Topic #3: The Best Way to Explore Human Nature

Warning: postingannya panjang, ya. Gue nulis jawabannya nyicil2 3 hari =))

102017

What is the best way to explore human nature: psychology, philosophy, or biology?

(source: Deep Conversation Topics)

Biology.

Filsafat menurut gue adalah akar alasan kenapa niat untuk mempelajari human nature itu ada. Jadi simply buat nentuin objektifnya aja kali ya si eksplorasi mau dibawa kemana, sama mungkin kalau nantinya penelitian gak berhenti di eksplorasi aja, tapi juga mau mengarah ke manipulasi. Psikologi lebih ke eksplorasi sebab akibat, bagian nurture-nya, mempelajari apa-apa saja yang mempengaruhi perilaku manusia setelah dia lahir, apa pengaruh perilaku manusia satu ke yang lain. Tapi menurut gue sih kalau emang beneran mau memetakan perilaku manusia secara nature, kayaknya ya secara biologi dulu.

Kalau manusia diibaratin jadi tumbuhan nih, biologi itu mempelajari kondisi tumbuhannya, termasuk bibitnya dulu dateng dari mana, kondisi pohon induknya gimana, dll dsb. Kalau manusia, ngeliat kondisi otaknya (utama), hippocampusnya, frontal lobe-nya, liat rekam DNA-nya, liat record mental dan fisik orang tua dan kerabatnya, dll dsb.

Nah, psikologi itu ngeliat kondisi tanahnya, kadar airnya, liat pupuknya, dan faktor2 lainnya, liat apa pengaruhnya sama si tanaman. Kalau manusia, itu melihat pendidikan, faktor ekonomi, nutrisi, budaya, dan apa pengaruhnya secara mental, melihat apakah dia menggunakan obat2an yang mempengaruhi kerja otak, moreover, faktor apa saja yang merubah si manusia sampai ke rekam DNA dan otak. Untuk yang bagian terakhir, fokusnya akan banyak ke pengalaman2 si manusia sebelum perkembangan otaknya bener2 sempurna, kurang lebih sebelum umur 22 (also read: 5 ages of human brain).

Tapi gue merasa, eksplorasi secara psikologi itu masih rentan buat dimanipulasi, sih. Gak semua manusia bisa menggambarkan apa yang dia rasa, gak semua awam soal psikologi. Mau cek perilaku pupilnya? Micro expression? Ada sih obat yang bisa bikin manusia lebih relaks. Gak usah obat khusus, sedikit alkohol atau parasetamol aja could work wonders. Otak tinggal dikasi obat dikit, diutak-atik dikit, dikasih sugesti, pendapat dan perilakunya aja udah bisa beda, udah bisa direkayasa. Lagian kalaupun mengandalkan rekam data resmi, misal catatan rumah sakit, catatan kejahatan, itu juga masih mungkin ada kesalahan input, gak sih? Terlalu banyak room of error.

We Are Universe

Gue sih percaya setiap sel di tubuh manusia itu ya gak beda sama kaset rekaman. Bukan cuma karena faktor keturunan, kondisi emosional ibu, dan nutrisi, we carried a lot of our surroundings sejak masih dibentuk dalam kandungan. Kondisi udara dan air juga berpengaruh, gravitasi,letak bumi, matahari, dan planet-planet juga ngaruh. Itu mengapa, gue sih merasa horoskop itu gak sepenuhnya ramalan semata (kecuali yang ramalan harian di majalah, itu mah buat ngisi konten aja). In a way, menurut gue horoskop itu bisa dilihat sebagai hasil riset sih. Seseorang di masa lalu melihat dan mempelajari pola langit, mengelompokkannya menjadi data dan menghubungkannya dengan personaliti manusia yang lahir dengan letak rasi-rasi bintang. Sesimpel itu.

Yang menurut gue bikin berasa kurang akurat dan meragukan adalah horoskop cuma prediksi pola sifat berdasar rasi bintang aja, tapi tentu saja personal manusia gak cuma dipengaruhi dari lingkungan, tapi seperti yang gue bilang di atas, DNA, dan nutrisi ibu yang mengandung, jadi yah, jelas gak ada sifat manusia yang bener plek sama satu sama lain meski lahirnya barengan dan bahkan dari ibu dan bapak yang sama. Anak kembar bisa beda dari segi nutrisi dan posisi dalam kandungan, kan? Beda nutrisi means beda laju pertumbuhan, beda posisi di kandungan means beda asupan oksigen, jelas aja perkembangannya gak bisa bener2 sama.

Tapi gue sih percaya kalau pola-pola perilaku seorang manusia yang terpengaruh oleh gravitasi benda-benda langit saat seorang manusia dibentuk itu ada. Coba deh dipikir lagi, kalau sekadar gaya gravitasi bulan bisa mempengaruhi gravitasi bumi sampai air laut pasang surut, kenapa juga itu gak bisa mempengaruhi manusia dalam kandungan (dan manusia yang mengandung) yang notabene 80%-nya terdiri dari air? Kenapa juga posisi planet yang notabene jelas ada pengaruh gravitasi ke bumi, gak ngaruh juga ke kandungan? Ya gak sih?

A Big Humanity Question

Gue rasa pada satu titik di masa depan akan ada masanya dimana bukan cuma personality seorang manusia yang bisa dieksplorasi, tapi juga ingatan, persepsi, dan itu cukup lewat langkah2 biologi saja. Sejak di kandungan, sampai lahir dan tumbuh besar. Under the knife, dianalisa mikroskop, diterjemahkan ke monitor, diproses menjadi suara. Akan ada masanya kita bisa lihat memori seseorang kayak nonton tivi aja. Akan ada masanya dimana sedih itu gak ubahnya masuk angin–ada obatnya, tokcer kayak puyer bintang tuzuh *disamarkan*, aman kayak minyak telon koniker *disamarkan*.

Akan ada masanya dimana nikah, jodoh, rezeki, kerjaan gak perlu dipikirin lagi karena pasti dapet yang dimau dan pasti suka–udah ada sistemnya, udah ada SOPnya supaya kita pasti suka dan pasti mau ngerjain, ada makanan untuk itu, ada obat untuk itu. Gak akan ada lagi orang yang rakus harta, takut mati, or worse, takut hidup, karena semua ada solusinya. Mungkin nanti ya manusia kerjaannya cuma tinggal ikutin sistem aja, semua bagian dari dirinya udah bisa diprediksi, bisa dimanipulasi supaya maksimal, supaya optimal.

Dan nanti pertanyaan yang dipikirin kaum filosofis akan beda lagi: kalau semuanya sudah bisa dieksplorasi, diprediksi, dan dimanipulasi, kita masih bisa dibilang manusia apa enggak? Kalau cinta sekadar nunjuk seseorang terus pasti dapet karena orang itu bisa dimanipulasi dan semuanya udah diatur dengan undang2 masa itu, itu fair apa gak? Kalau kerjaan udah langsung dapet yang pasti disuka, sandang pangan papan terpenuhi, terus apa lagi yang harus dicari? Kalau one day, sedih, patah hati, cemburu, benci, itu jadi sesuatu yang asing, apa mungkin lo masih bisa identifikasi kapan lo merasa bahagia?

Oxytocin for Sale

Gue pernah mikir kayak di atas pas gue nulis Amora Menolak Cinta tahun 2015 yang lalu. Waktu itu dalam proses riset tulisan, gue baru tau ada yang namanya oxytocin buatan. Oxytocin itu banyak disebut juga sebagai hormon cinta, kalau secara alami munculnya di hubungan yang udah berjalan cukup lama, sexual intercourse, atau pada ibu yang baru melahirkan. Gunanya untuk membuat seseorang merasa attached, stimulating orgasm, merasa aman, dan menumbuhkan rasa percaya. Pada ibu2 yang baru melahirkan oxytocin berguna untuk melancarkan ASI. Oxytocin buatan biasanya digunakan untuk ibu2 yang mengalami baby blues, depressive people, atau penyandang autism. Bentuknya kayak nasal spray buat sinus, bisa dibeli di pasaran.

Kebayang gak simpelnya kalau hidup itu tinggal semprot 1-2 kali, hirup, dan lo bahagia. dan lo finally bisa percaya sama sesuatu. dan lo bisa terbuka untuk apapun. dan lo bisa relaks. dan lo bisa connected. dan lo merasa dicintai. dan lo bisa mencintai.

Gue rasa eksplorasi biologi terhadap manusia pada akhirnya mungkin akan mengarah pada usaha2 manipulasi kayak gini. Oxytocin buatan. Estrogen buatan (yang mana sekarang juga udah ada). Testosteron buatan. Dan akan berkembang ke banyak usaha manipulasi lainnya. Mungkin udah bisa tahu dari rekam DNA si jabang bayi mau jadi perempuan atau laki sejak dari kandungan bulan kesekian, terus ada usaha manipulasi supaya gak ada lagi kasus ‘trapped in a wrong body’. Anak2 korban abuse bisa dimonitor supaya menekan kemungkinan psychopath–hapus identitas, manipulasi memori, masukin ke lingkungan baru supaya bisa berfungsi seperti manusia kebanyakan. Teknologi yang ada sekarang mungkin belum mendekati sempurna, but one day it will be 99,999% perfect. Dan jadi kepikiran aja nantinya masih berasa manusia pa gak.

The Hemingways

Satu kasus lagi yang pernah bikin gue kepikiran soal eksplorasi human nature secara biologi adalah Ernest Hemingway, penulis yang cukup terkenal di zamannya. Ernest Hemingway meninggal di umur 61 tahun karena pistol yang dia tembakkan pada diri sendiri. Yang gue denger adalah, beliau memang depresif dan sudah menjalani terapi, dan sebenernya sudah dinilai membaik. But one day, that just happened. Dan Ernest Hemingway pun menjadi salah satu icon penulis yang meninggal karena bunuh diri, along with sylvia plath, anne sexton, and virginia woolf.

Cerita yang mungkin belum banyak didengar orang adalah ada 4 anggota keluarga Ernest Hemingway lain yang memang terbukti mati karena bunuh diri: ayahnya, Clarence Hemingway, saudara2nya, Ursula and Leicester, dan cucunya Margaux. Ada beberapa anggota keluarga lain yang dicurigai bunuh diri tapi belum terbukti. Depression, manic-depressive, bipolar, and alcohol abuse runs in the family. Dan tahukah kalian bahwa 2 paman dari Kurt Cobain meninggal bunuh diri?

Ada yang bilang bunuh diri itu ‘menular’. Menurut gue sih keputusan2 yang kita lakukan memang sedikit-banyak akan berpengaruh pada orang-orang di sekitar kita. Bukan hanya keluarga, tapi teman, saudara, tetangga, bahkan fans. One depressive event caused another depressive feelings. Kita menjadi contoh untuk satu sama lain. Sama kayak tren jeans warna-warni, rambut tau ming tse di masa lalu, atau berita same-gender marriage. Kita melihat sesuatu, belum tentu kita lakukan, belum tentu kita setuju, belum tentu kita niatkan, tapi di otak tahu bahwa seseorang di luar sana melakukan itu, dan idenya sudah ada di kepala. Dan saat ada keharusan untuk mengambil keputusan untuk pro atau kontra, untuk melakukan atau tidak, itu menjadi salah satu pertimbangan: seseorang di luar sana melakukan hal yang sama.

Itu mengapa menurut gue banyak yang bilang berita2 suicide ini memang sebaiknya dibatasi. Itu juga mengapa menurut gue serial 13 Thirteen Reasons Why mengundang kontroversi, karena kalau infonya jatuh ke orang2 yang memang sedang rapuh2nya, orang yang belum matang, orang yang memang sedang menunggu alasan yang tepat untuk melakukan hal yang sama, efeknya bisa jadi sesuatu yang gak diharapkan.

Sudah banyak analisa secara psikologis soal kematian Ernest Hemingway tapi ada 2 artikel yang gue pernah baca perihal fenomena bunuh diri di keluarga Hemingway yang mengeksplor dari sisi medis:

  1. Cedera minor otak akibat beberapa kecelakaan dan alcohol abuse yang dialami Ernest Hemingway memperparah kondisi psikologisnya
  2. Ernest Hemingway punya kondisi genetik Hemochromatosis yang runs in the family

Jadi usus manusia pada umumnya punya fungsi untuk berhenti menyerap zat iron dari makanan saat dirasa zat iron pada tubuh sudah mencukupi. Tapi pada individu dengan kelainan hemochromatosis, fungsi itu tidak ada, sehingga tubuh lebih rentan mengalami kondisi kelebihan iron. Salah satu efek kelebihan iron pada tubuh adalah degradasi fungsi hati (seperti yang dialami Ernest dan 4 anggota keluarga yang disebutkan di atas–menurut artikel), diabetes, loss of vision, arthritis, serta gangguan fungsi otak termasuk depresi.

Dan itu mungkin adalah alasan utama, atau alasan pendukung utama, dari fenomena bunuh diri keluarga Hemingway. It’s not a bad life, it’s not a tragedy, it could be just an excess of iron in one’s body.

The Conclusion

Sekadar menekankan bahwa gue gak menjudge apalagi merumuskan teori apa2, gue cuma menjabarkan apa2 saja yang pernah gue temukan dan apa pertanyaan2 lanjutan yang muncul di kepala gue sehubungan dengan topik utama posting ini: mana cara terbaik untuk mengeksplorasi sifat dasar manusia: biologi, psikologi, atau filsafat.

Gue condong ke biologi. I believe it is the best way to actually gain accurate results, although it had to be supported by at least psychological measures, and although it could cause us a big humanity question for all of our fellow philosophers: if one day, we as a part of humankind are able to not only fully explore, but also to manipulate our own kind especially our human nature, should we do it? And if we do, will there be any boundaries on this matter?

 

Jadi gitu, sampai jumpa di posting berikutnyaa,

Mandhut.

#Mandhut10DeepTopicsBloggingChallenge2017

Advertisements

2 thoughts on “Topic #3: The Best Way to Explore Human Nature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s