Review Movie : Martha Marcy May Marlene (2011)

Free Web Proxy

Halo, secara seminggu jadwal lagi seketat longtorso maka hari ini saya mengharuskan diri untuk posting *sok sibuk*. Apa kabarnya semua? udah pada nonton Iron Man 3 belum? saya belummmmm T-T.

Kali ini mau bahas tentang sebuah film yang keluar pada tahun 2011, berjudul Martha Marcy May Marlene. Sebelumnya, mari saya kasih review tanpa spoiler :

Martha Marcy May Marlene (2011) -> 7,5 dari 10. Disutradarai dan ditulis oleh T. Sean Durkin, yang juga menulis Afterschool. Genrenya Drama, Mystery/Suspense. Tentang seorang perempuan bernama Martha (Elizabeth Olsen) yang terlibat dalam aktivitas sebuah sekte/grup yang mengisolasinya dari kehidupan normal. Martha memutuskan untuk kembali pada keluarga yang sudah lama mencarinya, tapi bisakah Martha menyesuaikan diri kembali? Kira2 begitu deh. Kalau dari segi cerita sih bagus ya, tapi pembawaannya agak terlalu dark dan saya ini tipenya suka sebel aja kalau pembawaan filmnya terlalu mellow, apalagi kalau gak ada yang ganteng *dikeplak sendal*. Ini adalah film debut Elizabeth Olsen, adiknya Olsen Twins, cukup mengejutkan karena aktingnya bagus, gak mengecewakan deh :D. Cocok ditonton untuk yang lagi berpikiran untuk cari2 guru spiritual, bimbingan, lagi depresi, dll dst, film ini bisa mengingatkan kalian untuk tahu batas. 🙂 Selamat menonton!

Berikut review panjangnya, seperti biasa kalau gak mau dispoiler, skip yang font coklat ya :

Adegan dibuka dengan scene Martha (Elizabeth Olsen) yang berusaha melarikan diri dari sekte tempat dia hidup beberapa tahun terakhir. Dia mengendap-endap pergi pagi2 buta, menyeberang hutan menuju restoran pinggir kota terdekat. Disana dia menelfon kakak perempuannya, Lucy (Sarah Paulson) yang telah mencari-cari Martha sekian lama. Tanpa berpikir dua kali, Lucy langsung menjemput Martha di restoran tersebut.

Martha tinggal di rumah Lucy sejak hari itu, bersama suami Lucy, Ted (Hugh Dancy) yang dinikahi Lucy saat Martha menghilang. Saat ditanya kemana Martha pergi, gadis itu hanya menjawab bahwa dia tinggal bersama kekasihnya di Catskill Mountains, tidak bersedia memberikan keterangan lainnya. Lucy dan Ted tidak pernah tahu bahwa Martha sebenarnya terlibat dalam kegiatan sebuah sekte sesat di pedalaman hutan Catskill.

Melihat kondisi kejiwaan Martha yang jelas belum stabil, Lucy memberikan waktu bagi Martha untuk menenangkan diri, tidak memaksanya untuk membahas masa lalu, ataupun memikirkan masa depan. Awalnya kehidupan mereka berjalan baik, sampai akhirnya Martha mulai menunjukkan perilaku aneh. Martha kehilangan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan norma dan aturan masyarakat pada umumnya, seperti berenang tanpa pakaian di tempat umum dan pipis di sembarang tempat. Perilaku Martha ini mulai membuat Ted kesal, Martha bahkan secara tidak langsung mengkritik Ted karena hidup mengejar harta, jabatan dan penghasilan, sementara Ted menganggap Martha yang pengangguran tidak pantas berkata seperti itu, karena saat ini Martha makan dan tinggal dibiayai olehnya.

Martha bukan hanya mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri, dia juga selalu merasa takut diikuti oleh anggota sektenya yang dulu. Beberapa kali adegan film mengalami flashback, ke masa dimana Martha masih tinggal bersama anggota sektenya. Patrick (John Hawkes) adalah pemimpin sekte yang karismatik, berhasil membuai pengikutnya untuk percaya dengan ajaran apapun yang dia berikan. Di sana perempuan baru boleh makan setelah anggota laki-laki selesai makan, mereka berenang bersama tanpa pakaian, bercocok tanam, berternak, bermain musik, lalu merawat bayi laki-laki yang lahir bersama-sama. Tidak ada bayi perempuan, hanya ada bayi laki-laki. Patrick menawarkan sesi ‘pembersihan jiwa’ pada setiap anggota sekte perempuan yang paling junior. Namun itu semua hanya kedok, karena Patrick membuat si pasien tertidur dengan obat tidur lalu memperkosanya. Biasanya perempuan-perempuan itu hanya pasrah setelah tahu sesi ‘pembersihan jiwa’ macam apa yang dilakukan Patrick, entah karena terlalu memuja, atau sudah terlalu jauh terlibat dalam kegiatan sekte, terlalu lelah untuk memberontak.

Suatu hari, Martha dan beberapa anggota sekte lainnya menyusup ke dalam sebuah rumah tidak jauh dari hutan tempat mereka tinggal. Mereka biasa melakukan ini untuk merampok, mencari barang2 yang bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa didapatkan dari bercocok tanam dan berternak. Si pemilik rumah terbangun, dan memergoki mereka. Pemilik rumah bermaksud menghubungi polisi, tapi niatnya itu berhasil digagalkan karena salah seorang anggota sekte membunuhnya dengan pisau. Martha menjadi semakin ragu dengan kebenaran ajaran sekte tersebut sejak saat itu.

Hari-hari Martha di rumah Lucy penuh dengan teror, dihantui oleh traumanya selama di sekte, juga takut akan dibawa kembali. Perilaku Martha semakin tidak terkontrol. Dengan berat hati, Lucy dan Ted memutuskan untuk memasukkan Martha ke dalam pusat rehabilitasi mental. Pada saat hari keberangkatan, Martha menyadari ada sebuah truk hitam yang familiar, parkir tidak jauh dari rumah Lucy dan Ted. Di perjalanan menuju pusat rehabilitasi mental, truk hitam itu terus mengikuti mobil Martha. Film berakhir tanpa kejelasan nasib Martha.

The End.

Seperti yang sudah dibilang di awal postingan, gue gak terlalu suka film ini karena pembawaannya yang dark banget. Dan gak ada yang ganteng, catet *penting abis*. Tapi kalau dari segi pesan moral, pelajaran yang bisa diambil, jelas ada sih. Saya pikir film ini ngasitau sisi buruk dari terlalu fanatik pada sesuatu, apakah itu idola, lingkungan, grup, ajaran. Sebagaimanapun keras kepalanya kita, manusia itu dirancang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik secara sadar maupun tidak sadar. Karena kodratnya manusia itu adalah makhluk sosial, di dalam hati pasti akan selalu ada keinginan untuk diterima, disukai, didukung oleh orang2 yang mereka anggap penting.

Itulah mengapa  kita disarankan untuk benar2 hati2 dalam memilih orang2 yang ada di dalam hidup kita. Hati2 banget deh sama paling gak 5 orang yang paling sering ngobrol, paling banyak kita curhatin, paling kita sayang.  Karena, sifat dari mereka sedikit banyak akan menular, mereka akan sangat berpengaruh, vice versa. Bahkan saat mungkin kita bertahan banget untuk tetap menjadi seseorang yang berbeda, orang2 akan mulai menganggap kita termasuk ke dalam steorotip grup tempat kita sering bersama. Dan meskipun kita semua tahu bahwa terlalu memikirkan kata2 orang lain adalah salah satu cara untuk membunuh diri sendiri pelan2, tapi diomongin dan dianggap macam2 sama orang itu dampaknya seringkali merugikan. Kita bisa aja kehilangan banyak hal yang berharga saat desas-desus itu mulai sering dibicarakan dan mulai terdengar seperti fakta. Contohnya kalau kita sering hang out bareng teroris, pada satu titik orang2 akan menganggap kita mendukung, melakukan hal yang sama, bahkan meskipun faktanya mungkin tidak begitu. Kita bisa kehilangan pekerjaan dan yang lebih parah lagi adalah, keluarga dan sahabat bisa ikut terseret. Iya, kadang, bukan kita aja yang merasakan dampaknya, tapi juga orang2 yang kita sayang. Dan itu bukan hal yang kita mau kan?

Sedangkan untuk kita sendiri, seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, terlalu fanatik dan mengeksklusifkan diri pada sesuatu itu berbahaya. Martha mungkin merasa depresi dengan sistem kehidupan yang normal dijalani. Tuntutan sosial, pekerjaan, pertengkaran, mungkin perubahan kondisi yang membuat dia gak merasa aman dan nyaman lagi, merasa lelah dengan rutinitas, ingin bebas. Mungkin itulah alasan mengapa dia awalnya mencari bimbingan spiritual, mengapa dia sangat mudah untuk dipancing masuk ke dalam sekte yang mungkin berkedok menawarkan tempat sembunyi sementara. Sembunyi dari kenyataan hidup. Yang tadinya susah bersosialisasi dikasih temen, yang bosen dengan kerjaan dibebaskan dari kewajiban mencari nafkah, hidup bercocok tanam dan berternak.

Lalu Martha menjadi sangat terbiasa dengan ‘aturan’ baru disana, sampai2 lupa dengan norma yang normal berlaku di masyarakat itu seperti apa. Rasanya mirissss banget deh pas lihat adegan dimana Lucy (kakaknya Martha), sadar kalau adiknya ini udah beda, udah lupa gimana caranya hidup menjadi manusia pada umumnya. Lama gak ketemu saudara gitu yah sebenernya kepengen ngobrol banyak kan, tapi ini gak bisa, karena jalan pikirnya udah beda. Wujudnya sama, tapi isinya udah orang lain.

Gak cuma soal sekte2, liat aja berita2 Eyang Sub*r, terus artis2 yang bilangnya punya guru spiritual, mau memutuskan apaa aja dari cerai sampe soal bisnis minta saran sama gurunya. Sasaeng fans di Korsel sana, rela bolos sekolah dan ngabisin duit untuk ngejar artis idolanya.  Hal2 seperti ini tuh biasa terjadi di sekeliling kita.

Bukannya gak boleh berguru sih, tapi saya percaya manusia itu gak ada yang sempurna. Jadi gak usah terlalu ngefans ampe mau gila, netral2 aja lah. Kalau udah ampe tahap didzalimi dan dikerjain, ya marah dong. Situ mau dapet ilmu apa mau jadi samsak untuk memuaskan ego si guru aja? beda loh.

Saya sendiri pernah merasakan kok terlalu larut dalam sesuatu. Kalau saya sih waktu itu kena dampak kerja freelance. Kerjaannya kan gambar depan komputer, dudukkk melulu. Dari segi kesehatan jadi gampang banget sakit pinggang, kepala pusing, flu hampir tiap bulan. Dan karena dulu sering banget begadang, berpengaruh ke hormon juga. Dari segi kejiwaan, jadi gak seluwes dulu kalau ketemu sama orang2 baru, atau yang lama gak ketemu. Somehow jadi kaku dan males basa-basi aja, karena 2 tahun belakangan hidupnya terbiasa soliter, paling ya berkomunikasi sama keluarga dan temen deket aja. Belum lagi kalau harus nyetir di tengah kemacetan, capeknya kebangetan deh. Bukannya saya menyesali keputusan untuk jadi freelancer, karena saya tahu kelebihan dan kekurangan saya yang menjadikan saya cocok untuk tipe kerjaan seperti ini, tapi memang semua keputusan itu ada untung dan ada risiko. :D. Tapi setelah tahu apa dampak buruknya, yaudah tahulah gimana mengatasinya :D. Semua akan baik2 aja selama saya menyeimbangkan hidup.

Maksudnya gimana menyeimbangkan hidup? Karena saya kerjaan sehari2nya mengharuskan ngendon depan kompu, maka saya ngejatah waktu paling gak sehari harus ada jalan kakinya, berdiri, entah itu masak, jalan pagi, jalan2 di mall. Karena hormon jadi bermasalah, maka saya berusaha supaya gak stress, lebih banyak pasrah, lebih mendekatkan diri sama Allah, lebih terbuka sama sahabat, keluarga, dan kalau bisa mengurangi begadang (padahal enak banget tuh cari ide malem2). Seminggu juga diharuskan ada ketemu orang, kerabat, temen. Gak selalu sempurna, karena kadang ya sakit pinggangnya balik lagi, hormonnya ngaco lagi (bandel), kadang males keluar juga, enakan di rumah gambar2, tapi semua jadi lebih baik. Saya puas dengan fakta saya tahu gimana mengontrolnya, ngejalanin keputusan yang udah diambil sebagai freelancer pun jadi lebih happy aja :D.

Begitu juga dengan yang lain. Kalau misal sehari2 udah terbiasa macet2an, udah muak tapi mau terus dijalanin karena ada goal yang ingin dicapai (melunaskan cicilan, mau keliling dunia), maksimalkan waktu weekend. Keliatannya sih simpel ya, “ah gue kepengen kerja juga pas weekend, lumayan buat nambah2. Gapapa. gue yang mau kok.“, tapi asal tau aja ya stress itu ada yang di alam bawah sadar. Lo merasa fine, tapi terus bawannya cembetuuttt aja pas kumpul bareng keluarga, lebih gampang marah, emosi sumbu pendek. Kita gak bisa memungkiri bahwa badan kita ini, emosi yang kita rasa sehari2 ini, itu bukan hanya dipengaruhi oleh faktor rohaniah, tapi juga jasmani. Ada hormon dan zat yang dibutuhkan supaya kita gak rentan depresi, yang bisa didapatkan dengan makanan sehat, tidur cukup dan olahraga. Makanya ada ada kata2 mensana in corpore sano kan? karena memang terbukti begitu adanya :D.

Jadi kalau sehari2 urusan sama kegiatan kantor yang saling sikut, money-oriented, coba deh partisipasi di kegiatan lain di luar itu, yang lo sukai juga. Organisasi kemanusiaan, les bahasa asing, klub buku, apapun yang mengingatkan bahwa ada cara hidup lain di luar sana. Kalau capek ngadepin TA yang berasa stagnan, barengin sama kegiatan lain yang hasilnya lebih cepet keliatan, entah itu les gitar, gabung gym, baking. Mengingatkan bahwa, hanya karena lo kesulitan di satu hal, bukan berarti hidup lo berakhir, karena masih banyak hal lain yang bisa bikin lo happy. Wisuda diundur? gak apa2, paling gak bulan ini ada yang bikin happy, ukuran celana turun satu nomor. Putus sama pacar? gapapa, hasil karya di DA banyak yang comment.

Keliatan remeh, tapi sangat membantu. Hal kecil ini yang mungkin bisa menyelamatkan diri anda dari depresi, atau paham sesat.

Eh ini tadinya mau posting dikit aja jadi panjang banget *basa basi busuk*.

Terakhir, cuma mau memuji akting Elizabeth Olsen, untuk hitungan artis baru, aktingnya bagus banget, lebih bagus dari kakak2nya, si olsen twins :D.

Selamat bekerja semuanya, jangan lupa daftar kelas belly dance nanti sore ya *kedip*

Mandhut.

Advertisements

6 thoughts on “Review Movie : Martha Marcy May Marlene (2011)

  1. waaaa ngepost..
    iya nih…gue komen yang ini ya….
    “Itulah mengapa kita disarankan untuk benar2 hati2 dalam memilih orang2 yang ada di dalam hidup kita. Hati2 banget deh sama paling gak 5 orang yang paling sering ngobrol, paling banyak kita curhatin, paling kita sayang. Karena, sifat dari mereka sedikit banyak akan menular, mereka akan…… ”
    benar ini, gue pernah denger juga ada yang bilang kalo yang kalo misal berteman dengan pandai besi akan ikut bau api kitanya.. dan kalo dengan tukang jual minya wangi akan jadi ikut wangi, samaa… akan menular…ombing mana ini hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s