Review Movie : Cloud Atlas (2012)

Free Web Proxy

Halo! lagi sibuk ngerjain projek *bisikbisikbisik* jadi baru bisa posting lagi nih (lagaknya kayak abis dinas sebulan, padahal baru 5 hari doang). Kemaren malem sempet curi-curi nonton film Cloud Atlas, yang mana sempet males nontonnya karena durasinya hampir 3 jam aja macam film Bollywood, dan ratingnya yang cuma 66% di Romat *anak Romat abis*. Tapi setelah ditonton, ternyata saya lumayan suka, jadi kali ini saya mau review deh :D.

Oh ya, karena durasinya yang panjang itu dan memang film ini terdiri dari ENAM ZAMAN yang dipepet di satu film, maka postingan ini akan lumayan panjang, jadi bersabarlah ya. Oh iya, film ini diangkat dari novel berjudul sama karya David Mitchell, tapi saya sendiri belum sempet baca, hehehehe. Novelnya udah ada, cuma karena lagi agak hectic maka belum sempet baca2 juga, kalau ada yang udah baca monggo ya komen2.

Sebelumnya saya kasih review tanpa spoiler :

Cloud Atlas (2012) -> score 75 dari 100 deh. Bercerita tentang reinkarnasi dan karma. Terus serunya adalah, tiap zaman itu genre filmnya beda, dari komedi sampai post-apocalypse, jadi harusnya sih durasi 3 jam itu gak ngebosenin. Buat yang gak percaya reinkarnasi dan karma, nontonnya just for fun aja, nikmatilah CGI yang lumayan menawan dan buat yang suka Ben Whishaw (yang jadi Q di Skyfall) puas2in deh nonton dia di film ini, saya tahu kalian udah kangen2 najis setelah ga puas dengan scene Q yang dikiittt banget.
Free Web Proxy

Film ini cocok ditonton oleh orang2 yang suka fiksi, yang percaya atau suka dengan konsep reinkarnasi, yang sering deja vu, dan yang suka genre macam dystopian future, starcrossed romance, dan post-apocalypse (menurut saya 3 genre itu yang menonjol). Kekurangan film ini adalah, ada zaman yang agak susah dimengerti bahasanya, baik membaca subtitle indonesia maupun inggris, dikarenakan… bahasa yang udah berubah gitu grammarnya, macam yang tadinya ngomong ‘please tell me the truth?’ ngomongnya jadi ‘true-true?’, juga ada yang ngomongnya pake dialek yang gak jelas gitu, dan itu lumayan ngeselin -_-; . Rating umurnya… pantas ditonton untuk dewasa kali ya (di atas 17), soalnya mbak Bae Doona agak wow juga disini, begitu juga dengan peran Ben Whishaw yang agak2 nyeleneh. Oke sip ya :D, selamat menonton!

Our lives are not our own. From womb to tomb, we are bound to others. Past and present. And by each crime and every kindness, we birth our future. ~ Soonmi-451

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, Cloud Atlas terbagi menjadi 6 cerita dari 6 zaman, tokoh utamanya digambarkan adalah roh yang sama, tapi bereinkarnasi menjadi orang yang berbeda suku dan gender, juga memiliki kisahnya masing2. Tapi setiap bereinkarnasi, orang tersebut pasti punya tanda lahir yang bentuknya adalah…. komet (gue merasa ini enggak banget). Berikut kisahnya (bagi yang males baca, cukup perhatikan yang di bold, yang lebih males lagi, scroll lah sampai the end) :

[satu] South Pacific Ocean tahun 1849, bercerita tentang Adam Ewing (Jim Sturgess), seorang pengacara (muka manis) dari San Fransisco. Om Adam (berasa ngomongin suami mbak Inul) pergi ke Chatham Island untuk kepentingan bisnis, pulau dimana salah satu suku lokal, suku Moriori, diperbudak dengan semena-mena disana. Dalam perjalanan pulang naik kapal menuju San Fransisco, seorang budak Moriori bernama Autua diam-diam ikut berlayar dan meminta Adam Ewing untuk menolongnya. Om Adam yang baik hati akhirnya membantu, dan budinya ini dibalas Autua saat Adam hampir mati diracun dokter pribadinya sendiri. Itulah alasan mengapa Adam dan istrinya, Tilda, memutuskan untuk menjadi aktivis gerakan pembebasan budak. Di dalam film, cerita Adam Ewing ini, nantinya diabadikan dalam sebuah buku berjudul “The Pacific Journal of Adam Ewing”.

[dua] Cambridge-England and Edinburgh-Scotland tahun 1936, bercerita tentang Robert Frobisher (Ben Whishaw kyaaa kyaaa), calon komposer muda berbakat yang bekerja untuk seorang komposer terkenal, Vyvyan Ayrs. Si Robert ini jago banget main piano dan cerdas, tapi karyanya, ‘Cloud Atlas the Sextet’ (judul filmnya diambil dari sini) mau direbut sama kakek Ayrs. Dengan ancaman kalau misal si Robert gak mau memberikan karyanya, maka Ayrs bakal mengungkap bahwa Robert Frobisher adalah seorang biseksual, dan ini akan membuat karirnya mati, apapun lagu yang Robert ciptakan gak akan digubris masyarakat di masa itu karena dia termasuk kaum sodomite. Robert yang kalut akhirnya membunuh kakek Ayrs, menyempurnakan sextet miliknya dan akhirnya dia pun bunuh diri. Sepanjang cerita, Robert terus mengirim surat untuk kekasihnya (seorang cowok, sori ladies) yang bernama Ruffus Sixmith (James D’arcy), di suratnya ini dia mengungkapkan tentang kerinduannya akan Sixmith, cerita gubahan Cloud Atlas miliknya, dan kekagumannya pada sebuah buku berjudul “The Pacific Journal of Adam Ewing”.

 

[tiga] San Fransisco tahun 1973, bercerita tentang Luisa Rey (Halle Berry) seorang wartawati yang tanpa sengaja bertemu dengan seorang ilmuwan bernama Ruffus Sixmith. Dari perkenalannya itu, Sixmith berniat untuk minta bantuan Luisa Rey untuk mengungkap kenyataan dibalik rencana penggunaan sumber bahan bakar baru yang sangat beresiko bagi kemaslahatan umat. Tapi sebelum om Sixmith memberikan data2 yang dibutuhkan, dia keburu dibunuh, Luisa tidak berhasil mendapatkan bukti, tapi malah menemukan surat2 cinta dari Robert Frobisher untuk om Sixmith. Dari surat2 itu jugalah Luisa tahu sebuah sextet bernama ‘Cloud Atlas’, dan dia merasakan deja vu amat sangat pada gubahan tersebut. Selanjutnya, Luisa Rey harus berjuang mati2an untuk mencegah pemanfaatan bahan bakar nuklir karena bukan hanya nyawa narasumbernya yang terancam, tapi juga nyawanya sendiri. Kisah Luisa ini selanjutnya dijadikan novel oleh tetangga satu apartemennya yang masih remaja, dengan judul “The First Luisa Rey Mystery”.

[empat] United Kingdom tahun 2012, bercerita tentang Timothy Cavendish, seorang publisher buku berusia 65 tahun. Salah satu penulis yang bukunya dia publikasikan terlibat masalah dan masuk penjara, lalu Tim dengan seenaknya membelanjakan hasil keuntungan penjualan buku untuk dirinya sendiri. Hal ini membuatnya dikejar oleh teman-teman si penulis, yaitu para gangster. Panik, Tim meminta pertolongan pada saudaranya, Denholme, yang ternyata malah menjebloskannya ke dalam sebuah panti jompo. Tim dan teman-temannya sesama manula akhirnya menyusun rencana untuk dapat kabur dari panti jompo tersebut. Sadar bahwa dia selama ini telah menjalani hidup dengan cara yang pengecut, maka Tim menikahi cinta sejatinya. Suatu hari Tim membaca novel “The First Luisa Rey Mystery” yang menginspirasinya untuk membuat sebuah skenario screenplay berjudul “The Ghastly Ordeal of Timothy Cavendish”.

[lima] Neo Seoul – Korea tahun 2144, bercerita tentang Sonmi451, manusia kloning yang bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran bernama Papa Song. Sonmi hanya tahu menjalani hidup sesuai rutinitas yang sudah ditentukan; bangun, mandi, bekerja 19 jam sehari, lalu minum Soap (semacam minuman nutrisi) dan tidur. Tujuan hidupnya hanya satu, mendapat ‘Exultation’ (semacam kelulusan) untuk bisa terjun ke masyarakat. Jangankan keluar dari restoran, dia bahkan tidak diperbolehkan menonton televisi. Hidup Sonmi yang monoton berubah saat seorang pemuda bernama Zheng Hae Joo membawanya melihat dunia luar dan memberitahukan kenyataan di balik proses ‘Exultation’ yang dijanjikan kepada Sonmi. Untuk menghemat biaya sumber daya manusia dan konsumsi, kloning2 tersebut diperkerjakan sebagai pelayan, tapi tidak diberikan ‘kelulusan’ melainkan dibunuh dan didaur ulang menjadi makanan bernama ‘Soap’ yang dikonsumsi Sonmi setiap hari.

Sebuah organisasi bernama Union – organisasi yang mengirim Hae Joo, menyatakan kontra pada sistem kloning ini, dan meminta Sonmi untuk tampil dan menceritakan kisah hidup dan pendapatnya sebagai cloning pada masyarakat. Tujuannya untuk menstimulasi gerakan kontra kloning. Mereka membajak stasiun berita dan Hae Joo terbunuh di sana, Sonmi berhasil menyampaikan pesannya secara live, namun ditangkap dan pada akhirnya dihukum mati juga. Salah satu film yang ditonton Sonmi sewaktu pelariannya dari Papa Song adalah ‘The Ghastly Ordeal of Timothy Cavendish’, yang akhirnya menginspirasi Sonmi untuk memperjuangkan hak asasinya. Kisah hidup Sonmi dicatat oleh seorang archivist, dengan judul “The Onison of Sonmi451”.

The Big Island, 106 tahun setelah ‘The Fall’ (dalam buku tertulis tahun 2321). Diceritakan populasi manusia sudah tidak sebanyak dulu, lalu kembali terbagi menjadi suku-suku. 2 kelompok besar adalah populasi manusia yang melek teknologi (‘The Smart’), dan kelompok manusia yang tertinggal dan kembali mengadopsi sistem hidup berternak. Perbedaannya lumayan jauh nih, karena ada suku yang masih menggembala ternak dan percaya dukun, bajunya aja dari rajutan terus pakai tattoo2 di muka, sementara kelompok ‘The Smart’ kemana-mana naik teknologi pesawat yang hemat energi. Suku Valleysmen punya seorang dewi yang dipuja, namanya Sonmi, dan kitab sucinya bernama “The Onison of Sonmi451” Zachary (Tom Hanks) anggota suku Valley, membantu Meronym (Halle Berry), pendatang dari kelompok ‘The Smart’, untuk pergi ke sebuah situs peninggalan yang dulunya stasiun berita. Disana Meronym akhirnya memberitahu Zachary bahwa Sonmi bukan dewi, tapi seorang manusia kloning yang dulu mempelopori gerakan anti-cloning. Sepulangnya dari perjalanan mereka, Zachary terpukul saat tahu desanya diserang oleh sekelompok suku kanibal, hanya keponakan perempuannya yang masih hidup, Catkin. Akhirnya, Zachary dan Catkin diselamatkan oleh Meronym, mereka ikut dengan kelompok ‘The Smart’. Zachary menikah dengan Meronym, lalu tinggal di sebuah planet yang memiliki 2 bulan. Mereka hidup bahagia bersama cucu-cucu, menghabiskan masa tua dengan berbagi kisah mengenai sebuah titik biru di langit bernama bumi.

———— THE END ————–

Sebenernya ya, kalau boleh jujur, film ini banyak kurangnya. Pertama adalah logika cerita yang agak maksa, salah satu bloopers yang saya temukan adalah, kalau benar tokoh2 utama dalam setiap zaman (yang ada tanda lahir komet-nya) itu adalah reinkarnasi dari satu roh yang sama, mengapa masa hidup Luisa Rey sama Timothy Cavendish saling beririsan? Timothy Cavendish umurnya 65 tahun saat tahun 2012, yang mana berarti dia lahir tahun 1947. Sedangkan Luisa Rey masih hidup pas tahun 1973, jangan bilang reinkarnasi dalam hal ini bukan hanya mencakup dimensi waktu, tapi juga nyebrang dunia paralel?

Terus penggunaan bahasa yang agak ngilfilin. Jadi diceritain kan pada tahun 2321 itu, teknologi mundur, bumi hijau kembali, pendidikan juga menurun. Ada suku yang kembali menganut ajaran animisme, juga memuja dewa-dewi. Kalau di jaman sekarang kita melihat situs2 peninggalan macam candi, di masa depan itu kita melihat kerangka bekas gedung2 bertingkat yang ditumbuhi lumut, belukar (menurut gue ini indah banget). Bahasa yang digunakan masih bahasa inggris sih, tapi sudah mengalami perubahan grammar. Terutama bahasanya suku Valleysmen itu, ajaib abes. Udah ngomongnya macam kumur2, grammar acakadul, pusing gila. Jadi sudahlah ini ngertiin cerita yang zaman terakhir agak pake perjuangan, karena pake subtitle indo pun masih agak tebak2 buah manggis. Tapi yang paling bikin saya ngakak adalah, kalau biasanya manggil kakek nenek itu Grandma sama Grandpa, ini jadi Gran’Mi sama Gran’Pi. Terus dasar anak Indonesia, seketika langsung inget Mimi sama Pipi *digebuk*. =)) =)) =)).

Mimi dan Pipi masa depan *kabur*

Kekurangan yang ketiga adalah, pemilihan tokoh kloning di tahun 2144, cerita si Sonmi. Bok, yang namanya kloning ya menurut gue sekalian aja rekayasa gen biar manusia yang muncul mulus prima. Apalagi ini ceritanya si manusia begitu hidup ya langsung dewasa, jadi gak ada deh urusan jerawatan masa ABG sampe ada bolong dikit di pipi. Ini bukannya mendiskreditkan mbak Bae Doona dan teman artis sesama korsel yang jadi kloning juga. Cuma pas zoom in keliatan kalau kondisi kulit gak kayak bayi baru lahir. Minimal harusnya tim make-up sama sutradara udah antisipasi soal ini kan ya?

Kekurangan keempat adalah make-up dan casting! Jadi yah, entah demi untuk menghemat budget honor pemain, atau memang sengaja biar jadi ‘kelebihan’ dibanding film2 yang lain. Satu aktor/artis di Cloud Atlas ini bisa megang 4-6 peran. Lintas zaman, kadang satu zaman pun ada yang megang 2 peran. Biasanya sih kalau udah megang peran utama di satu cerita (yang ditandai dengan tattoo komet) maka di cerita lain dia akan menjai pemeran pembantu atau figuran. Tapi masalahnya adalah, castingnya maksa, dan tidak didukung oleh make up yang mumpuni. Sebagai contoh, muka Jim Sturgess yang cakep itu dipaksa menjadi cowok korea di ceritanya Sonmi, lihatlah perbandingannya :

apa yang salah ya?

Jarak matanya jauh aja deh. Itu karena mata Jim Sturgess nampak dipaksa sipit, jadi yaudah ditutup deh kelopaknya. Tapi entah kenapa jadinya kurang alami aja ya. Itu belum seberapa, silakan lihat Hugo Weaver yang jadi begini :

something’s weird…

Yuk mari.. Orang Korsel sekarang udah banyak kok yang matanya meleeekkkk kan udah pada operasi :(, kalau jadinya aneh mendingan dibiarin belo, cuma pake kontak lens aja deh, sama kulit dibuat tanpa freckles, biar lebih asia.

Belum selesai, coba lihat mbak Bae Doona yang dipaksa jadi orang barat :

Hih. apa banget deh. Idungnya kurang barat…

Lalu lalu lalu, bisakah kalian tebak siapa yang jadi kakek di sebelah kanan ini :

Halle Berry, bok. Gak keliatan sama sekali. Terus jangan dipikir ini kakek perannya penting, karena dia cuma muncul bentar banget. Udah muka gak Halle Berry, durasi bentar, mending bayar orang lain aja ketimbang boros pake Halle Berry buat peran begitu. Gue kira the point of memakai ulang cast2 besar karena ada elemen cameo-nya. Tapi kenapa begini? apalah gunanya film lo dilewatin Leonardo Dicaprio kalau muka dan badannya ditutup kostum ayam? zero, gak ngefek.

*puas mengkritik*

Ya itu sih kurang-kurangnya. Tapi biarpun banyak yang lucu2 minta dicela, gue tetep suka sama film ini. Soalnya seperti yang udah gue bilang di awal, genrenya pas buat gue. Tapi selain itu gue paling seneng karena ada Ben Whishaw-nya sih, ganteng! Perannya jadi Robert Frobisher pas banget buat dia. Terus gue nangis bombay pas Sixmith menemukan Robert Frobisher dalam keadaan udah bersimbah darah karena bunuh diri, padahal kalau dia sampai 10 detiiiik aja lebih cepet, mereka bisa ketemu dan mungkin happy ending T-T.

Jangan sedih mas, saya jadi ikut nangisss T-T *norak*

Saya juga suka cerita tahun 2321, kisahnya Zachary sama Meronym. Pas awal2 gue kira tuh Tom Hanks kebagian peran utama di zaman manusia purba, karena dia sedang ngangon kambing, terus pake baju rajut, tapi begitu ada pesawat model luar angkasa yang dateng dan merapat ke pulaunya, saya langsung takjub, sungguh alternatif masa depan yang gak pernah terpikir sama saya.

Dan tentu saja, saya suka cerita Sonmi, Mbak Doona di sini aktingnya pas banget untuk jadi manusia cloning. Entah kenapa cerita dystopian selalu memiliki daya tarik tersendiri buat saya.

Terus, ide bahwa apapun yang kita lakukan, masa lalu ataupun sekarang, kecil atau pun besar, akan memberikan pengaruh bagi orang lain dan masa depan itu sampai banget ke penonton. Musik dari Robert Frobisher yang bercerita, menyentuh hati seorang Luisa Rey. Film komedi Timothy Cavendish yang menginspirasi pemberontakan manusia cloning Sonmi. Keberanian Sonmi yang membuatnya dipuja sebagai dewi, dijadikan agama untuk sebuah suku primitif di masa depan. Hal yang gak terduga mungkin saja terjadi.

Dan itu membuat saya jadi mikir2, betapa saya ini harus berterimakasih kepada para pemusik, penulis, pejuang, leluhur, baik yang masih hidup maupun sudah berpulang, karena hidup yang saya jalani hari ini, saya yang ada hari ini, tidak terlepas dari pengaruh dan usaha mereka. Kelihatannya cuma satu file musik mp3 berdurasi 3 menit, diciptakan pada tahun 50-an, hanya bermaksud untuk menyambung hidup si penyanyi, tapi di masa sekarang lagu itu selalu berhasil membuat saya semangat lagi saat mood lagi down. Kelihatannya mungkin cuma hobi membaca buku, tapi itu muncul karena genetik, dan ingatan tentang Kakek yang setiap pagi selalu duduk membaca, diterangi sinar matahari yang lembut dan ditemani segelas teh hangat. Kelihatannya aja sekarang bisa nulis, bisa baca, tapi itu tidak terlepas dari usaha ibu yang mengajarkan alfabet, meskipun masih lelah sepulang dari kantor.

Film ini juga buat saya jadi senyum2 sendiri, terutama karena karir saya sebagai illustrator ini banyak mendapat komen langsung dari anak2. Dan apa lah yang lebih indah dari komentar anak2 yang polos?. Sampai sekarang saya merasa pengalaman saya masih kurang, masih banyak deh illustrator yang lebih jago, lebih gape, tapi meski begitu, ada aja guru dan anak murid yang suka memotong dan menempel gambar2 saya di dinding, soalnya lucu katanya. Dan saya pun merasa bahagia, karena tahu bahwa setidaknya saya sudah turut membantu tumbuh kembang anak2 itu, dan mungkin suatu hari di masa depan nanti, salah satu dari mereka ada yang menjadi illustrator, karena sewaktu kecil melihat gambar saya. Manis banget kan kalau sampai bener2 kejadian? 😀

Jadi pembaca sekalian, inti dari film Cloud Atlas ini adalah, hidup kita itu bukan milik kita sendiri. Ada memori, ilmu, darah dan karya yang mengalir di tubuh dan jiwa, membuat kita menjadi kita hari ini. Kita semua sudah terhubung, erat. lekat, bahkan tanpa peran social media. Kita hanya perlu sedikit lebih peka untuk menyadarinya.

Sixsmith, I climb the steps of the Scot monument every morning and all becomes clear. Wish I could make you see this brightness. Don’t worry, all is well. All is so perfectly, damnably well. I understand now that boundaries between noise and sound are conventions. All boundaries are conventions, waiting to be transcended. One may transcend any convention if only one can first conceive of doing so. Moments like this, I can feel your heart beating as clearly as I feel my own, and I know that separation is an illusion. My life extends far beyond the limitations of me. ~ Robert Frobisher

Happy weekend semuanya, jangan lupa buat kenangan manis 😀

Mandhut.

Advertisements

4 thoughts on “Review Movie : Cloud Atlas (2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s