Demam Sherlock.

Postingan ini saya dedikasikan untuk temanku Wolipi 🙂 *SALAM CUMBERBITCH#S!*

sherlock

 

Saya bukan penggemar novel detektif. Suka sih main2 game yang pake logic gitu, suka juga baca novel Dan Brown (tapi kan genrenya banyak ke history, dan yang bikin gue menarik justru itunya) tapi entah kenapa kalau baca novel detektif sampe tamat sih belon. Tapi mungkin kalau dipaksain baca paling gak satu aja bakal suka, tapi gak tau lah belum nyoba hahahaha.

Nah, sebenernya udah lama saya denger orang-orang ngomongin soal Sherlock yang versi Benedict Cumberbatch. Udah dari 2-3 tahun lalu malah. Tapi dasar saya anaknya anti-mainstream, suka gak mau ngikut gitu, malah asik nontonin yang lain dulu. Sampai akhirnya sekitar bulan Januari yang lalu ponakan saya nanya2 soal Sherlock Holmes. Dia bilang ada temennya yang ngefans banget ama Sherlock dan dia jadi pengen tau. Saya suruh baca bukunya aja, beli satu dulu di toko buku buat tau suka apa enggak (karena gue sendiri juga ga pernah baca karangan Conan Doyle itu), tapi dia gak mau karena takut pusing (ini datang dari anak yang mabok setelah baca City of Bones setebal 400 halaman lebih – versi terjemahan).

Yaudah kan ya, kalau kayak gitu berarti musti cari versi filmnya, biar dia gak bosen karena ada visualnya. Terus saya inget soal Sherlock versi Benedict Cumberbatch itu dan akhirnya saya ajak nonton bareng aja. Toh saya juga belum nonton2 padahal udah lama janji2 sama temen saya si Wolo untuk liat biar bisa fangirling-in Mas Benedict bareng :)).

DAN TERNYATA EMANG KEREN BANGET.

*menyerah kalah*

Gue gak akan bahas apakah Sherlock versi Mas Ben ini (sok ikrib) beneran mirip dengan apa yang diceritakan oleh Conan Doyle apa enggak (karena denger2 ada beberapa fans die hard sherlock yang mengkritik). Tapi menurut gue sih, Sherlock-nya Mas Ben jauhhhhhhhh lebih serius niat dan keren ketimbang interpretasi Sherlock yang diperanin Mas Robert Downey Jr.

Tadinya soalnya gue fine2 aja ama Sherlock steampunk Robert Downey Jr., tapi begitu liat Masben, yang lain jadi kayak main2an aja *melengos*

Tapi gue masih suka Watson-nya kamu kok Jude Law! 😀 *ya seakan jude law-nya marah kalau lo berhenti ngefans, Man*

Sherlock_Holmes_actor_Jude_Law_films_more_movies_in_Kent

awas lo kalau ketemu, gue pecut! – watsonjude

Tapi gue lebih suka lagi sama Watson-nya Martin Freeman….. *ditalak Jude Law*

Gue juga suka Moriarty (Andrew Scott) sama Mycroft Holmes (played by the show’s executive producer, co-creator, and writer Mark Gatiss). Apa semua yang beraksen british di kuping gue jatuhnya keren ya? *tapi scottish lebih keren lagi – ngelirik James McAvoy dan Ewan McGregor*

Sebelum gue makin dihujat massa, mari kita lanjut ke topik lain. Yang bikin tv series Sherlock keren jelas bukan masben-nya doang ya (karena seperti yang udah gue bilang, gue lebih suka sama Martin Freeman yang jadi Watson), tapi script-nya beneran detail dan tricky, tapi di sisi lain lumayan enak dicerna :D. Ponakan gue aja bisa mengikuti dengan baik dan gak bisa berenti nonton (sama kayak gue) :D. Kerasa banget deh tim development-nya mikir semua plot mateng2, makanya biarpun tiap season episodenya cuman dikit2 juga gue gak keberatan :D. Mereka membawa tokoh2 novel Conan Doyle itu ke dunia modern dengan sangat baik :).

Yang paling berbekas buat gue ya itu, penokohannya. Dulu gue cuman tahu kalau Sherlock dan Watson itu temenan. Sherlock detektif rada senga dan aneh tapi baik, Watson dokter gendut rada mata keranjang (referensi gue bukan dari novel karangan Conan Doyle ya, tapi kartun The Great Mouse Detective. YA MAAF DEH KALAU TAHUNYA DARI KARTUN DOANG :)) ). Nah terus, di serial Sherlock ini, karena disesuaikan sama jaman modern, maka penokohannya dibuat seperti ini *SPOILER ALERT* :

  • Sherlock Holmes : consultant detective, hobinya memecahkan kasus, lebih seneng lagi kalau ada ‘audience’-nya (yang nontonin dan memuja kepintaran dia memecahkan kasus – si Watson), sebenernya ada kecenderungan untuk menjadi pemakai narkoba, baik, social skill-nya kurang.
  • Dr. John Hamish Watson : army doctor yang dulunya tugas di afghanistan terus pulang ke Inggris dalam keadaan PTSD, loyal, berani, punya trust issues, suka menulis, gampang tergoda sama perempuan dan puitis.

tumblr_static_sherlockseries2

—–

Episode favorit gue adalah episode 1 season 1 (yang unaired pilot). *SPOILER ALERT* Jadi ceritanya, si Sherlock dan Watson itu pertama kali ketemu pas Sherlock butuh teman satu flat. Watson lagi butuh tempat tinggal yang lumayan terjangkau, jadi temennya ngenalin dia ke Sherlock. Watson di episode awal ini menderita psikosomatis, tangannya tremor dan jalannya harus pake tongkat karena kakinya sedikit pincang gara2 trauma psikis, salah satu efek dari PTSD yang dia derita.

Dari awal, Watson juga udah tahu kalau Sherlock aneh dan sombong, tapi entah kenapa dia mau aja pas diajak Sherlock buat menyelidiki salah satu kasus pembunuhan (kasusnya A Study in Pink). Watson sempet ragu buat nyewa satu flat sama Sherlock (intinya males deket2 karena pasti bakal banyak terlibat bahaya, lagian Sherlock orangnya nyusahin banget), terutama karena sempet diingetin sama salah satu polisi di TKP a study in pink, namanya Donovan :

Donovan (D) : Bit of advice then. Stay away from that guy (Sherlock).
Watson ( W) : Why?
D : Well, you know why he’s here. He’s not paid or anything, he likes it. He gets off on it. The weirder the crime, the more he gets off, and you know what? One day just showing up isn’t going to be enough. One day, we’ll be standing round a body, and Sherlock Holmes will be the one who put it there.
W : Why would he do that?
D : Because he’s a psychopath, and a psychopaths get bored. Stay away from Sherlock Holmes.

Ya gimana gak mikir2 dulu mau satu flat ama orang model kayak Sherlock?

Di salah satu scene Sherlock juga mengungkapkan kalau dia ngajak Watson karena tahu kalau Watson itu juga gak normal2 amat. Dia tahu Watson kangen adrenalin, kangen dalam situasi crisis kayak di medan perang, buktinya si Watson gak tremor lagi begitu mereka sibuk mikirin clue dan mengejar pelaku (di akhir episode, Watson udah gak perlu pake tongkat lagi 😀 ). Therapist-nya Watson bilang kalau Watson itu PTSD, tapi Sherlock tahu kalau bukan cuma itu, Watson punya penyimpangan psikologi lain yang gak dia ungkapkan ke siapa-siapa.

Saat Sherlock bertemu dengan pelaku kasus A Study in Pink, Sherlock sempet terjebak dalam situasi yang kurang menguntungkan. Singkat kata, Sherlock dibawa ke tempat sepi, tapi sebenernya bisa aja langsung membela diri dan lari untuk nelfon polisi (gak disekap sama sekali), tapi si pelaku berhasil menyentil kebanggaan Sherlock sebagai manusia jenius, yang ujung2nya bisa membahayakan nyawa si Sherlock sendiri. Jadi si pelaku ngasi 2 pil, terus minta Sherlock pilih 1 pil, nanti mereka makan bareng2 dan liat yang mana yang pilnya beracun dan mati. Permainan mental gitu deh :D.

Saat Sherlock udah hampir nelen pil pilihannya, tiba2 si pelaku ditembak sama orang tak dikenal dari gedung sebelah. Sherlock gak jadi nelen pil, si pelaku juga enggak, sampe akhir gak ada yang tahu itu mana pil yang beracun karena si pelaku juga udah mati. Setelah itu, Sherlock manggil polisi dan saat disuruh meneliti si penembak itu orangnya kayak gimana (dari kemampuan deduksi dia), Sherlock sadar bahwa dari cara nembak, pilihan peluru dan gerak-geriknya itu mirip banget sama Watson yang dia kenal (tapi Sherlock gak bilang kalau itu Watson, dia cuma bilang ciri2nya). Saat sadar, Sherlock langsung diem. Terus bener aja, Sherlock liat si Watson berdiri di depan salah satu gedung deket mobil polisi, lagi nungguin dia.

gve-L68xtKQ

Sherlock langsung nyamperin dan langsung bisik2 ke Watson nanyain kemana pistolnya dibuang (“bottom of the Thames”), dan berlanjut ke obrolan lainnya, yang mana, mending gue kasih aja dialognya :

Sherlock (S) : Are you all right?
Watson ( W) : Of course I’m all right.
S : You have just killed a man.
W : I’ve seen men die before, and good men, friends of mine. I thought I’d never sleep again. I’ll sleep fine tonight.
S : Quite right.
W : You were going to take the damn pill, weren’t you?
S : Of course not, playing for time.
W : No, you weren’t. That’s how you get your kicks, isn’t it? Risking your life to prove you’re clever.
S : Why would I do that?
W : Because you’re an idiot.

Setelah itu, mereka resmi jadi tim dan sahabat 😀

—–

Gue berkaca-kaca pas nonton episode 1 season 1 itu, terutama adegan akhirnya. Sepanjang film gue kepikiran quote ini :

Setahu gue ya, dari yang gue baca2, manusia tuh emang cenderung memilih orang2 yang setipe tanpa dia sadari. Bahkan dari awal ketemu dan belum ngomong apa2, atau udah dalam satu lokasi tapi belum saling liat deh, kita udah saling judge dari feromon. Gak harus yang setipe sama kita, kadang bisa berlawanan, tergantung didikan dan genetik yang membentuk kita dari kecil. Bisa karena kita cenderung pemalu, kita memilih untuk deket sama orang2 yang lebih berani. Atau bisa juga karena kita pemalu, kita males deket2 orang yang judgemental, lebih memilih yang cinta damai aja, gak agresif apalagi busybody. Bisa juga untuk anak2 yang kecilnya mungkin mengalami child abuse, pas gede tanpa dia sadari dia memilih pasangan yang berpotensi melakukan KDRT.

Kita cenderung jauh lebih bisa menerima orang2 yang punya sesuatu yang buat kita familiar, karena itu membuat kita merasa nyaman, semacam trik ke otak gitu :D. Orang yang tampilannya kayak keluarga kita, orang yang rokoknya sama kayak merek rokok ayah kita, orang yang suka masak masakan kayak ibu kita. Atau kalau sebelumnya kita udah biasa hidup dalam lingkungan yang kompetitif, kita mencari orang yang juga kompetitif sebagai pasangan atau sahabat. Mau dapetnya kualitas yang baik atau buruk, itu sesuatu yang gak bisa hindari, karena sudah alami-nya seperti itu.

Terus, memang ada beberapa orang yang diem2 menyukai krisis. Kalau gue, maksudnya bukan krisis ekonomi ya, tapi momen2 dimana situasi begitu genting absurd dan orang2 di sekitar lo bertindak begitu impulsif dan aneh. Membuat lo pusing, capek, kepikiran, kadang nangisnya udah ampe sengguk2 tiap malem. Gue tau itu gak selalu baek, bagus udah lewat, tapi kadang gue rindu juga. Gue menikmati tawa gue sama besarnya dengan gue menikmati saat gue mellow. Aneh? menurut gue fine2 aja, sih. Beberapa perasaan itu emang kayak narkoba, sekali dapet dosis gede dalam jangka waktu lumayan lama, berasa kayak orang nagih. Baru kerasa kehilangannya kalau udah lewat dan kembali menjalani hidup rutin damai. Satu sisi mau bersyukur karena udah dikasih hidup tenang, di sisi lain, gak bisa mungkir kalau kadang ngerasa bosen dan butuh drama juga. Mungkin inilah yang dirasakan Watson ya, makanya dia deket ama Sherlock Holmes.

Tapi enggak deng ya Allah, aku yang begini2 aja lah, biarlah drama2 itu kutuangkan di media lain aja, gak usah di hidupku *dorama dorami*.

Anyway, Sherlock pokoknya bagus, tontonlah kalau sempat. 😀  Terutama buat orang2 yang rada nyentrik, suka nebak2, suka penggambaran yang gak langsung bisa dimengerti, kalian akan sangat terhibur :). Setingkat di atas The Great Mouse Detective deh *lalu ditimpuk fans Sherlock*

Buat temanku Woloppo, salam Hiddleston#rs! *lah lain lagi*

mast-Sherlock-Benedict-Martin-COVE-hires

sampai jumpa di Baker Street 221B

Selamat tidur semua,

Mandhut.

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Demam Sherlock.

  1. Oke, gw akan jadi satu dari sekian banyak orang yang bakalan bilang ke elo,

    KEMANA AJA LO MAANNN? *capslock is necesssary* :DDD

    Tapi emang ih si Mas Ben (sok ikrib juga) ini keren bin awesome. Pertama kali nonton tahun 2010 dan gw langsung jatuh hati, Sherlock nya mas Robert pun lewaaattt. Apalagi si Martin Freeman, duh bener2 deh dia nih Watson idaman gw deh. Terus Watson nya si Martin ini keliatan cintaaaa banget sama Sherlock nya si Mas Ben. Lo udah nonton yang season 2 belom? Yang Sherlock sama Watson diundang ke Buckingham Palace dalam keadaan si Mas Ben nya ga mao pake baju?? GGGGGHHHH.

    Sekian dulu sebelum gw mulai ngelantur :p

    • Ya maaaappph kan gue anti-mainstream-nya suka ga penting =))

      Iyaaa, saking keliatan cintanya, Watson dikira pacarnya melulu ya :D. Gue kasian banget sama Watson dan Mycroft pas yang adegan Buckingham Palace, kayak ngelonin anak kecil. *puk2 mycroft dan watson*

      Silakan lho kalau mau fangirling di sini, dengan senang hati akan menanggapi *kedip*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s