkwkwkw
    nuhun banget

    • =)) petir bunyinya psiuw psiuw =)) epic epic

      emang apapun yang dibawa emosi gak ada yang bagus sih. Nrimo itu keliatannya aja melas, tapi sebenernya tergantung gimana manajemen emosinya aja, kalau emang bener2 pasrah dan cuek, bisa meredam ego dan let go, terus ngikut apa yang udah ditentuin, biasanya jadi lebih happy hidupnya 😀

      makasih sudah comment 😀

  2. -___-” mandhut antinda pindah kesini rupanya… pantes selama setahun ini JK gak bs nemuin blog nya.. antinda nyahat…

  3. Pingback: Change | Racauan Manda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s