Review Movie : Finding Neverland (2004)

Apa kabar semuanya? saya sengaja baru posting awal Juli, soalnya biar istirahat bentar setelah 15 hari posting terus2an :D. Semoga gak eneg ya baca postingan dari saya ;).

Btw kali ini mau bahas film-nya Johnny Deep sama Kate Winslet yang tayangnya tahun 2004. Buset lama amet ya filmnya, itu dari 9 tahun yang lalu loh, jaman2 gue baru masuk kuliah *langsung merasa tua*.

Sebelumnya, seperti biasa review tanpa spoiler :

Finding Neverland (2004) -> 9 dari 10. Gue kurangin satu poin karena Johnny Depp-nya disini kurang ganteng *ditimpuk*, terus Kate Winslet-nya rada kurang signifikan, tapi sisanya bagus dan sangat inspiratif. Kisahnya tentang perjalanan seorang penulis bernama J.M. Barrie, dalam menciptakan karakter anak-anak yang melegenda sampai hari ini, Peter Pan :D. Sebenernya sih bisa dikonsumsi semua umur ya karena gue liat ga ada adegan aneh2, tapi kayaknya anak2 juga gak akan ngerti kalau nonton, karena ini konsennya lebih ke kehidupan nyata om Barrie. Cocok ditonton oleh penulis, yang kepengen jadi penulis, yang suka dunia anak, yang kerjanya deket dunia anak, pemimpi, dan semua orang dewasa yang mungkin udah terlalu realistis dan butuh sentuhan segar biar semangat lagi :D. Selamat menikmati!

Skip font biru kalau males baca dan takut spoiler :

Kisah dibuka dengan adegan J.M. Barrie (Johnny Depp) yang sedang memonitor reaksi pengunjung di sebuah gedung teater. Hari itu adalah hari perdana pementasan lakon yang dia buat, dan untuk kesekian kalinya dia tahu bahwa karya ciptaannya tidak berhasil menarik minat penonton. Istri Barrie, Mary, juga tidak memberi banyak dukungan karena lebih berkonsentrasi pada hal lain. Mereka pulang ke rumah, dan disini kita diberi gambaran singkat bahwa kehidupan pernikahan Barrie dan Mary tidak normal, karena mereka tidur di kamar yang terpisah.

Keesokan harinya, Barrie pergi ke taman bersama anjingnya, Porthos, untuk mencari inspirasi guna menulis lakon selanjutnya. Tiba2 sebuah suara mengejutkannya, ternyata ada seorang anak kecil bernama Michael yang merebahkan diri tepat di bawah kursi yang sedang Barrie duduki. Michael berkata bahwa ‘Raja George’ memerintahkannya untuk diam di tempat itu karena dia sedang di-‘penjara’.

Tidak lama, seorang anak yang lebih dewasa, menyapa Barrie dan meminta maaf kalau adiknya Michael mengganggu Barrie. Dari pembicaraan mereka, Barrie tahu bahwa dialah yang bernama George, dan selayaknya anak2, mereka sedang bermain2. Barrie tertarik dengan kepolosan anak2 ini dan berkenalan dengan 2 adik George yang lain, Jack dan Peter, serta ibu mereka, Sylvia Llewelyn-Davies (Kate Winslet). Keluarga Davies sedang piknik di taman tersebut, dan Barrie ikut mengobrol bersama, Barrie bahkan mempertunjukkan kebolehannya menari bersama Porthos, anjing miliknya yang menurut Barrie, bercita2 menjadi beruang dan suka berdansa.

Free Web Proxy

Barrie menyadari bahwa dari 4 anak laki-laki Slyvia, ada satu anak yang terlihat lebih murung dan pemarah dari yang lainnya, yaitu Peter si anak ketiga (Freddie Highmore). Slyvia meminta maaf atas perilaku Peter dan memberitahu bahwa suaminya baru saja meninggal karena sakit dan sejak itu Peter memang menjadi uring2an, tidak mau ikut bermain bersama ketiga saudaranya yang lain. Barrie dan keluarga Davies saling berpamitan, dan berjanji untuk bermain bersama lagi lain waktu.

Charles (Dustin Hoffman), direktur dari theater tempat Barrie bekerja meminta Barrie untuk membuat karya selanjutnya, dan kali ini dia berharap karya Barrie akan sukses. Didorong keharusan untuk mencari bahan cerita, Barrie memutuskan untuk mengeksplor kepolosan anak-anak keluarga Davies. Sejak hari itu Barrie sering berkunjung ke rumah Slyvia Davies dan bermain bersama George, Jack, Peter dan Michael. Barrie mendapatkan ide tentang Fairy Dust dan Tinker Bell saat bermain layang2 di taman bersama keluarga Davies. Dia juga mendapat inspirasi tentang anak2 yang bisa terbang, saat melihat anak2 Davies meloncat2 di atas kasur sebelum tidur.

Namun sayang, kedekatannya dengan janda Davies mengundang gosip tidak enak dari orang2 sekitar. Ibu Slyvia dan istri Barrie, Mary, juga mengungkapkan keberatan mereka akan hal ini. Namun Barrie memutuskan untuk tidak mempedulikan itu, bahkan mengundang keluarga Davies untuk menginap di rumah musim panas miliknya di luar kota. Hanya Barrie, Slyvia, dan ke-4 anak Sylvia. Mereka bermain bersama setiap hari, bahkan Peter, yang paling pemurung sudah mau membuka diri dan mengajak saudara2nya untuk membuat sebuah pementasan drama yang ditulis sendiri olehnya. Slyvia dan Barrie begitu bahagia saat melihat anak2 Davies menghias panggung milik mereka sendiri di sebuah gudang peralatan kecil, tapi tiba2 Slyvia jatuh sakit.

Dokter datang untuk memeriksa Slyvia, mengisyaratkan pada Barrie bahwa penyakit Slyvia parah dan butuh pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit, namun Slyvia menolak. Peter mengamuk dan menghancurkan properti panggung, meminta Barrie dan ibunya berhenti menipu dirinya. Dia tahu bahwa ibunya sakit parah, bukan hanya sekedar flu, tapi dia benci diperlakukan seperti anak kecil. Dulu, ibunya pun berkata bahwa ayahnya akan baik2 saja, tapi akhirnya ayahnya meninggal dunia.

Barrie mengantar keluarga Davies pulang ke rumah mereka di kota, lalu pulang ke rumahnya sendiri dan memergoki Mary sedang mengobrol bersama pria lain, padahal waktu sudah sangat larut. Setelah pria itu pulang, Mary dan Barrie bertengkar, Mary merasa bahwa Barrie terlalu memperhatikan keluarga Davies, tidak mau percaya bahwa Barrie tidak berselingkuh, tidak percaya bahwa dia melakukan itu semua untuk menciptakan karya yang bagus untuk dipentaskan. Mary merasa menjadi orang luar, tidak ikut dilibatkan dalam mimpi2 Barrie, sedangkan Barrie menjawab bahwa dia sudah mencoba, berkali2, untuk mengajak Mary masuk ke dalam dunianya, tapi tidak bisa. Pembicaraan mereka tidak menemukan solusi, Mary mengemas barangnya dan pergi beberapa hari kemudian.

Pada hari H pementasan ‘Peter Pan- The Boy Who Wouldn’t Grow Up’, Barrie mengundang keluarga Davies. Tapi Slyvia jatuh sakit dan tidak bisa ikut hadir, Peter datang sendiri sebagai perwakilan keluarganya dan menonton pementasan perdana Peter Pan. Penonton teater malam itu dipuaskan dengan kehadiran Peter Pan, Wendy, Tinker Bell, The lost Boys, Captain Hook dan Neverland. Seluruh penonton memuji Barrie. Yang muda terpukau dengan keajaiban Neverland, yang tua merasa tersentil dengan pesan2 moral yang dalam. Malam itu menjadi malam bersejarah bagi J.M. Barrie.

Karena sakitnya semakin parah, Slyvia hany bisa berbaring selama berhari2, tapi Barrie membawa seluruh pemeran, bahkan orkestra ke rumah keluarga Davies dan melakukan pementasan disana, supaya Slyvia juga bisa menonton pementasan yang terinspirasi dari ke-4 anaknya. Tidak lama sesudahnya, Slyvia meninggal dunia, di dalam surat wasiatnya, dia meninggalkan hak asuh anak2nya pada ibunya dan J.M. Barrie.

Film ditutup dengan adegan Barrie yang sedang duduk di taman bersama Peter. Dimana Barrie mengatakan pada Peter untuk terus percaya bahwa kedua orangtuanya selalu bersamanya.

The End.

Menurut saya ini karya paling indah, paling manis, yang pernah saya tonton sampai hari ini. Sebelumnya saya melihat Peter Pan sebagai just another children story, tapi sejak menonton ini jadi sadar bahwa Peter Pan itu perwujudan dari mimpi dan inspirasi J.M. Barrie, probably kenangan paling berkesan yang dia punya semasa hidup, that’s why harus dihargai dengan cara yang sedikit berbeda. Selain menceritakan kenangan miliknya, Peter Pan itu cerita yang dipersembahkan J.M. Barrie buat keluarga Davies, terutama Peter, supaya Peter mau bermimpi lagi, terus menyiapkan anak2 Davies untuk menerima penyakit yang diderita ibunya, memberitahu bahwa mati itu bukan sesuatu yang buruk, bukan perpisahan, hanya pindah alam, tapi kenangannya akan selalu ada bersama mereka, dan itulah yang harus disyukuri :).

Adegan paling menyenangkan itu adalah saat2 dimana Barrie main sama 4 anak Davies. Secara gue sendiri anaknya suka mengkhayal, gue sangat menikmati momen2 dimana hal yang biasa jadi luar biasa dari cara pikir Barrie. Waktu dia dansa sama Porthos, anjingnya. Terus waktu dia pura2 jadi bajak laut. Waktu dia dandan ala indian. Dia bukan sekedar orang dewasa yang ngemong anak2 main, tapi dia benar2 ikut bermain, masuk ke dalam karakter, gak peduli mungkin rambut udah ubanan, muka udah keriput, ya main aja kayak waktu kecil dulu. Dan entah kenapa gue melihat kualitas itu sebagai husband-oriented, tapi entahlah mungkin karena yang meranin Johny Depp juga, kalau yang jadi indian si Sule, ya mungkin ya gue biasa2 aja.

Terus karena ceritanya gue lagi tergila2 sama Peter Pan ini, mulai kan gue cari2 tahu tentang kelanjutan kisah si J.M. Barrie dan Peter by Wikipedia dan sumber lain *fans rabid*, cuma ternyata kenyataan gak semanis itu karena gue jadi tahu kisah detail J.M. Barrie yang ga diceritakan di film.

Jadi ternyata J.M. Barrie menderita trauma masa kecil yang cukup mendalam. Kakaknya yang bernama David meninggal waktu Barrie berumur 6 tahun, dan sejak itu ibunya Barrie jadi uring2an karena David itu anak kesayangan. Terus si Barrie yang pengen membuat ibunya merasa lebih baik, suatu malam muncul dengan memakai baju David, dan sejak itu ibunya semacam menganggap Barrie itu si David, dan terus2an terobsesi pada David, merasa bersyukur David meninggal di usia muda (14 tahun) karena itu berarti David ga akan pernah dewasa, akan terus sama dia. Terus ya si Barrie jadi tertekan gitu, merasa eksistensinya ga diakui ibu sendiri, jadi itu katanya berpengaruh ke cara pikir dia yang ga kepengen dewasa (itulah mengapa karakter Peter Pan dibilang menolak dewasa, semacam pengen jadi kakaknya si David gue rasa), makanya dia tertarik banget pada dunia anak. Trauma itu bahkan sampe ngaruh ke pertumbuhan dia, psychosocial dwarfism. J.M. Barrie itu tingginya sekitar 150-an cm, terhitung pendek di antara cowok2 masa itu. Selain itu, dia juga katanya aseksual, ini menjelaskan kenapa di film dikasitau kalau Barrie dan Mary tidurnya pisah kamar dan ga punya anak, mungkin dari awal ya nikah juga memelihara diri dari fitnah aja *tiba2 berasa sinetron religi*.

Kalau ga bener2 trauma mendalam gue ga ngerti deh apaan lagi. Ampe ngaruh ke pertumbuhan dan sex preferences segala.

Kisah Barrie dan anak2 keluarga Davies setelah Slyvia meninggal juga ga bisa dibilang lancar2 aja. Barrie sempat dituduh Fedofil, karena dia dekat sama anak2 lain juga selain anak keluarga Davies. George si anak pertama, meninggal tahun 1915 di Perang Dunia I. Michael si anak ke-4 yang katanya paling deket ama Barrie, meninggal tahun 1921, mati tenggelam. J.M. Barrie meninggal tahun 1937 karena pneumonia. Tapi dari semuanya yang paling bikin miris itu Peter, dia meninggal beberapa tahun setelah Barrie meninggal, bunuh diri dengan melemparkan dirinya ke depan kereta api, setelah mengumpulkan semua data dan komen yang menceritakan kisah keluarganya dan J.M. Barrie.

Sedih deh saat tahu bahwa Barrie udah segitu usahanya untuk supaya Peter mau ceria lagi dengan bikin karya Peter Pan, tapi pada akhirnya dia meninggal dengan cara seperti itu :(. Kayak mimpi yang dibanting ke tanah, kembali pada kenyataan.

Tapi terlepas dari kisah hidup Barrie yang ga semuanya indah, Barrie udah dengan total mencurahkan pikiran, masa lalu, insecurity-nya, mimpinya, ke dalam sebuah karya berjudul Peter Pan. Untuk mau mengorek luka masa kecil, kekecewaan2 yang ada dirinya, dan mentransformasi itu semua menjadi sesuatu yang inspiratif, itu pasti ga gampang. Gue sih ngebayanginnya pasti rasanya kayak menelanjangi diri sendiri di depan mata ribuan penonton, yang berpotensi akan dikomentari, ditelaah, tidak berhenti sampai di karya Peter Pan, tapi juga ke kehidupan pribadi penulisnya (contohnya gue yang lagi bahas kisah nyata J.M Barrie ini). Yang mana ternyata Peter Pan begitu suksesnya bahkan sampai hari inipun kita masih akrab dengan cerita ini, jadi berarti kisah J.M . Barrie juga masih aja diomongin, puluhan tahun setelah dia meninggal. Menurut gue, penceritaan jujur dan dari hati kayak yang dilakukan J.M. Barrie ini adalah pengorbanan yang terhitung sangat besar untuk seorang penulis. Dan untuk itu gue angkat topi T-T.

*tepuk tangan keras2 sambil air mata bercucuran*

Gara2 film ini juga jadi makin bersyukur kerjanya sekarang deket sama dunia anak2, karena jadi makin sadar aja bahwa sedikit banyak gue pun sedang turut andil dalam membangun cara pikir mereka di masa depan. Sempet sih beberapa kali pengennya gambar ala Dr. Seuss, yang gak perlu masuk logika tapi menarik dan menggelitik kreatifitas. Kayak pohon2 bulu dan ikan bernyanyi di film Lorax, Chesire Cat di Alice in Wonderland, hujan makanan di kartun Cloudy with a Chance of Meatballs, atau cerita naga2 di kartun kesayanganku How to Train Your Dragon (AAAAAAA NIGHTFURY!). Tapi berhubung di tempat kerja sekarang itu harus ngikutin kurikulum dan dapet banyaaak banget masukan dari guru2nya, jadi kayaknya sih bakal susah kalau mau masukin naga2 gitu, jadilah sampe sekarang sih masih belum kesampean 😀 ehehehehehe. Ntarlah dimasukin ke karya lain aja.

Oh well, semoga postingannya menginspirasi, jadi pada mau nonton ya :D. Biar udah bangkot jangan lupa bermimpi dan main2 sama anak cucu, buat kenangan indah supaya ntar mereka gedenya juga penuh semangat :). Semoga mimpi, khayalan, apapun itu, tidak membuat kita menjauh dari kenyataan, tapi semoga membuat kita terus semangat setiap hari :).

Second star to the right, and straight on till’ morning!

Mandhut.

//

Advertisements

4 thoughts on “Review Movie : Finding Neverland (2004)

  1. Wah…bagus bgt blog ini,aku suka freddie highmore yang selalu meranin karakter baik,apalagi johny depp si aktor handal yg bisa meranin apapun.Kebanyakan film freddie highmore ini film yg mengandung unsur fantasi ya…

    1. Hihihi iya si Freddie emang kebagian fantasy melulu. Kebetulan emang tertarik nonton Finding Neverland ini karena ga nyangka aja ada kisah pedih di balik Peter Pan :D. Terimakasih udah mampir dan komen ya 😉 Ditunggu lagi kedatangannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s