Review Book and Movie : Madre (2013)

Free Web Proxy
HALOOOOO apa kabarnya semuanyahhh???!!! baru bisa posting lagi soalnya kemaren 2 minggu abis terjerat deadline 😀 *cupika cupiki*

Jadi kali ini saya mau review salah satu film yang sudah saya saya tunggu2 tampil di layar lebar sejak membaca novelnya, Madre by Dewi Lestari (Dee).

Saking niatnya sampai sempet nyesel gak dateng Meet n Greet Madre di Gramedia Matraman (gara2 males nyetir), nyesel karena katanya disana dibagiin roti Madre... T-T (logika ala Mandhut : gak ketemu Vino Bastian masih gapapa, tapi kalau gak dapet roti gratis itu baru kenapa2). Biarin deh biar kata itu cuma roti biasa yang dikasi bungkus Madre, biar! tapi sebagai fans novel Madre yang setelah selama ini asik dengan imajinasi hasil interpretasi sendiri, jelas saya senang banget kalau ada yang mau memfilmkan, bikin rotinya pulak. Saya juga sempet kepingin bikin sourdough sendiri, bikin ragi alami juga, terus buat2 roti biar MENJIWAI *diulen*, tapi terus gajadi gara2 mentok di pencarian gula organik, jadi kapan2 aja deh :))

baiklah back to topic, berikut review tanpa spoilernya :

Madre (2013) -> 7 dari 10. Diangkat dari novel berjudul sama karya Dewi Lestari (Dee). Cerita filmnya tidak persis sama dengan yang ada di novel. Inti ceritanya adalah seorang pemuda bernama Tansen (Vino Bastian), yang sepanjang hidupnya hanya tahu bahwa dia keturunan Tasik, sehari-hari bermain ombak di Bali. Tapi ternyata suatu hari harus menerima kenyataan bahwa dia pewaris sebuah toko roti di Bandung bernama Tan de Bakker yang memiliki darah Tionghoa dan India.  Bagus karena castingnya (ada Didi Petet!), pemilihan lokasi dan komedinya yang lumayan dapet. Rada zonk karena menurut saya jadi terlalu konsen ke romance antara 2 pemeran utamanya – tentang pembuatan rotinya malah kurang, terus endingnya yang gubrak, berkesan cepet2 ditamatin.

Resensi film (kalau kepanjangan, skip yang font coklat)

Madre (2013)

Tansen (Vino G. Bastian) seumur hidup hanya tahu bahwa dia keturunan Tasik. Sedari kecil, ibunya Kartika dan kakeknya Aki Cecep-lah yang merawatnya. Setelah kedua orang tersebut meninggal, Tansen berpindah dari rumah kerabat ke kerabat lainnya, sampai akhirnya dia menetap di Bali, sehari-hari berselancar di antara ombak. Suatu hari hidupnya berubah, saat akhirnya dia tahu bahwa dia keturunan Tionghoa-India, lalu dia mendapatkan warisan berupa biang adonan roti bernama Madre, peninggalan dari kakeknya, Tan.

Tansen datang ke Bandung untuk menghadiri pemakaman kakek kandungnya, lalu mengunjungi sebuah toko roti tua milik Tan yang sudah tutup bernama Tan de Bakker. Di sana dia bertemu dengan Pak Hadi (Didi Petet), salah satu pegawai Tan de Bakker yang memperkenalkannya dengan Madre. Dia jugalah yang memberitahu Tansen bahwa kakeknya Tan, dan neneknya Lhaksmi, terpaksa diam2 menjalin hubungan karena tidak disetujui, lalu mereka menitipkan anak mereka, Kartika, ibu Tansen pada salah satu pegawai Tan de Bakker, Cecep. Namun selama hidup Tan selalu mengirim uang kepada Cecep, bertanggung jawab atas Kartika dan cucunya, Tansen. Tansen, yang sebelumnya tidak pernah tahu menahu tentang dunia roti, apalagi baking, meremehkan eksistensi Madre. Dia juga tidak mau tahu soal silsilah keluarganya dan nasib toko roti Tan de Bakker, pun seonggok warisan adonan biang roti yang tidak tahu mau diapakan, Tansen hanya ingin mengejar ombak, kembali ke Bali, hidup dalam kebebasan yang biasa dia jalani.

Namun Tansen mulai mengerti arti penting Madre, setelah melihat seorang gadis bernama Meilan (Laura Basuki) yang rela membayar ratusan juta untuk mendapatkan Madre, juga pengabdian para mantan pegawai Tan de Bakker kepada Madre, memperlakukan adonan biang tersebut lebih hati-hati dari anak bayi yang baru lahir. Awalnya Tan berniat menjual Madre pada Meilan, lalu menggunakan uangnya untuk mengejar ombak, tapi hatinya tersentuh melihat para pegawai Tan de Bakker, maka dia membatalkan transaksi dengan Meilan, kabur dengan meninggalkan tanggung jawab Madre kepada Pak Hadi.

Meilan menyusul Tansen ke Bali, bukan untuk marah soal Madre, tapi menantang Tansen untuk hidup dengan tanggung jawab, dengan tujuan, bukan sekedar mengikuti arus ombak. Madre butuh pewaris, Tan de Bakker butuh pemimpin, para pegawainya yang sudah udzur butuh membuat roti untuk merasa hidup kembali. Tansen merenungi pesan Meilan dan akhirnya kembali ke Bandung, menjawab tantangan gadis yang mulai mencuri hatinya. Tansen mulai serius belajar membuat roti, dia bahkan membuat cikal adonan biang baru, yang dia beri nama Padre, rahasia di antara dirinya dan Meilan.

Tanpa modal yang cukup, Tan de Bakker tidak akan bisa bangkit kembali. Dibantu Meilan, Tansen berhasil mendapatkan job pertama Tan de Bakker setelah sekian lama, memproduksi roti khas Tan de Bakker yang dijual di line toko roti milik keluarga Meilan, Fairy Bread, bisnis roti yang sudah mengadaptasi cara modern dan sudah memiliki banyak cabang.

Awalnya semua lancar, tapi permintaan roti Tan de Bakker terus bertambah, rapat pemegang saham meminta Tansen untuk mengizinkan Fairy Bread menggunakan Madre demi menaikkan produksi, atau sekalian menjual Madre kepada Fairy Bread. Tansen menolak karena Madre sudah seperti ibu sendiri, dia juga merasa sedih dan sakit hati karena ternyata Meilan sudah bertunangan dengan salah satu pemegang saham, James.

Meilan berusaha menjelaskan bahwa semua ide di rapat itu adalah ide darinya, dia melakukan ini demi kebaikan Tansen dan Tan de Bakker, tapi Tansen tidak peduli. Tan de Bakker kehilangan order Fairy Bread, Tansen patah hati. Dia kembali mengemasi barang2nya, untuk pergi sejenak dan berpikir di antara ombak. Sebelum pergi, Meilan datang datang untuk menjelaskan mengapa dia begitu terobsesi pada Madre, itu semua karena dia pernah memecahkan tabung berisi biang roti milik kakeknya, meskipun sekarang usaha roti mereka sukses dan membangun Fairy Bread, kakeknya tidak pernah merasa benar2 bahagia lagi. Tapi sekarang Meilan mengerti bahwa sama seperti Madre yang tak bisa digantikan, begitu juga dengan biang roti milik kakeknya yang sudah hancur, tidak ada yang bisa menggantikan, meskipun itu adalah Madre. Meilan juga akhirnya mau membahas soal perasaannya, dia meminta waktu untuk berpikir pada Tansen. Tansen menitipkan Madre, Pak Hadi dan pegawai Tan de Bakker pada Meilan, meminta gadis itu untuk menjaganya.

Tansen pergi, Meilan keluar dari Fairy Bread dan bekerja pada Tan de Bakker, waktu berlalu dan akhirnya Tan de Bakker mulai hidup kembali. Mereka memproduksi roti setiap hari, rak-rak mulai terisi dengan roti hangat dan kursi mulai dipenuhi pengunjung. Meilan terkejut saat seorang pelayan memberitahu bahwa ada pelanggan yang meminta roti Padre. Meilan mencari pelanggan tersebut, dan akhirnya bertemu lagi dengan Tansen.

The End.

Perbedaan cerita di novel dan di film :

  1. Sebelum nonton filmnya saya juga udah suka banget sama karakter Pak Hadi, makanya menunggu2 siapa yang bakal meranin. Tadinya ya, yang kepikir bakal jadi Pak Hadi itu Hengky Sulaiman, tapi setelah tahu bahwa Didi Petet-lah yang akan menjadi Pak Hadi, merasa sedikit aneh karena aslinya karakter Pak Hadi di novel itu… ramping. Tapi saya pikir sutradara gak ambil pusing karena jelas Didi Petet yang luar biasa akan bisa memerankan Pak Hadi dengan baik, dan memang terbukti. Sampai hari ini saya masih inget lucunya Pak Hadi milik Didi Petet, cara jalan, cara ngomong, ekspresi dan semuanya. Gak sabar menunggu film Didi Petet yang lain lagi :D.
  2. Lokasi Tan de Bakker, di novel : Jakarta, sedangkan di film lokasinya berada di jalan Braga no. 52, Bandung.
  3. Di akhir novel, toko roti Tan de Bakker akhirnya ganti nama jadi Tansen de Bakker.
  4. Berbeda dari novel, di film tidak dijelaskan mengapa nama lengkap Tansen adalah Tansen Roy Wuisan. Ayah Tansen adalah orang Manado bermarga Wuisan, jadi suku asli Tansen adalah campuran India (neneknya Lakhsmi), Tionghoa (kakek Tan) dan Manado. Jadilah seperti Tansen yang kita lihat di film, kulit gelap, tinggi, sipit, rahang kuat dan keras, rambut gimbal, cuping hidung tebal. Saya tahu Vino Bastian cocok untuk peran Tansen bahkan sebelum film Madre memasuki masa promosi.
  5. Karakter Meilan di novel lebih workaholic daripada di film. Gak kebayang Meilan yang di novel bakal jalan2 bentar ke Bali cuma buat ketemu Tansen, bakal sekedar kirim email/telfon buat meneror kenapa Madrenya gak dijual.
  6. Di novel gak ada tuh cerita Meilan udah tunangan sama orang lain, proses cinta Tansen dan Meilan LANCAR JAYA. dari naksir2an terus ya jadian aja, buku ditutup dengan Meilan yang menyaksikan Tansen buat adonan sourdough baru, Padre. Sedangkan di film scene  itu ditaro di pertengahan.

Kelebihan :

  1. casting. semua pemerannya pas :D, bahkan saya mulai rada2 kagum sama Laura Basuki gara2 peran dia jadi Meilan ini.
  2. Tentu saja cerita dari Dewi Lestari yang unik, gak mainstream :D.
  3. Chemistry antar pemainnya dapet, terutama Didi Petet sama Vino Bastian. Komedi dan candaan antar mereka berdua bikin hati hangat 😀
  4. lokasi Tan de Bakker, bagus bangeeeeeeettt. Dulu saya pernah kuliah di Bandung, jadi beberapa kali pernah mengunjungi Braga. Inget trotoarnya, plangnya, kaca2 besar dengan bangunan tua ala Belanda-nya. Saya kira ya bakal tetep ambil tempat di Jakarta, berlatar toko roti Tan Ek Tjoan, selain karena namanya mirip, latar kisah sejarahnya juga rada mirip (ROTINYA JUGA ENAK, ibu saya dulu sempet ketagihan, ada kali 3 bulan makan itu melulu – iklan), tapi ternyata enggak. Tapi meskipun begitu, lokasi dan dekor Tan de Bakker mantap banget, semoga ke depannya jadi toko roti beneran dan menjadi objek wisata yaaa amiinn.

Komplain :

  1. Saya berharap yang lebih dieksplor itu proses Tansen membuat roti, karena yah, judulnya Madre, si biang adonan roti.  Saya ngarep untuk tahu gagal-gagalnya, saat dia nemu teknik yang pas, oven meledak kek apalah, tapi ternyata lebih konsen ke romance antara Meilan dan Tansen -_-;. Tapi gapapa deh mungkin sengaja dibuat begitu untuk menarik interest lebih banyak dari penonton
  2. Kenapa endingnya ganjel? Gak dipertegas apakah Meilan jadi nikah sama si James apa enggak. Jadi pas Meilan ama Tansen ketemu terakhirnya itu rada bingung harus happy karena apa, karena kalau Meilan udah nikah sama James berarti Tansen kembali lagi ke Bandung dengan keadaan mental yang udah lebih dewasa, udah nrimo, which means yay for Tansen, tapi kalau enggak jadi nikah berarti kan happy karena hubungan mereka ada harapan, CLBK!. Bagian paling penting malah ga dijelaskan :(. Sisanya masih bisa tolerir, tapi ini nih yang paling buat saya banyak ngurangin poin. Fatal.

Pesan moral dari Madre adalah jangan takut sama perubahan dan tantangan, karena alam semesta dan Tuhan itu baik, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Kalau takdir diumpamakan seperti ombak, arus di laut, maka ombak itu bisa membawa kita ke ke tempat yang lebih baik, selama kita tahu bagaimana mengemudikan kapal. Tansen pikir hidupnya sudah bahagia, terus berselancar di Bali, setiap hari terasa seperti liburan. Tanpa tuntutan, tanpa tanggung jawab, tanpa target penjualan yang harus dipenuhi, tanpa to do list yang harus dikerjakan setiap hari. Tansen akhirnya merasa bahagia setelah sekian lama harus merasa sebatang kara dan berpindah2 tempat, maka dia menjadi sedikit lebih takut akan perubahan. Dan tiba2 dia harus menerima banyak fakta mengejutkan, silsilah keluarga baru, tempat tinggal baru dan tanggung jawab baru. Untuk seorang Tansen, jelas ini bukan sesuatu yang mudah.

Tapi lalu Meilan datang, dan mengajarkan bahwa, hidup itu butuh tantangan. Liburan itu bagus, tapi kalau terus2an, keistimewaannya tidak akan terasa lagi. Butuh masalah untuk akhirnya kita bisa merayakan anugerah sekecil apapun, butuh tangis untuk kita bisa mensyukuri tawa, butuh keluarga, teman, kekasih, butuh mimpi, untuk supaya kita mau menerima tanggung jawab dan berjuang setiap hari. Tansen bagaikan sebuah pengembara tanpa tujuan, lalu Meilan, Madre, Pak Hadi dan semua pegawai Tan de Bakker datang ke hidupnya, seakan2 berkata : “disinilah tempatmu untuk pulang”.

Mungkin Tansen gak pernah bilang ingin keluarga dan tempat untuk pulang, tapi dia butuh itu, dan alam tahu.

*terbawa ombak kehidupan*

*merusak momen yang udah syahdu*

Terus film ini juga ngasi lihat apa yang terjadi kalau hidup terlalu asik di comfort zone, jadinya gak berkembang. Tansen terhitung pria dewasa, tapi begitu ketemu masalah bawaannya takut terus kabur, 2 kali aja gituh. Pertama karena dia udah terlanjur janji mau jual Madre ke Meilan tapi terus gak tega sama pegawai Tan de Bakker, yang kedua pas dia kecewa pas Meilan udah tunangan. Kabur aja, semua ditinggal, bodo amat mau gimana yang penting dia gak perlu merasakan dan mengalami.

Tapi kesalahan itu bukan karakter, itu cuma karena dia gak biasa berhadapan dengan masalah. Seandainya dia mengemban tanggung jawab sejak usia yang lebih dini, mungkin reaksi dia untuk masalah kayak begitu bukan kabur, tapi duduk dan menjelaskan sama Meilan kenapa gak jadi jual Madre, dan menyadari bahwa meskipun alasan utama dia kembali ke Bandung adalah supaya bisa dekat dengan Meilan, tapi sudah banyak orang yang terlibat dengan usaha penghidupan kembali Tan de Bakker, dan dia gak boleh egois main pergi karena patah hati, main nitip aja ke Meilan yang notabene bukan keluarga dan udah punya kerjaan sendiri.

Tantangan, cobaan, masalah, membuat kita lebih dewasa. Apapun yang sudah terbiasa, niscaya gak akan seberat pas mengalami pertama kali. Asik di comfort zone itu boleh, tapi jangan terlalu asik sampai menolak perubahan yang justru mungkin bagus untuk diri kita. Lalu jangan malu untuk belajar, karena setiap manusia punya waktu dan caranya masing2 untuk dewasa :).

Saya meninggalkan Bali. Menetap di kota yang paling saya hindari. Bekerja rutin di satu tempat yang sama setiap hari. Ternyata sampai hari ini saya masih waras. Saya rindu pantai. Tapi pantai tidak perlu jadi rumah saya. Rumah adalah tempat dimana saya dibutuhkan. Dan Madre lebih butuh saya dibanding pantai manapun di dunia. Berfamili dengan adonan roti ternyata membuat saya menemukan keluarga baru.

– Tansen (Madre karya Dee, hlm. 71)

*jalan kayak Pak Hadi*

*sambil nyanyi Keroncong Suka-suka*

Mandhut.

Advertisements

9 thoughts on “Review Book and Movie : Madre (2013)

  1. madre madre, awalnya gue kira madre itu nama orang ternyata nama roti… Padre? wkwkwwkwk, knapa gak Budre .. keren memang vino

  2. Saya jg bingung ini endingnya bgmn? Tp kalau menurut versi saya. Terlepas dari cerita akhir filmnya ini. Saya mengambil kesimpulan, untuk mengetahui kisah cinta mereka film ini akan berlanjut. Fersi ke 2, karena status mei dan tan sama2 jomblo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s