Review Movie : Liberal Arts (2012)

Free Web Proxy

Kepada kaum2 yang suka kebanyakan mikir, yang sensitif, ini film yang tepat buat kalian 🙂

Jadi pada awalnya saya ini antara pengen nonton dan enggak. Pengen, soalnya kok kayaknya tagline-nya cukup menarik, tapi rada ragu karena melihat ratingnya di rotten tomatoes cuma 69% *anak romat abis*. Pas awalnya nonton itupun dicepet2in (karena sebenernya lagi ga pada waktunya untuk nonton *kedip*), pengen liat intinya aja dulu, tapi yang ada ga ngerti, belum berkesan. Terus karena ga merasa bagus, tadinya udah mau shift del, tapi terus hati kecil bilang “jangan dulu. kan nontonnya belum fokus.” jadi yaudah, saya biarin dulu deh.

2 minggu kemudian saya baru nonton full tanpa skip, dan ternyata bener. Ini film sebenernya lumayan bagus, tapi emang nemuin maknanya rada ribet aja. 😀

Arti dari Liberal Arts sendiri adalah :

lib′eral arts′
n.pl.

1. academic college courses providing general knowledge and comprising the arts, humanities, natural sciences, and social sciences.

Berikut review tanpa spoilernya :

Liberal Arts (2012) -> 7,5 dari 10. Berkisah tentang Jesse Fisher (Josh Radnor), seorang pemuda berumur 35 tahun yang sedang kehilangan arah dalam hidup. Dia punya pekerjaan dan penghasilan, tapi hidupnya di New York terasa hampa. Suatu hari dia mengunjungi mantan dosennya di universitasnya dulu di Ohio. Disanalah Jesse bertemu dengan Zibby (Elizabeth Olsen), mahasiswi berumur 19 tahun yang ekstrovert. Dan Jesse jatuh cinta. Kalau dari trailer sih kira2 begitu deh gambaran ceritanya, khas cerita romantis mainstream dengan intrik. Dalam hal ini intriknya umur. Tapi setelah ditonton, ternyata filmnya gak cuman romance aja, malah lebih banyak membahas soal psikologi dan filosofi hidup. Which is why saya suka banget, dan kenapa saya bilang film ini cocok buat kaum2 yang suka kebanyakan mikir dalem2 😀 *curcol*. Terus cocok juga buat 20 and 30 something, even 40 yang lagi terjebak comfort zone, rutinitas, kehilangan semangat. Film ini semacam oasis di padang rumput. Gak menjanjikan solusi jangka panjang tapi menyegarkan supaya bisa berjuang lagi ke depannya. Kurangnya… cuma di bagian gaya directing-nya sih, ada beberapa tokoh yang bikin bingung, terus scene yang disusun kurang ciamik, kesannya jadi muter2. Itu aja sih… hmm, selamat menonton!

Skip yang font coklat supaya gak spoiler :). Karena alurnya muter2 saran saya sih di-skip aje. tapi up to you loh.

Meet Jesse Fisher (Josh Radnor), seorang pemuda berusia 35 tahun yang bekerja di New York. Dia baru saja putus dari kekasihnya dan saat ini sedang kehilangan arah dalam hidup. Satu2nya hiburan adalah toko buku dan membaca. Suatu hari, mantan dosennya di universitas, Prof. Peter Hoberg (Richard Jenkins) meminta Jesse untuk mengunjunginya di Ohio. Universitas mengadakan farewell party untuk Prof. Peter Hoberg yang akan segera pensiun, dan dia ingin Jesse datang untuk memberikan sepatah dua patah kata di pesta tersebut.

Saat pertama kalinya setelah sekian lama Jesse menginjakkan kakinya kembali di universitas tempatnya menuntut ilmu dulu, moodnya menjadi lebih baik. Dia menikmati suasana kampus sebelum menemui Prof. Peter yang tinggal tidak jauh dari kompleks universitas. Mereka makan siang bersama keluarga David dan Susan (mantan murid Peter yang lain) dan Jesse dikenalkan dengan putri mereka, Zibby (Elizabeth Olsen), gadis 19 tahun yang masih kuliah di universitas dan tinggal di asrama kampus.

Malamnya, Jesse berjalan2 di kampus dan berkenalan dengan Nat, seorang pemuda nyentrik yang sedikit aneh. Atas ajakan Nat, Jesse masuk ke sebuah pesta mahasiswa di salah satu gedung. Di sana, dia bertemu lagi dengan Zibby. Jesse merasa canggung dan bermaksud untuk permisi pergi, tapi Nat dan Zibby menahannya, bahkan Nat meminta Zibby dan Jesse untuk minum kopi bersama esok pagi.

Keesokan paginya, Jesse sampai terlebih dulu di kedai kopi kampus. Disana dia berkenalan dengan Dean, seorang mahasiswa pintar yang sempat mengalami depresi setahun sebelumnya. Setelah Dean pergi, Zibby datang dan mengajak Jesse untuk mengobrol sambil berjalan2 sekeliling kampus. Disinilah Zibby dan Jesse menyadari bahwa tanpa disangka2 jarak umur tidak mempengaruhi topik pembicaraan mereka. Zibby bercerita banyak hal, tentang kehidupan kuliahnya, tentang orangtua, tentang kelas survey musik yang dia ambil tahun lalu, begitu pula dengan Jesse, dia mengungkapkan kerinduannya akan masa2 kuliah.

Lalu mereka berpelukan (tiba2. atas ide Zibby. aneh tapi manis), dan mereka berpisah, Jesse harus bersiap pulang ke New York. Saat Jesse sedang membereskan barang bawaannya, Zibby menelfon, meminta untuk bertemu sekali lagi di toko buku kampus, sebelum Jesse pulang. Jesse menemui Zibby yang ternyata ingin memberikan CD berisi musik2 klasik dari kelas survey musik yang dia ceritakan sebelumnya. Dengan canggung Zibby menambahkan bahwa dia juga menuliskan nomor telfon di cover, dan berharap Jesse mau berkirim surat dengannya, kertas, dengan tulisan tangan. Jesse setuju.

Dalam perjalanan pulang, Jesse berpapasan dengan Dean, dan mereka mengobrol sebentar. Jesse bertanya apa yang terjadi pada Dean tahun lalu dan Dean mau sedikit membuka diri.

Sekembalinya ke New York, hidup Jesse menjadi jauh lebih menyenangkan. Musik2 klasik dari Zibby ternyata membantu Jesse untuk berpikiran sedikit lebih positif pada hidup yang dia jalani. Dia terus berkirim surat dengan Zibby, sampai akhirnya Zibby dengan jelas mengungkapkan ketertarikannya pada Jesse dan meminta pemuda itu untuk datang mengunjunginya lagi di Ohio. Jesse, yang awalnya ragu karena Zibby 16 tahun lebih muda, akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Zibby.

Tibalah hari dimana Jesse dan Zibby bertemu, mereka mengobrol, saling bertukar pikiran, dan Jesse mengunjungi kamar Zibby di asrama. Di sana dia menemukan fakta bahwa Zibby membaca sebuah novel vampir yang sedang populer di kalangan anak muda, berjudul Lunar Moon (ok. kayaknya tahu maksudnya yang mana). Jesse merasa takjub karena Zibby rela menghabiskan waktunya untuk membaca sebuah buku yang menurutnya buku terburuk yang pernah ditulis dalam bahasa Inggris. Persoalan ini menjadi panjang karena Jesse ingin membuktikan pada dirinya dan Zibby dengan membacanya. Mereka berdebat keras.

Malamnya, Jesse berjalan2 sendirian lagi di kampus dan bertemu kembali dengan Nat. Jesse yang merasa bersalah karena berdebat dengan ZIbby untuk hal sepele, juga karena merasa bimbang tentang hubungan mereka, mendapat pencerahan dari Nat. Dia menjadi lebih berani dan menemui Zibby kembali di asramanya, untuk meminta maaf.

Pembicaraan di antara mereka berjalan dengan baik, sampai tiba2 Zibby meminta Jesse untuk tidur di kamarnya malam ini. Untuk ber-you-know-what lah. Jesse tiba2 merasa gentar, masalah umur yang tadinya sempat dia kesampingkan sejenak mulai terasa berat kembali. Jesse menolak, Zibby merasa tersinggung. Atas permintaan Zibby, Jesse permisi pergi.

Sisa malam itu dihabiskan Jesse di sebuah kedai kampus, merasa bingung dengan dilema yang sedang dia hadapi. Tiba2 dia bertemu dengan Professor Judith Fairfield, salah satu dosen favorit Jesse sewaktu kuliah dulu. Prof. Judith mengajar kelas British Romantic Literature, kelas yang menurut Jesse mengubah hidupnya. Mereka mengobrol, dan berakhir dengan you-know-what di sebuah kamar. Awalnya Prof. Judith ramah dan menyenangkan, tapi segera setelah you-know-what, sikapnya berubah. Dia langsung meminta Jesse untuk pulang. Jesse kebingungan, dan Prof. Judith memberitahunya untuk berhenti menjadi anak kecil yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Instead of menganalisa segala sesuatu, hadapilah. Kira2 begitu deh.

Jesse kembali ke New York, dengan pandangan hidup yang baru. Dia belajar banyak dari pertemuannya dengan Zibby, Judith, Peter, Dean dan Nat. Akhirnya Jesse menjalin hubungan dengan seorang pemilik toko buku bernama Ana (Elizabeth Reaser) yang seumur dengannya.

The End

Satu hal yang perlu saya tekankan banget, nulis review film ini siksaan buat saya karena alurnya yang muter2 gak praktis. Tapi kalau gak detail namanya bukan review dong ya, jadi silakan loh. Saya pening liatnya.

BTW, terlepas dari alurnya yang muter2 kayak gasing, pesan film ini sangatlah dalem. Sedalem pribadi seorang Josh Radnor, alumni Kenyon College, Ohio, salah satu universtas liberal arts terbaik di USA sana. Yang mana menjadi tempat syuting dari film Liberal Arts ini. Secara film ini naskah, produser dan sutradaranya semua diborong sama mas Josh, kayaknya sih emang ceritanya itu sesuatu yang dia banget. Dan entah kenapa meski ribet, saya suka2 aja sama cara pikirnya dia yang over-sensitive, karena somehow saya bisa connect :D.

Momen paling berkesan dalam film ini ada 2, pertama adalah pas Jesse dan Zibby lagi ngobrol di dalam gedung teater yang kosong. Pas mereka abis balik dari kafe untuk ngopi bareng. Di teater itu, Jesse akhirnya mau sedikit membuka diri, dia mengungkapkan kekecewaannya pada hidup setelah kuliah :

“I think the thing that I love the most about being here, is the feeling that anything is possible. Just infinite choices ahead of you. You get out of school & anything could happen. And when you do get out, and life happens – you know. Decisions get made, and then all those many choices in front of you are no longer really there. There’s a certain point where you just got to go ‘Well, I guess this is how it’s going down.’ There’s just a little something depressing about that.”

Dari dulu, gue ini adalah orang yang selalu menganalisa segala hal dengan detail. Meskipun gak terlalu idealis sampai tahap nge-bash apa2 yang gak sesuai dengan opini gue, gue lumayan perfeksionis untuk segala aspek hidup. Saat gue memulai sesuatu pasti gue berharap yang terbaik, saat gue kenalan dengan orang baru, gue gak ada curiga apa2. Makanya, begitu kenyataan menggigit balik, gue sedihnya minta ampun. Orang yang tadinya gue hormati ternyata ada busuknya juga, lingkungan yang tadinya gue agungkan, ternyata nyebelin banget.

Tapi berapa jauhpun mau lari, ganti lingkungan, ketemu orang baru, gak ada jaminan bahwa kejadian yang sama gak akan berulang, malah mungkin lebih parah. Jadi lagi2 terpaksa bertahan sambil berharap one day akan nemu yang lebih baik lagi. Tadinya masih berharap, tapi terus lama2 ya udah nyante aja lah. Seperti yang saya ceritakan di postingan ini, yang tadinya mungkin ngarep A, B, C, jadinya mulai kompromi, paling gak dapet C deh, kalau gak ada semua, Z boleh deh. Jadinya begitu. Mengeliminasi peluang instead of bener2 berusaha mencapai sesuatu. Cek dulu yang ada apa, terus cari yang paling baik dari pilihan2 itu.

Makanya ngerti banget deh maksud Jesse ^^.

Nah momen berkesan yang kedua adalah pas Jesse mendengarkan musik2 klasik dari Zibby. Jesse mengapresiasi musik dari Zibby dari segi efeknya pada kehidupan sehari2, yang dia tulis lewat surat via pos. Jesse menemukan banyak efek dari musik klasik, musik yang membuat kota New York lebih indah, musik yang membuat orang2 yang ditemui di jalan terasa lebih cakep dsb. My favorite quote :

“The other day I was crossing the street, lost in my head about something, a not uncommon state of affairs. I was listening to the overture, and as the music began to swell, I suddenly realized that I had hands, legs and a torso, and that I was surrounded by people and cars. It’s hard to explain exactly what happened. But I felt in that moment that the divine, however we may choose to define such a thing, surely dwells as much in the concrete and taxicabs, as it does in the rivers, lakes and mountains. Grace, I realized, is neither time – nor place – dependent. All we need is the right soundtrack.

😥 gak pernah ketemu tapi semacam ngeklik karena itulah yang saya rasakan kalau jalan2 pagi sambil denger musik :((. HUAAAAAAAA JOSH RADNOR!!! *cubit2 pipi* *unyel2*

Kekecewaan terbesar dari film ini adalah, Josh Radnor sebenernya tuh kayak ingin mengungkapkan banyak hal, tapi semuanya buru2 dia kekep dalam satu naskah, satu film. Kisah Jesse dan Zibby udah bagus, mengungkapkan bahwa belajar itu bisa dari siapa aja, gak harus dari dosen ke murid, tapi juga bisa dari orang yang lebih muda. Terus pengen mengungkapkan juga bahwa dewasa itu bukan berarti bisa memberikan opini bijak atas segala sesuatu, tapi bener2 menghadapi semua tantangan yang ada di luar sana.

Nah kalau ditinggal sampai situ aja mungkin sebenernya udah bagus, tapi terus dia tambahin lagi karakter Dean, Prof. Peter dan Nat yang sebenernya sih berusaha membantu pesan yang ingin disampaikan dengan caranya masing2, sekaligus menambah pesan lainnya, tapi jadinya penonton bingung deh. Sesuka2nya orang sama wagyu, kemungkinan gak akan suka lagi kalau dikasih 10 bakul. Menurut saya porsi itu termasuk poin penting dalam apresiasi, kalau enggak, masakan perancis porsinya pasti digedein. Itu aja deh dibuat lebih ringkes, saya rasa ratingnya bisa lebih tinggi.

Kalau dari segi akting… Josh Radnor masih pakai topeng Ted Mosby :D. Romantis idealis gitu deh. Itu atau selama ini dia memang gak pernah akting? mungkin ya emang dia itu aslinya kayak Ted Mosby. Tapi saya suka ide ceritanya, semoga film berikutnya Josh Radnor bisa lebih rapih lagi :D. Sedangkan Elizabeth Olsen kembali memukau dengan aktingnya :). Sejak dari film Martha Marcy May Marlene saya udah kagum, dan bisa dipastikan akan menunggu film dia berikutnya lagi :D.

oh well, happy friday pembaca semua! saya mau mulai mengerjakan deadline berikutnya, masih ada 2 lagi *elap keringet*. tadinya mau posting cepet jadinya rada panjang, tapi gapapa, senang rasanya bisa berbagi review detail seperti biasa.

Cups!

Mandhut.

//

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s