[Film-in Dong!] London by Windry Ramadhina.

4045002

Saya menyukai sebagian besar buku karya Windry Ramadhina. Terbukti ini adalah kali kedua saya me-review bukunya, yang pertama adalah Memori, yang kedua adalah London : Angel. Novel Windry kali ini termasuk dalam project ‘Setiap Tempat Punya Cerita’ oleh Gagas Media.

Berikut ceritanya *kalau gak mau di-spoiler, skip font biru*

Kisahnya bercerita tentang Gilang, seorang aspiring novelist yang sudah lama memendam cinta kepada teman masa kecilnya, Ning. Gilang dan Ning terpisah jarak ribuan kilometer. Karena kecintaannya pada seni, Ning menuntut ilmu dan bekerja di London, sementara Gilang setia menetap di Indonesia. Atas dorongan teman-temannya (dan alkohol), Gilang berniat untuk melakukan ide gila, dia akan pergi ke London untuk menyatakan cintanya kepada Ning.

Berbekal tabungan dan alamat rumah Ning, Gilang bertandang ke London. Tapi ternyata Ning sedang tidak berada di rumahnya, maka rencana gila milik Gilang terpaksa menunggu. Saat Ning kembali nanti, Gilang belum akan kembali ke Indonesia. Gilang memanfaatkan waktunya untuk menikmati keindahan London, mengunjungi tempat-tempat yang pernah diceritakan Ning, berkenalan dengan orang-orang baru. Madam Ellis yang galak, Ed si pelayan penginapan, Mister Lowesley si pemilik toko buku, Ayu si gadis Indonesia pemburu buku antik, dan seorang gadis cantik misterius berambut pirang bermata biru, yang tanpa sengaja meninggalkan payung merah miliknya pada Gilang.

Gilang menjuluki gadis misterius itu Goldilocks. Legenda setempat mengatakan bahwa malaikat hanya turun di kala hujan, tapi Gilang tidak pernah benar-benar tahu apakah Goldilocks adalah malaikat. Saat hujan turun, Goldilocks berkali-kali muncul di hadapan Gilang, tapi selalu menghilang tepat saat hujan reda. Payung merah itupun beberapa kali dipinjamkan, bahkan pernah hilang, tapi selalu kembali ke tangan Gilang. Seorang pemuda asing bernama V pernah meminjamnya untuk menjemput istrinya di kala hujan, membujuknya untuk membatalkan perceraian. Pemilik penginapan Gilang, Madam Ellis, meminjamnya untuk menerima cinta Mister Lowesley, si pemilik toko buku antik. Ning meminjam payung merah tersebut untuk menemui pria yang sudah lama dia kagumi, seorang seniman patung.

Ya, cinta Gilang pada Ning tak berbalas. Ning mencintai orang lain, dan hanya bisa menganggap Gilang sebagai sahabat.

Patah hati, Gilang menceritakan kisah si payung merah pada Goldilocks di pertemuan mereka yang kesekian kali. Dia mengeluh, payung merah itu telah banyak mempersatukan cinta, tapi tidak cintanya pada Ning. Payung merah itu justru merenggut Ning darinya, membawa Ning pada pria lain. Lalu Goldilocks berkata bahwa tidak ada yang merenggut cinta Galih, tapi memang keajaiban cinta itu belum datang. Lalu Goldilocks menghilang lagi, tepat sebelum hujan reda, tetap meninggalkan payung merah miliknya kepada GIlang.

Novel ini ditutup dengan Gilang yang berpamitan pada orang-orang yang membantunya selama di London. Di tengah jalan menuju stasiun kereta, dia berpapasan dengan Ayu, gadis Indonesia pemburu buku antik yang pernah ditemuinya beberapa hari yang lalu. Jadwal pulang pesawat mereka sama, maka Gilang dan Ayu berjalan beriringan, di bawah naungan payung merah, di antara hujan rintik-rintik di kota London.

Gilang menemukan keajaiban cinta miliknya.

Mungkin memang benar Goldilocks adalah malaikat.

Dari semua rangkaian novel-novel Setiap Tempat Punya Cerita (STPC), saya baru baca dua. Yang pertama adalah Bangkok : The Journal by Moemoe Rizal, dan yang kedua adalah London : Angel by Windry Ramadhina ini. Satu hal yang bikin senyum-senyum saat membaca novel STPC adalah betapa kedua penulis tersebut benar-benar memperhatikan keywords untuk setiap kota yang menjadi tema novel.

Untuk novel London ini, selain tentunya tempat-tempat wisata yang terkenal, seperti Tate Modern dan London Eye, Windry juga menyelipkan elemen lain. Yang pertama adalah legenda setempat, tentang malaikat yang turun di kala hujan. Lalu fakta-fakta London, tentang frekuensi hujan yang lebih sering dari kota lain, tentang beberapa penulis legendaris yang pernah lahir dan tinggal di London. Seni yang mendarah daging, toko buku antik. Beberapa tokoh teman Gilang digambarkan mirip dengan Dum dan Dee, tokoh kembar di Alice in Wonderland. Bahkan Windry juga menyebut Puck, si peri nakal di salah satu karya Shakespeare, “A Midsummer Night’s Dream”.

Satu hal yang ingin saya lakukan saat membaca novel London ini adalah minum teh dan makan kue-kue kecil, bersama Dormouse, March Hare dan Mad Hatter.

Plot-nya sendiri, meski pesannya cukup menyentuh, saya tidak merasakan keharuan yang sama saat membaca Memori. Novel Windry yang bercerita tentang Mahoni dan Simon itu masih tetap menjadi yang nomor satu di hati saya. Tapi meskipun begitu, kisah Gilang ini dibawakan dengan sangat indah, rapih, seperti karya seni, khas seorang Windry Ramadhina.

BONUS!

Cast Prediction untuk Gilang dan Ning!

Karena pemeran-pemeran lain kebanyakan orang asing, maka mari kita ambil 2 tokoh utama dari Indonesia saja.

Untuk Gilang, karakter yang terbayang oleh saya adalah seorang kutu buku yang romantis, suka menulis, berkacamata, sedikit kurus, berambut berantakan ala Harry Potter dengan baju-baju preppy look (kemeja + sweater dengan tas selempang). Sebenarnya, orang pertama yang terbayang oleh saya adalah Dennis Adhiswara. Tapi melihat karakter industri film saat ini *belagu* marilah kita beri kesempatan pada… *drumroll*

21732.31036777.img-detail-608x342.dolken

Adipati Dolken as Gilang.

Jujur ya, seperti yang pernah saya tulis dulu di sini, saya kurang puas gitu sama akting dia di Perahu Kertas. Tapi marilah kita beri kesempatan sekali lagi.

Sementara untuk Ning, yang kebayang adalah gadis berwajah agak eksotis dengan leher ramping, rambut pendek, alis tebal dan runcing, dan senyum yang menawan.

Ada 2 sih kandidatnya : Eva Celia dan Maudy Ayunda. Tapi kedua orang itu kan pasangan main si Dolken juga ya di film lain? Eva Celia di Adriana, Maudy Ayunda di Perahu Kertas. Terus kepikiran juga Yuki Kato, tapi itu pernah main bareng juga ama dia. Jessica Iskandar… hmmmmm suaranya terlalu manja. Ini si Dolken ternyata sering banget di-couple-in sama artis lain ya. -_-

Terus setelah mikir2, akhirnya nemuin satu. Yang lehernya bagus. Yang senyumnya manis. Yang gak usah dandan menor2 juga keliatan oke2 aja. Yang aktingnya bagus. Dan itu adalah… *drumroll*

165390_620

Elyzia Mulachela as Ning.

Namanya susah ya bok, yuk mari. Ehtapi dia mau potong rambut gak ya secara rambutnya panjang2 bagus meringkel macam prosotan waterpark gitu? mau lah ya demi karir *yakin abis*.

Btw pada kenal kan? Dia yang jadi Luhde di Perahu Kertas 😀. Tapi milihnya bukan karena saya penggemar Luhde garis keras loh ya *tendang Kugy* tapi emang karena berasa cocok aja ama peran Ning. Lagian, karena dulu di Perahu Kertas, Keenan dan Luhde gak berlanjut ke pelaminan, jadi berasa unfinished business aja, gak ada salahnya mereka dipertemukan kembali di London the Movie : Legenda Malaikat *judul ini sebaiknya diubah jadi lebih komersil* :).

Baiklah, sekian review dan cast prediction-nya, semoga abis baca ini langsung gemes pengen beli Novel London : Angel by Windry Ramadhina.

Sampai jumpa di posting [Film-in Dong!] berikutnya 😀

Mandhut.

Advertisements

8 thoughts on “[Film-in Dong!] London by Windry Ramadhina.

    1. oh aku pernah tuh baca novel Windy Ariestanty :D, tapi kalau yang novel windy itu kan keroyokan, beberapa tempat dibahas sekaligus, kalau ini konsen per-kota :D. Lumayan bagus kook, baca2 aja 😛

  1. keren ya ibu windry… ud apa aja ya, slain london…kalo memori itu dmana.. amerika ya…ohw salah gue.. stpc itu maksudnya dari yg penerbitnya ya..kirain ibu windry-nya punya banyak karangan yg dari nama2 tempat.. brati yg ud ada itu lodon ma bangkok ya…jd pengen blajar cara bikin novel gw… biar nnti gw bikin yang nigeria.. atau ghana.. atau pantai gading juga kayaknya keren.. hahah…
    nnti dalam ceritanya itu.. pemeran utamanya itu gue desain supaya ketemu ma drogba atau essien.. trus…. trus gmana lg ya.. wkwkwkw

    1. edisi fans bola ya :)) ayo buat ajaa, biar ada bacaan yang membidik pasaran cowok juga 😀

      Memori itu 3 tempat sih, amrik, jakarta, dan jogja, tapi banyakan di jakarta :D. Novelnya udah ada 5! tapi gue punyanya baru 4, buku pertamanya nemunya susah :P.

  2. Hahaha.. Saya personal suka gaya Kak Windry menulis.. ditambah penjelasan Kak Manda semakin ngerasa novel ini seperti secangkir Teh manis yang hangat. Cocok di sambil ngemil kue kering..XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s