Review Movie : Drinking Buddies (2013)

Free Web Proxy

Written, Produced, Edited and Directed by : Joe Swanberg

Review tanpa spoiler :

Drinking Buddies (2013) -> 8 dari 10, soalnya gue gak puas sama endingnya 😦 *banting meja* *gigit sapu tangan*. Genrenya menurut gue drama percintaan dengan sedikit komedi, tapi gak lebay. Maksudnya komedinya juga bukan yang komedi slapstick atau maksa banget bikin ketawa, cuma kayak kejadian normal sehari2 tapi lucu + manis gitu bikin senyum.

Fun fact, Joe Swanberg adalah satu dari sekian banyak sutradara yang pake metode Mumblecore. Bisa dibaca lebih lanjut sendiri, tapi intinya adalah ini adalah metode produksi film indie yang low budget dan mengandalkan improvisasi dialog. Jadi si pemain cuma dikasih tau main plot aja, alur, dan mereka dibebaskan untuk mereka dialog sendiri, bahkan termasuk gaya berpakaian dan karakter. Dan itulah kenapa gue merasa film ini kuat banget di bagian chemistry dan akting, dan memang kebetulan metodenya cocok sih ama tema ceritanya, tentang chemistry of love.

Karena judulnya aja udah Drinking Buddies dan berlatar belakang brewery, makanya banyak sekali adegan minum2, ada anggur, tapi kebanyakan bir, tapi kebetulan gak ada Bang Rhoma nyanyi Mirasantika *lah kok nyebut doi*. Jadi kayaknya gak cocok ditonton yang di bawah umur. Buat yang gak terlalu demen drama romantis menye2 yang kadang bikin kesel (ukuran gue romantis bikin kesel : Before Sunrise dan sequel2nya), kayaknya film ini cocok deh buat kamyu. Terus buat yang percaya sama yang namanya soulmate, sedang bertahan dalam hubungan yang sebenernya gak hepi2 banget tapi dijalanin juga, sedang hilang arah – lupa kenapa memulai hubungan at the first place, falling in love with your best friend, nonton deh :).

Watch the trailer here.

Cerita lengkap (hindari font biru kalau gak mau ke-spoiler) :

Kate (Olivia Wilde) adalah seorang gadis cuek dan tomboy yang bekerja di sebuah brewery. Dia bersahabat dengan koleganya, Luke (Jake Johnson). Mereka berdua sangat dekat, sifat mereka hampir mirip, selalu berbuat hal konyol dan tertawa lepas sat mereka bersama. Tapi Kate sudah memiliki pacar bernama Chris (Chris Livingston), seorang pria melankolis kaku yang bekerja sebagai music producer, dan Luke sedang membicarakan pernikahan dengan pacarnya yang bekerja sebagai seorang guru, Jill (Anna Kendrick).

Free Web Proxy

Kate and Luke yang joroknya minta ampun

Suatu hari, Kate, Chris, Luke dan Jill berlibur bersama ke rumah pantai milik keluarga Chris. Disana, diam-diam Chris dan Jill saling tertarik. Mereka berempat kembali ke kota, lalu setelah memulangkan Luke dan Jill, Chris tiba-tiba memutuskan hubungan dengan Kate, dengan alasan ketidakcocokan.

Kate patah hati, berusaha mengobati kesedihannya dengan minum2 di bar, berakhir dengan one night stand bersama koleganya yang lain, Dave. Mendengar ini, Luke uring2an, tapi dia tidak berkata apa2.

Jill pergi selama seminggu ke Costa Rica bersama teman2nya. Selama Jill pergi, Luke banyak menghabiskan waktu bersama Kate, Luke bahkan membantu Kate pindah ke apartemen yang lebih kecil. Luke terlihat selalu ingin bersama Kate, tapi di akhir proses kepindahan mereka, Kate menolak ajakan Luke untuk makan malam dan memintanya untuk pulang, karena Luke sudah memiliki Jill, dan dia tidak ingin menginginkan Luke lebih dari ini. Mereka bertengkar, dan Luke pergi meninggalkan Kate sendiri.

Free Web Proxy

Di rumah, Luke menemukan Jill yang pulang lebih awal dari jadwal yang ditentukan, sedang menangis di kamar mandi. Jill berkata bahwa dia merasa bersalah dengan Luke, Jill mengakui bahwa dia sempat tertarik dengan Chris dan bahkan berciuman dengannya sewaktu mereka berlibur bersama, tapi tidak lebih dari itu. Luke memeluk Jill dan berkata bahwa semua baik2 saja.

Keesokan harinya di kantor, Kate makan siang di pantry dengan mood yang jelek. Biasanya dia makan siang dengan Luke tapi kali ini dia memilih sendiri. Lalu tiba2 Luke masuk dengan membawa makanannya sendiri. Mereka saling berbagi makanan dan berbaikan.

THE END

Ceritanya kayaknya gak seru ya? plain monoton gitu? EH TERUS ENDINGNYA BANGKEK YA? *emosi abis*. Gue sepanjang nonton tuh udah gregetan terus tiap ada momen, terus ngebatin : cium – ayo cium – yak sekarang! sekarang!- ah lewat- yaudah gapapa masih ada lain waktu – oke – oke cium! – sekarang – NOW KISS! SEKARANG – AAAAAAA KOK GAK CIUMAN? – SETAN! – oke cium ya sekarang – NOOOOOOOOOOOOOOO!!!! BEGO BEGO BEGO! – udahlah gue udah ga paham, lo berdua mau ngejomblo ampe busuk ya terserah deh – hm? – oke bisa cium tuh – kalau kali ini gak cium juga gue gak tau mesti gimana – oke cium! sekarang! – hah? – HAH THE END?

rasanya mungkin kayak nonton thriller tapi ini versi lebih nyebelin dan… aneh.

Mungkin inilah rasanya kalau cowok2 lagi nonton pertandingan bola.

Tapi meski endingnya gak sesuai harapan, gue tetap menganggap film ini bagus dan gue sama sekali ga bosen nontonnya, karena chemistry antara Kate dan Luke-nya itu sungguh bikin hati hangat, dan itu adalah sesuatu yang gak bisa gue ungkapkan lewat kata-kata, harus liat sendiri baru ngerti 😀 (enjoy efek mumblecore! :D). Obrolan mereka gak ada yang quotable sih, tapi ada satu scene yang menurut gue manis banget, yaitu saat Kate dan Luke duduk-duduk di luar kabin malam2 buta, ngerokok dan minum bir sambil ngobrol2 ga jelas gitu. Terus tiba-tiba Luke ngajak Kate untuk ke pantai, bikin api unggun dan tidur di atas pasir  atau ngobrol ampe pagi. Luke nanyanya seakan sambil lalu, tapi kaget juga pas ternyata Kate mau.

Free Web Proxy

Luke : You know what i want to do, kate?
Kate : Mmm?
Luke : If you don’t want to do it, this is your chance to get out
Kate : Okay.
Luke : I wanna make a huge fire. I’m good at making fires, I can do it. And we’ll sit by the fire and relax on the beach. And fall asleep on the f*cking sand. And if we don’t fall asleep, because there’s a good chance it’s too uncomfortable to fall asleep… we put the fire out and we’ll go to bed.
Kate : (laugh) okay
Luke : Do you want to do that?
Kate : Yes.
Luke : Does that sound fun to you?
Kate : Yes.
Luke : Are you just saying that? Do you really think it sounds fun?
Kate : I think it sounds really fun.
Luke : (asking once again) Are you just saying that, or do you really think it sounds fun?
Kate :  I think it sounds REALLY FUN.
Luke : Okay, then we’ll do that. What about if we don’t fall asleep, and we stay up all night. Are you okay with that?
Kate : Yeah, I think that’s only like 4 hours away anyway. (laugh) That’s fine.

masih belum bisa move on dari scene itu, terlalu manitz! *guling2*

Yang jelas, film ini bikin gue teringat lagi soal teori chemistry yang diagung2kan para pejuang cinta. Gue pernah baca sih dari Psychology Today, katanya, chemistry antar manusia itu ada 2 :

  • Physical Chemistry (ketertarikan dari segi fisik), ini menjelaskan kenapa kadang kita suka ngerasa klop duluan sama orang yang baru kenal, padahal ngobrol aja belum. Bisa jadi gara2 dia cakep, atau cara senyumnya, bentuk alisnya, dll dsb. Nah, kalau yang ini lebih gampang lenyap karena bisa jadi begitu ngomong dia bau mulut dan lo ilfil, atau ternyata anaknya sombong dan suka bergunjing belum lagi suka ngupil.
  • Mental Chemistry (ketertarikan dari segi kecocokan sifat, obrolan nyambung dll dsb.), katanya, ini jenis chemistry yang bertahan lebih lama, yang membuat manusia mulai memikirkan hubungan jangka panjang, sampai ke taraf rela berkorban.

Nah, kalau Kate dan Luke, mereka jelas mental chemistry sih. Tingkat nyambungnya itu kayak gak bisa dimasuki sama orang lain, cuma mereka doang yang bisa ngerti. Tipe2 kedekatan yang minum dan makan dari gelas dan piring yang sama dan sama sekali gak keberatan dengan kejorokan masing2, saling mengkopi gerak-gerik tanpa sadar, dan kalau lagi bercanda, ketawanya bisa ampe ngakak yang kalau orang jawa bilang ‘ ngantek kel-kelan’ *maafkan kalau salah*.  Di film itu digambarin kalau mereka bahkan gak bisa sehepi itu kalau lagi sama pacar masing2.

Free Web Proxy

Sebenernya chemistry itu yang kayak gimana? hmmmm kalau dicontohin ke kehidupan nyata, pernah gak ngerasain begini : nontonnya mungkin cuma topeng monyet, tapi kalau bareng dia ngakaknya bisa ampe sakit perut. Makannya mungkin cuma nasi pake telor ceplok, tapi kalau bareng dia semuanya jadi lebih puas aja. Hal kecil kayak masak indomie, bikin teh, ngerjain tugas, semua jadi fun aja kalau ada orang ini. Ukuran ‘seneng’ lo bukan ngerjain apa, tapi sama siapa. Pernah gak? semoga pernah dan yang jelas, perasaan kayak gini gak cuman terjadi kalau bareng pacar/kecengan doang, tapi seringkali malah sama temen. Kalau sama pacar/kecengan, malah kadang makannya gak nyaman karena gugup dan takut dia ilfil karena lo makannya kayak manusia purba, sedangkan ada orang2 yang membuat lo nyaman karena entah kenapa emang lo mau tunjukin aja cara makan lo yang kayak manusia purba, biarpun entarannya diledek2.

Kalau gue mau gambarkan lebih jauh lagi. Hati lo serasa dipeluk. *digampar skenario* *ngakunya ga suka film romantis menye2 tapi sendirinya bangkek*

Nah, pesan yang gue tangkap dari film ini, bahwa sehepi apapun, secocok apapun, mungkin ada yang lebih penting dari sekedar chemistry. Bahwa orang yang nyambung sama lo dan orang yang bisa lo andalkan itu gak selalu orang yang sama. Bahwa hidup itu bukan cuma ngejar hasrat semata, tapi ada tata kramanya, mesti hormat sama perasaan orang lain, menghargai diri lo sendiri dan do the right thing.

Emang sih, ngebayangin hidup puluhan tahun ke depan sama orang yang bisa diajak bego bareng emang kayaknya fun banget, menjadi tua bersama best friend lo yang gak perlu ngomong aja udah saling paham itu bisa dibilang ideal. Orang kayak gitu itu one in a million, dan iya, gue memang setuju untuk sebisa mungkin menjaga orang itu tetep ada di hidup lo, karena jelas semuanya akan jauh lebih happy. Tapi gimana kalau ternyata emang situasinya kurang pas, mungkin salah satu udah ada gandengan, gak disetujuin orang tua, sampe alasan sejuta umat : gak mau merusak pertemanan. Gimana?

Free Web Proxy

Bisa sih lo lupakan semua halangan dan raih apa yang hati lo inginkan. Kawin lari, selingkuh, putusin yang sekarang dan pergi bersama dia yang buat lo lebih bahagia. Tapi kalau lo enggak mau bersikap begitu dan memilih untuk menahan diri, itu juga bukan hal yang salah. Kan yang jalanin kita sendiri.

Lagian, definisi soulmate itu beda2 kok untuk tiap hubungan. Definisi chemistry-nya juga beda2. Ada yang sifatnya mirip dan bisa ketawa2 bareng kayak Kate and Luke. Ada yang sifatnya bertabrakan, berantem mulu tapi saling mengisi, kayak Clem and Joel di Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Ada yang senasib, bisa saling berempati, macam Tiffany and Pat di Silver Linings Playbook. Ada juga yang awalnya dikatain item kayak gula jawa terus kepincut dan nikah lama ampe jadi panutan banyak orang, kayak Habibie dan Ainun.

Terus, orang yang bisa bikin lo hepi dan cocok sama lo itu gak selalu orang yang baik buat lo. Kalau cocoknya di hal yang bagus ya oke lah, macam suka mengaji, rajin menyapu, oke sip. Tapi ada kalanya tanpa sadar lo tertarik karena mungkin lo berdua sama2 membenci orang yang sama, lo sama2 kepengen mati, lo sama2 suka bergunjing. Kalau kayak gitu gimana? Masih mau dibela2in?

Jadi, menurut gue sih, bukan chemistry yang nentuin dengan siapa kita harus hidup, tapi kita yang milih mau chemistry yang mana yang pantes diturutin dalam hidup. Kalau menurut lo yang paling baik adalah yang sifatnya bisa saling ngisi biar kayak Clem dan Joel ya silakan. Mau yang kayak anak kembar macam Luke and Kate, ya monggo. Mau yang dijalanin dulu terus yakin bahwa suatu hari akan bisa ngerasa cocok karena udah hidup bareng lama, ya boleh. Tapi inget aja bahwa yang paling penting adalah bisa bareng orang yang mau peduli, menghormati dan menjaga kita dengan baik, bukan maunya hepi2 doang terus kalau lagi susah terus capcus :). Bukan hanya soal pasangan hidup, tapi berlaku untuk hubungan apapun yang akan mempengaruhi kualitas hidup lo ke depannya.

Sekian dan MASIH GAK RELA DEH SOAL KATE DAN LUKE!

Free Web Proxy
“biarin aja si Manda penasaran, huahahaha”

*tebalikin meja*

Mandhut.

Oh P.S. : Gara2 film ini gue ngefans ama ketawanya Jake Johnson. Macam orang asma tapi adorkable sekali 😀

Advertisements

8 thoughts on “Review Movie : Drinking Buddies (2013)

  1. Maaaan, setuju deh sama lo, ini film endingnya kok ya bikin gigit bibir dan dahi mengerut! Gantung sebener-benernya gantunggg! Tapi ya, gw sukaaaaaa sama persepsi lo tentang chermistry, jos gandhos klo kata show imah, kena bgt ama gw *chermistry mana yang pantes kita turutin dalem idup* (lha senggol dikit curhat!) 😀

  2. “Mungkin inilah rasanya kalau cowok2 lagi nonton pertandingan bola”

    kalo gue bayangin ini ya… kyaknya itu kayak pas lagi pertandingan final.. trus adu pinalti… trus pas penendang terakhir buat penentuan tiba2 mati lampu … aaaakk wkwkwkw…

    holaaa:D

  3. tp kayaknya lebih deh, endingnya drinking buddies ma adu2 pinalti td… soalnya DB-nya emang segitu dan lalu abis.. the end tp brasa gak end.. kalo adu2 pnalti besoknya kan bisa langsung tau ato liat2 highlightnya ya… jadinya end… kalo ini udah end dan emang end tapi gak end :)).. keren2

  4. Pingback: Review Film Indonesia : Kapan Kawin? (2015) | Racauan Manda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s