Jangan Fanatik,

Beberapa minggu ini lagi kepikiran soal beberapa public figure yang karena nila setitik, rusak susu sebelanga, alias karena mereka melakukan 1 kesalahan, lalu hancurlah karirnya, nama baiknya. Hal ini terutama terjadi untuk para ustad yang kian lama kian bertambah jumlahnya. Somehow, mereka juga jadi makanan infotainment, dan kesalahan mereka dianggap sebagai sesuatu yang lebih besar dibanding orang lain yang melakukan dosa yang sama. Semua karena, julukan ustad yang mereka bawa, mengharuskan mereka untuk lebih ‘suci’ dari orang kebanyakan.

Saya sendiri termasuk orang yang rewel kalau udah nonton dakwah di tivi. Kurang inilah, kurang itulah, terlalu menye, terlalu sadis, terlalu judging, dll dsb. Paling risih terutama kalau udah masuk bagian muhasabah, yaitu sesi dimana sang ustad/ustadjah akan membimbing para hadirin sekalian untuk memohon ampun, menyadari dosanya sampe nangis2. Bukannya saya menyalahkan, mohon ampun itu harus karena tiap hari juga buat dosa biar cuma tidur doang, tapi saya merasa nangis itu sesuatu yang personal, pribadi, yang sebaiknya sih dilakukan di kamar diam2, atau bersama orang terdekat aja, gak untuk dishare bareng2 di tempat umum. Entah kenapa jadinya kok kayak drama reality show/talkshow yang sengaja banget bikin orang nangis buat naikin rating. Jadi sih biasanya kalau udah masuk bagian itu saya pasti langsung ganti channel, karena feels so wrong aja.

Memang sih aneh, karena bukan hanya muhasabah yang bikin saya gelisah, tapi juga momen dimana orang2 nangis saat melayat, atau foto2 bersama nisan/jenazah, meskipun itu keluarga sendiri. Entah kenapa saya merasa, foto2 dan merekam itu identik sama sesuatu yang happy/celebration, jadi gak pada tempatnya untuk lagi nangis/berduka terus tiba2 foto bareng, terus lanjut nangis lagi. Soal nisan, saya mikir yang difoto itu cuma gundukan, dengan batu/kayu yang terpancang. Mungkin namanya terukir disana, tapi orang yang saya sayang udah gak ada di sana, itu tinggal jasadnya aja, jadi fungsinya berfoto bersama itu apa?. Itulah mengapa saya gak pernah mau difoto/berusaha banget ga nangis saat melayat, even itu adalah seseorang yang dekat banget buat gue, karena gue gakmau mempermalukan almarhum(ah), dan enggak, gue gak peduli kalau orang lain anggap gue gak berbakti/dingin, because sesuai quote Dr. Seuss :

“Those who mind don’t matters, and those who matters don’t mind.”

But then again, ini adalah alasan kenapa gue menghindari muhasabah dkk, tapi bukan berarti gue menyalahkan, jadi jangan diambil ke hati ya. Karena se-enggak maunya gue foto sama nisan, gue juga punya orang yang kuburannya masih gue pantau dan jaga (padahal gue udah tau itu cuma gundukan dan nama terukir), hanya untuk alasan macam : gue gak sempet berbakti banyak pas dia hidup, jadi supaya hati gue merasa lebih baik aja.

Selesai curcolnya, marilah kita lanjut ke topik utama. Begitulah, saya rewel soal ustad2-an, lalu tiba2, Ustad Ucup Mancur muncul. Sebelumnya saya tegaskan ini bukan posting yang bertujuan untuk mempromosikan beliau ya, saya cuma kasih contoh aja dan kebetulan orangnya dia. Saya suka cara dakwahnya, karena gak neko2, langsung to the point. Dari dulu saya ini selalu mikir, kalau kepengen nolong orang, semisal kepengen bantu orang yang mau naik tebing, gimana coba bisa bantu kalau kitanya gak selesai manjat tebing duluan? Harta memang bukan segalanya, tapi face it, banyak yang bisa dilakukan kalau kita menjadi seseorang yang mengatur resource2 yang dibutuhkan. Manusia itu memang dasarnya berbakat sombong, tapi seperti air yang ditaruh dalam wadah dan waktu yang dipantau dengan jam, saya percaya semua ada cara untuk manage-nya, kalau kita niat.

Lalu si ustad ini pun saya lihat banyak sekali menuang pro dan kontra. Karena kebetulan si bapaknyah agak2 sering ngetwit, kadang gak jelas sendiri, udah malem masih aja menuhin timeline. Terus kadang seringkali membagi detail tentang apa2 aja yang dia sedekah-kan, dengan alasan bahwa itu untuk menstimulasi orang lain untuk ikut sedekah hardcore macam pak Ucup. Tapi lalu muncullah orang2 yang mulai menilai si bapak ini riya’ (pamer, dalam hal ini amal ibadah). Itu hal yang sangat biasa, tapi yang bikin dahi agak mengernyit adalah, orang2 ini ngritiknya kadang gak disaring, dan itu langsung dimention ke bapaknya, yang mana si bapak suka jawabin sambil diquote dulu, jadi follower semua baca.

Terlepas dari dia itu beneran riya’ atau memang berniat baik, memang sepinter dan sesuci apa sih sampai bisa judge orang kafir, terus memastikan dia masuk neraka?. Sefanatik apa sampai bisa begitu marahnya mengutuk seseorang untuk celah semacam ngetweet sedekah yang dia lakukan?. Kalau gak menyakiti kalian secara direct, kenapa terus ngomongnya sampai memaki kasar? kritik yang membangun itu dibungkus dengan kata2 yang tepat supaya orangnya bisa nrimo, karena itulah tujuan utamanya kan? kalau dengan kalian ngomong baik2, orangnya udah ngerti, gak pake sakit hati atau sedih, kenapa mesti kasar?

Bapaknya emang gak sempurna, saya sendiri pernah kritik kok. Beberapa kali dia ngequote orang2 yang ngetwit jahat ke doi, baru dia jawabin. Yang mana menurut saya jadi agak aneh karena jadinya kayak ngasi liat aib orang yang ngetwit jahat, user name-nya terpampang jelas2 gitu. Untuk yang fans fanatik Pak ucup ini bisa menjadi awal dari pertikaian yang pro dan kontra kan?. Lalu saya pun mulai mikir bahwa mungkin dia gak ada niat aneh2, cuma cari cara paling simpel dan cepet buat bales mention. Karena gak bisa DM (kami tidak saling follow *lagaknya kayak sesama public figure*), jadi saya mention aja, saya kasih usul. Dia gak bales loh, tapi saya sih sejak saat itu gak baca tweet jahat yang dia quote lagi. Kalaupun ternyata masih ada, yaudahlah ya :)) .

Jujur, saya gak pernah tahu si bapak ini riya’ atau enggak. Sayapun kadang berpikir negatif soal bapak ini, karena memang yang dia lakukan bisa mengundang ke arah sana (dan resiko dia juga), tapi saya percaya bahwa selama saya gak terbakar emosi dan dengan aktif menyakiti perasannya, semua itu ya berhenti di otak saya aja. Dan itu menurut saya adalah alternatif paling aman, paling baik, dari semua kemungkinan opsi. Kalau sampai apa yang saya pikirkan buat saya jadi beban, capek banget hidup saya. Kalau soal berhubungan sesama manusia, bukan apa yang di otak yang penting, tapi apa yang kita lakukan dan katakan, karena itulah yang orang lain rasakan.

Who knows, mungkin si bapak pun kadang emang beneran dikit2 riya’, di tengah ketulusan yang mungkin dia usaha banget pegang erat, ada kalanya merasa sedikit bangga, meski cuma karena udah menjadi orang yang lebih ‘berani’ habis2an sedekah. Mungkin memang benar, tapi terus kenapa? dia kan manusia, sama kayak kita. Hanya karena dia ustad yang tahu agama lebih dalam, terus dia harus sempurna terus gitu? Apakah itu lantas membuat semua yang dia dakwahkan itu salah? enggak kan?

Jangan fanatik sama siapa yang dakwah, tapi telaah aja apa yang didakwahin. Dan kalau memang udah ga sesuai sama hati nurani, karena somehow kata2 dia udah ga bisa masuk ke otak lagi karena dia udah poligami, atau karena dia kelihatan riya’. Ya move on aja, masih banyak ustad yang lain dan ada banyak cara untuk belajar kok. Gak perlu marah terus ikut2an nambahin cobaan karena orang tersebut juga udah cukup menderita dengan rasa bersalah dan penyesalannya.

Ini juga berlaku untuk orang lain, bukan sekedar tokoh agama. Gak ada orang yang bener2 sempurna. Manusia itu berubah, dan pasti pada satu titik hidupnya akan khilaf, berkali2. Teman yang baik one day akan buat salah. Pemimpin yang dipilih rakyat juga pasti ada cacatnya. Gak bisa kita minta seseorang lurus terus karena itu sesuatu hil yang mustahal. Tapi gak mungkin kan pas saat pemilu kita pundung mendingan ga usah ada pemimpin sekalian kalau semua orang ada cacatnya? Gak mungkin juga kan gak mau temenan sama sapa2 karena semua orang pada satu titik pasti mengecewakan? Kenapa gak mungkin? karena hidup harus tetap berjalan, negara harus ada yang kelola, sedih butuh temen curhat dan kalau iman lagi agak2 goyah butuh siraman rohani.

Jangan jadi fanatik, karena akan ada banyak sekali sisi positif dari hidup yang gak bisa kita nikmati kalau kita fanatik. Biarkan saja mereka melakukan tugasnya dulu, kasih apresiasi kalau memang mereka melakukan hal yang benar2 berguna. Dan kalau mereka khilaf, percayalah selalu ada ganjaran yang pantas. Gak perlu jadi kasar, karena mereka juga manusia, sama seperti kita, kemungkinan one day kita bisa khilaf juga. Dan kalau memang itu terjadi, gakmau kan dikatain iblis dan disumpahin masuk neraka?

Sekian dan terimakacih,

Mandhut.

Advertisements

3 thoughts on “Jangan Fanatik,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s