it’s called Tibia,

Jadi satu hal quirky yang gue punya adalah betapa gue suka sama Biologi (tapi ga segitu sukanya sampe pengen jadi dokter atau ahli biologi) dan betapa gue gemes sama istilah-istilah ilmiah yang dulu pernah dipelajarin jaman sekolah

You know, nama2 organ tubuh dan tulang. Tembolok dan kloaka di unggas. 4 lambung sapi : rumen, retikulum, omasum, abomasum, dan mengapa mereka pake 4 lambung (karena rumput itu sangat berserat jadi mencernanya butuh bolak-balik lambung satu ke lambung lain). Toge etiolasi itu bentuknya lucu. Taboklah orang yang bilang air liur lo ga jauh beda sama air liur komodo. Ubur2 nama ilmiahnya bagus terus kayaknya dipake jadi nama anak Anang KD. Dan ada bagian di ginjal manusia yang namanya blablabla-Bowman dan itu adalah satu2nya yang gue inget dari ginjal ampe sekarang karena namanya keren — gue bahkan lupa gunanya apa.

Anyway, gue cukup suka mempelajari hal2 kayak gitu. Sampe2 pas dulu gue akhirnya tahu apa itu uterus dan kenapa wanita menstruasi, dan gue memang sudah akhil baligh at that time (SMP), gue suka curhat gini sama temen cewe dan nyokap :

Gue (G) : “Sakit nih, dinding rahim lagi rontok.”

Yang mana biasanya ditanggapi dengan tampang heran, terus mereka nanya maksudnya apa, yang mana gue dengan senang hati akan menjelaskan bahwa menstruasi terjadi karena adanya penebalan dinding rahim yang sebenernya dipersiapkan untuk tempat tumbuh janin, saat waktunya habis dan janinnya belum ada ya rontok aja karena kalau kelamaan disimpen ntar gak fresh kan (hahaha), and that’s why semuanya jadi berdarah dan sakit (a little snob, I am).

Atau saat2 gue kewalahan sama Ponakan yang lagi puber, dan gue menjelaskan ke dia (setengah balas dendam, setengah sayang) bahwa gue sangat maklum kenapa dia moody, karena gue pernah baca bahwa anak seumur dia frontal lobe-nya (otak depan) belum berkembang sempurna, jadi pengambilan keputusannya belum bisa matang. Bukan dia ga mau, belum bisa aja (nada ditekankan). It works sih, kayaknya. Somehow Ponakan gue jadi lebih manis kalo inget itu.

Long story short, begitulah saya. Saya suka nyelipin istilah2 ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Bikin hepi aja. Gatau kenapa.

Dan entah ini kabar baik atau kabar buruk. Hobi saya ini nurun ke si Ponakan =)).

Jadi sudah berbulan2 ini ponakan gue suka nyanyi lagu yang dia bikin sendiri di sekolah. Dia lagi belajar nama2 tulang dari ujung tempurung kepala sampai ujung jari kaki dan dia buat itu jadi lagu supaya ngingetnya lebih gampang. Mungkin gue kualat karena dia suka nyelipin istilah2 ilmiah juga ke gue. Seperti saat jari kaki gue kepentok kaki meja dan dia ngomong : “Oh Anti, itu namanya falanges, by the way. Kalau jari tangan namanya metatarsus.” And she would sing her song again, just to make sure bahwa dia menyebutkan nama yang benar.

I probably gone too far with the frontal lobe thing. tapi rice udah jadi porridge, ketan udah jadi lemper, gue bisa obatin jari kaki gue sendiri, jadi sudahlah.

Dan kejadian nama2 tulang itu bukan cuma sekali. Di salah satu sesi “tahukah nama tulang”, sampailah kami ke tulang kering yang letaknya di baliknya betis, antara tulang mata kaki sama lutut. Yang mana gue, seperti biasanya mengajukan pertanyaan trivia ngeselin macam begini :

Gue (G) : “Kenapa ya namanya tulang kering? Emang ada yang  namanya tulang basah?”

Dan ponakan gue dengan heroiknya menjawab :

Ponakan (P) : “Oh Anti gak tau? Itu tuh disebut tulang kering karena itu adalah satu-satunya bagian tulang dalam tubuh yang gak terlindung otot. Itu kenapa tulang kering itu sakit banget kalo kepentok dan kenapa pemain bola pakai pelindung di bagian tulang keringnya. Oh, and it’s called Tibia, by the way.”

Mungkin bagi orang lain yang denger ponakan gue kayak lagi jadi pembawa acara laptop si unyil, tapi gue langsung berasa bangga+hepi campur2.

KARENA GUE SUDAH MEMPERTANYAKAN KENAPA TULANG KERING NAMANYA TULANG KERING DARI JAMAN GUE SMP DAN BARU SEKARANG GUE DAPET JAWABANNYA DAN PONAKAN GUE SENDIRI YANG JAWAB.

99105-004-A031C53B
tulang kering alias tibia alias shinbone 😀

I did right with the frontal lobe thing. I did the right thing.

Udahlah abis itu gue semangat banget bertanya ini itu.

Gue (G) : “OH JADI GITU? Ohhhh… jadi itu sebabnya orang segendut apapun tulang keringnya tetep kerasa tulang ya? Itu sebabnya tulang kering kita gak bisa goyang2 ya?”

(you know, kan ada ya orang yang bisa gerakin kuping dan bisa naik2in otot dada kyk Agung Hercules gitu. gue ga pernah liat orang goyang2in otot di tulang kering. makes sense. karena emang ga ada ototnya, Amanda.)

Gue (G) : “Berarti sama kayak jidat, dong?”

Ponakan (P) : “Kok jidat?”

G : “Orang segendut apapun jidatnya kan tetep kurus. Buktinya antinda ga pernah liat orang yang jidatnya gendut.”

(Di titik ini ponakan mulai ilfil)

P : “Tapi kan ada orang yang bisa goyang2in jidat, jadi ada ototnya dong”

G : “Iya juga sih. Tapi kan kamu pernah benjol gede di jidat karena kepentok gembok itu kan? Itu sakit banget kan?”

(Di titik ini ponakan misuh2 karena gue ngungkit2 aib dia)

Jadi akhirnya kesimpulannya adalah, jidat bukan tulang kering karena ada yang bisa goyang2in jidat dan semua bagian tubuh juga kalo kepentok sakit (kan ada syaraf ya), dan bisa biru. That’s that. Kami belum googling tapinya.

Tapi gue happy banget, sih. Gue bertanya dengan maksud usil2 iseng kayak pertanyaan gue tentang kalo ada pondok gede kenapa ga ada pondok kecil, dan kenapa tukang bubur kelilingnya pagi dan tukang sate kelilingnya malem padahal ada yang pengen bubur malem2 dan pengen sate pagi2.

Dan ternyata pertanyaan iseng2 gue dapat jawaban yang membuka mata.

I’m proud of you, Ponakan. I don’t know about your frontal lobe (harusnya udah full berkembang sekarang, tapi kamu masih suka galak jadi mungkin itu tabiat? kurangi soda dan mari makan buah ya supaya kadar serotonin di otak naik), but you are perfect just the way you are, dan kalau ada yang bilang sebaliknya I will kick their tibia — because that’s the easiest way to hurt them deep, down to the bone.

And maybe sebelum kick2 tibia, colok dulu sampe kornea biar gak liat siapa yang nendang. Karena urusan ama pengadilan itu ga gampang.

Aku banggabanggabanggabangga dari ujung kepala sampe falanges :*

Your proud auntie,

Antinda.

Advertisements

One thought on “it’s called Tibia,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s