…but then, People.

No offense, tapi ada satu titik dalam hidup saya dimana saya lelah menghadapi manusia. Up to the point dimana saya butuh waktu me-time setelah banyak berinteraksi, supaya saya tetap merasa waras dan bisa berinteraksi dengan orang-orang lagi keesokan harinya.

Tentu saja semua ada sebab-akibat, but let’s not talk about that. Panjang dan nginget2 itu melelahkan.

The good part is, saya menerima sepenuhnya bahwa gak akan ada manusia yang sempurna. Ada sisi baik, ada sisi buruk. At the end of the day, semuanya urusan perut, hasrat, dan martabat. Semua tindak-tanduk, semua keputusan, semua mimpi dan harapan, seberapa pun terlihat indah, bijak, dan tulus. Semua kembali pada seberapa kenyang, seberapa terpuaskan, dan bagaimana dirinya dipandang. Including me. I’m good and I’m bad in my own way. Itulah mengapa saya gak pernah bisa ngejudge orang bener2 baik atau bener2 jahat. Most of the time saya tahu saya sedang dimanfaatkan but I let it go karena ya lebih gampang gitu. Selalu ada alasan di balik sikap seseorang. Mungkin dia super baik karena dia kesepian. Mungkin dia senyum2 karena dia butuh uang. Mungkin dia menjatuhkan orang karena anaknya butuh beli seragam. Mungkin dia keluar dari norma yang ada karena ada keraguan di hatinya. Mungkin dia ingin berteman tapi dia gak tahu gimana caranya. Kalau saya yang ada di posisi dia belum tentu saya bisa bertahan. It’s a good thing that person still alive, masih berfungsi, masih memberanikan diri untuk hidup hari ini. So who am I to judge?

The sad part, saya menerima sepenuhnya bahwa gak akan ada manusia yang sempurna. I don’t trust easily. Seberapa serunya sebuah obrolan, seberapa menariknya seseorang, seberapa keras saya tertawa, dan seberapa sakit perut saya sesudahnya, saya gak pernah benar2 membiarkan diri untuk sepenuhnya jatuh. Selalu ada tali pengaman. Selalu ada celah tebing tempat saya berpegang. Saya selalu tahu bahwa hubungan ini akan berakhir suatu hari nanti. Kalau bukan karena perut, hasrat, dan martabat, masih ada ada status, waktu, dan keadaan yang bisa memisahkan. Seseorang bisa berubah, gak akan pernah ada cara untuk mencegah itu. Jadi lebih baik nikmati saja apa yang bisa dinikmati sekarang. Mumpung masih bisa ngobrol ya dipuas2in ngobrol. Mumpung masih bisa ketemu, dipuas2in ketemu. Ga bisa akrab yaudah toh ntar pisah juga ujungnya. Buat apa dipikirin? Gak akan lama juga urusannya. Lebih gampang kalau orangnya dianggap udah gak ada di dunia, lebih mudah jalaninnya.

Mindset itu juga yang saya bawa waktu saya masuk ke sebuah lingkungan baru Agustus 2016 yang lalu. Saya pikir satu2nya cara saya bisa bertahan ya dengan cara keep in mind bahwa orang2 yang temui di sana bukan untuk jadi teman. Profesional, Amanda. Begitu saya selalu membatin. Profesional aja. Don’t take it to the heart. Don’t take it personal. Profesional aja.

Saya lupa bahwa secapek2nya saya berurusan sama orang, saya akan dan selalu excited pada semua hal tentang manusia. Ada alasan mengapa saya suka banget nonton interview, saya lebih suka foto orang dan bukan pemandangan, dan mengapa saya mengeksplor semua literatur psikologi. Kontradiktif, memang. Saya INFJ dan saya memang selamanya dikutuk untuk jadi kontradiktif. Saya suka perjalanan tapi saya gak suka sampai tujuan. Saya suka kue manis tapi gak mau yang terlalu manis. Saya suka segala hal yang berhubungan sama manusia tapi saya gak suka emosi2 yang muncul saat saya terlalu terlibat dengan seseorang.

Back to lingkungan baru yang saya masuki Agustus 2016 lalu. I made mistakes, create some scenes along the way. 3 bulan pertama masih bisa mandiri. Saya suka saat2 di mana saya masih sendirian pagi2. Ruangan sepi. Just me, musik, dan sinar matahari dari jendela. I focused on that. Saya bawa beberapa figurine kecil (bonus beli kids meal di gerai junkfood terdekat) supaya berasa hepi, gak sendiri2 amat. Create my own internal joke. I survived that way. Seperti seseorang yang lagi cari foto2 terbaik, I keep my picture simple. Figurine, sinar matahari, dan kopi moka favorit. Figurine, sinar matahari, dan roti yang baru gue cicip dari minimart terdekat. Figurine, sinar matahari, dan kaus kaki gue yang gak ada keren2nya.

Dan entah sejak kapan. Orang-orang mulai masuk ke dalam viewfinder saya. They told me their stories, they showed me their dreams, broken parts, silly things, and I can’t help but to look at them and listen. Maybe it’s their smile, kind words, or maybe the fact that they are vulnerable human, just like me, I don’t know.

Saya masih lelah. Ada saat2 dimana saya beneran ga pengen denger orang ngomong dulu dan menyendiri. Gak selalu pas ada masalah sih. Semacam baterai habis dan perlu diisi aja. But life gets much happier day by day. Dan saya mulai takut saya terlalu asik bermain sampai lupa hal2 penting, seperti gimana kalau ntar semua ini selesai. How messy the heartbreak would be? How empty I would feel? How lost I would be?

And then it happened. Life happened. I had to let them go. Almost all of them. I’m staying and I had to watch them go, all by once.

Dan kemarin saya sempat terpaksa menyendiri dan ngomong berkali2 ke diri sendiri “Gimana caranya kita ngadepin ini, Amanda? How could we survive this kind of blow? We are not prepared for this.”

Tapi yaudah sih. Saya tahu saya harus hadir dan melepas mereka dengan senyum. So I did the best that I could. I smiled wider than I would. And I stayed longer than I should. I held my tears. I said goodbye.

Saya gak tahu lagi tali pengaman di mana dan dimana celah tebing yang seharusnya jadi pegangan. Tapi saya tahu kalau gak ada tali pengaman dan celah tebing itu saya akan lebih lebay dari sekarang. So it must be there somewhere inside me. Ini cuma sesuatu yang gak pernah saya persiapkan sebelumnya jadi begini rasanya.

I probably won’t see them again in the future. I probably see a couple of them in the future. Things won’t be the same again after this. But that’s okay. Mereka akan baik2 aja. Semua akan baik2 aja. I had to let them go. Gak gampang buat semua orang.

I learned a lot this past 10 months with all of you. Sorry for being an oddball most of the time. Thank you for accepting me just the way I am. Thank you for not asking too much. Thank you for asking a lot more than it should. Thank you for giving me hard questions. Sorry for being insensitive b*tch. Sorry for being over-sensitive b*tch. Thank you for the snacks. Thank you for eating my snacks. Thank you for all the feelings you all gave me. Thank you for the adorable laugh. Thank you for our never-ending lunch session. Sorry for the misinterpreted words. Sorry if I ever hurted anyone along the way. Thank you. I wish you all the best in life. This is a nudge to a better direction. I see you when I see you.

Life’s great, but then, people.

Life’s dull, but then, people.

Love,

Amanda Klitu Bahraini.

Advertisements