Topik 4 : Diam-diam (Pernah Belajar Jadi) Scriptwriter

Ampuun banget deh karena sempet harus pause blogging challenge-nya. Kemarin itu kondisi tubuh memburuk (sinus ampe gak bisa tidur!) + kerjaan tiba2 membengkak + ibu2 gak enak badan jadi hectic.

Jadi ceritanya ada revisi yang gue pikir udah fix tau2 ke belakangnya makin melebar gitu, jadilah biar ga tambah pusing, gue harus mengorbankan salah satu dan tentu saja terpaksa blog ditunda dulu karena gue gak dibayar untuk itu dan Allah memerintahkan gue untuk berbakti pada ortu bukan pada blog.

*bukan kode*

*bukan curcol*

Eniwey, revisi kayaknya masih jalan sih, tapi sinus gue sudah membaik (udah bisa tidur nyenyak! hore!) dan kayaknya deadline juga lagi jinak, jadi marilah, semoga gak ditunda2 lagi πŸ˜€

Di topik ke-4 kali ini, gue mau cerita pengalaman yang belum pernah gue ceritakan di blog. Entah kelewat, entah malu *kayaknya yang terakhir*

Gue pernah… ikut kelas menulis skenario di bawah bimbingan Salman Aristo selama kurleb 4 bulan.

BUAHAHAHAHAHA.

Motifnya waktu itu lebih ke iseng dan penasaran sih. Jadi kan gara2 pengaruh sepupu beberapa tahun yang lalu, gue mulai freak soal film2 gitu. Semua film dari yang baru sampe yang lawas, dari yang impor ampe lokal ditontonin. Terus biasa deh gue kan anaknya kalau suka sesuatu ujung2nya kepengen turun tangan, ya (suka makan maka pengen masak/baking, suka baca komik maka pengen gambar, suka baca novel maka pengen nulis) jadi pada satu titik, gue penasaran aja emang bikin skenario itu caranya gimana sih?

Terus yaudah, setelah googling2, gue tahu bahwa ternyata di Jakarta ada beberapa lembaga yang nawarin workshop untuk itu. Gue mikir2 3 bulanan dan memutuskan untuk ikut Workshop Skenario Film Layar Lebar di bawah bimbingan Salman Aristo yang diadakan oleh Plotpoint *bukan posting berbayar*

Oh ya, untuk yang belum tau Salman Aristo itu siapa *asumsi gue pembaca blog gue gak semuanya movie-mania*. Salman Aristo itu yang nulis naskah skenario Ayat-Ayat Cinta. Karyanya yang lain yang layak dicek adalah : Hari Untuk Amanda (personal fav), Garuda di Dadaku, Jakarta Maghrib dan masih banyak lagi.

iwan_full

ini tampilan yang namanya Salman πŸ˜€

Kelasnya seru sih, lumayan memperluas wawasan, dan gue bener2 semangat karena Salman sendiri guru yang cukup baik. Terus belajarnya juga gak sepenuhnya teori tapi sering banget nonton bareng film2 yang menurut Salman bisa dijadikan contoh/pegangan untuk teknik yang lagi dipelajari saat itu.

Tapi setelah dijalanin, durasi 4 bulan dengan jadwal ketemu seminggu sekali ternyata menurut gue masih kurang :)). Kalau sekedar untuk dasar skill/pengetahuan udah tercover, tapi untuk prakteknya sampe bisa bikin naskah skenario yang memang dinilai pantas (karena nantinya skenario itu kan bakal dibaca tim yang lain : sutradara, produser, aktor, dll), gue rasa masih belum. Perlu kelas lanjutan, atau yah, perlu baca2 sendiri lebih banyak dan mencoba nulis lebih banyak lagi.

Gue sendiri abis belajar itu udah niatan mau baca dan latihan lebih banyak lagi biar gak lupa dan skillnya kepake tapi gak jadi2 =)). Jadi ya kayaknya gue belum bisa bikin skenario yang proper, tapi kalau untuk naik-turun ceritanya harus gimana kayaknya udah mayan paham :))

Kenapa gue bilang prakteknya sulit, karena skenario itu memang berbeda dengan novel. Novel lebih ke deskripsi, narasi, penjabaran lewat tulisan. Sedangkan kalau skenario itu lebih ke petunjuk untuk sequence adegan demi adegan. Kasarnya, kita bukan menulis untuk penonton (karena skenario itu gak enak dibaca), tapi menulis untuk tim yang lain supaya bisa bikin adegan yang dimengerti penonton.

Sesuatu yang di novel penjabarannya terasa kuat, belum tentu sama setelah diubah ke film. Itulah mengapa, biasanya saat novel akan diangkat menjadi layar lebar, rumah produksi mendaulat scriptwriter (penulis skenario) untuk mengadaptasi novel tersebut menjadi skenario, bukan merekrut penulis aslinya. Salah satu penulis yang gue tahu menulis novel dan dipercaya menulis skenario filmnya sendiri adalah Dewi Lestari untuk Perahu Kertas πŸ˜‰ dan hasilnya bagus! *fans sejati Perahu Kertas*

3cc38445ece76669e19c15ee511328f8

*mendadak kepengen baca dan nonton ulang*

Hal yang gue rasakan setelah ikut kelas menulis skenario itu… gue jadi lebih aware dengan film lokal sih. Makanya kan gue suka nonton2 film lokal, ya salah satu alasannya karena gue udah dikasihtau struggle yang dibutuhkan untuk menghasilkan bahkan 1 scene dari satu film utuh. Gue jadi tahu bahwa Indonesia gak kekurangan orang2 kreatif, hanya saja modalnya emang masih seret dan orang2 di balik layarnya (yang punya duitnya) kadang ya pengennya invest untuk film yang jelas disukain banyak penonton lokal (misteri/komedi nyerempet forno), jadi gak mau coba2 genre lain yang mungkin pesan moralnya lebih mengena.

Salah satu favorit πŸ˜€

Gara2 kelas skenario itu juga gue juga jadi lebih aware baca2 nama di balik pembuatan film : sutradaranya, produsernya, rumah produksinya, terutama scriptwriternya siapa. Terus gue juga jadi lebih teliti aja soal plot dan tetek bengek lainnya *harusnya udah keliatan kalau gue ngereview drakor :))*

Gara2 kelas menulis skenario itu gue juga ketemu sama salah satu film favorit gue sepanjang masa : Little Miss Sunshine. Kalau di antara kalian ada yang tertarik bikin skenario, mengutip kata guru gue (sebenernya lupa Salman ngomongnya tepatnya gimana), film Little Miss Sunshine adalah salah satu film yang teknik pengembangan skenarionya (karakter, plot) mendekati sempurna, (dan film2 pixar – I’m not kidding, watch Finding Nemo! :D).

little-miss-sunshine_6

kerennya total πŸ˜€

Untuk yang tertarik menjadi scriptwriter atau sekedar iseng pengen tahu kayak gue :)), silakan cek kelasnya di plotpoint atau di skenario.org (yang ini belum pernah coba). Setau gue, plotpoint dan skenario org, bukan cuma nawarin kelas skenario film layar lebar, tapi juga untuk FTV (serius, ada kelasnya), kelas penulisan novel, sampe ke kelas teknik2 pitching skenario biar diterima produser *spesifik* =)).

Kalau ada yang bertanya2 emang kira2 jadi scriptwriter butuh skill/bakatnya apa sih. Jelas gue gak tau pasti karena gue bukan scriptwriterΒ  *ditampar bundel jilid*. Tapi kalau gue simpulkan dari kelas gue selama 4 bulan itu… skill dasarnya itu lumayan aware dengan sekeliling, kenapa? karena nantinya lo akan banyak dituntut untuk menyentuh perasaan penonton dan menyampaikan maksud lewat adegan yang mungkin cuma 1-2 detik. Contohnya ya, kayak misal lo mau menggambarkan, oh si karakter A itu gak deket ama keluarganya, maka mungkin lo bisa kasih liat bahwa karakter A itu selalu ragu ngangkat telfon dari rumah tapi gak pernah nunggu2 kalau ngangkat telfon dari orang lain selain keluarga. Atau misal bisa juga lo gambarin A gak pernah majang foto keluarga di apartemennya, malah yang ada foto temen2nya :D. Mesti puter otak untuk hal2 kecil tapi penting kayak gitu deh πŸ˜€

Skill kedua adalah, gue rasa ya kalau lo punya imajinasi yang kuat, kemampuan membayangkan visual yang oke, itu juga sangat membantu. Karena nantinya scriptwriter juga bisa jadi harus menuliskan angle dan pergerakan kamera πŸ˜€ *hal yang sejauh ini menurut gue paling sulit*.

Semoga sharing panjangnya berguna dan kabar2in kalau emang ada yang memiliki ketertarikan sama atau jadi ikutan ya :D.

*nonton sambil makan popcorn*

Mandhut.

Baca semua topik postingan #Mandhut15DaysBloggingChallenge2015 di sini

Advertisements

9 thoughts on “Topik 4 : Diam-diam (Pernah Belajar Jadi) Scriptwriter

  1. …. Foto abang gw tiba2 muncul di blog lo, hahaha.

    Btw, gw setuju kalo scriptwriter itu langka yang bagus, man. Berapa kali gw nonton movie yg based on novel kan. Di novel bagus, di movie nya urrghh -.- emang susah sih men translate sequences di novel ke movie, tapi kalo emg scriptwriter nya bagus, mestinya no problem kan yaa. *sotoy*

    • he? itu stock foto punya abang lo atau salman itu abang lo? hahahah :))

      Kalau sscriptwriternya udah handal ya emang harusnya itu bukan masalah lagi :))

        • weks ketauan deh ngomongin abang orang :)) *ngumpet*

          Harpot gue lupa2 inget deh. Semua filmnya dibuat mirip sama buku atau ada yang bedanya rada signifikan?

    • Dari 2 pelatihan scriptwriting, harganya rata2 segitu -_-;. Kalau berasa ga worth it untuk buang2 dui, belajar sendiri aja dulu, otodidak, banyak website dan buku yang menyediakan ilmu scriptwriting kok. Setau saya salman juga awalnya belajar otodidak dengan baca beberapa naskah lama film indonesia πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s