What Are You, Exactly?

Menyadari bahwa beberapa postingan sebelum ini semuanya tentang review buku/film mental illness, kali ini saya mau membahas topik lain. Sebenernya masih ada beberapa sih yang kepengen banget saya bahas, film Martha Marcy May Marlene dan buku I’ts Kind of a Funny Story, tapi kita simpan saja untuk lain kesempatan. Kali ini, saya mau bahas soal the famous Fabbas Arhat yang udah bertahun2 meramaikan panggung hukum politik infotainment Indonesia.

Tapi sebelumnya, perlu dicatat bahwa saya biasanya paling males ngebahas hal2 beginian, jadi inisiatif saya untuk menulis ini didasari rasa penasaran yang amat sangat. Kalau ada yang salah mohon dikoreksi ya.

Kebetulan saya ini orangnya suka banget menganalisa orang, that’s why saya tertarik psikologi, dan cukup menjelaskan mengapa salah satu genre buku/film favorit saya adalah mental illness. Ajaran almarhum Ayah yang masih saya ingat adalah : “jangan pernah menjudge orang lain seenaknya, karena kita gak pernah tahu apa yang dia alami sampai dia begitu”. Memang hidup itu pilihan, musibah dateng ya karena perbuatan si makhluk, tapi kalau kita yang berada di posisinya belum tentu kita akan melakukan hal yang lebih baik. Jadi kalau gak bisa kasih manfaat/bantu kasi solusi, diem aja lah, yang berhak nilai ya Allah SWT. Kita mau mikir kayak apa terserah, but keep it to yourself, karena apapun yang terucap/tertulis itu gak bisa ditarik, dan menyakiti hati orang itu urusannya panjaaang banget bisa sampe ke akhirat, jadi sebisa mungkin yang gitu2 diminimalisir.

Bukannya saya juga gak pernah ngejudge sih, namanya juga manusia, tapi mendingan ada rem-nya kan daripada enggak sama sekali?

Nah, sebenernya ada banyak sekali tokoh yang membuat saya mengernyitkan alis. Pedangdut R yang tiba2 mau jadi presiden, MC cowok O yg kalau ngomong gak dipikir, lalu terakhir Fabbas Arhat. Saya tahaann aja, kalaupun mau dibahas juga gak di ranah publik macam twitter/fb/blog karena berasa kurang nyaman aja, tapi untuk si Fabbas ini saya bener2 udah abis akal sampai butuh dikejewantahkan *ceilah* di blog ini, berharap sedikit lega.

Gini ya jadi saya udah coba pikir dari berbagai sisi, tapi tetep aja kelakuan si Fabbas ini bagi saya ganjilnya setengah mati. Saya pertama kali tahu dia dari berita pernikahannya dengan seorang penyanyi lawas. Lalu beberapa tahun yang lalu muncullah berita di tivi bahwa si penyanyi mengajukan gugatan cerai karena si Fabbas entah selingkuh atau nikah lagi, cuma entah kenapa beritanya lenyap aja dan si penyanyi gak jadi cerai. Setelah itu saya gak denger2 lagi beritanya, tau2 beberapa kali dia dengan sukarela menjadi pengacara publik untuk beberapa kasus, dari situ saya mulai diam2 mikir :

“Ini orang memang segitu patriotis-nya atau butuh perhatian aja, sih?”

“Ini dia lagi mau ngebekenin diri buat nyalonin jadi sesuatu, ya?”

Tapi terus secara saya gak terlalu ngefans juga (maaf saya sukanya Mark Ruffalo *kalem*) jadi gak terlalu meratiin dia ngapain, terus apakah kasus2 yang dia tangani gimana jadinya saya gak tahu.

Tapi menjelang akhir 2012 yang lalu sampe sekarang si Fabbas jadi sering muncul lagi. Tentang tuntutannya pada adik kandung soal lagu, niat mencalonkan diri jadi presiden, tentang sindirannya pada wakil gubernur saat ini, peraturan sumpah poc*ng yang dia publish di twitter, sampai berita yang terakhir saya dengar adalah, dia ikut ngomong soal kasus seorang aktor/mc berinisial R yang terbukti pengguna Mercilon, bilang kalau mantan pacarnya si R itu pasti ada andil di balik tertangkapnya R, terus minta mantan pacarnya ke BNN untuk sumpah poc*ng.

Ini terlepas dari semua berita di atas bener apa enggak (kalau memang ada bukti account dia di-hack mohon dengan baik hati komen ya), kenapa sih demen banget nyuruh2 orang sumpah poc*ng? *mulai nyinyir*

Saya masih berusaha memaklumi MC cowok O, mungkin masa lalu yang sulit, terus tiba2 sekarang semua urusan bisa diberesin pake duit, job yang dateng terus, ditambah sedikit karakter diva, lelah cari duit tapi suka duit, dan fakta bahwa kebanyakan penonton televisi Indonesia ya demennya yang kayak dia, yang perilaku nyablak agak ngondek. Semua itu mungkin membuat dia bisa bersikap kayak sekarang.

Tapi Fabbas? saya bener2 bingung deh, coba kita break down ya list spekulasi/pertanyaan saya :

[SATU] Dia tuh masih beneran kerja jadi pengacara gak sih? Apa masih ada yang mau pake jasa dia melihat kelakuan dia kayak sekarang? Atau sebenernya dunia hukum Indonesia itu gak butuh pengacara yang bernama baik, yang penting ada kenalan kiri kanan biar urusan cepet beres?

[DUA] Sekarang asumsikan dia udah gak peduli karir pengacaranya dengan semua komentar dia yang aneh2, dia melakukan itu cuma karena kepengen membekenkan diri, biar masyarakat akrab dengan namanya (“Any publicity is good publicity”?). Mungkin dia sebenernya gak terlalu ngarep jadi presiden, sasarannya jabatan lain di bawah itu sedikit, tapi masa dia gak kepikiran sih kalau publisitas yang dia lakukan itu pure ngejatuhin nama dia aja, gak ada nilai empati ataupun rasa ingin tahu dari masyarakat supaya dia bisa carry on dengan apapun tujuan yang dia bawa ke depannya?.

Contoh kasus Manohara, cerita pribadi pernikahan dia jadi konsumsi publik, itu termasuk bad publication loh menurut saya, karena rasa malu itu pasti ada, meskipun publikasi itu turut membantu proses perceraiannya. Gara2 kasus itu juga Manohara dikenal orang, dia bisa jadi aktris/penyanyi/model/mc, bahkan cerita dia diangkat jadi sinetron, apa yang dia alami menumbuhkan empati masyarakat yang membuka kesempatan itu, meskipun sebenernya ternyata talent aktingnya gak seberapa. Atau film Hanung Bramantyo yang katanya salah kaprah soal adat Minang, somehow berita itu membuat orang2 jadi makin penasaran kepengen nonton kan?

Tapi cara publikasi si Fabbas dan pedangdut R itu bukannya malah bisa bikin ilfil ya? kalaupun ada yang tertarik, gue rasa animonya gak lebih banyak dari yang ilfil, karena pada kenyataannya meskipun bangsa Indonesia mayoritas Islam, tapi jangan lupa kalau yang Islam itu banyak banget yang satu family dekat sama yang non-muslim, yang Islam itu bisa datang dari ras mana aja. Menghina satu ras/membela agama tertentu secara terang2an menurut saya gak bijak, karena gak ada keluarga yang suka kalau darah dagingnya dikucilkan dan gak ada yang suka kalau identitasnya secara tidak langsung dicemooh. Karena agama itu sensitif dan ras itu tidak menentukan performa, menurut saya sih kalau mau maju memimpin negara yang isinya beragam kayak Indonesia ya jangan memihak/mengucilkan suku/agama tertentu. Gak semua yang ada di kepala harus dishare, pastiin aja mau puter otak sampe panas buat berlaku adil dan mau mikirin kemakmuran orang lain.

Contoh simpelnya ya nyet, semisal lo mau jualan di TK, terus masa lo mau jualan bata? yang beli siapa? ayah salah satu murid yang kebetulan lagi butuh ganjelan pintu? peluangnya kecil kan? untungnya gak maksimal kan? Secinta2nya lo ama bata, biarpun lo idealis abis tiada hari tanpa ngangkut bata, kalau memang tujuan utama lo cari rezeki ya mesti menyesuaikan diri, mulailah cari sesuatu yang anak TK suka, atau seluruh range umur di TK itu suka (mulai dari anak2 sampe ibu2 yang nganter anaknya sekolah). Begitu juga dengan mencalonkan diri sebagai presiden, kalau memang tujuannya untuk memimpin, dan EMANG BENER2 SERIUS MAU MIMPIN, ya ngobrol2 dulu deh sama publicist, atur2 strategi dulu kali ya sebelum cuap2, tidur yang cukup, makan sehat, biar semua publikasinya efektif. Biar semua lapisan, ras, bahkan agama bisa merasa aman di bawah kepemimpinan lo. And if you don’t care, maka gue asumsikan lo mencalonkan diri untuk kepuasan pribadi aja, sebagai bentuk pengabdian terhadap agama/suku tertentu tanpa benar2 perduli akan dipilih apa enggak. Which is too bad, karena kalau lo ternyata memang benar2 qualified, ada banyak orang yang bisa meraih manfaat dari kepemimpinan lo dan ada banyak pahala yang bisa lo ambil kalau saja lo mau berpikir sedikit lebih dalam.

[TIGA] Nah sekarang asumsikan dia sebenernya bener2 kepengen jadi Presiden, seperti yang gue uraikan di atas, kok gitu ya caranya?

[EMPAT] Kecurigaan gue yang lain adalah, karir pengacaranya sebenernya udah gak dipeduliin lagi, dan dia tidak mengincar kursi presiden juga, tapi dibayar media dan infotainment buat bikin berita. Soalnya sensasi yang dia buat terlalu absurd, dan asumsi gue adalah sengaco2nya dia, dia masih sayang anak. Salah satu alasan kenapa orang rela melakukan hal yang menurunkan harga dirinya dan keluarganya adalah karena memang mata pencahariannya dari situ.

[LIMA] Atau dia sebenarnya pengalih perhatian dari berita2 lainnya, dan dibayar cukup mahal untuk itu, dengan alasan yang sama seperti di atas. Dia gak peduli ngomong jungkir balik kiri kanan, mlence2 ya karena tahu ada yang ngelindungin kalau ada apa2. Udah dijamin kemaslahatannya, dia tinggal bikin onar aja.

[ENAM] tanpa bermaksud menghina, meledek, anggaplah dia… sakit. Kenapa keluarganya gak ada yang bertindak untuk mencegah Fabbas melakukan hal yang lebih gila lagi? Kalau dibiarin lama2 bisa ngancurin dia dan keluarganya kan? Saya bener2 ga abis pikir ada tokoh masyarakat yang masih aja gembar gembor mau include sumpah poc*ng sebagai bagian dari hidup, dua kali pulak. Masa gak ada yang bilangin? Masa gak ada yang sayang sama Fabbas?! *abaikan komentar ini*

[TUJUH] Dan ini prediksi terakhir tapi yang paling banyol, karena udah capek aja mikirin visi misi Fabbas Arhat ini : Men in Black itu bener2 eksis dan dia salah satu alien yang kurang bisa menyesuaikan diri tapi jadinya hiburan untuk masyarakat. Macam Andy Warhol di MIB III. Jay and Kay gak bisa bertindak karena kalau dia gak boleh muas2in diri buat berdrama2 di media, dia bakal ngelepasin zat tertentu yang mengancam kehidupan penduduk bumi?. Beberapa kali dia udah berserk, tapi semuanya sukses tertangani karena ada monas *wink*.

Kalau ada yang mau komentar, pencerahan atau koreksi, silakan tapi tolong ngomongnya sing alus yo, saya orangnya lembut jadi kalau ada yang kurang ajar ya gak diapprove aja deh… *muka manis tapi psycho*. Kalau ada kata2 yang menyinggung, saya minta maaf sebelumnya ya, karena saya cuma mencoba mengeluarkan pendapat dalam kapasitas saya sebagai…. saya. Percayalah bahwa tidak ada niat menghina/membela sedikitpun, ini sekedar pembahasan dari segi psikologi yang sampe sekarang saya masih penasaran aja sebenernya ini orang maunya apa, kenapa, gimana, why oh why, anaknya apa kabar, istrinya gimana, mata pencaharian dari mana, etc etc.

Terimakasih loh udah mau baca :D.

Jay, Kay, semangat ya.

Mandhut.

Advertisements

5 thoughts on “What Are You, Exactly?

  1. holaa

    iya ya, kmaren sempat ikut juga nih beritanya pak fabas yang tentang pak wagub, sampe situsnya di-hack ya kalo gak salah, trus sempt liat2 di yutub juga beritanya, yg debatnya ma pak anton…

    aneh ya, kalo memang dia bener2 kayak gitu. harusnya dia bisa mikir2 dulu sblm berkicau ato apalah… dan anehnya lagi dia gak sendiri, masih ad juga yg ikut bela ato sepaham lah istilahnya, dengan alasan bahwa hal2 kayak gitu udah wajar di dunia perkicauan, trus bangga2in followernya yg udah banyak jadi dianggap yg kayak gitu hanya hal biasa, lupa lagi saya nama orang itu yg…… gak taulah mau bilang apa, pokonya ada juga org2 yg kayk gitu…

    ko bisa ya… sebenernya sih, mau nigeria kek, etiopia, kroasia, malaysia, bukannya rasa sedih dan gembira kita sama?…. iya sih, tergantung dari tingkat sensitifitas juga, tapi kan alesannya sama… dan sama2 punya rasa.

    gak tau dah latar belakang sebenernya dari berita2nya dia…
    nah, kalo mau dibahas lagi nih, tentang pmahaman mereka2 tentang hal yg katanya sudah biasa di dunia maya perkicauan… bukannya kalo dari kebiasaan kemudian lama2 bisa berpotensi untuk jadi budaya? (ceilah, bahasanya wkakwkawkakw), gimana dong dengan nasib budaya yg nnti akan ada untuk generasi kita kedepan? *pusing sendiri* wakowkaokwaowkoa

    dan kalo mau lebih jauh lagi nih, bisa juga kita hubungkan hal2 yg kayak gini, dengan semacam perang dan lainnya (lebar amit bahasannya hahah)…. kenapa masih ada orang yg gak bisa punya rasa sama, gak bisa berbicara rasa atas nama manusia saja?…. dan tentang keyakinan ‘faith’… itu kan bebas, kebanyakan masing2 orang punya, dan tentunya pasti ada pelajaran toleransi dan saling menghargai didalamnya…
    apa harus tunggu bunyi genderang perang dari ‘alien’ baru kita bisa berasa satu, bisa berasa sama karena punya satu musuh yang sama?…. ngapain juga harus pakek cari2 musuh baru bisa ada rasa yang satu… hadeeehh.

    dan kalo mau lebih lebar lagi ya, hahahahahahaaahaa pusing sendiri ntar…. yaitu tentang energi (astgfiruloooh, jauh banget, hahahaha ). yah, kalo mau ikut pikiran anak2, mending dibagi rata aj kali ya, jadi misalnya gini:

    raja minyak :
    “haloo dunia, gue punya nih minyak, banyak banget, ampe mengkilap nih kota gue.. tapi yg kepake cuma segini, masih ada tuh sisanya, banyak, sok, silahkan ambil aj kalo mau pake”

    raja emas :
    “holaaa holaaa, eh bro, kemarin gue nemu nih, emas, disitu dibelakang situ, banyak loh.. kalo mau gali aj sendiri, gue mau pake yg ini dulu buat bangun2 rumah masyarakat gue”

    gila memang, dan ini bukan berarti kita berbicara tentang politik dan lainnya yg entah sudah seperti apa pengetiannya dalam pikiran masing2, tapi hanya tentang sifat dan karakter para raja yang kalo kita bisa lihat disaat mereka masih esde, kayaknya lebih imut deh.. gak tau suasana seperti apa yg membawa mereka2 jadi beda…jangan2 salah satunya karna sesuatu yg dianggap biasa, sama seperti anggapan fabbas dan temn2 yg sepahan dengan dia tentang dunia perkicauan yg diatas itu..

    tapi sudahlah… everything happens for a reason awokawokaowkaowk

    semangaaaaat! 😀

    • kayaknya sih yang sok2 mendukung itu mungkin termasuk ke dalam tim pengalih/sesama alien. Kayaknya cuma itu deh kemungkinan yang masuk akal, dibayar emang untuk bikin huru hara pengalih perhatian, kalau enggak nafkah dari mana coba? kasian juga kali anaknya malu diledekin temen di sekolah “huweeyy bapak lo aneh.” kan kasian 😦

      Kayaknya sih emang kalau mau buat perubahan yang signifikan ya kita mesti jadi orang dulu ya Sri, mari kita semangat! cihaaaaaaa!

      • baru baca lagi ini ahwahah

        iya Man…
        bener tuh, dan kayanya pertama yang penting itu kita harus semangat!, kalopun nnti ada sedih2, bagusnya sih jangan ampe larut, paling gak 2 ato 3 menit aj trus semangat lagi 😀

        oke dah, semangat selalu selamanya.. amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s