Review Movie : Little Miss Sunshine (2006)

Film komedi keluarga yang udah lumayan lama sih, tapi gue suka banget ama ceritanya, sampai sekarang pun kadang masih suka gue tonton ulang. Gue sebenernya baru nonton film ini tahun lalu, gara2 direkomendasiin juga. Terus abis nonton langsung nyesel, kenapa gak lihat dari dulu, rasanya sama persis pas gue baru nonton Eternal Sunshine of The Spotless Mind.

Film ini dapet rating 91 % di Rotten Tomatoes, tapi score dari gue 100 dari 100, gak nemu kurangnya, semua logis dan hangat di hati :).

Kisahnya tentang satu keluarga yang jauh dari kata sempurna (spoiler alert – hindari warna biru):

  1. Ada Richard (Greg Kinnear) sang kepala keluarga yang bekerja sebagai motivator/pengajar di sebuah kelas kepribadian (tapi kelasnya gak laku). Dia ingin menerbitkan buku tentang how to be a winner, dan masih terus mencoba (meski gagal terus) karena percaya bahwa sistem yang dia ciptakan itu sangat efektif untuk mengubah seorang individu menjadi sukses, tapi dirinya sendiri jauh dari kata sukses, apalagi bijaksana. Richard suka mengkritik dan perfeksionis, bahkan terhadap keluarganya sendiri.
  2. Lalu Sheryl (Toni Colette), istri Richard, seorang ibu rumah tangga yang stress. Tertekan oleh kondisi ekonomi dan anggota keluarganya, terutama suaminya yang suka mengkritik.
  3. Ada Uncle Frank (Steve Carell), saudara laki-laki Sheryl yang gay dan baru saja melakukan percobaan bunuh diri akibat patah hati. Karena kondisinya itu, dia terpaksa tinggal sementara dengan keluarga Sheryl.
  4. Ada Dwayne (Paul Dano), anak laki-laki pertama Sheryl dari pernikahan sebelumnya. Pemuda remaja penggemar berat Nietzsche, saking ngefansnya, dia ikut2an pake sumpah gak mau ngomong sebelum dia berhasil masuk US Air Force Academy buat jadi Test Pilot. Kerjaannya setiap hari adalah berolahraga dan baca buku Nietszche. Tipikal remaja yang kurang percaya diri dan lagi benci2nya sama lingkungan sekitar.
  5. Olive (Abigail Breslin), anak perempuan Richard dan Sheryl, adik dari Dwayne. Gadis kecil yang bercita-cita memangkan beauty pageant, meskipun dia menggunakan kacamata berlensa tebal dan perutnya sedikit buncit. Gadis yang ceria dan polos, pemeran utama dari film Little Miss Sunshine. Sangat dekat dengan Grandpa Edwin.
  6. Grandpa Edwin (Alan Arkin), ayah dari Richard. Veteran militer yang dipulangkan karena ketahuan memakai heroin (dan masih juga menggunakan obat terlarang). Suka berbicara kasar, sedikit mesyum dan suka wanita, tapi sangat baik dan manis bila sudah berhadapan dengan cucu perempuannya, Olive.

Diceritakan, keluarga yang berada di ambang batas perpecahan ini harus mengantar Olive untuk mengikuti sebuah children beauty pageant “Little Miss Sunshine” di Redondo Beach, California. Karena kondisi ekonomi yang menipis dan berbagai macam alasan, mereka terpaksa membawa seluruh anggota keluarga dengan sebuah mobil Volkswagen T2 Microbus berwarna kuning yang sudah butut untuk menempuh jarak 800 mil dari tempat tinggal mereka di New Mexico menuju California.

Ke-6 anggota keluarga yang menyimpan berbagai masalah itu terpaksa menjalani trip bersama-sama selama 2 hari. Dimulai dari mobil yang mogok (berkali2, setiap abis berenti harus didorong dulu biar mesinnya bisa nyala, mana ACnya juga rusak), Richard yang kehilangan kontrak penerbitan bukunya (dan jadi marah2), Dwayne yang baru sadar kalau dia buta warna dan itu berarti dia tidak bisa mengikuti ujian US Air Force Academy yang dia inginkan (padahal udah puasa ngomong sekian lamanya), Frank yang gak sengaja bertemu dengan mantan kekasih gay-nya (yang sudah bersama pria lain), sampai Grandpa Edwin yang tiba-tiba meninggal di motel tempat keluarga itu menginap karena overdosis.

Meninggalnya Grandpa Edwin merupakan pukulan yang telak bagi ke-5 anggota keluarga lainnya. Pihak rumah sakit memberikan rincian administrasi untuk mengantar Grandpa Edwin kembali ke New Mexico. Tapi mereka terhimpit waktu dengan waktu pemilihan Little Miss Sunshine. Sempat terlintas untuk membatalkan rencana mengantar Olive untuk mengikuti beauty pageant tersebut, tapi Richard dengan teori menjadi winner-nya bersikukuh bahwa mereka tidak boleh menyerah, Olive tetap harus hadir dalam pemilihan itu, karena itulah tujuan utama mereka saat memutuskan berangkat.

Tapi bagaimana dengan Grandpa Edwin? apakah mereka tega meninggalkannya di rumah sakit tersebut? Richard memutuskan bahwa dia tidak akan meninggalkan ayahnya disana, maka tanpa sepengetahuan rumah sakit, diam2 mereka menyelundupkan mayat Grandpa Edwin di dalam bagasi mobil VW Microbus kuning butut yang mereka kendarai, lalu mereka kembali meneruskan perjalanan menuju kota tempat Little Miss Sunshine diadakan.

Sesampainya di California, Olive bersiap untuk mengikuti pemilihan Little Miss Sunshine (setelah Olive dipastikan bisa ikut pageant, baru mayat Grandpa Edwin dikirim dengan ambulans lebih dulu ke Albuquerque). Sheryl menemani Olive mempersiapkan diri sementara ke-3 anggota keluarga yang lain (Dwayne, Frank dan Richard) menunggu di kursi penonton. Mereka melihat kemampuan kontestan lain yang luar biasa, jauh di atas Olive, lalu dengan panik, Frank dan Dwayne menemui Olive dan Sheryl di belakang panggung, bermaksud untuk mengingatkan Olive, mumpung masih ada waktu untuk mundur. Tapi Olive tetap ingin tampil, dia ingin menampilkan koreografi tarian yang dia ciptakan bersama Grandpa Edwin, mereka sudah berlatih berkali2 demi pemilihan Little Miss Sunshine ini, Richard pun mendukung keputusan Olive.

Di atas panggung, Olive mulai menari, dan ternyata tarian yang dia tampilkan adalah tarian yang biasa dipertunjukkan di klub2 mesyum (kesukaan Grandpa Edwin). Juri dan penonton mulai berteriak, keluarga Olive yang menonton juga tidak kalah terkejutnya. MC diperintahkan untuk menyuruh Olive turun panggung, tapi Richard maju lebih dulu karena tidak ingin Olive didiskualifikasi dengan tidak hormat. Dengan putus asa dan serba salah, Richard bermaksud mengajak Olive turun, tapi tiba-tiba dia sadar bahwa Olive dan ayahnya yang sudah meninggal, Grandpa Edwin, berusaha memberikan yang terbaik. Richard memantapkan diri dan malah ikut menari di atas panggung. Frank, Dwayne dan Sheryl terkejut saat melihat keputusan Richard, tanpa berpikir lebih lama, mereka pun satu persatu berlari ke atas panggung dan ikut menari bersama Richard dan Olive.

Akhir cerita, keluarga tersebut dibebaskan tanpa syarat, tapi Olive didiskualifikasi dari pemilihan Little Miss Sunshine, juga tidak diperbolehkan lagi untuk mengikuti beauty pageant di negara bagian California untuk selamanya. Richard tersenyum dan berkata bahwa Grandpa Edwin pasti sangat bangga melihat Olive di panggung tadi. Lalu mereka berlima kembali menaiki VW microbus kuning butut ke rumah mereka di Albuquerque, New Mexico.

THE END

Seru ya? lebih seru lagi kalau nonton sendiri, soalnya gue cuma kasih alurnya, tapi daya tarik terbesarnya adalah di chemistry antar karakter di film itu :D. Ini adalah salah satu film yang bisa gue rasakan banget dalam kehidupan sehari2 dalam artian, kadang kalau misal gue lagi kesel (terutama soal keluarga) film ini adalah salah satu yang bisa bikin gue jauh lebih sabar. 

Menurut gue, gak ada keluarga yang sempurna. Semua punya masalahnya masing2, kecil maupun besar. Dan karena kita berurusan dengan orang2 yang paling bisa nyakitin hati kita dibanding orang lain, gak semua masalah dan salah paham bisa diselesaikan dengan yang semestinya. Kadang, kita cuma bisa diam, membiarkan, karena kalau dibahas, kita khawatir sakitnya lebih dalem lagi.

Tapi meskipun kadang kita sebel, kita sedih, kecewa, mereka adalah orang2 yang ingin kita banggakan, dan tentu pengen kita bikin bangga. Kadang, saking kita gak mau bikin kecewa/sedih, kita nutupin banyak hal dari mereka, kalau bisa, mereka cukup tahu yang bagus2 aja deh. Makanya sesuai tagline : “Everyone pretend to be normal”, justru kadang kita lebih terbuka secara emosi sama orang luar ketimbang sama keluarga sendiri.

Begitu juga dengan keluarga gue. Mereka tuh orang2 yang hangat, sangat semangat kalau udah urusan makanan. Tapi ada kalanya nyebelin juga, suka ngritik di saat yang tidak tepat, gak sensi, gak adil, dan seringkali gue berasa overwhelmed gara2 mereka T-T. Pusing deh mikirin urusan mereka dan deadline kerjaan sambil dituduh egois, mana gue ini anaknya suka susah fokus dan ga bisa multitasking *jambak2 rambut*.

Terus kalau udah kayak gitu langsung cari waktu me-time, sebisa mungkin gak peduli sama yang lain dan cari waktu biar bisa sendirian dulu barang 2-3 jam. Gue bilang ‘sebisa mungkin’ karena biasanya saat gue tau mereka bener2 butuh campur tangan gue, atau berhubungan sama nyawa dan keselamatan (sakit, pulang malem dan mesti dijemput) biasanya gue paksain juga meski sambil cemberut misuh2 terus mungkin ujung2nya berantem, karena gue tahu, deep down inside, gue mau mereka hidup baik2 dan happy tanpa kurang suatu apapun.

Jadi mending berantem ampe serek daripada mereka kenapa2. Mending berasa gak dimengerti tapi mereka eksis.

Tapi pemikiran macam begitu itu proses, baru muncul menjelang 30 begini, waktu gue remaja jelas lebih berat karena gue masih menuntut yang ideal dan masih sangat egois :D.

Nah, satu hal yang gue suka dari film Little Miss Sunshine ini adalah, mereka ngasih liat bahwa sebobrok apapun tiap karakter dalam keluarga tersebut, mereka sayang sama satu sama lain (terutama Olive). Saat berantem mereka saling maki, tapi nanti begitu salah satu down, ada aja yang menghibur, bahkan Dwayne yang tadinya keras kepala gak mau ngikut, langsung lunak begitu dibujuk sama Olive. Bahkan Richard yang suka ngritik (dia ngatain Olive gendut dan gak seharusnya makan eskrim – di saat orangtua disarankan untuk gak membuat anak2 merasa malu dengan bentuk tubuh mereka), di akhir film dia yang paling mendukung Olive dan mengambil keputusan terbaik untuk keluarga mereka.

Terus gue suka banget dengan ide roadtrip naik mobil VW Microbus bobrok. Seakan2 menggambarkan kondisi keluarga mereka yang butut, suka mogok, tapi tetep diusahakan untuk bertahan. Ada satu adegan dimana Olive ketinggalan pas mereka abis ke minimarket, tapi mobil microbus butut itu gak bisa di-rem, karena nanti nyalainnya lagi susah, terus mereka turun (selain Richard – dia nyetir) buat bantu Olive naik ke dalam mobil, sambil Frank teriak2 “NOBODY LEFT BEHIND! NOBODY LEFT BEHIND!”. Biar bobrok, semuanya harus ikut :).

Meski dalam kehidupan nyata masih susah sih, karena gue anaknya penganut paham efektifitas. Kadang suka sebel aja kalau kemana2 mesti rame2 macam anak-beranak bebek, tapi sudahlah, lama2 bisa diterima tanpa ngomel.

Terus satu hal lagi yang gue demen, endingnya bagus, tapi gak ngasi janji2 palsu. Emang sih meski mereka kehilangan banyak hal, mereka juga dapet memori indah sama keluarga, tapi sama sekali gak dikasih liat apakah masalah utama keluarga mereka itu selesai apa enggak. Richard dan Sheryl masih di ambang perceraian, Dwayne masih gak percaya diri, Frank masih belum bisa move on dari mantannya, Olive kehilangan kakek yang dia sayang karena overdosis heroin (bisa jadi trauma), dan keadaan ekonomi keluarga mereka masih gak jelas.

Tapi, 2 hari itu mereka survive roadtrip dengan mobil butut, kehilangan anggota keluarga yang mereka cinta, didiskualifikasi dari beauty pageant dan masalah berat lainnya. Dan gara2 itu, mereka mungkin jadi tahu bahwa mereka saling sayang, dan mungkin kalau seterusnya mereka jalani dengan cara yang sama (dihadapin bareng2, malu, senang, sedih, melarat) mungkin mereka akan bisa bertahan.

Semoga kita semua bisa selalu sabar ya :).

Selamat nonton dan happy weekend!

Mandhut

Advertisements

11 thoughts on “Review Movie : Little Miss Sunshine (2006)

  1. Aku udah nonton film ini sejak beberapa tahun lalu, trus gara2 kamu review ini jadi pengen nonton lagi, Manda. Hehehe salah satu film favoritku juga nih 🙂

  2. Pingback: Topik 4 : Diam-diam (Pernah Belajar Jadi) Scriptwriter | Racauan Manda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s