Cur to the col dot com

Hawooo!!! udah lama nih ya gak posting *sok sibuk*. Kali ini mau pajang2 quote favorit dari board pinterest dulu ah :D. Selamat bekerja dan sampai ketemu besok, insha Allah besok posting rada panjang ya πŸ˜€

“We all romanticize the people we adore.” – John Green

Nobody’s perfect. Semua punya sisi baik dan buruknya. Tetap subyektif.

“Never apologize for being sensitive or emotional. It’s a sign that you have a big heart, and that you aren’t afraid to let others see it. Showing your emotion is a sign of strength.” – Brigitte Nicole

Iya sih, tapi makin nambah umur gini – kalau gue sih ya – jadinya malah makin malu kalau nunjukin emosi secara berlebihan, baik itu seneng, sedih, marah atau kecewa. Orang2 kan jadi tahu kita insecure dimana, kayak diterawang gitu, rasanya gak enak =)) *apa sih man lo kata uang kertas*. Biasanya setelah meledak, jadinya sekarang malah nyesel. Gak kayak dulu, dulu kayaknya lebih bebas buat ngungkapin perasaan. Iya, gue rasa itu salah satu bentuk strength yang udah lama gak gue miliki lagi πŸ˜€

“Character, like a photograph, develops in darkness.” – Yousuf Karsh

Suka banget!

“I like nonsense, it wakes up the brain cells. Fantasy is a necessary ingredient in living.” – Dr. Seuss

Dosis yang seimbang untuk nonsense dan logika, dan semua akan baik2 saja πŸ˜€

“I love to travel but I hate to arrive” – Albert Einstein

Nicely put. Dan sekarang gue jadi gemes pengen roadtrip sendirian lagi!

“And in the end, we were all just humans, drunk on the idea that love, only love, could heal our brokenness” – Christopher Poindexter

Bisa jadi bener, bisa juga enggak sih. Asal gak jadi mellow2 desperate aja πŸ˜€

Sekian dan selamat bekerja :D.

Mandhut.

Advertisements

7 thoughts on “Cur to the col dot com

  1. Mand, gue suka quote no 2! Itu gue banget banget. Hihii.
    Gak ada yg salah dengan menjadi sensitif ataupun menunjukan emosi kita ke orang lain. Hanya saja mungkin di umur yg semakin menua ini. Paling gak sudah tahu rambu-rambunya kali yaa.. Ada kalanya boleh jalan terus seperti lampu hijau. Kita bisa bebas ngomong segala emosi atau hal2 yg bikin gak enak hati. Tapi ada saatnya juga harus hati2, gak semua emosi bisa bebas dikeluarkan. Ini sudah masuk lampu kuning. Dan ada emosi yg memang gak bisa ataupun gak tepat jika ditunjukan ke orang lain. Kalau ini sudah masuk lampu merah. Kenapa? Kalau menurut gue, emosi yg berada di lampu merah ini memang gak guna jika dibagi ke orang lain. Melegakan belum tentu, menujukkan sisi kelemahan kita yg paling dalam sudah jelas. Kalau sudah gini, paling tepat ungkapkan semua emosi hanya ke Tuhan Yang Maha Menenangkan. Karena sejatinya, hanya dihadapanNya kita bisa menjadi manusia paling rendah diri dan insecure tanpa harus malu untuk dicela πŸ™‚

    • iya sih, emang ada yang boleh ditunjukin dan ada yang enggak, hikshikshiks :D. Padahal sebenernya udah mau main jambak aja, tapi memang emosi2 rambu merah itu harus sabar ya ^^;
      Paling sekarang nentuin bates lampu kuningnya yang mana kali ya biar gak kebablasan πŸ˜€

  2. keren Man, yg einstein yang:

    β€œI love to travel but I hate to arrive” – Albert Einstein

    kalo dari penerawangan absurd gue ttg quote ini, itu rasa2nya pak einstein-nya berasa seperti dilema… dalam hal yg ini mungkin tujuan travel-nya itu utk arrive, atau mungkin…memang yg nama travel itu pasti arrive….kayaknya iya, stiap travel pasti arrive dan dia benci itu, knapa ya…..*mncobamenerawanglebihjauhlagi*..

    sebenernya ada apa dengan arrive ya, sampe om-nya jadi benci gitu…coba ya dilist kemungkinannya satu2:

    (1) apa mungkin om einstein lebih suka berteman dgn diri sndiri? kurang berani beradptasi dengan sesuatu yg baru?, yg mana batasan waktu “baru” yaitu minimal selama waktu travel-nya dia ke tmpat yg arrive

    (2) kenapa ya…. apa pernah trjadi sesuatu yg mngerikan kemudian dri pengalaman itu trus dia jd benci utk arrive ya?

    (3) atau apakah karna om-nya trlalu takut ttg keabadian? *mulailebay* haha, …jadi om-nya terlalu merenung ttg bahwa disetiap perjumpaan (yg fana ini) pasti akan ada perpisahan? *larikehutan*

    (4) ataukah karna sesuatu yg tentang…antara fantasy dan realitas? *sambil dengerin bohemian rhapsody-nya queen*

    (5) apa lagi ya….hmmm, atau mungkin memang lebih menikmati travel-nya daripada arrive-nya sehingga arrive dirasa menggaunggu travel kai ya…

    *masihmerenungrenung* :))
    *beli tts* haha

    • Setau gue Einstein itu memang selama hidupnya perlu bantuan terapis sih. Dia satu dari sekian banyak orang jenius yang kurang stabil secara mental. Jadi mungkin pertimbangan dia lebih dalem dan gak kebayang dari itu πŸ˜€
      Menurut gue sih dia termasuk orang yang lebih menghargai proses ketimbang hasil. kayaknya sih begitu πŸ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s