Review Movie : The Way Way Back (2013)

Free Web Proxy

Directed and written by Nat Faxon, Jim Rash

Setelah kapan itu tergila2 sama The Perks of Being a Wallflower (2012), nontonin Electrick Children (2013) dan sekarang lagi semangat banget nungguin bisa liat The Spectacular Now (2013), kayaknya udah resmi deh kalau saya ini penggemar film coming-of-age. Entah kenapa suka banget liat remaja2 galau berusaha menemukan jati diri, huaahuhauahu *langsung berasa telat dewasa secara mental*.

Berikut adalah review tanpa spoiler :

The Way Way Back (2013) -> 8 dari 10. Ceritanya tentang seorang cowok 14 tahun bernama Duncan (Liam James), yang mengalami krisis identitas. Orangtuanya sudah bercerai, lalu ibunya berpacaran dengan Trent (Steve Carrell), seorang pria dengan tabiat perfeksionis yang sangat menyebalkan. Duncan dan ibunya diundang Trent untuk berlibur di rumah musim panas miliknya, di tepi pantai di Cape Cod. Selama di sana, Duncan semakin membenci Trent, sedangkan ibunya juga tidak banyak memberikan bantuan. Lalu, Duncan berkenalan dengan seorang pria bernama Owen (Sam Rockwell) yang bekerja di sebuah water park. Merasa bosan, Duncan menerima tawaran Owen untuk bekerja part-time di wahana hiburan air tersebut. Apakah Duncan dan ibunya akan bahagia bersama Trent?. Film ini sederhana banget, komedi2nya juga lumayan mengena. Cocok ditonton sama anak2 yang lagi beranjak dewasa dan para orangtua :D.

Berikut kisah lengkapnya! (hindari font biru kalau gak mau spoiler) :

Free Web Proxy
Duncan si remaja muka madesu

Duncan (Liam James) frustrasi. Pacar ibunya, Trent (Steve Carell), dengan terus terang memberinya nilai 3 dari 10. Rumah musim panas Trent di tepi pantai Cape Cod juga tidak membuatnya merasa lebih baik. Kedua orangtuanya sudah bercerai dan yang dia inginkan adalah tinggal bersama ayahnya, tapi ayahnya bilang bahwa saat ini situasinya sedang tidak tepat. 

Trent terus menekannya secara mental, mengungkapkan bahwa Duncan tidak mampu berbuat apa-apa, terus memonopoli perhatian ibunya. Trent mempermalukan Duncan di depan semua orang, bahkan di hadapan tetangga mereka, Joan dan Kip, juga seorang ibu bernama Betty (Allison Janney) beserta anak perempuannya, Susanna dan Peter, seorang anak laki-laki bermata juling.

Suatu hari, Duncan mengendarai sepeda mengelilingi kota, dan menemukan sebuah wahana water park bernama Water Wizz. Duncan menyelinap dan melamun di pinggir kolam renang. Seorang pegawai water park, Owen (Sam Rockwell) menyapanya, dan merekrutnya menjadi pekerja part-time di wahana tersebut. Duncan menyanggupi, dan sejak itu liburannya menjadi lebih menyenangkan. Owen yang santai dan kekanakan, membiarkan Duncan menjadi dirinya sendiri, memberinya kesempatan untuk berpartisipasi, dan dihargai.

Di saat yang sama, Duncan memergoki Trent yang berselingkuh dengan Joan, tapi Duncan tidak berkata apa-apa karena tidak ingin menyakiti ibunya. Ibunya sendiri sepertinya sudah curiga, tapi memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. Ketika akhirnya fakta Trent berselingkuh sudah begitu jelas, Duncan menegur ibunya yang lari dari masalah. Dia melabrak Trent dan ibunya, berkata bahwa dia tidak perduli lagi, toh ini bukan hidupnya, dia akan tinggal bersama ayah kandungnya. Dibakar emosi, Trent memberitahu anak remaja itu bahwa ayah kandungnya-lah yang tidak ingin mengasuh Duncan, jadi Duncan tak punya banyak pilihan.

Free Web Proxy
ibu Duncan dan pacarnya, Trent

Kecewa dan hancur, Duncan terpaksa bungkam. Ibunya memutuskan untuk pulang lebih awal. Diantar oleh Trent, Duncan dan ibunya kembali menaiki mobil tua Trent. Saat berhenti di pom bensin dekat Water Wizz, Duncan melarikan diri sejenak ke wahana hiburan air tersebut. Tanpa banyak bicara, dia mengajak Owen untuk mencoba trik rahasia seluncur air yang menjadi mitos di antara pengunjung Water Wizz.

Pengumuman dibuat, dan seluruh pengunjung Water Wizz berkumpul di sekitar wahana seluncur air. Saat itulah ibu Duncan datang mencari anaknya dan melihat foto Duncan di papan Employee of the Month. Ibu Duncan terkejut saat tahu ternyata selama ini Duncan menghilang untuk bekerja, dan diapun sangat bangga saat melihat semua orang bertepuk tangan saat Duncan berhasil melakukan trik seluncur air yang terkenal itu.

Duncan berpamitan pada Owen dan pegawai Water Wizz, lalu kembali naik ke mobil tua Trent, duduk di kursi paling belakang. Suasana mobil terasa kaku dan hening. Di tengah perjalanan, ibu Duncan meninggalkan tempat duduknya di samping Trent. Tanpa mempedulikan pacarnya yang mengomel, wanita itu pindah ke kursi belakang, duduk di samping Duncan.

The end

Ceritanya terdengar sederhana, dan si pemeran Duncan, Liam James, menurut gue juga gak ganteng2 amat (beda ama Tye Sheridan di film Mud), gue malah kecantol ama Owen-nya, alias Sam Rockwell, entah kenapa disini kayak ganteng banget gitu. Tapi pesannya menurut gue bagus sih. Salah satu nilai plusnya adalah, komedinya lumayan lucu dan nyampe, sama sekali gak slapstick apalagi porno :D. Akting pemain2nya juga bagus, meski di sini Steve Carell  nyebelinnnnnn banget, komedinya justru banyak dateng dari Owen dan ibu tetangga yang bernama Betty.

Film ini menggambarkan dengan jelas kondisi kejiwaan remaja, yang masih mudah goyah oleh penilaian orang luar. Masih insecure, masih sangat memedulikan apa kata orang di sekitar mereka. Duncan sendiri, kondisi mentalnya masih rapuh karena ortunya baru cerai, terus lagi kayak gitu malah kena kritikan Trent yang bener2 gak pake tedeng aling2, dia menilai Duncan hanya score 3 dari 10. Awalnya Duncan bungkam, tapi terus ada satu kata2nya pas curhat sama Owen yang bikin gue miris banget :

Duncan : Trent. My mom’s boyfriend. He said I was a three. He asked me what I thought I was on a scale from one to ten. He called me a three! Who says that to somebody?
Owen : Somebody who doesn’t know you.

Duncaaann!!! sini aku peluk! T-T

Free Web Proxy
Owen dan Duncan. Sam Rockwell ganteeeeeeng!!!

Di film ini juga ada cerita sampingan dengan tema yang sama. Ceritanya si ibu tetangga, Betty, punya anak laki2 bungsu namanya Peter yang matanya sedikit juling. Betty, secara bercanda selalu cerita ke orang2 kalau anaknya bermata ‘lucu’. Dia selalu ngeritik anaknya betapa orang2 itu jadi bingung kalau lagi ngomong ama dia karena mereka gak tahu Peter ngeliat kemana, makanya Betty suruh Peter pake eyepatch. Nah, ada satu momen dimana Peter ketemu sama Owen di pesta Water Wizz, terus Owen bilang betapa dia heran kenapa Peter harus pakai eyepatch, padahal mata Peter itu keren, dan dia pengen banget kayak Peter biar bisa ngerjain orang. Meski mungkin Owen bohong, dan meski Peter tahu Owen juga cuma basa-basi doang, Peter ngerasa nyaman, dan dia dengan senang hati melepas eye patch-nya selama sisa pesta.

Kadang, manusia itu gak selalu butuh solusi, cuma pengen diterima apa adanya aja. Biarpun mungkin awalnya cuma pura-pura, tapi fakta bahwa dia diberi waktu dan kesempatan untuk mengenal diri sendiri dan merasa bangga dan nyaman, itu udah lebih dari cukup.

Manis sih, dan gue ngerti rasanya, udah segede gini aja kadang masih menye2 kalau dikritik Mamah, atau siapapun yang gue tuakan di keluarga dan kerabat. Tapi berhubung gue udah lepas masa remaja, jadi udah mulai tau kenyataannya sih.

Gue hidup serumah dengan ponakan gue yang tahun ini berumur 13. Menjalani hari bersama remaja yang baru ngeletek, hidup gue diwarnai momen2 ngakak karena biar tinggi badan udah sama, tetep aja banyak hal yang belum dia tahu dan suka salah kaprah, dan momen2 awkward saat sadar bahwa dia juga udah beranjak dewasa dan mulai tahu hal2 yang dulunya mati2an kita tutup2in. Dan gue sadar bahwa, kadang, sekeras apapun gue berusaha untuk jadi orang dewasa dan tante yang baik, ada kalanya perilaku dan tutur kata gue nyakitin dia, secara fisik dan yang utama, emosional. Sedih sih, tapi ada kalanya bener2 mati ide aja mesti ngapain lagi saat dia bener2 lagi bebal dan lo kembali ke mode tante-tante : pengen mendidik.

Itulah kenyataan hidup. Teorinya adalah, orang2 dewasa di sekitar kita, keluarga dan orang terdekat, adalah orang2 yang seharusnya paling mengerti kita, menerima kita apa adanya. Yang bikin kita semangat saat down, yang bikin kita percaya diri saat kita lagi gak suka sama diri kita sendiri. Tapi enggak, justru kadang kritik terpedes itu datang dari darah daging sendiri.

Tapi bukan berarti juga kata2 manis dari orang lain itu bagus loh, karena mungkin orang itu bisa ngomong manis ya karena gak hidup bareng aja ama lo *the ugly truth*. Gak ngerasain betapa kadang lo bisa kurang ajar, gak ngerasain betapa lo udah diurusin segala macem, kadang diminta tolong ambilin minum aja suka pura2 kagak denger *curcol sekaligus introspeksi*. Seperti lo yang mungkin sakit hati dengan kata2 orang dewasa, ya sebaliknya, sama juga.

Yang gue tahu, masa remaja itu adalah masa dimana anak2 kecil yang dulunya manis2 itu akan mulai sadar bahwa orang2 dewasa di sekitarnya itu gak sempurna, terus merasa kecewa, kritis, dan itu akan terus jalan sampai mereka lulus kuliah dan bekerja, sampai jadi orangtua. Abis itu baru bener2 sadar deh bahwa ternyata diapun gak sempurna, that’s why gak berhak minta orang lain sempurna. Dan se-enggak sempurna-nya orang dewasa di sekitar lo, kalau mereka yang urusin lo, mereka yang nangis kalau lo kenapa-kenapa, mereka yang kasih lo makan, mereka yang maju ke baris depan saat lo disakitin, then, se-gak-sempurna apapun, mereka tetep worth it. Seperti lo yang gak sempurna, yang dulu cebok aja belum bisa, cuma bisa nangis2, belum bisa cari duit,tapi tetep dirawat dan disayang sampe jadi segede ini.

Ini kenapa gue jadi curcol banget ya :D, enggak kok ponakan, akika tetep lopyuful meski dirimu suka gak bisa move on, baca novel yang sama berkali-kali dan nonton tetralogi Twillight ampe afal kata2nya. Semoga aja ntar pas gede taunya gak cuman Twillight dan Fedrian Arsjad ya, amin.

Intinya adalah, yang orang dewasa maupun remaja, baik2lah dalam berperilaku dan bertutur kata. Terutama orang dewasa yang harus sadar bahwa manusia bernama remaja ini masih rapuh, masih butuh dibimbing untuk menemukan jati dirinya. Ada yang termotivasi dengan kritik, dan ada yang enggak. Ada kritik yang membangun, dan ada yang cuma bikin down doang. Sering2lah mikir, apakah kata2 yang lo ucapkan ke mereka itu perlu apa enggak. Dan lo juga gak butuh sempurna dan selalu terlihat heroik, kalau salah ya minta maaf, kalau dia salah ya tegur, justru ada baiknya ya dididik untuk sadar bahwa lo juga manusia, jadi bisa belajar saling menghargai dan menyayangi di saat duka maupun suka.

Untuk remaja, jangan selalu percaya sama apa yang orang dewasa bilang, terutama kalau mereka lagi terbakar emosi, atau kalau mereka lagi insecure. Mumpung masih muda, jangan galau melulu (capek tau liatnya), justru banyak2 coba hal baru, kalau suka ya fokus jalaninnya, gak suka ya langsung cari kegiatan lain. Gagal itu biasa, we did it all the time. Justru waktu umur segini banyak2 buat salah dan belajar, tapi kalau bisa jangan yang efeknya bisa bikin hidup lo berubah 180 derajat, macam melakukan tindakan kriminil dan dipenjara, hamil dan ngehamilin anak orang, atau males belajar ampe drop out, kecelakaan dan bikin lo luka permanen, atau yang lebih buruk, mati  *ngomongnya lempeng*. Kalau orang dewasa marah2 ama lo, kemungkinan ya karena mereka takut akan 5 hal itu : penjara, hamil-menghamili, drop out, terluka dan mati. When in doubt, cari Tuhan dan cerita sama orang dewasa. Kami ada untuk melindungi dan ngasi pengarahan saat lo bimbang, silakan dimanfaatkan karena gak semua orang dikasih chaperone ama Tuhan.

Berawal dari review film, berakhir jadi curcol, tapi semoga semua jadi minat nonton pilemnya, ya :D. Oh ada satu lagi yang lucu, sepanjang film itu ada karakter namanya Lewis, karyawan Water Wizz yang lagaknya menurut gue rada mirip sama Squidward =)), ini dia orangnya :

Free Web Proxy
tuh, yang merem2 joged di tengah

 

Dan ternyata dia adalah Jim Rash, sutradara dan penulis naskah The Way Way Back =)), terus si sutradara dan penulis satunya, Nat Faxon juga ikutan! jadi karyawan namanya Roddy :D. Secara kedua orang itu berawal dari aktor terus coba jadi screen writer dan sutradara, jadi kayaknya gak mau kalah eksis :P.

Udah ah,

Happy Monday dan hidup remaja!

Mandhut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s