Movie and Book Review : The Perks of Being a Wallflower

Free Web Proxy

a wallflower is a shy or unpopular individual who doesn’t socialize or participate in activities at social events. He or she may have other talents but usually does not express them in the presence of other individuals. The term comes from the image of a person isolating themselves from areas of social activities at ballroom dances and parties, where the people who did not wish to dance (or had no partner) remained close to the walls of the dance hall.

Oke ini bakal kupas tuntas ampe ngelotok ya. Setelah menunggu2 sekian lama, sampe bela2in baca novelnya dulu, akhirnya saya nonton The Perks of Being a Wallflower juga! tadinya sih mau nungguin suplai dari sepupu saya si Ombink, tapi tiba2 hari ini kepengen liat Ezra Miller, jadi sekalian aja nonton filmnya.

Seperti biasa, biarlah saya kasih review tanpa spoiler-nya dulu :

The Perks of Being a Wallflower (2012) -> score 4 dari 5, cocok buat…… buat semua orang di atas 15 tahun? ini tentang fase hidup yang semua orang pasti melewati sih, fase remaja, SMA menuju kuliah gitu. Buat yang suka film2 genre psikologi, terutama yang menyenggol2 soal friendship, yang introvert, yang punya temen introvert, yang lagi nunggu kelulusan, disarankan nonton yah :). Terus yang suka baca, disarankan baca juga bukunya, novel berjudul sama karya Stephen Chbosky (dia juga yang direct filmnya). Gue sih pribadi lebih suka novelnya :D.

Sekarang review aslinya (bakal panjang ya gue ceramahnya, ini nunggunya lama buat bisa bahas tuntas) :

Dear Friend,

I am writing to you because she said you listen and understand, and didn’t try to sleep with that person at that party even tough you could have.  Please don’t try to figure out who I am, I don’t want you to do that. I just need to know that people like you exist.

Charlie (Logan Lerman) adalah seorang anak yang introvert. Saking sulitnya dalam bersosialisasi, dia sampai harus mengirim surat anonim pada seseorang yang tidak dia kenal, hanya supaya dia tidak merasa kesepian. Sewaktu SMP dia sempat mengalami masalah kejiwaan karena kehilangan Michael, sahabatnya yang bunuh diri. Oleh karena itu di hari pertama masa SMA-nya dia berharap dia akan mendapatkan teman, dan bisa bergaul dengan normal, jadi orangtuanya gak khawatir lagi.

Tapi terlepas dari itu semua, pada dasarnya Charlie adalah anak yang kikuk, suka membaca dan pintar, namun takut untuk menjadi pusat perhatian. Dia juga menjadi sasaran bullying, yang membuat kondisi kejiwaannya semakin sulit. Supaya bisa tetap ke sekolah, setiap hari dia mengkonsumsi obat anti-depressant dan berusaha keras untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. I must say Logan Lerman did a good job with this one, akting kikuknya pas banget, muka2 innocent tapi pemalu minta dilucuti (KEPRIBADIANNYA) satu persatu. Oke lah.

Logan Lerman as Charlie

Setelah usahanya mencari teman yang terus gagal, dia berhasil berkenalan dengan seorang senior bernama Patrick (EZRA MILLER! KYAAAAAAHH!!!), seorang pemuda nyentrik (baca : GAY) yang berkepribadian ceria dan Sam (Emma Watson, meh.) adik tiri Patrick yang hanya berumur 3 minggu lebih muda. Patrick diam2 menjalin hubungan dengan Brad, seorang pemuda idola sekolah yang tidak mau identitasnya sebagai gay diketahui orang, jadi mereka berdua berpura2 tidak mengenal satu sama lain saat di sekolah. Sementara Sam, adalah seorang gadis yang hangat, manis, namun selalu saja menurunkan standar dirinya kalau udah urusan cinta, seiring waktu Charlie diam2 menyimpan perasaan pada Sam.

Patrick and Sam. Emma Watson pindah sekolah aja sana *dorong*

Inti dari cerita The Perks of Being a Wallflower ini adalah perjalanan Charlie dalam mengatasi masalah kejiwaannya yang ternyata banyak bersumber pada trauma masa kecil. Charlie tuh punya satu tokoh panutan, namanya Aunty Helen, saudari Ibunya Charlie (lupa kakak apa adik gitu, di buku disebutin). Nah si Aunty Helen ini sempet tinggal bareng Charlie sekeluarga waktu Charlie kecil, gara2 sering dipukulin sama suami/pacarnya terus cerai apa gimana gitu. Aunty Helen deket sama Charlie, meskipun begitu secara tidak langsung sifatnya yang rapuh, dan sejarahnya yang pernah bunuh diri juga sedikit banyak mempengaruhi Charlie kecil. Aunty Helen ini yang paling care sama Charlie, tapi terus meninggal (kecelakaan lalu lintas) pas beli kado buat ulang tahun ponakannnya itu, makanya Charlie jadi menyalahkan diri sendiri, dan gak pernah seneng pas ulang tahunnya dia, karena mengingatkan akan meninggalnya Aunty Helen.

Dan yang lebih miris lagi, ternyata waktu itu juga Aunty Helen sempet beberapa kali melakukan pelecehan seksual sama Charlie, tapi terus Charlie gak ngomong sama siapa2 karena takut dan memang disuruh tantenya itu untuk tetep jaga rahasia, bahkan sampai Aunty Helen meninggal pun Charlie tetep diam. Jadi sih ya kalau gue tangkep, nampaknya si Charlie ini agak2 dilemma soal Aunty Helen, di satu sisi ngerasa kehilangan, merasa bersalah, tapi di sisi lain marah juga karena sempet dilecehkan, belum bisa memaafkan, gak tau gimana harus menempatkan tantenya ini. Terus seakan belum cukup dia harus kehilangan sahabat satu2nya waktu SMP gara2 Michael bunuh diri dengan cara nembakin kepalanya sendiri pake pistol. Di film sih gak diceritain detailnya si Charlie kalau lagi kumat gimana (paling cuma nangis2 bombay terus jeduk2in kepala ke tembok) tapi di novel dibilangin kalau Charlie tuh kalau udah sampe depresinya parah banget suka telanjang bulat terus duduk aja gamau ngomong gamau gerak, momen2 dimana dia bersikap seperti itu adalah saat Michael meninggal, dan saat Sam pindah kota buat kuliah. Makanya orang tuanya agak2 concern berlebih soal Charlie, anak bungsu mereka. Ya gimana enggak kalau tiba2 pas pulang ke rumah anak lo yang notabene udah remaja lagi telanjang bulet duduk2 di sofa, terus dipanggil gak nyaut?.

Nah, disini Sam sama Patrick itu berperan dalam memperkenalkan Charlie pada dunia baru, teman2 baru, pengalaman baru, sesuatu yang ga dia dapet bersama Michael dulu (soalnya si Michael ini nampak ‘kasus’ juga). Dia kagum sama jiwa Patrick dan Sam yang ceria dan bebas, dan kepengen supaya paling gak personaliti mereka nular ke dia, berjuang banget buat ‘normal’. Kesian banget deh pas si Charlie ini ketauan boong cuma supaya dikira gaul, sama gimana dia susah2 nawarin nraktir makan cuma supaya besoknya si Sam sama Patrick mau memperbolehkan dia makan bareng mereka di kantin, bener2 ngarep punya temen banget. Terus betapa dia dengerin lagu2 yang dikasih Sam dengan serius, bikinin Sam mixtape (cara PDKT pada jaman itu), dan terharu banget dapet hadiah satu stel jas dari Patrick, sampe kemana2 dipake terus, ke sekolah aja pernah dipake. Dia sampai nempelin foto Patrick dan Sam di dinding kamarnya, merhatiin dislikes and likes mereka, saking bahagianya.

si Jas yang dipake kemana2. ya emang ganteng sih *pasangin dasi*

Salah satu momen yang patut digarisbawahi adalah saat mereka bertiga naik mobil pick up di sebuah tunnel yang nyambung ke jembatan. Si Sam dengan beraninya naik ke bagian belakang pick-up dan berdiri, kayak ini nih :

*dorong Sam ke jalanan*

Makanya gue agak2 terharu biru pas akhirnya Sam dan Patrick menerima Charlie secara resmi di lingkungan pertemanan mereka yang isinya juga bukan orang2 populer dan sempurna (gothic, punk, pengguna), yang ditandai dengan kata2 Sam :

Welcome to the island of misfit toys.

Terus Patrick-lah yang menjuluki Charlie a wallflower, yang artinya sudah dijelaskan di atas.

Tapi di sisi lain, Charlie gak sepenuhnya lembut, karena sebenernya dia ada episode2 Blackout gitu, dimana biasanya dia bengong doang, atau ngamuk. Salah satunya adalah saat si Patrick abis dikerjain sama temen2 Brad (pacar gay-nya), tapi gak dibelain sama Brad sama sekali (bahkan Brad ikut ngatain), sampe si Patrick ngamuk terus akhirnya berantem. Secara kalah jumlah (mana si Pat ini ngondek ya, yiukk), Patrick dikeroyok sama Brad and the gang, Sam udah teriak2 nangis karena takut Patrick mati, terus tiba2 Charlie maju. Dia blackout, sadar2 dia sedang berdiri di tengah2 Patrick, Brad dan teman2 Brad yang sudah terbaring di lantai, berdarah dan terluka, kepalan tangan Charlie lebam, sementara seluruh pengunjung kantin memandang Charlie dengan tatapn aneh. Jadi tanpa sadar dia kayak berserk gitu deh, terus adegan ini pun ditutup dengan kata2 Charlie ke Brad yang bikin agak mesem2 : “touch my friend again, and I’ll blind you.” WOOOO itu ya rasanya pengen nyanyi “darah mudaaa darahnya para remaja” sambil ngobatin luka Patrick (loh? salah fokus). Etapi sereus deh, gak ada yang lebih hot dari amarah seseorang yang biasanya adem ayem. Apalagi kalau mukanya imut2 marmut terus tiba2 garang. Cihiy banget.

Hubungan Sam sama Charlie juga kayak tarik ulur gitu. Sebenernya gue tau banget deh si Sam itu udah sadar kalau Charlie suka (keliatan banget soalnya). Tapi terus pas si Sam ini pacaran sama Craig (anak kuliahan) dan dengan jelas mengatakan hal itu depan Charlie. Tapi Charlie tetep suka, dan Sam tetep gatel (sereus deh). Maunya sih sama Craig tapi tetep aja gamau first kiss-nya Charlie ama orang lain, alasan dia sih, dia kepengen Charlie first kiss sama orang yang bener2 cinta sama dia. MAKSUD LOH? ya kalo emang cinta tinggalin kali Craig-nya, memang dasar rakus si Sam ini. Jelaslah si Charlie ga bisa move on, bahkan setelah dia terpaksa pacaran sama Mary Elizabeth (salah satu senior juga, teman Sam yang suka geer sendiri) Charlie belum bisa lupain Sam, dan saat itu ketahuan, dan Mary Elizabeth marah, Sam juga marah *jambak Sam ke taman belakang sekolah*. Seakan belum cukup keegoisannya, semalam sebelum si Sam berangkat untuk pindah ke Penn State University, masih sempet2nya dia nodong Charlie buat nembak, nanya kenapa Charlie gak pernah nyatain perasaannya, padahal kan dia udah putus sama Craig.

Sam and Charlie

*tarik napas*

Terus abis itu, Charlie bilang kalau dia suka sama Sam, tapi dia pikir Sam gak pernah mikir begitu, jadi dia pikir yang penting tetep temenan. Tapi terus karena suatu dan lain hal, Charlie mengalami psikosomatis karena teringat trauma-nya bersama Aunt Helen dan akhirnya mereka gak resmi jadian juga. ITulah mengapa pas Sam berangkat ke Penn State University keesokan harinya, si Charlie ini depresinya dobel2 : 1. Depresi karena Sam pergi, 2. Depresi karena temen2 seniornya yang lain udah pada lulus dan pada pindah ke kota lain juga, dia harus cari temen baru lagi, takut kehilangan lagi. 3. Depresi karena dia kayak gak sanggup jadi laki2, gak bisa membuktikan cintanya sama Sam, karena trauma2 yang gak tau juga gimana ngilanginnya.

Udahlah dia jeduk2in kepala ke tembok, telfon kakaknya, Candace (Nina Dobrev) sambil ngomong ga jelas, something about dialah yang membuat Aunty Helen meninggal (kalau di novel, dia telanjang bulat). Sadar2, dia udah ada di salah satu kamar RS, jadi pasien kejiwaan. Disanalah dia menjalani terapi dan bercerita soal pelecehen seksual Aunty Helen, dirawatnya gak lama kok kayaknya, selama liburan kenaikan kelas aja.

Setelah itu keadaan Charlie masih belum sepenuhnya pulih, masih kikuk, tapi paling enggak dia udah jauh lebih ringan karena udah buka rahasia yang selama ini cuma dia simpen sendiri, jadi keluarganya juga udah jauh lebih mudah untuk mendukung dia secara emosional. Jadi yang tadinya dipikul sendirian jadi dipikul bareng2. Terus, di malam kepulangannya dari RS, tiba2 Sam sama Patrick yang sudah mendengar kabar Charlie dateng, ngajak Charlie jalan2. Malam itu mereka ke tunnel dan Charlie akhirnya memberanikan diri untuk berdiri di bagian belakang pick-up, persis seperti apa yang dilakuin Sam dulu. Itu yah mukanya Patrick sama Sam jelas banget kawatir takut bikin anak orang meninggal gara2 bertindak konyol, tapi gak bisa ngelarang juga karena tahu ini bagian penting dari hidup Charlie, mencoba berani menghadapi hidup, menghadapi semuanya. Terus Charlie ngomong dalam hati :

Dear Friend,

I don’t know if I will have the time to write anymore letters, because I might be too busy trying to participate. So if this does end up being the last letter, I just want you to know that I was in a bad place before I started high school. And you help me. Even if you didn’t know what I was talking about, or know someone who’s gone through it, it made me not feel alone. Because I know there are people who say all of theses things don’t happen. And there are people who forget what it’s like to be 16 when they turn 17. I know these will all be stories someday. And our pictures will become old photographs. And we’ll all become somebody’s mom or dad. But right now, these moments are not stories. This is happening. I am here. And I’m looking at her. And she is so beautiful. I can see it. This one moment when you know you’re not a sad story. You are alive. And you stand up and you see the lights on buildings and everything that makes you wonder. And you are listening to that song on that drive with the people you love most in this world. And in this moment, I swear…

…we are infinite.

The End.

Gue pribadi kurang puas sama filmnya, mungkin karena ekspektasi gue udah terlanjur tinggi, secara nunggunya udah lama benjet, terus pake baca novelnya segala. Ezra Miller-nyaaaa... ganteng sih, ada beberapa momen yang kepengen diliat berulang2 karena dia lagi senyum dan itu rasanya manis banget, terus dia pas juga meranin Patrick yang friendly, narsis dikit, cuek, tapi terus suka jadi sasaran ledek temen2nya. Tapi ada juga momen2 dimana gue pengen detox biar keluar dari sistem, salah satunya adegan Rocky Horror Picture Show yang mana temen2 Charlie jadi pemerannya (yang mana horror banget. HORROR BANGET.). Gue datang buat liat si ganteng Erza tapi tiba2 disuguhin yang begini :

aurat! GAK MUNCUL DI TRAILER! JEBAKAN BETMEN!

…..bang to the key…

why Stephen Chbosky, why? ini kayaknya pengalaman pribadi ya kalau sampe yang busuk kayak gini dimasukin ke cerita juga *ngejudge abis* AAAAAA KENAPA KENAPA KENAPA!!!

Terus adegan Homecoming party yang mana di trailer itu si Ezra lagi joget dan sudah gue tunggu2. Tapi gue terpaksa terus2am melihat ketek dan lengan Emma Watson, secara situasinya adalah si Charlie lagi mengagumi Sam diam2 dari pojok ruangan.

Itu perasaan gue doang apa ketek Emma emang agak berotot? gue sebeell, mau joget ama Ezra terserah tapi tolong jangan nutupiiinnn *bejek2 layar monitor*. Stephen Chbosky kenapa sih kenapaaaaaa T-T.

Disini sih yang gue bilang aktingnya paling kerasa bagus ya si Logan Lerman, baru Ezra Miller (udah jadi gay, dandan banci pulak). Emma… kayaknya masih harus berjuang buat ngilangin aksen british-nya sih ya, kurang menggigit gitu *terus aja jelekin Emma, Man*.

Biarin! dia nutupin Ezra pake ketek! bencik aku!

Dari sisi naskah, gue pribadi suka novelnya, so gue suka jalan ceritanya. Tapi ada beberapa momen yang gue harap bagus tapi ternyata agak nanggung pas di film. Kombinasi persahabatan yang agak ga biasa dan detail (detail to the point hadirnya karakter2 yang sebenernya kurang signifikan, tapi diceritain juga) bikin gue jadi menebak2, apakah ini pengalaman pribadi Stephen Chbosky-nya sendiri? Tapi pesan moralnya sih nyampe, dan banyak sekali quote yang bisa disimpen sampai tua. Salah satunya adalah :

We accept the love we thing we deserve.

🙂 so true.

Tapi sisi positifnya adalah, film dan buku The Perks of Being a Wallflower ini bikin nostalgia masa lalu. Masa dimana semua emosi itu masih campur2 karena sedang dalam tahap pencarian jati diri. Yang sombong belajar buat rendah hati. Yang rendah diri belajar untuk menghargai diri sendiri. Yang ekstrovert belajar untuk mengerti apa itu privasi. Dan yang introvert belajar untuk membuka diri. Semua sedang berjuang menjadi seseorang, sesuatu, menjadi lebih baik lagi. Banyak kejadian memalukan, kesalahan yang menyisakan sedikit penyesalan, tapi harus gue akui bahwa ada sedikit bagian dari diri gue yang kepengen kembali kesana. Karena kebahagiaan momen2 itu adalah sesuatu yang gak bisa tergantikan oleh apapun. Beda banget rasanya sama kebahagiaan yang sekarang di saat udah lulus dan bekerja, kebahagiaan yang terpagari oleh sesuatu bernama tanggung jawab, logika dan prioritas.

Mungkin karena masa2 remaja itu banyak di-endorse sama perasaan menemukan hal2 yang baru ya. Banyak first-nya. =))

Pokoknya, gue puas, dan sekarang jadi gak sabar untuk nunggu film 3 aktor muda ini lagi :

Tapi sampai kapanpun mereka akan selalu jadi Sam, Charlie dan Patrick di hati gue *ceilah*

we are infinite!

Mandhut.

Advertisements

56 thoughts on “Movie and Book Review : The Perks of Being a Wallflower

  1. gw cuman baca intronya doank, takut kebawah2 mulai agak2 spoiler dan pendapat pribadi, jadi agak takut untuk melanjutkan..
    nanti ikutan review setelah nonton bluray klo udh nongol deh

    Ezra yayank?gababababa
    sayang emma watson… aduh oplas ke korea sana biar kayak SolB
    fufufufufufu (muka mesum GTO)

    1. :)) oh iya yey belum nonton ya. Etapi ini kayaknya bukan genre yang lo suka deh, terutama karena Emma-nya… ya gitu =)). Gue saking udah ga sabar akhirnya nonton juga biar belum bluray, toh bukan film yang butuh kualitas gambar prima. Tapi bagusan Giddens Ko deh :)).

      1. Giddens mah film sepanjang masa nda,
        ampe sekarang klo nyetel ostnya belum bisa move on *lebay

        hahahha
        biar deh bukan genre yg gw suka, khan kadang yang suka pun kita kudu tau *sok binjay
        😀

  2. *cheer up*

    introvert!
    aggressive!
    introvert!
    aggressive!

    haha,
    we are infinite

    di ganool dah ad yg bagus bing.. (boongin ombing padahal blm ad yg bluray biar donlot trus review :D)

    ane kelewat kayaknya yg cerita aunty, kirain cuma merasa bersalah karna kecelakaan
    *nonton lagi, tapi nnti malm aj deh haha*

  3. Udeh nonton tadi shubuh.. dan masih banyak pertanyaan yg akhirnya dijawab dipostingan sepupup gw..
    gw gak ngerti yg ternyata si charlie di lecehin tante, soalnya gw kira cuman ngeliat tantenya bunuh diri, pas ada adegan tangan tantenya ada sayatan. Dan agak ngatung sih, karena charlie ama sam gak jelas (jadiang enggak, HTSan iya).

    Ezra Miller nya top deh, apalagi pas baju2 bulesque dita von teese wkwkwkwk
    tapi aktingnya top deh, gw yakin film2 berikutnya dia bakal dapet penghargaan (apa udh ya?)
    Jatuh cinta ama candace / Nina dobrev *cantik bin cihuy bener si eneng satu ini

    1. iye gue ngerti ya karena udah baca bukunya. Emang filmnya agak kurang jelas, mungkin ragu juga kali ya buka kasus pelecehan seksual dalam keluarga. padahal si chbosky sendiri yang nyutradarain. Keren kan mas ezraaaaaa 😀 woohoooohohoo… *bangga berlebih*

  4. Suka banget reviewnyaaa! Soalnya saya belum baca buku jadi masih kurang ngerti ama jalan cerita di filmnya, ada yang terasa dilompat2! Saya pribadi suka banget ama Charlieee! Dan menurut saja, Logan itu COCOK BANGET meraninnya, i start to love him!! Dan waktu nonton Ezra di we need to talk about Kevin, saya jadi kagum banget ama karakter dia di sini, beda banget tapi tetep kereeen! 😀

    go

    1. Baca deh bukunya, bagus kok :D. Worth it sekali untuk dikoleksi!
      Iya, aku juga tadinya biasa aja sama Logan pas jadi Percy Jackson, tapi gara2 Charlie ini jadi rada2 ngefans 😀
      Ezra tuh kayaknya emang cocok ama peran2 yang ga biasa ya :D, kita tunggu aja film berikutnya.
      Btw kalau emang suka sama film2 remaja growing up gini, coba deh tungguin Electrick Children, kayaknya keren juga :D, ada Rory Culkin!

  5. aku penasaran banget tapi udah nyari link download kemana mana tapi linnknya pada dead !!! agan agan punya rekomendasi link buat download film ini ?????? please

  6. Ini film menginspire gue bangett gan 😉 gue udahh nonton nih film lebih kalii dari 10 kali wkwkwk novel nyaa jugaa :3 thank you gan for share about this movie.

  7. halo salam kenal.. gue baru tau The perks of being a wallflower dari film nya saja, semenjak itu gue langsung terbesit untuk menjadikannya objek penelitian skripsi gue. dan alhasil gue sedang menyusun skripsi dari film ini, membahas penokohan charlie yang bisa dijelaskan dengan konsep eksistensialisme.

    1. wow salam kenal juga :D. makasih udah mau baca dan komen, semoga postingannya membantu untuk skripsinya ya :D. Kuliah psikologi kah? apa filsafat? 😀

  8. anyway, review nya bagus banget. beberapa hal saya baru ngeh klo ceritanya ternyata lebih lengkap dari novelnya. missing puzzle gue skrg adalah , maksud dari charlie bilang she is insane (refers to helen) apa ya saat psikterapi dengan Dr. burton. ada hal yang lebih menjelaskan ga mengenai pelecehan yang terjadi pada charlie?

    1. gue baca bukunya dan nonton filmnya, tapi karena udah agak lama jadi gue takut nih kalau penjelasan gue ada yang salah, jadi entar mohon dicek lagi sendiri ya. Buat skripsi kan? mesti akurat dong :D.

      Kalau dari film, memang gak dijelaskan apa yang Aunty Helen lakukan ke charlie, itulah sebabnya gue liat banyak banget penonton yang bingung dan larinya ke blog gue ini. Tapi kalau di buku, dijelaskan secara gamblang kalau si Aunty Helen ini menyentuh private part-nya Charlie beberapa kali waktu Charlie masih kecil. Dan abis itu, Aunty Helen minta Charlie untuk merahasiakannya dari orang lain.

      Tentu saja waktu itu Charlie gak terlalu paham kalau itu sesuatu yang harusnya dibicarakan ke ortu, tapi dia somehow tahu kalau Aunty Helen melakukan sesuatu yang salah. Tapi dia bingung juga, karena di luar tindakan pelecehan seksual-nya ke Charlie, Aunty Helen itu adalah orang yang paling peduli dan sayang sama dia (menurut Charlie). Sampai akhirnya Helen meninggal pas dia lagi beli kado ultah Charlie, kecelakaan mobil gitu.

      Kalau latar belakangnya si Helen, seinget gue dia itu korban KDRT dari suaminya untuk waktu yang cukup lama. Depresi. Terus akhirnya cerai dan tinggal sama keluarga Charlie (tapi gak lama meninggal karena kecelakaan itu).

      Makanya dari latar belakang dan apa yang si Aunty Helen lakukan ke Charlie (di satu sisi perhatian secara tulus tapi di sisi lain melecehkan dengan kedok memberi perhatian), Charlie merasa dia gila.

      Oke, semoga membantu ya 🙂

  9. Hi Manda, just read your review after finished watching this movie. A very complete and great post. I know I’m pretty late but I really love the movie. And after reading your review, I’ll definitely buy the novel. One thing in my mind, why you’re so cruel to Emma? Hehe.

    PS : My fave quote from this movie is “So, I guess we are who we are for alot of reasons. And maybe we’ll never know most of them. But even if we don’t have the power to choose where we come from, we can still choose where we go from there. We can still do things. And we can try to feel okay about them.”

    1. gue kejam sama Emma Watson di film ini soalnya dia bisa deket2 Ezra Miller! 😀
      Ayo cepet2 beli bukunya, pantas dikoleksi banget deh, banyak quote2 yang keren 😀
      btw salam kenal dan makasih ya udah mampir dan baca 🙂

  10. hi, i have finished watching this movie and i read your post. it’s so helpful 😀
    pasti tau lah kenapa, sedikit ga ngerti aja sama cerita ’bout charlie’s aunty, tapi skr udah ngerti, thanks. telat banget banget ya baru nntn haha, gapapa deh 😀
    and, i wanna read the novel!!
    owh thanks for the quote too =))

    1. Iya, rata2 yang kemari emang pada nanya soal tantenya si Charlie. Satu2nya kurang itu film cuma di situ doang, disensor kali ya makanya banyak adegan yang dipotong soal tantenya si Charlie itu. 😀
      Semoga bisa cepet baca novelnya, ya 😉 thank you udah mampir, baca dan komen 😀

      1. Mungkin kali ya, biar bisa pg-13 kali 😀
        amiin amiin 😉 eh iya pengen minta saran dong, mending mean girls, juno, atau hairspray? makasih ya 😀

            1. 😀 mabooyyy *pengsan* *norak*. Iya gue udah nonton kok yang We Need To Talk About Kevin :D. Gak sabar nunggu peran dia berikutnya :D. Met nonton Juno, semoga suka!

  11. Baru baca novelnya minggu lalu. sedangkan nonton filmnya pas film itu rilis. Jadi, udah agak lupa juga sama filmnya, tapi pas abis baca kok ya ngerasa Emma Watson kurang pas jadi Sam, dan Logan Lerman terlihat terlalu bahagia untuk jadi Charlie yang depresi. Nggak tahu juga sih kenapa mikir kayak gitu, hehehe…
    Nice review… 🙂

    1. aku juga agak gak sreg ama Emma Watson jadi Sam =)) =)) tapi mainly karena aksennya yang masih kerasa british sih :P. So far favku Ezra Miller yang jadi Patrick, hihihi :P, terimakasih udah mampir dan komen 😉

  12. Halo, I might late for knowing this film just now and your review helps me a lot! thankyou. 🙂
    but I wonder if sam and charlie is finally dating in the end of the story? I’m a bit confused tho. 😀 I’m looking forward your answer.

    1. I’m pretty sure that Sam & Charlie remain friends until the end of the movie. I double checked, and yes, they’re not dating. Here’s the link to the super-detailed summary about The Perks of Being a Wallflower : http://www.shmoop.com/perks-of-being-a-wallflower/part-4-chapter-14-summary.html and http://www.shmoop.com/perks-of-being-a-wallflower/part-4-chapter-14-summary.html

      Sorry for the late reply, and thank you for visiting my blog and leaving a very nice comment. Have you read the book?

  13. Hei…..br abis nonton filmnya…(telat banget yah)….setelah nonton udah lumayan curiga sih kalo tantenya tuh melakukan child sexual abuse ke charlie tp blum yakin akhirnya googling dan ketemu blog ini….sangat tercerahkan…makasih yah 👍👍👍 kayaknya filmnya memang tdk begitu mengulas soal CSA dr tantenya yah. Dan setelah baca blog ini sy jd kepikiran klo inti ceritanya lebih ke arah kondisi psikologis charlie yg kadang blackout..kemudian ada fase dia depressed sampe telanjang, bs jadi genre filmnya jd beda yah…lebih ke psychological movie. Td jg sempat bingung pas charlie belain patrick kok bs tiba2 nggak sadar begitu ternyata dia blackout yah…semua kebingungan jd terjawab di blog ini….great job. Soal Ezra…aktingnya emang kece yah…tp peran ini jg semakin maksimal krn dia ternyata queer…td langsung googling ditengah film krn penasaran kok dia bs senatural itu. Akting aktornya kecelah…patrick dan charlie…the best

    1. Emang versi filmnya itu agak kurang jelas di bagian CSA tersebut. Entah kenapa, mungkin untuk pertimbangan sensor atau ada alasan lainnya. Tapi bukunya cukup menjelaskan kok. Coba deh baca, bukunya juga bagusss :D.
      Soal Ezra, dia emang spesialis peran2 agak ‘beda’ kayak gitu sih. Aku udah nonton film2 dia yang sebelumnya, dan aktingnya emang bagus, hehehhee.

      Makasih udah baca dan komen ^^

  14. Gw baru aja nonton filmnya dan kemudian baca blog ini, berharap terjawab detail pelecehan seksual yg dilakukan aunt helen ke charlie. ada ga tuh di novelnya diceritakan?
    dari potongan scene awal2 cara memandang charlie ke aunt helen udah kelihatan “pasti ada sesuatu terjadi antara mereka” dan setiap kali aunt helen bilang jaga rahasia kita, gw udah mengarah pd sebuah roman cinta antara 2 manusia beda generasi. tp ttp gw penasaran ama bentuk pelecehan seksualnya…apa cuma dielus2 pahanya charlie spt yg dgambarkan di scene film nya?? gw rasa lebih jauh dr itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s