Legacy.

Hari ini bangunnya kesiangan. Semua karena tidurnya kemalaman. Jelaslahya, logika yaiyalah banget. *kemudian pake wig dan senam*

*maafkan aku yang hari gini masih aja me-refer ke duo lawak jepang itu :))*

Btw, bukan itu yang mau diomongin. Jadi tadi pas bangun, tiba2, out of nowhere, keinget sama seorang temen (sebut saja B) yang banyak mempengaruhi cara pikir gue sekarang. Mungkin gak sebanyak yang diajarin orangtua ke gue, tapi dia membuat gue yakin akan beberapa hal penting di hidup gue, makanya membekas banget.

Gue rasa, gue bisa menerima teori2 si B pada waktu itu (sampai sekarang) ya karena dia hampir selalu menyertakan argumen yang valid dalam setiap pandangannya, membuat gue gak ragu lagi, meringankan beban pikiran gue yang pada waktu itu masih hijau dan belum mampu berpikir sendiri, dan gue selalu respect dan berterimakasih akan apa yang dia lakukan, meski mungkin to this day, dia gak pernah sadar atas dampak yang dia berikan ke gue.

Salah satunya adalah, waktu gue sempet deket sama seseorang yang sepertinya baik (sebut saja X), pengetahuan agama lebih dalem dari gue, hobi sama, humoris, orang yang sama yang ngajarin gue soal mimpi. Semua orang bilang kami cocok, dan memang dia mencoba ke level berikutnya, tapi hati gue gak sreg, gak tau belum gak tau gak akan pernah, yang jelas rasanya salah. Lalu karena satu dan lain hal, daripada makin sakit ati dianya dan makin gak enak ati guenya, jadi gak gue terusin.

Mungkin cuma another case of right person at the wrong time, sih. Tapi ya keputusan gue begitu adanya. Menurut gue, itu yang terbaik untuk gue dan dia.

Pada waktu itu, temen2nya dia (yang mana temen2 gue juga), beberapa di antara mereka ya mencoba untuk ngebilangin gue supaya udahlah jadi aja ama si X. Dari mulai cara halus, nyindir, sampai terakhir ada juga yang ngomong begini : “kata bokap gue ya, yang namanya cewek itu, kalau ada cowok yang dateng, dan menurut penilaian itu bisa jadi imam yang baik (soleh, bertanggungjawab, halus tutur kata blablabla), itu ceweknya mesti nerima karena itu berarti dialah jodoh kita yang dikasih sama Yang di Atas.”

Teori lainnya soal cowok sewayahnya mengejar dan cewek itu dikejar.

Gue gak komentar apa2, gak menangkis, gak mengiyakan juga. Mungkin temen gue itu diem2 kesel kali ya ama gue karena nyakitin X, tapi gue gak tau juga. Tapi kata2 dia itu sempet ngendap di ati, dan membuat gue sempet galau karena, gimana dong kalau ternyata gue emang menolak nikmat?

Tapi kalau gue pura2 aja hepi2 tapi hatinya setengah2 kan jahat, ya?

Terus yaudah deh, ada satu kesempatan dimana gue jadi curhat sama temen gue si B. Gue cerita2 kata2 si temen gue sebelumnya yang bikin galau itu, terus at the end gue menyatakan kekhawatiran gue, gimana kalau abis ini gue gak akan pernah ketemu sama orang yang sebaik itu lagi? gimana kalau ternyata itu emang jodoh gue dan gue biarin aja dia pergi?

Mendengar curhatan gue si anak piyik, B cuma ketawa terus bilang :

“Allah kan gak jahat, Man. Masa cuma gara2 kejadian ini terus lo gak akan diketemuin sama orang yang baik lagi? Allah tahu lagi kalau lo pun udah usaha untuk memecahkan masalah dengan cara terbaik yang lo bisa kasih. Allah juga tahu kalau lo belum siap. Allah tahu lo masih butuh belajar. Allah tahu lo bukan orang yang dengan niatnya emang dari awal mau nyakitin orang. Santai aja kali. Syaratnya itu, the right person at the right time. Ini yang terbaik untuk lo sekarang, orang lain mau ngomong apa ya terserah.”

Dan itulah yang gue pegang sampai hari ini. Bukan hanya di urusan yang berhubungan sama jodoh, tapi semuanya, bahwa Allah itu baik, jadi percaya aja bahwa selama kita masih berusaha, akan selalu ada kesempatan buat kita.

Dan semua itu yang ngajarin B :). Terus si X, seperti yang gue ceritain tadi, ngajarin soal mimpi. Temen gue yang lain, W, ngajarin hidup tanpa khawatir akan masa depan. Temen gue yang lain, Y, ngajarin soal menjadi pendengar yang baik, tanpa men-judge. Temen gue yang lain, R, ngajarin bagaimana tetep hepi saat harus sendirian. Temen gue si H, ngajarin untuk menjadi planner yang baik. Temen gue, P, ngajarin untuk menjadi ambisius, memanfaatkan semua kesempatan yang ada.

Dan masih banyak lagi. Belum lagi apa yang diajarin ortu dan keluarga *berkaca-kaca*

Jadi sadar aja bahwa yang namanya punya relationship sama orang lain itu akan selalu ada hal yang bisa dipelajari dan diwariskan. Saat kehadiran mereka menjadi signifikan buat lo, otomatis pandangan hidupnya juga nular. Itulah mengapa penting banget untuk menempatkan diri pada lingkungan yang baik, atau minimal selalu bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, karena kita, pada akhirnya, akan mengkopi banyak sifat dari sekeliling kita.

Terus jadi mikir juga, apakah gue mewariskan hal yang baik juga untuk mereka2 ya? Gue cuma bisa berharap semoga mereka gak menyesal pernah kenal ama gue :D.

*hapus ingus*

Mandhut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s