Movie and Book Review : Silver Linings Playbook

Silver Linings : It’s the good part in a bad situation. It comes from the phrase “Every cloud has a silver lining.” So even when a cloud is in the sky darkening your day, at least there’s something pretty about it.

Jadi sekitar bulan September 2012 yang lalu, saya menemukan 2 trailer film yang kepengen banget saya tonton. One is The Perks of Being a Wallflower, yang mana sudah di-review di postingan ini, dan yang kedua adalah, Silver Linings PlaybookΒ yang diangkat dari novel karya Matthew Quick dan disutradarai oleh David O. Russel.

I am so in love with this movie, mulai aja ya?

Review tanpa spoiler :

Silver Linings Playbook (2012) -> 5 out of 5. No kidding. I’m a big fan of Jennifer Lawrence, dan disini dia sama sekali tidak mengecewakan, bener2 bikin bangga *kenapa juga ikut2an*. Saya yang tadinya biasa aja sama Bradley Cooper juga jadi merasa ini orang kok tiba2 rasanya ganteng banget (mungkin karena dia terlalu manis di film ini). Kalau kalian mengharapkan sebuah komedi romantis yang out of the box, kalau kalian pernah merasakan depresi dalam skala apapun – dari rendah sampai ke tingkat parah berkelanjutan, atau mungkin pernah menjalani perawatan bersama terapis untuk masalah psikologi (which is not a thing to be ashamed of), or just as simple as – kalau kalian suka akan konsep cinta, this is a must-watch movie. Jangan lupa baca bukunya juga!

Ok. Review kupas tuntas?

Meet Pat Solatano Jr. (Bradley Cooper), seorang Guru Sejarah yang hidupnya hancur lebur setelah memergoki istrinya, Nikki (Brea Bee) berselingkuh dengan rekan kerja mereka di sekolah yang sama. Karena sangat terpukul, Pat mengamuk dan mengalami episode Bipolar, yang menyebabkan dirinya memukuli si pria selingkuhan sampai hampir mati. Pengadilan mengharuskan Pat untuk masuk ke institusi kejiwaan selama 8 bulan. Pat kehilangan pekerjaan, dan harus kehilangan rumah, mobil, tabungan dan pernikahannya, karena Nikki bukan hanya menuntut Pat, tapi juga mengajukan cerai. Bahkan mantan istrinya itu meminta restraining order, yang mengharuskan Pat untuk tidak mencoba menemui bahkan mengganggu Nikki lagi, atau Pat akan berurusan dengan hukum.

Tapi bukannya membenci Nikki, Pat yang depresi malah menyalahkan dirinya sendiri, dia ingat bahwa dulu semasa menikah dia kurang menghargai Nikki sebagai istri. Dia tidak memperdulikan nasehat Nikki agar Pat berolahraga, Pat tidak pernah memberikan perhatian mengenai pekerjaan Nikki sebagai Guru Bahasa, dia sadar bahwa dia pun memiliki andil dalam perselingkuhan Nikki. Dia tidak cukup berusaha menjadi suami yang baik waktu itu. Maka Pat yang putus asa dan belum mau menerima kenyataan bahwa Nikki sudah menceraikan dan meninggalkannya, mulai mencoba memperbaiki diri demi mantan istrinya itu. Dalam keadaan kurang stabil ini, Pat menemukan konsep silver linings, dimana dia percaya bahwa kalau dia terus berpikir positif dan terus berusaha, suatu hari dia akan bisa mendapatkan Nikki kembali, juga pekerjaan dan hidupnya yang dulu.

Itulah kenapa dia berolahraga setiap hari dengan rompi trashbag supaya banyak berkeringat, itulah mengapa dia angkat beban setiap hari, itulah mengapa dia marah dengan Ernest Hemingway, karena novelnya yang berjudul “A Farewell to Arms” tidak berakhir happy ending. Pat pikir mungkin salah satu alasan kenapa Nikki memutuskan untuk menceraikan dan meninggalkannya karena itulah buku yang dia baca sehari2?.

8 bulan berlalu dan dia diperbolehkan pulang ke rumah orangtuanya. Di kampung halamannya inilah dia bertemu lagi dengan sahabatnya Ronnie. Sahabatnya itu mengundang Pat makan malam dan mempertemukannya dengan Tiffany, adik ipar Ronnie yang sedang mengalami depresi dan menjalani terapi mental setelah suaminya, Tommy – meninggal karena kecelakaan.

Dan dari situlah kisah mereka mulai berkembang. Tiffany mulai mengekori Pat saat jogging, mengikutinya kemanapun Pat pergi. Awalnya Pat risih, karena dia masih mencintai Nikki dan tidak ingin Nikki salah paham dengan sikap Tiffany, tapi karena ingin meyakinkan mantan istrinya itu kalau dia sudah berubah menjadi pria yang lebih baik, maka dia menuruti saran terapisnya untuk bersikap lebih lembut pada Tiffany, karena mungkin gadis itu hanya ingin memiliki teman. Mereka makan malam bersama di sebuah restoran dekat rumah, mereka jogging bersama, mereka saling membantu dan mengerti dalam tingkat yang tidak bisa dilakukan orang normal.

Suatu hari Pat didatangi polisi karena ketahuan muncul di sekitar sekolah tempat kerjanya dulu dan rumah Nikki, kalau Pat melakukan tindakan seperti itu lagi, maka polisi harus memproses ini dalam jalur hukum. Tiffany menawarkan bantuan untuk menyampaikan surat Pat pada Nikki, supaya Pat bisa mengungkapkan isi hatinya tanpa perlu menelfon atau bertemu mantan istrinya tersebut. Tiffany bilang, Nikki kadang masih suka datang untuk menemui Veronica (istri Ronnie) yang merupakan kakak Tiffany, jadi akan ada banyak kesempatan untuk menyampaikan surat Pat. Tentu saja hal ini akan dirahasiakan, karena termasuk melanggar restraining order yang dikenakan ke Pat. Tiffany setuju membantu, tapi dengan syarat Pat harus mau menjadi pasangannya di sebuah kontes dansa, yang Pat sanggupi.

Mereka menghabiskan waktu bersama setiap hari untuk berlatih, sebagai gantinya Pat bisa berkorespondensi dengan Nikki. Karena suatu dan lain hal, kompetisi dansa ini juga menjadi bagian dari taruhan Ayah Pat, Patrizio (Robert de Niro), seorang penggila football. Tiffany menyanggupi, tapi Pat sempat ragu, mereka bertengkar, dan disitulah akhirnya Pat menemukan kata2 yang sering digunakan Nikki dalam surat balasannya pada Pat. Diam2 Pat tahu bahwa selama ini Tiffany-lah yang membaca suratnya dan menulis surat balasan pada Pat, bukan Nikki. Namun Pat tidak berkata apa2.

Pada hari H pertandingan dansa, Nikki ternyata datang untuk menonton Pat – atas undangan Ronnie dan Veronica. Pat dan Tiffany berdansa dan mendapatkan nilai sesuai dengan yang dipertaruhkan ayah Pat, mereka bersorak karena ayah Pat memenangkan taruhan. Pat segera menghampiri Nikki, dan saat itu Tiffany langsung meninggalkan tempat, terlalu sakit hati untuk menyaksikan Pat kembali pada mantan istrinya. Namun Pat hanya berbisik pada Nikki, dan mencari Tiffany, untuk menyatakan perasaan. And yes they end up together. Pat sadar bahwa Tiffany menyayanginya lebih daripada Nikki. Dan dia juga mencintai Tiffany.

The end.

You know what I love about this movie? semua emosinya terasa beneran. Bahkan saat saya baca bukunya aja mata saya udah berkaca-kaca. Saya bisa merasakan kesedihan orang2 di sekitar Pat saat melihat pemuda ini begitu keras berusaha untuk menjadi lebih baik hanya untuk kembali pada mantan istrinya yang bahkan (kalau di buku) sudah membangun keluarga baru bersama pria selingkuhannya itu. Saat Pat bicara mengenai Nikki, saat Pat berbagi keoptimisannya bahwa suatu hari Nikki pasti mau kembali, kalau dia diberi kesempatan untuk menjelaskan dan memperlihatkan perkembangannya saat ini (dengan badan atletis, pengetahuannya soal sastra dan lain2) Nikki pasti mau mengerti dan kembali. Sedangkan pada kenyataannya Nikki-lah yang membuat hidup Pat jauh lebih nelangsa, padahal Nikki juga yang berselingkuh,tapi Pat tidak mau tahu. Dan keluarga dan sahabat2 Pat berusaha mengerti, meskipun diselip keraguan, mereka membiarkan Pat untuk hidup mengejar Nikki, karena tahu itulah satu2nya yang membuat Pat masih hidup sampai hari ini.

Ada hari2 dimana Pat mengamuk karena tidak bisa menemukan video pernikahannya dengan Nikki, juga mendatangi sekolah tempatnya dulu untuk meminta pekerjaannya kembali (yang mana tidak disambut baik). Ada saat dimana dia bahagia, merasa positif, ada juga saat dimana dia begitu larut dalam kemarahan sampai tidak sengaja memukul ibunya, yang membuat ayahnya marah dan Pat menangis meminta maaf, bukan karena takut dengan ayahnya, tapi karena merasa lelah dengan ketidakmampuannya untuk berpikir normal sampai melukai keluarganya sendiri.

Terus saya suka banget hubungan Tiffany dan Pat. Saya rasa sih cinta mereka berkembang karena sama2 mengerti apa rasanya berada dalam depresi dan masih berusaha mencari jawaban dari semua kegelisahan. Apa rasanya dijudge hanya karena orang2 tahu bahwa mereka harus meminum obat anti-depressant dan mengunjungi psikolog, untuk supaya tidak mengamuk keesokan harinya, dan masih harus berusaha keras agar suatu hari nanti dapat berfungsi normal seperti orang lain. Untuk merasa putus asa akan kehidupan yang akan mereka jalani bahkan setelah semua depresi ini bisa diatasi, siapa yang masih mau memperkerjakan mereka? kehidupan macam apa yang menunggu?. Merasakan ketakutan untuk tetap menjadi seperti ini, keesokan hari dan keesokan harinya, berharap akan ada keajaiban. Insomnia, suara2 yang mengganggu, kadang halusinasi, merasa terisolir. Then that kind of thinking : kalau memang hidup mereka hanya sekedar menyusahkan orang2 tersayang, bukankah akan lebih baik kalau mereka tidak ada?

Saya lagi baca sebuah novel, judulnya It’s Kind of a Funny Story by Ned Vizzini, dan disitu diceritakan bahwa tokoh utamanya, Craig, meminta psikolog yang menanganinya untuk membantu menyembuhkan hidupnya yang kacau. Membantunya untuk menyembuhkan otaknya yang tidak berfungsi selayaknya orang lain, supaya dia bisa kembali sekolah, bisa membuat keluarganya bangga. Lalu psikolognya menjawab :

Life is not cured. Life is managed.

Yes, life is all about managing things, in your life, in your brain. Standar ‘gila’ itu terus beragam ya, orang yang kanibal, orang yang berbuat abnormal, yang menjatuhkan korban untuk kesenangan pribadi, mereka jelas butuh bantuan ahli. Tapi standar ‘normal’? saya pribadi percaya bahwa gak ada manusia yang 100% normal, simply karena standar normal itu bukan sesuatu yang sama untuk tiap2 individu. Beda negara aja udah beda budayanya, beda agama udah beda ajarannya. Normal itu apa sih? punya penghasilan, punya pasangan, tetap bisa bekerja dengan baik walaupun dalam tekanan, punya keturunan, punya rumah, punya mobil, itu normal? tapi siapa yang bisa menebak bahwa kadang orang ‘normal’-pun berpikir dan melakukan sesuatu yang di luar standar ‘normal’, tapi tidak mereka tunjukkan, simply karena mereka jago me-manage-nya, memanage jalan pikiran dan rahasia.

I think perbedaannya ada pada didikan dan kemampuan untuk mengatur diri agar hidup sesuai dengan ajaran agama dan moral adat, terlepas dari pikiran apapun yang bermunculan di dalam otak. Standar itu ada sebagai guideline, tapi hidup adalah hak milik masing2 individu untuk menentukan. Saya pikir depresi itu datang dari keinginan untuk membuktikan pada orang lain dan diri sendiri bahwa kita bukan kasus khusus yang perlu perhatian ekstra.

Soal sisi romantisnya, saya tahu selera saya agak beda ya dari cewek2 lain. Bukannya saya gak suka adegan romantis menyatakan perasaan pake tulisan di Love Actually, atau cinta Romeo yang nyanyi2 di bawah balkon Juliet, tapi saya merasa romantisnya Pat sama Tiffany itu beda, lebih primitif, gak ada bunga, gak ada coklat ataupun cincin tapi gak kalah romantis. Bukan kertas2 yang bikin adegan di Love Actually manis, tapi the love itself, iya gak sih? Kalau aktingnya gak ngepol ya hasilnya bakal plain aja, gak diikutin berjuta pasangan di seluruh dunia.

Di buku diceritain kalau Pat pada akhirnya secara diam2 mengintai Nikki dari jauh, Nikki yang sudah hidup bahagia bersama suami dan anaknya. Disitulah akhirnya Pat bisa memaafkan dirinya sendiri, dan sadar bahwa dia benar2 beruntung karena masih ada orang yang mau mencintai dia seperti Tiffany, bahkan di saat dia tidak bisa diandalkan dan tidak bisa berfungsi normal seperti sekarang. Pesan bahwa orang yang bener2 pantas untuk dipertahankan dan dijaga perasaannya itu adalah orang yang bisa mencintai saat kondisi terburuk kita bener2 sampai ke hati.

Saya beneran nangis loh pas endingnya, nangis bahagia :D. Best romantic comedy movie I’ve ever seen, so far. Semoga pada suka juga yah.

Dear Tiffany,

I know you wrote the letter. The only way you could meet my crazy was by doing something crazy yourself. Thank you. I love you.

Pat.

belum bisa move on dari Pat and Tiffany,

Mandhut.

Advertisements

18 thoughts on “Movie and Book Review : Silver Linings Playbook

      • awokaowkaowk, ati2 nnti keseleo itu kelingking

        semangat2!
        terima kasih Putri Amanda Bahraini πŸ˜€ hahaha lengkap

        mampir kaks, yuk marii, syalaladumdum in action, tapi kayknya namanya nnti diganti pake nama beneran aj soalnya udh pasaran kaynya nama yg kayal gitu, tapi ini dulu deh hahah
        *promosi blog sambil lempar2 stiker ke jalan*

  1. manman
    keren ini.. hahahhaha… tiffanyyyyyyy
    iya.. baru baca2 lagi ini.. bener deh ratingnya 10/10 ya… setuju banget.. eh, bentar2…
    Silver Linings Playbook (2012) -> 5 out of 5. No kidding… setujuu banget

    ikut nulis2 ya hehe… smoga gak kganggu ye gue komen2 hehe tapi gue permisi banget ini

    bener man, awalnya gue kira excelsior itu tim bola yang di eredevisie blanda sana, hahah padahal bukan..

    itu ya, kalo liat di filmnya ya, kayaknya bapaknya Pat itu kayak “aneh” juga ya… yang taruhan2 itu.. sampe galau gitu bapaknya.. maksudnya yang juju2 itu hahaha, tapi pas di bagian saat dia bangunin Pat trus critain tentang tim eagles trus dia nangis ya, dan bilang kalo sbenernya dia bikin kayak gitu cuma buat mereka berdua, dia ingin banget menghabiskan waktunya untuk Pat soalnya pas kecilnya si bapak lebih sering ma kakaknya Pat… gue agak lega di bagian itu dari film setelah tau alesan bapaknya itu, tapi ternyata pas di akhir2, yang taruhan abis2an itu trus Pat berantem, oh ternyata.. kayaknya bapaknya bener2 agak aneh deh, sampe berantem trus nyalahin Pat gitu.. untuk ada Tiffany yang dateng dengan sedikit penelitiannya hahahahahah.. tiffanyyyy…

    beberapa bagian yg paling asik dari ini film, itu:

    -> indera keenam! hahahah sialan banget nih chris tucker, baru abis bilang indra keenam, eh, tau2nya ud dijemput ma rumah sakit wkwkwwkwk

    -> yang kedua ini sbenernya wajar untuk orang2 yg “Pat”, yaitu pas dia marah2 saat ending buku yg itu gak hepi ending ya hahah, tapi wajar

    -> itu yang india, Roni, hahahaha, malah curhat ke Pat dan akhirnya ngikutin konsepnya pat ttg pernikahan hahahah, dalem banget nih pas dia bawaain Nikki ke lomba dansa gara2 konsep itu, oh tiffany.. kayaknya si Roni gak tau deh, tapi kayaknya tau deh tentang Tiffany ke Pat… dan gue jadi bingung kalo memang dia tau, jadi bingung, sebenernya mana sih yang “normal”? orang2 kayak Tiffany Pat ato yang Roni2? hahah, sudahlah

    -> keempat, itu pas.. latihan dansa (lagu2nya keren2 ya haha mungkin trbawa suasana) pas abis latihan trus gak sengaja Pat liat Tiffany lagi ganti baju ya wkwkwkwkwkwkwkw, dan dengan raut muka yg sperti itu dengan gaya yg begitu, kemudian dia lari.. lariiii Pat ayoo lariiii hahaha, Excelsior! bener2 beriman deh ini Pat, beriman kepada Silver Linings.. keren…. dan kesimpulannya gue jadi makin bingung tentang “normal”.. Excelsior aj deh.. tengkyu Pat.

    -> kelima.. tentang sign.. read the sign… itu ya, yang pas taruhan terakhir trus pas keluarga lagi kacau gara2 kalah dan Pat disalahin ma bapaknya… trus datang deh tiffany dengan sedikit penelitian dia tntang tim2 apa sih namanya? footbal ya?…. hahah gue semakin yakin dengan sedikt “keanehan” bapaknya karena masih berani bertaruh dengan berpegang pada penelitian Tiffany yang bilang kalo saat Pat ada ma dia, tim bapaknya pasti menang wkwkwk… dan setelah patnya keluar rumah karena gak mau ikut2an taruhan dari bapaknya itu.. dia akhirnya tau setelah baca2 lagi surat yg dari Nikki yang ternyata “read the sign!”.. tapiii.. masih aj dia lari2 dengan kantong keresek hahaha silver lining banget!.. excelsior bro.. excelsior πŸ˜€

    film paling berkesan nih.. paling banget… ahhahahah,
    endingnya mantap…. walopun gue sempat ampir ketipu denger bekron musiknya lagu misty.. i get misty and too much in love~ begitu ya haha tapi alhamdulillah deh,, hepi ending

    jadi kesimpulannya kalo mnurut gue
    hepi ending itu wajib bagi para pe-silver-linings!…
    kalo gak hepi ending.. brarti belum silve linings banget, dan ternyata kayaknya tiffany lebih ber-silver-linings deh, tapi gak kliatan aja di filmnya *sok tau banget gue* hahaha, buktinya itu, dia sampe bikin2 penenlitian tntang pertandingan2 bola yang taruhan2 bapaknya Pat itu kan? hahah sampe bapaknya berani parlay

    -end-
    -hepiending-

    • yay Sisri udah nontonnn :D. 5/5? yakin bukan 100/100? 8/8? πŸ˜€

      Paling suka tuh pas bagian si Tiffany-nya marah karena Pat anggep dia lebih gila, terus pas bagian Pat menatap sayaaaang banget pas TIffany makein dasi. T-T

      oh gak sabar pengen liat mereka main bareng lagi :D. Nonton Madre dong sri, lumayan kok πŸ™‚

  2. Pingback: Review Movie : Drinking Buddies (2013) | Racauan Manda

  3. Pingback: Kribo Pala Barbie. | Racauan Manda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s