Review Book and Movie : City of Bones (2013)

Free Web Proxy

Inspired by book : The Mortal Instruments Series Book One : City of Bones by Cassandra Clare
Directed by : Harald Zwart
Movie script written by : Cassandra Clare, I. Marlene King, Jessica Postigo Paquette

Review tanpa spoiler :

The Mortal Instruments : City of Bones (2013) -> bok rating pribadi dari gue akan sangat subjektif nih -_-; gue soalnya udah baca bukunya dan rada terobsesi ama salah satu tokoh *terus puas abis pas liat tokohnya ganteng di film*. Terus kan karena udah baca, jadi bagi gue filmnya nyambung2 aja, mbuh lah kalau yang gak pernah baca ngerti pa gak. Yang jelas, kalau di rottentomatoes, film ini dapet rating 12 dari 100, sedangkan di IMDB ratingnya 6,1 dari 10. Rating dari gue? 5 dari 10. Banyak gue kurangin dari sisi casting dan karakterisasi. Sok lah dinilai dewek 😀

Nah, ceritanya sih aslinya membidik remaja ya, young adults gitu (14-21 tahun). Tapi as usual ya, kayaknya asal yang nonton bukan anak di bawah 14 sih oke2 aje. Kayaknya emang disiapin untuk jadi bahan kegilaan baru bagi para abg setelah tetralogi Twillight tamat. Masih mirip sama novel Stephenie Meyer tersebut, ceritanya menyentuh dunia supernatural, baca : ada manusia biasa, vampir, werewolf, juga ketambahan makhluk2 baru : angel, demon, warlock, witch, fairy (ada di buku city of bones doang, di film gak dibahas), tapi tenang aja fairy-nya cakep gitu sih bukan kayak Dobby-nya herpot.

Tapi konsennya ke ras baru sih, namanya shadowhunter, tapi gue gak mau kasitau apa ah, biar pada penasaran.

*angin bertiup, bumi gonjang ganjing*

Ceritanya sendiri tentang Clary Fray, seorang gadis remaja yang tinggal bersama ibunya, seorang single parent yang bekerja sebagai pelukis. Hidupnya tadinya damai sentosa, tapi terus dia bertemu dengan kejadian2 aneh, bisa melihat apa yang gak orang lain lihat, ketemu cowok misterius, dan puncaknya adalah ibunya menghilang, rumahnya acakadul, dan di rumahnya ada monster demon gitu.

Apakah ibu Clary berubah jadi demon? atau ibu Clary ilang doang? tapi ibu Clary ilang kemana? siapa cowok yang misterius itu? terus gimana Clary ngelawan demonnya kalau badannya aja kayaknya klemer2 gitu? *seakan2 masih tayang di bioskop*

Lily Collins as Clary Fray-nya lumayan cakep, bonus Jonathan Rhys Meyer yang ikutan nampil, bintang2 remaja yang lain belum terlalu terkenal tapi akting dan tampang lumayan acceptable lah ya *tapi tentu saja aku menyimpan komplain*.

Selamat menonton 🙂

Review lengkap (hindari font biru kalau gak mau kena spoiler)

Clary Fray (Lily Collins), seorang gadis remaja biasa-biasa saja. Dia hidup berdua dengan ibunya, Jocelyn Fray (Lena Headey) yang bekerja sebagai pelukis. Selain ibunya, Clary dekat dengan beberapa orang yang sudah dianggap keluarga, Luke Garroway (Aidan Turner) sahabat ibunya, dan Simon Lewis (Robert Sheehan) sahabatnya yang geek dan sarkastis. Ayahnya, seorang tentara, sudah lama meninggal, jauh sebelum dia bisa mengingat.

Menjelang ulang tahun-nya yang ke-15, Clary ingin mencoba hal-hal baru. Suatu malam, Clary mengajak Simon untuk berkunjung ke sebuah club bernama Pandemonium. Awalnya Clary menikmati suasana, tapi dia begitu shock saat melihat seorang pengunjung ditusuk oleh pisau oleh seorang pemuda pirang. Clary berteriak, menarik perhatian banyak pengunjung club, tapi akhirnya dia sadar bahwa tak ada orang lain yang melihat kejadian itu selain dia.

Clary pulang dalam keadaan bingung, dan bertambah khawatir saat keesokan paginya dia bangun dan melihat kamarnya dipenuhi sebuah simbol. Clary melihat kedua tangannya yang belepotan tinta dan crayon, sadar bahwa dialah yang menggambar semua simbol itu, tapi dia tidak bisa mengingat apapun. Clary panik, bergegas menemui Simon sahabatnya, tidak memedulikan larangan ibunya yang meminta Clary untuk tetap tinggal di rumah hari itu. Clary menemui Simon di sebuah kafe, menceritakan pengalaman anehnya dan begitu terkejut saat tahu bahwa si pemuda pirang yang dia lihat di Pandemonium juga ada di kafe itu, memandangnya lekat2, tapi tidak ada yang melihat pemuda itu selain dia.

Free Web Proxy
Suasana kamar Clary pagi itu

Frustrasi, Clary mengajak si pemuda pirang ke belakang kafe dan bertanya tentang simbol, tentang mengapa hanya dia yang bisa melihat pemuda pirang itu, mengapa pemuda itu menusuk pengunjung pandemonium, tapi sebelum pemuda itu memberikan jawaban yang jelas, telfon Clary berdering. Clary mengangkat telfon dari ibunya dan merasa panik saat ibunya berteriak bahwa Clary tidak boleh pulang, dia harus segera menemui Luke, dan terdengar suara ledakan. Tanpa berkata apa-apa, Clary berlari menuju rumahnya, meninggalkan si pemuda pirang dan Simon di kafe.

Clary begitu terkejut saat rumahnya sudah dalam keadaan hancur, ibunya hilang, dan ada makhluk aneh yang menyerangnya. Clary panik, tapi si pemuda pirang yang ternyata bernama Jace Lightwood (Jamie Campbell Bower) membantunya membasmi demon tersebut. Setelah itu, Jace memperkenalkan diri sebagai shadowhunter, si pemburu demon, ras manusia setengah malaikat. Yang dibunuh olehnya di pandemonium tidak lain adalah demon juga, itulah mengapa tak ada manusia yang bisa melihat dirinya dan si demon. Pertanyaannya adalah : kenapa Clary bisa?

Clary menemui tetangganya, Dorothy, seorang wanita anti-sosial. Awalnya Clary hanya ingin tahu apa yang terjadi pada ibunya, tapi ternyata Dorothy adalah seorang penyihir. Dorothy ngeramal Clary pake kartu tarot, dari wanita itu, Clary tahu dia dan ibunya adalah shadowhunter. Ibunya diculik oleh Valentine (Jonathan Rhys Meyer), shadowhunter lainnya yang berniat untuk merebut kembali sebuah holy cup yang hanya diketahui keberadaannya oleh ibu Clary. Dorothy berusaha mengambil informasi lainnya, tapi dia tidak bisa karena memori Clary dikunci dan dia tidak bisa membukanya.

Simon datang, dan setelah diberikan penjelasan oleh Clary, terus karena batal meminta perlindungan dari Luke (gak menarik alasannya) jadi yaudah mereka minta bantuan Jace. Pemuda pirang itu membawa mereka ke tengah kota, ke sebuah gedung tua yang disebut institute, markas dari shadowhunter. Di sana, Clary berkenalan dengan shadowhunter lainnya, Hodge, pria tua pemimpin institute, serta kedua saudara angkat Jace, Alec Lightwood (Kevin Zegers) dan Isabelle Lightwood (Jemima West). Di institute pulalah Clary tahu kalau simbol yang dia gambar terus2an adalah simbol shadowhunter, terus dijelaskan pentingnya holy cup itu apa (konon dulu malaikat Raziel ngasi tetesan darahnya di cup itu, yang kalau diminum manusia maka jadilah shadowhunter), terus gimana shadowhunter bertarung (kalau herpot pake mantra dan tongkat, shadowhunter pake semacem pulpen tattoo bernama steele untuk membuat simbol2 yang digambar di badan shadowhunter, masing2 simbol ada kegunaan yang berbeda, rada ribet ye mau perang aja mesti gambar dolo)

Free Web Proxy

Untuk membuka memori Clary, Jace membawa Clary ke kompleks pemakaman untuk mengunjungi the silent brothers. Entah gue harus menggambarkan mereka sebagai apa, yang jelas penampakannya kayak dementor tapi bermuka pucat dan mulutnya dijahit. Terus setelah didoa2in, Clary pingsan dan tangannya gerak sendiri, nulis nama : Magnus Bane, the high warlock of Brooklyn *ngakak*. Tempat para Silent brothers ini lah yang dinamakan City of Bones *dan menjadi judul novel*, soalnya masuk ke bawah tanah gitu dan dikelilingin tulang2.

Kebetulan malam itu Magnus Bane lagi ngadain pesta khusus makhluk supranatural, jadilah Clary, Simon, Jace, Alec dan Isabelle berkunjung ke sana guna menemui si warlock sakti. Magnus menyapa mereka, menyatakan ketidaksukaannya pada kaum shadowhunter (kecuali Alec, lekong detected) tapi dia menyambut Clary dengan ramah. Mereka bicara empat mata, dan akhirnya Clary tahu kalau dia dan ibunya adalah pasien rutin seorang Magnus Bane, memori Clary dihapus dan dikunci, itulah sebabnya dia tidak ingat dengan Magnus, atapun fakta bahwa dia adalah shadowhunter.

Free Web Proxy
Magnus Bane si Warlock Seksi

Tiba2 Jace memberi kabar bahwa Simon diculik oleh kawanan vampir (salah satu tamu Magnus), Clary dan teman2 shadowhunternya berkunjung ke markas vampir, sebuah hotel yang diabaikan, bernama Hotel of Death. Di film kagak dijelasin ya, tapi di buku itu ditulis kalau saking berpengaruhnya si Valentine ini, dia ampe bikin sayembara bagi makhluk apapun yang nemuin Holy Cup nanti dapet hadiah, makanya ada demon, warlocks, sampe vampir yang rame2 ganggu Clary. Dibantu oleh kawanan werewolf yang entah muncul darimana, Simon berhasil diselamatkan tanpa kurang suatu apapun.

Terus si Clary ngerawat2 Simon gitu di UKS institute, dia ngeliat dua lubang kecil semacam bekas gigitan vampir di bahu Simon, tapi Clary diem aja. Terus dia menemui Jace dan diajaklah doi ke taman atas institute buat liat bunga mekar *adegan romantis*, terus bisa ditebaklahya, civok2 dikit, abis itu mereka ketauan Simon. Terus Simon marah2 sama Clary, secara gak langsung menyatakan cinta, bilang bahwa dialah yang selama ini ada di samping Clary, tapi Clary malah naksir Jace. Terus karena patah hati, Simon pulang ke rumahnya.

Lalu, si Clary malemnya belajar di perpus institute. Bukan belajar matematik, tapi belajar simbol2 shadowhunter. Terus secara gak sengaja dia baru tahu kalau dia bisa memasukkan benda apapun ke dalam kertas, jadi keliatannya kayak lukisan gitu, tapi cuma Clary yang bisa masukin dan ambil (turunan dari emaknya Clary, si Jocelyn). Clary akhirnya tahu dimana ibunya menyembunyikan Holy Cup, yaitu di salah satu kartu tarot yang dimiliki Dorothy (kan tarot ada seri cup tuh).

Clary ajak Jace, Alec dan Isabelle untuk ambil kartu ke Dorothy, hanya untuk menemukan bahwa Dorothy berubah jadi demon lalu berusaha rebut cup dari Clary. Demon dorothy berhasil dimusnahkan (dibantu juga ama Simon yang tiba2 dateng dan baikan aja ama Clary), tapi Alec terluka parah.

Semua orang heboh ngobatin bawa Alec ke institute. Ternyata lukanya Alec itu gak bisa disembuhin ama steele, luka karena demonnya terlalu parah, tapi terus tiba2 Magnus Bane muncul aja gitu buat sembuhin Alec. Kalau di buku tuh dijelasin lebih mendalam kalau Alec suka ama Jace (gak usah panik gitu lah), makanya dia benci ama Clary, tapi akhirnya dia jadi deket2 gitu sama Magnus, lupa deh gue udah pacaran apa belon, tapi Alec suka ngunjungin Magnus diem2.

Nah, Clary nyerahin cup-nya ke Hodge, tapi terus tiba2 valentine dateng pake pintu kemana saja di ruangan Hodge (huahuahaa, gue lupa namanya, pokoknya fungsinya mirip2 portkey di herpot, cuma ini kayak terbuat dari jelly gitu). Nah, Hodge malah ngasi cup-nya langsung ke valentine, hodge berkhianat!

Jadi si Hodge ini kan dikutuk gitu ya, gak bisa kemana2 selain di institute, terus minta Valentine angkat mantranya karena dia udah mau gila di institute mulu, makanya dia kasi cup-nya ke valentine. Terus Clary dan Jace usaha mencegah valentine gitu2, tapi terus horor banget karena ternyata valentine itu bapak kandung Clary, terus dia adalah ayah Jace yang ilang.

JADI JACE AMA CLARY KAKAK-ADIK? PADAHAL UDAH CIVOKCIVOK?! *horor*

Free Web Proxy
Tidaaaaaaakk

Yaudah deh, Jace semacem ilang semangat aja karena diduga melakukan praktek incest. Sementara Clary melarikan diri dari ruang perpus dengan cara masuk ke pintu ke mana saja, yang ternyata membawa dia ke rumah Luke, yang ternyata adalah werewolf. Terus akhirnya Luke mengerahkan kawanan werewolf-nya ke institute buat bantu Clary.

Nah, saat itu Simon ama Isabelle kabur ke basement buat ambil obat2an untuk Alec, tapi tau2 Simon liat ibunya Clary melayang di ruangan obat itu dalam keadaan gak sadarkan diri *sungguh random*. Tapi tiba2 institute udah penuh ama shadowhunter penghianat dan demon, jadi lumayan heboh deh. Tau2 Clary dan kawanan werewolf datang membantu, Clary ngeluarin simbol dengan jurus baru, ketahuanlah kalau selain bisa nyimpen barang di kertas, Clary ini bisa nyiptain simbol.

Terus Clary balik lagi ke perpus, mati2an disuruh ama valentine untuk minum darahnya dari holycup (katanya di buku, valentine itu gila dan semacam pengen bikin darah murni, mau ubah semua manusia jadi shadowhunter, gak peduli manusianya kuat pa gak, terus dia juga banyak eksperimen ama darah demon, jadi dia nyuntikin sebagian ke badannya sendiri) Clary gamau, terus dia masukin holycup-nya lagi ke kertas dan si valentine dimasukin ke gel pintu kemana saja dan diledakin.

Holy cup berhasil diselamatkan, ibu Clary si Jocelyn pun selamat meski masih tidur panjang belum bangun2.

Terakhir2, Clary lagi ngerapihin rumahnya yang berantakan pake kekuatan shadowhunter, tapi tiba2 si Jace dateng. Cowok pirang itu minta Clary untuk tinggal di institute karena semua butuh kemampuan Clary, tapi Clary bilang kalau tinggal sama Jace itu rasanya bakal aneh, apalagi tau mereka kakak-adik dan begitu kan… tapi Jace bilang kalau dia yakin Clary bukan adiknya, pasti ada penjelasan, dan yaudah deh Clary naik motor bareng Jace ke institute.

The End.

Panjang ya ceritanya, ya maklum deh bukunya aja tebel bener.

Gue mau komentar tapi ini masih spoiler sik, jadi kalau gak mau baca skip aja ya ampe komen *lah*.

Langsung ya, tokoh favorit gue di serial mortal instruments ini tiada lain tiada bukan….

Simon Lewis.

Free Web Proxy
Ya? siapa manggil saya?

Jadi di buku 1 itu diceritain kalau Simon itu cowok geek yang sarkastis, humoris dan manis sekali. Pake kacamata, cupu, semuanya biasa aja. Dia naksir Clary sejak lama tapi terus di-friendzone gitu ama si Clary, makanya pas Jace dateng patah hatinya banget2 soalnya Clary langsung nyantol.

Tadinya gue ya naksirnya cuma gara2 dia humoris aja, tapi terus di buku kedua yang City of Ashes, hati gue serasa diaduk2. Jadi diceritain kalau si Simon itu, karena suatu dan lain hal sekarat *gara2 Clary juga sih ujung2nya*, jadi Jace kasih ide untuk ngubah Simon jadi vampir, dan jadilah dia vampir T-T. Terus yaudah, dari cowok2 berkacamata cupu kurus, jadilah dia vampir ganteng, bermata tajam (gak butuh kacamata lagi), terus tubuh berotot, gerak cepat dan jadi menarik gitu.

KAN AKU GREGETANNNN. Mana dia minumnya darah hewaaaan doaaang. huaaa huaaa.

Padahal gue gak segini hebohnya loh ama Edward Cullen.

terus jadi penasaran aja liat Simon di film gimana, dan harus gue akui bahwa gue cukup puas lah, meski simon yang harusnya masih cupu ini udah keliatan yummy aje *karena belum apa2 perutnya udah rata calon sixpack*, harusnya dikurusin ampe ceking dulu ya.

Perbedaan antara buku dan film :

Free Web Proxy

Ini seinget gue ya, soalnya bacanya udah lama banget juga 😛

  1. Di film gak dibahas soal kaum fairy, tapi aslinya kalau di buku itu mereka sempet ketemuan ama Ratu Peri di markasnya, sayang banget padahal menurut gue itu adegan yang bisa di-polish abis. Tapi yasudahlah, mungkin durasi juga kali ya
  2. Di buku ada adegan dimana Clary dkk pergi ke rumah makan yang keliatannya biasa aja, tapi sebenernya menyediakan makan untuk kaum supranatural :D, termasuk makanan berbahan dasar darah untuk vampir! 🙂
  3. Kalau di buku, Simon itu diculik setelah diubah jadi tikus dulu, tapi pas di film digambarin kalau Simon cuma jadi lemes aja setelah mengkonsumsi minuman yang udah diracun, terus digeret rame2 ama vampir. Terus, di buku, Simon itu belum digigit sama vampir, cuma lecet dikit kalau gak salah, tapi diceritakan kalau dia itu udah kena ‘glamour’ vampir *semacam pheromone*, jadi pengen dateng dan dateng lagi ke hotel of death :D.

Nah, mengenai permasalahan besar dari City of Bones :

[satu] casting.

Banyak banget tokoh yang gak sesuai ama penggambaran di buku. Paling gubrak tuh Valentine. Di buku, diceritain kalau Valentine itu wujudnya bapak2 paruh baya, rambutnya pirang gitu, bayangan gue udah tua lah ya, agak gendut mungkin, pake jubah. Tapi terus tiba2 yang muncul begini :

Free Web Proxy
Bapak anak dua yang entah kenapa terlihat lupa umur

Mana rambutnya item, panjang rasta2 pulak, nyontek filma apa pulak, salah lapak banget. Jonathan Rhys Meyer-nya juga kali ini aktingnya jadi berasa lebay deh :(.

Terus kekecewaan kedua adalah si tokoh Isabelle. Di buku tuh Isabelle digambarin lebih cantik dari Clary, paling menggoda iman lah, tapi terus di film dia kalah cantik deh dari Clary -_-.

Luke Garroway mukanya terlalu cantik. Untuk bapak2 yang jadi werewolf dia terlalu necis, padahal di buku katanya Luke itu machoman dan rada berantakan (ngebayanginnya Hugh Jackman)

Jace Lightwood kurang ganteng, padahal di buku digambarinnya gantengnya ampun2an, tapi ini masih gantengan Simon ama Alec, tapi ke belakangnya mulai agak2 ganteng sih, tipe2 orang yang diliat sekilas terlupakan, tapi kalau udah serumah baru kerasa ngangenin ya. Tapi gimana dong sedangkan Jace itu karakternya yang semua orang langsung candu begitu liat?

Free Web Proxy
Ini kemunculan pertama Jace di club Pandemonium, kurang kan?

Hodge kenapa jadi kayak businessman, gue ngebayanginnya kayak albus dombledore gitu, apa ini guenya ya salah imajinasi?

[kedua] karakterisasi

Free Web Proxy

Jadi, gue pernah diajarin yang namanya context dan content untuk karakter. Dalam cerita, kalau mau bikin dialog, atau reaksi dari suatu karakter, kita harus bener2 cekbebicek apakah content yang mau kita sampaikan itu masih dalam context si karakter.

Jadi misal ada 3 karakter, satu bossy, satu penakut, satu ramah. Kalau ada minum yang tumpah, kira2 siapa yang ngelap?. Maka diliat dulu kan situasinya, kalau di restoran tinggal panggil pelayan, kalau di rumah? terus diliat lagi siapa yang numpahin, si bossy? terus apa si bossy akan ngelap sendiri atau nyuruh? kalau iya, nyuruh yang mana, si ramah apa si penakut? nyuruhnya gimana? misal si penakut yang nurut mau ngelap apakah si ramah akan diem aja atau nawarin bantu? hal2 semacam itu lah.

Contoh kedua, misal, lo punya karakter om2 machoman, buka botol aja pake gigi, pantang gunting kuku, terus tanpa alasan di tengah2 dia berubah aja personalitinya jadi ceria, pake bando bunga2 centil dan nyanyi cherrybelle?

Bukan gak mungkin, kalau ceritanya itu kedok, seorang preman berhati bencong bolehlah. Tapi kalau ujug2 dan gak ada alasan yang reasonable, scene 1 masih pake jaket kulit, scene 2 udah pake tutu, lalu scene 3 pake jaket kulit lagi, ceritanya jadi timpang toh? Terus apa terakhir2 mau bilang karakter lo kejedug terus out of context bentar? mau dicolok pulpen?

Intinya nangkep lah ya. Stay in character. Tapi yang gue liat ya, di City of Bones, karakter suka keluar context, melakukan hal yang gak seharusnya dia lakukan di momen yang salah. Contohnya Clary yang sempet flirting ama Jace sesaat sebelum pingsan di institute padahal katanya masih khawatir karena ibunya baru aja ngilang dan rumahnya hancur lebur.

Terus Valentine yang katanya paling jahat, licik, luar biasa kejam, tapi ketipu ama Clary cuma gara2….

Clary ngalihin perhatian valentine pake gel pintu kemana saja yang dia ambil dikit terus dilempar ke udara, jadi macam ngalihin perhatian dari anak kecil gitu, tau2  pas meleng, si valentine didorong masuk ke pintu terus diledakkin..

Kan ikke ilfil…. kalau emang segitu doang ya no wonderlah ya dandanannya jadi lebay rasta2 macam bapak2 midlife crisis.

:))

Jadi begitulah kritik yang bisa gue berikan untuk City of Bones. Tapi nilai plusnya adalah, gue lumayan suka sih karena Cassandra bahas ras baru, si shadowhunter, meski masih ga sreg sama cara berantemnya yang mesti tattoo tattoo dulu. Gue juga suka dia bahas banyak makluk supranatural, termasuk fairy yang kalau di buku itu licik banget, tukang tipu dan jahat, beda sama penggambaran fairy pada umumnya yang kesannya baik.

Terus gue lumayan menghargai keberanian Cassandra Clare untuk menyinggung tema incest. Biasanya kisah roman remaja itu tentang pasangan yang gak bisa bareng gara2 status, atau alam (vampir-manusia), tapi kalau urusannya udah karena darah dan gen, emang konfliknya serius sih.

Free Web Proxy

Jadi kita ini muhrim apa bukan, Bang Jace?

Tapi yang terutama adalah, terimakasih Cassandra Clare karena sudah menghadirkan Simon Lewis dan menjadikan dia karakter geek yang berubah seksi, titik lemah banget lah T-T. Pesannya jelas, selalu ada jalan untuk menjadi awesome : jadilah vampir. Ilapyuful lah mas Simon Lewis.

Terakhir, marilah kita dengarkan soundtrack City of Bones, Almost is Never Enough by Ariana Grande dan Nathan Sykes yang enaaak banget :), salah satu nilai plus dari film ini :).

Almost, almost is never enough
So close to being in love

hidup geek vampir!

Mandhut.

Advertisements

One thought on “Review Book and Movie : City of Bones (2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s