Review Buku : Bonus Track by Koshigaya Osamu

bonus-track

Kusano Tetsuya bekerja di sebuah restoran cepat saji. Hari-harinya dihabiskan dengan mengelola penjualan burger. Baru dua tahun Kusano lulus dari universitas, namun sif kerja yang panjang menyedot semua waktu, tenaga dan semangat mudanya. Kusano tak sempat lagi mendengarkan musik-musik favoritnya semasa kuliah dulu, apalagi bermain game dan berolahraga. Saat libur, Kusano hanya ingin tidur, makan, lalu tidur dan makan lagi.

Ya, hidup Kusano Tetsuya teratur dan damai. Terlalu damai seperti air yang terkurung di kolam yang sepi. Tak pernah dikuras. Tanpa kehidupan.

Apalagi setelah Kusano dipindahtugaskan ke Saitama – sebuah kota kecil di pinggir ibukota Jepang, hidupnya semakin datar saja.

Adalah suatu malam dimana sebuah batu seakan dilemparkan ke kolam kehidupan Kusano yang tenang tanpa riak. Kusano menjadi saksi sebuah kecelakaan tabrak lari. Untuk pertamakalinya Kusano melihat mayat yang terbujur kaku, di tengah hujan deras, dengan darah yang mengalir deras dari kepala – membasahi sisi jalan beraspal.

Kejadian itu membekas di benak Kusano. Dia merasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan sang korban, seorang pria muda yang tergeletak tak berdaya malam itu. Dia juga merasa tak berguna karena kesaksiannya tak banyak membantu. Tubuhnya lelah karena syok dan flu, ditambah lagi harus mondar-mandir antara pekerjaan dan kantor polisi untuk memberi keterangan, tapi Kusano tak ingin mengeluh, dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk semua orang. Kusano berharap, keadilan akan ditegakkan, si pelaku tabrak-lari akan tertangkap dan kehidupan keluarga dari sang korban akan kembali damai. Begitu juga dengan hidupnya.

Tapi saat Kusano terbangun suatu pagi dan menemukan Yokoi Ryota si korban tabrak lari tertidur pulas di sofa kamarnya, Kusano tahu bahwa tak semua doa dikabulkan begitu saja.

Kadang, Kusano harus berurusan dengan hantu terlebih dahulu.

—–

Akhirnya selesai baca novel “Bonus Track” karya Koshigaya Osamu dalam 2 hari. Udah lama banget gak baca novel terjemahan Jepang, jadi pertama-tama harus menyesuaikan dulu sama gaya bahasanya, tapi lama-lama menikmati juga, kok. Secara gue bukan penggemar novel bertema romantis menye-menye, novel ini lumayan menghibur karena membahas hal lain selain cinta yang stereotype :D.

Gue suka dengan interaksi tokoh Kusano Tetsuya dan Yokoi Ryota (si hantu – gak spoiler sama sekali ini, di sinopsis belakang buku juga ada). Gue bahkan suka tokoh-tokoh pendukungnya, Minami-san, Sho-chan dan si Kubi Koki-Koki (atau, kalau dalam bahasa terjemahan saya : Leher Kretek-Kretek, heheheehee makanya baca biar tahu). Beberapa hal yang saya suka dari novel Jepang adalah, banyak banget teladan soal disiplin dan kerja kerasnya, lalu persahabatan. Sebenernya, contoh-contoh moral itu bukan hanya ada di novel sih, tapi juga di doramanya, dan itulah mengapa saya suka dorama Jepang :D.

Nah, karena biasanya nonton dorama itulah entah mengapa lama-lama karakter Kusano Tetsuya itu kok kebayangnya kayak si Eita ini :

Eita _Nihon eiga magazine Vol_7_ 06
Eita tidur-tiduran di rumput

Tapi versi lebih cupu ya, jadi mungkin kalau didandanin ulang biar sesuai peran, Kusano di benak saya itu kayak gini :

eita
Eita belah tengah

 

Tinggal tambahin kacamata deh, jadilah Mas Kusano (salah2 bisa nyebut Mas Kusno asli Tulungagung lagi bukan dari Saitama). Oh, salah salaaahh, karena berbau Jepang, Kusano-kun dong manggilnyaaa… atau panggil “Anata”? *dilempar kumis*.

Yah pokoknya Kusno Eita itu somehow bikin tambah semangat ’45 deh bacanya =)).

Jujur, awalnya gue merasa alurnya lamban dan terlalu detail. Serius deh, hampir semua penggambaran di novel “Bonus Track” itu detail, mulai dari posisi tangan saat memegang setir sampai deskripsi rute jalan dan masih banyak lagi.  Tapi setelah dibaca sampai chapter lanjut, gue sadar bahwa itu mungkin disengaja agar pembaca tahu seberapa membosankannya hidup Kusano Tetsuya (kalaupun maksudnya gak begitu dan ternyata itu emang gaya nulisnya  si Koshigaya Osamu ya… pokoknya itu membantu tema, lah :P). Sadar2 gue jadi makin penasaran dan bahkan meneteskan air mata di akhir cerita.

Meskipun mungkin budaya Jepang berbeda dengan Indonesia, dan jelas ada perbedaan cara pikir, gue cukup paham kenapa novel “Bonus Track” karya Koshigaya Osamu ini memenangkan Penghargaan Khusus dalam ajang Japan Fantasy Novel Award di tahun 2004 yang lalu. Gue jadi pengen baca novelnya yang lain, yang judulnya “Her Sunny Side”.

Pesan moral “Bonus Track” buat gue jelas, bahwa umur itu gak ada yang tahu, jadi selama masih bisa, live your life to the fullest dan bersyukurlah untuk semuanya, terutama hal-hal kecil. Jangan pernah menyerah dengan rutinitas, jangan menjadikan kelelahan itu dalih untuk gak berkembang. Jangan berpikir bahwa hal kayak mendengarkan musik yang lo suka, masak di akhir minggu, ketemu temen buat ngobrol satu-dua jam itu gak ada gunanya, karena hal-hal itulah yang akan mengingatkan lo untuk tetap puas menjadi diri lo sendiri di tengah gaya hidup ibukota yang terus menyita waktu, pikiran dan tenaga :D.

Jadi hiduplah dengan semangat ya, jangan ampe harus ketemu hantu dulu kayak Kusano-kun 😛 repot kan entar. Atau malah jadi hantunya? *bukan ndoain*. Pokoknya, jangan, ya. Gak semua orang kan dapet kesempatan merasakan ‘bonus track’ dari album kehidupan 😀 *puitis*

Selamat membaca dan selamat hari Senin!

Mandhut 😉

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s