Beri Hatimu Waktu,

Bangkekkk judulnya bangkeeekk *ngakak*

Maka sekiranya, postingan macam apakah yang kau siapkan untuk bisa mengimbangi judul semacam itu, wahai Amanda? *bertanya pada diri sendiri*

Gue gak tau sih isi postingannya bakal memenuhi harapan kalian apa enggak, tapi ini adalah sesuatu yang udah lama gue pikirkan, dan mau gue abadikan di blog :D. Selamat membaca ya, semoga berguna juga untuk kalian.

Dulu, gue adalah orang yang dengan mudahnya bisa deket sama orang lain. Ngobrol2 deket, chatting setiap malam, makan bareng, curhat bareng, jalan2 bareng, ngerjain tugas bareng, lalu kalau gue merasa sreg sama orang tersebut, maka jreng! tiba2 orang tersebut bisa masuk jadi satu dari sekian banyak orang2 favorit yang gue sebut sebagai sahabat, orang2 terdekat gue. Bahkan untuk beberapa kasus, gue sukaaa banget sama orang2 ini, yang mana di dalam hati, gue selalu menyebut mereka sebagai keluarga kedua, ada yang berasa kayak kakak, berasa kayak nyokap, kayak adik, sampai tahap dimana, kalau misal nanti meninggal, gue berdoa semoga setelah melalui proses apapun itu, one day gue bisa kumpul bareng orang2 ini lagi di Atas sana. Gue rela berkorban buat mereka, gue mengingat semua tentang mereka sampai hal terdetail, gue percaya bahwa orang2 ini akan menjadi orang2 yang sampai kapanpun akan terus menemani gue, yang bakal dateng di nikahan gue, bakal jenguk gue pas gue lahiran, dan seterusnya. Gue, percaya bahwa sampai kapan pun kami akan saling jaga, apapun masalahnya akan selalu bersama mencari solusi biar terus bareng2 dan hepi.

Tapi kenyataannya adalah, gak semuanya live to my expectation. Not even myself. Bahkan, sebagian besar gue yang meng-cut duluan, karena gue kecewa dengan fakta bahwa orang2 yang gue anggap keluarga kedua itu, gak bisa gue andalkan di saat terberat gue. Gue harusnya bisa ngerti, karena semua orang punya masalah, bener kan? dunia tidak berputar dengan gue sebagai porosnya, gue tahu itu. Tapi, gue mendem juga sih, biasanya masalahnya gak cuman itu, tapi ada beberapa yang gue gak suka dari dulu cuma gue tahan aja, kejadian terakhir itu kayak trigger granat aja :D. Tapi tentu saja, gue sedih, karena gue tahu gue juga menyakiti orang2 ini, gak peduli sapa yang lebih sakit, gak peduli sebagus apapun alasan gue, beberapa hati retak dan pecah, rasa percaya hilang ditelan laut, dan gue harus merasakan ini perih demi perih, dari mulai denial, mencoba menerima, mencoba menganalisa, merasa lebih baik tapi ternyata masih ada yang ganjel di hati, marah lagi,Ā  lalu gue ulang dari awal lagi semua proses barusan.

Kata orang, breakup yang paling pedih itu bukan putus cinta, tapi friendship breakup, dan pada waktu itu, gue kehilangan 6 yang gue anggap dekat. Sadis, jendral. Jumlah itulah yang juga membuat gue sadar bahwa gue harus introspeksi karena pasti ada yang salah dari pemahaman gue soal teman dan keluarga.

Tapi sebenernya, yang bikin lebih miris lagi adalah, selama berteman, gue udah terlanjur berjanj, baik dalam hati maupun eksplisit untuk menjadi keluarga.

Kemana perginya janji yang gue buat sendiri itu?

ke laut aja šŸ˜€

Lalu, waktu berjalan, otak gue tetep menganalisa,

Dan gue sampai pada kesimpulan dimana, gue rasa pada waktu itu, gue belum terlalu paham apa itu keluarga, but I really want one, gue ingin terkoneksi secara emosi dengan siapapun orang yang available, gue pengen percaya sama seseorang, gue pengen merasa aman, tahu bahwa di luar sana akan ada orang yang tahu ultah gue tanggal berapa, kenapa gue gak tahan sama suara Naysilla Mird*d dan bakal nyariin kalau gue lama gak ada kabar. Gara2 itu, dengan gampangnya gue membebani orang2 yang ketemu pas gue udah gede itu dengan kata ‘keluarga’, ‘sahabat’, dan mungkin kalimat definitif lainnya.

Bukan gue mendiskreditkan keluarga gue yang sebenarnya ya, tapi ada banyak masalah ini dan itu yang terlalu ribet dan sensitif untuk gue ungkapkan *dan gue malas*. Yang jelas, gue butuh waktu (masa sekolah, kuliah dan awal2 kerja) untuk bener2 paham gimana untuk menghargai apa yang gue miliki tanpa membandingkan dengan apa yang orang lain punya. Keluarga gue fabulous, mereka perfect dengan ketidaksempurnaan mereka. Titik.

Mungkin, this is why hubungan gue dengan orang2 itu hancur satu persatu. Kalau relationship sama orang itu diumpamakan bangunan, gue udah pindahan bahkan sebelum tembok dan atapnya benar2 terbangun, terus dengan gobloknya gue komplen kenapa lantainya masih tanah dan kenapa hujan masih masuk.

Gue gak kasih cukup waktu bagi orang2 itu untuk bener2 ngasi liat sebenernya mereka anggep gue apa. Gue gak cukup melihat. Gue gak cukup mendengar. Gue terlalu sibuk dengan dunia gue sendiri dan harapan2 gue.

Terus gue mikir lagi. Sahabat itu emang apa sih? Keluarga itu apa? seperti apa gue harus memperlakukan orang2 yang ada di sekitar gue sekarang ini supaya gue bisa maintain hubungan untuk jangka panjang, kalau bisa tanpa breakup lagi, kalau ada masalah, bisa diselesaikan baik2 tanpa gue meledak marah karena merasa dikhianati. Minimal, kalau one day memang ada yang ga bisa temenan lagi, biarlah gue aja yang ngerasain sedihnya, gue yang menjauh pelan2, cari sela untuk buat gue nyaman tanpa membuat hubungan menjadi buruk dan nyakitin banyak orang, dan gue masih bisa ketemu baik2 tanpa ada rasa gak enakan.

Due to kejadian itu, gue putuskan mendingan gak usah mendefinisikan arti sahabat deh, sebut aja ‘temen’. Gak usah mengekslusifkan hubungan pertemanan ampe segitunya, kalau deket ya deket aja, kalau suka ngobrol bareng orang itu ya ngobrol aja, share, ketawa, curhat2, jalan bareng, saling dukung, saling bantu, gak usah berkorban melewati kemampuan, sepantasnya aja (biar terakhirnya gue gak ngamuk kayak badak).

dan pastikan untuk banyak mendengar dan melihat, jangan terburu2, biar hubungannya insha Allah bisa up for the long run :D.

Selama waktu itu gue juga menemukan defisini keluarga yang gue temukan sendiri. Menurut gue keluarga itu adalah, orang yang sebenci apapun sama lo, se-eneg apapun sama lo, bakal tetep khawatir dan care sama lo. Orang yang berantem, terus bisa baik lagi baik sengaja maupun terpaksa, soalnya ketemu tiap hari. Orang yang bisa dipeluk2 dan menghangatkan hati. Orang yang ngeliat lo di saat emosi lo lagi busuk2nya, lagi rendah2nya, dan gak menjauh, karena selain emang serumah, ya karena kepada siapa lagi kami harus berlari? belum tentu juga orang di luar sana mau bener2 nerima. Orang yang ngurusin lo saat lo sakit. Bikinin makanan tanpa alasan khusus. Nganterin ke RS. Nungguin kalau diopname. Menjemput saat salah satu mobilnya mogok, meskipun besoknya mogok lagi dan mogok lagi. Orang yang selalu ada alasan untuk berantem sama lo.

Aneh, tapi itulah definisi keluarga yang gue temukan sih. Realistis aja.

And then maybe, kalau one day ada di antara teman2 gue yang memperlakukan gue selayaknya keluarga gue memperlakukan gue (yang baik2 tentunya), kalau ada di antara mereka yang bisa gue andalkan seperti keluarga, yang deket di hati gue kayak keluarga, dan gue juga gak keberatan berlaku sama ke mereka, dan kalau orang itu gak keberatan dianggap keluarga, baru gue akan panggil orang itu keluarga kedua :).

Dan gue gak akan nyari, kalau ketemu Alhamdulillah, gak ada juga gak apa2. Nambah keluarga itu memang nambah hepi, tapi itu juga berarti nambah pikiran dan beban, jadi gak usah dinanti2 lah.

Pokoknya, kalau bisa jangan pernah mendefisinikan hubungan sebelum ada buktinya šŸ™‚. Penting banget tuh.

Semoga pengalaman gue berguna ya šŸ˜€

Mandhut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s