The Newsroom.

Free Web Proxy

Saya ini banci TV Series. No, maksudnya bukan saya banci yang muncul di beberapa tv series, tapi saya suka sekali nonton tv series. Dan kenapa gue harus menjelaskan hal kayak gini?

……… lupakan.

Back to topic!. Jadi, semingguan ini saya lagi kepengen banget punya koleksi TV series baru yang bakal saya tunggu2 kelanjutannya. Saya suka sekali How I Met Your Mother, tapi saya udah males nonton after season 3, karena ketahuan banget dipanjang2in demi rating (dan uang), padahal intinya sih cuma pengen tau aja siapa Ibu anak2 Ted. Yang mana sedikit miris, karena setelah 8 season (dan bahkan sebelum itu) Ted mulai terdengar kayak bapak2 caper aja, dan writer harus cari cara paling heboh dan gak mengecewakan untuk endingnya. Saya ngikutin Fringe, tapi udah mulai ilfeel sejak ada Olivia dunia lain yang pacaran sama Peter (saya lebih suka kasus2 aneh macam otak meleleh dan penjelasannya, tanpa romansa). Saya juga suka Person of Interest, tapi pemain2nya kurang hot gimana gitu *ditimpuk kompor*. So yes, saya butuh fandom baru. Sesuatu selain vampire, crime, romantic-comedy, cerita 2 anak manusia yang tertukar pas lahir, atau 2 orang beda dimensi waktu yang jatuh cinta (boo!! boo!!!).

Itulah kenapa selama seminggu ini saya rajin curi2 waktu buat nonton episode pilot, and then I found this new american tv series : ‘The Newsroom’. Probably one of the best TV series I’ve ever seen.

Inti ceritanya sih tentang dinamika kerja tim program berita di sebuah stasiun televisi. Yang mana tetap berusaha menjunjung tinggi idealisme di atas rating semata. Tahu aja dong ya kalau acara berita jaman sekarang udah mulai agak2 mirip infotainment, kadang si pembawa acaranya juga suka ikut komen gengges macam presenter Insret *disamarkan*. Kesalahan macam salah ucap, terus pertanyaan2 yang kurang tepat sasaran, lebih sering terjadi ketimbang acara berita jaman dulu. Tadinya sih gak terlalu aware soal hal ini, cuma sambil lalu aja, cuma gara2 nonton The Newsroom ini jadi suka meratiin kalau ada acara berita di tivi, sok2 ngebanding2in :)).

Jadi dikisahkan bahwa ada seorang pembawa berita bernama Will McAvoy (Jeff Daniels), pembawa berita favorit #2 berdasar hasil polling. Dia jadi favorit karena konon katanya selalu netral, gak pernah mengkritik terlalu pedas. Terus karena suatu dan lain hal, tim acara berita yang dibawain sama Will dirombak total. Kepala divisi berita, Charlie Skinner (Sam Waterston) mendatangkan seorang Executive Producer baru bernama Mackenzie McHale (Emily Mortimer), yang dengan idealis-nya kepengen acara “News Night with Will McAvoy” gak lagi sekedar menyajikan berita yang didikte oleh rating dan iklan, tapi bener2 ngasi berita yang mendidik penonton untuk lebih aware dan pintar. Terus dia menuntut Will untuk gak ‘main aman’ lagi, karena dia tahu sebenernya Will itu jauh lebih tajam dari figur yang dia tampilkan sekarang, dan dia butuh itu untuk membuat acara berita yang mumpuni.

Permasalahannya adalah : 1). Will dan Mac itu mantan kekasih, jadi debat2 pekerjaan di antara mereka seringkali menyinggung area personal. 2). Yang namanya acara apapun, umumnya makanannya itu iklan. Untuk supaya banyak orang mau masang iklan, mereka akan lihat dulu rating si acara itu gimana, berapa umur yang biasa nonton, berapa jumlahnya dll dsb. Semisal untuk dapet iklan sabun cuci, berarti harus banyak ibu2 rumah tangga yang nonton >> ibu2 rumah tangga Indonesia kebanyakan sukanya gosip dan apapun yang mengharukan >> inilah mengapa kasus2 yang kadang menitikberatkan pada anak korban KDRT atau ibu2 yang membunuh anak sendiri suka muncul secara berlebihan dan sering di televisi. Kalau dilihat dari segi wawasan, itu sama sekali gak mendidik (menurut Mac), sedangkan berita yang bener penting macam kondisi ekonomi suka terlewatkan karena dianggap kurang menarik.

Kira2 inti permasalahan mereka tiap episod itu begitu deh ya. Ritme ceritanya sendiri lebih ke drama komedi, tapi lucu deh komedinya itu agak beda dari yang biasanya ditonton. Mereka cenderung pake dialog2 saling timpal yang cepet, terutama pas episod2 awal. Kadang jayus tapi masih acceptable dan yang paling penting : gak jorok atau kasar. Pemerannya… gak ada yang beneran ganteng abis sampe bikin ngiler2 *nggilani*, tapi lumayan deh :D. Selain Will dan Mac yang nampak membidik pasangan uzur *disambit*.

Will and Mac

Ada juga cinta segitiga Jim Harper (John Gallagher Jr.), Maggie Jordan (Alison Pill) dan Don Keefer (Thomas Sadoski). Jim itu Producer, tangan kanan Mac. Maggie bawahan Jim, Don itu Executive Producer juga tapi di acara lain. Maggie sama Don ini pacaran, cuma Jim sama Maggie diem2 saling naksir, bagaimanakah akhir kisah mereka? nonton!.

Jim and Maggie yang manisss manisss

Lalu ada juga mbak Olivia Munn yang disini jadi salah satu penyiar berita junior Will yang cantik dan pintar ekonomi, Sloan Sabbith (benar2 peran yang sungguh fenomenal mengingat sejarah Mbak Munn). Sama ada Dev Patel (Zuko!) yang jadi Neal Sampat, yang bertugas mengelola blog Will sama sesekali didaulat jadi penasehat IT.

Sloan and Neal

Btw kalau manggil Mbak Munn gitu kesannya kayak manggil ART ya. “Mbak Munn, indomie telur aku mana?!” *direbus*

Yang perlu di highlight dari tv series ini adalah :

[1]. Mereka pakai berita yang otentik, bener2 kejadian yang pernah terjadi di dunia gitu. Baik dari berita eksekusi Osama bin Laden, terus tentang Politik Tea Party, sampai komen2 Sarah Pallin yang suka jadi guyon.

[2]. Sekomedi2nya, mereka sebisa mungkin berusaha untuk membuat cerita dan karakter realistis. Don yang agak2 antagonis dan rating-minded pun punya momen dimana dia tetep tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang enggak. Contohnya pas mereka harus memberitakan tentang kejadian seorang senator yang kepalanya ditembak pas lagi di podium. Stasiun tv lain udah memberitakan si senator meninggal, dan kalau mau penonton gak pindah channel mereka harusnya gak boleh ketinggalan kasih berita paling fresh, dan ini hitungannya detik, gak bisa duduk2 dulu makan pisang goreng sambil mikir *dicekokin*. Salah satu petinggi udah ribut marah2 supaya tim mau ngomong depan kamera, tapi Mac gak mau asal ngebeo channel lain, terus Don komen :

“It’s a person. A doctor pronounces her dead, not the news.”

*meleleeehhhhhhh*

BANG DOOONNN!!!!

Sekedar ngebahas ya mumpung lagi nyenggol topik acara televisi dan rating. Saya dari dulu selalu mikir sih kenapa kok televisi kita ababil banget. Kalau ada salah satu genre atau cerita yang lagi digandrungi, langsung deh semua pada ngeroyok genre tersebut. Sebagai contoh aja nih ya, liat deh acara macam Tukang Bubur Naik Haji, Ustad Fotocopy dan sebelum2nya, pasti ada karakter Bapak Haji Kesekian Kali yang terus sombong minta diahzab. Bahkan saat si serinya udah tamat, dibuat aja lagi seri baru, judul baru tapi pemeran dan karakter sama. Atau drama remaja yang kayak girls group gitu, yang sekarang baru mau jalan season 2 tapi langsung ditamatin gara2 pemeran utama cowoknya kena kasus penganiyayaan, gak lama langsung aja ada drama yang mirip2 cuma kali ini musiknya rock gitu. Cuma yang main gak jauh2, lulagi lulagi. Gemes gila sampe pernah mau nyumbang ide (gue bikinin 7 season deh, makan tuh) biar paling gak mereka gak colong plot film Korea/Cina/Jepang, dan kalaupun bikin sendiri yang logis dikit. Ini serius deh kalau ada yang bisa colek Frameritz atau apapun mohon kasitau saya.

Dulu sih pernah baca soal rating dari sebuah acara. Gak inget posting yang mana, tapi sih yang pasti di blognya Miund. CMIIW ya, tapi kalau gak salah ratingnya dari A sampai D. Diklasifikasi berdasar tendensi untuk nonton televisi lokal atau kabel, pendidikan dan ekonomi. Karena yang sering nonton tv lokal kita adalah kelompok C dan D, makanya acara2 tivi cenderung menyesuaikan, menampilkan sesuatu yang pasti mereka ngerti dan suka. Makanya tokoh2 macam Bapak Haji Kesekian Kali itu bisa muncul2 terus dan acara infotainment selalu menemani setiap langkah kita ya karena yang kelompok C and D itu demen. Sementara si kelompok A sama B kemana? lebih suka nonton tv kabel atau gak nonton sekalian, mengandalkan dunia maya untuk mensuplai kebutuhan mereka akan informasi dan hiburan.

Sebenernya gak bisa menyalahkan juga sih, secara stasiun televisi juga kan ladangnya orang cari nafkah juga, jadi ya mesti cari orang mau ngiklan dan itu jawabnya adalah rating lagi rating lagi. Lagian seinget saya pernah juga kok ada yang nampilin drama detektif, crime, ala Indonesia, tapi kurang meledak, berapa episod doang terus tamat. Kalau saya sok2 nebak sih karena kelompok C dan D itu mending ke stasiun televisi lain yang menampilkan sesuatu yang ga ribet, sementara untuk kelompok A dan B, standarnya udah terlalu tinggi untuk mau sabar2 nungguin drama detektif crime Indonesia bisa menyamai intensitas misteri dan action yang biasa mereka tonton.

Serba salah ya? Kasian banget *dikeplak*

Makanya, saya bilang sih kalau mau ningkatin kualitas acara televisi lokal, biar si Pak Haji Kesekian Kali gak muncul2 lagi sampai 20 tahun ke depan *lebay*, ya gak bisa instant dan memang kerjasama dari berbagai bidang. Berkaitan erat dengan pendidikan dan ekonomi, ini adalah usaha jangka panjang. Terus kalau mau bantu2 ya dimulai dari kelompok A dan B yang mau lebih memperhatikan televisi kita dan lebih ‘bawel’, gunakan power untuk ubah mindset. Kalau si Pak Haji Kesekian Kali udah ditumpas dari semua channel, kelompok C dan D gak ada pilihan kan buat nonton yang lain? acara2 yang muncul juga bisa lebih kreatif dan membanggakan.

Sekian review dari saya. Sebagai penutup, pokoknya The Newsroom adalah tv series yang cukup mendidik. Terutama buat orang2 yang tertarik atau memang bergelut dengan stasiun televisi, politik, jurnalistik, atau salah satu dari sekian banyak penonton yang menggantungkan wawasan sehari2 dari sebuah acara di televisi. Baru satu season, jadi ngejarnya gak usah tergopoh2 😀

Selamat malam, saya Putri Amanda, mohon diri.

*suara jingle penutup*

Advertisements

11 thoughts on “The Newsroom.

  1. Pingback: Dear Sinetron Indonesia, | Racauan Manda

  2. yessss!! NEWSROOM!! Sloan is epic.. hahaha bagian dia ngomong bahasa Jepang lgs girl-crush moment hahaha.. gue sampe marathon ep1-10 sangking kangennya nunggu season 2 gak keluar2.. 😀

  3. Pingback: Generasi Webisode. | Racauan Manda

  4. Pingback: Review Movie : Short Term 12 (2013). | Racauan Manda

  5. Aku sudah nonton ini mbak! Yuhuuu, keren bangeeeet, suka semua semua semuanyaaa! Mbak, rekomendasi serial tv yang seru lagi dong! Yang banyak yaa! Atau dibikin postingan soal serial tv yang seru! Ditunggu mbak! :3

    • hihihi udah ada season 2 kalau gak salah tapi aku belon sempet nonton :D. Rekomendasi serial tv amerika… aku lumayan suka Scandal (season 1), sama Bunheads (season 1) sih :D. Lie To Me, Leverage sama Criminal Minds juga keren 😉

      Wah ide bagus, nanti kapan2 kita omongin soal tv series Amerika fav ya 😀

      • Sudah sampai season 3 bahkan mbak. Mbak manda harus nonton! Semakin asyik sih, tapi tetap paling suka season 1. Okaaay, aku coba liat rekomendasi-nya. Yes, please bikin postingan soal tv series Amerika. Kutunggu mbak! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s