Topic #5: A Theory About Happiness.

102017

Do people have a right to be happy or should they have to earn it?

(source: Deep Conversation Topics)

Happiness is a Choice.

I believe that happiness is neither a right nor something that has to be granted by someone else. It’s a choice. It’s your choice. No one could take that away from you and no one could give that to you. Sama kayak lo mencoba untuk berpikir dari sisi lain saat semua lagi buntu, sama kayak lo pakai baju warna tertentu sesuai occasion lo hari itu–it’s an option.

Kecuali kalau di masa depan nanti, seperti yang gue omongin di posting ini, happiness itu udah gak ubahnya produk. A shot of serotonin, a snort of oxytocin, penetral dopamine, and maybe an ampule of adrenaline. Dengan formula yang udah pasti ampuh. Pasti aman. Pasti tokcer. Nah mungkin itu masih bisa deh dibuat undang-undang perlindungan haknya atau sesuatu yang diberikan saat lo udah bekerja keras–sebuah benda. Tapi kalau berupa perasaan yang harus dilindungi hukum dan dikasih setelah lo bekerja keras untuk itu, menurut gue sih gak logis.

I don’t think anyone should insist anyone to make them happy, nor someone should sacrifice anything in order to get happy. You could manipulate the feeling by doing several tips and tricks, but it is not something you should depend on anything other than yourself.

Do the Right Thing

Sad to say, hanya karena gue berpendapat begitu bukan berarti gue selalu memilih untuk jadi happy. I am not. Kadang gue diam2 menikmati aja proses mellow2 karena itu adalah saat dimana gue bisa menulis senyesek2 umat, dan tulisan mellow gue jadi lebih bernyawa aja and that’s good. Kadang happy gue palsu, fake it ’til I make it. Kadang gue juga berharap supaya orang2 tertentu dapet wangsit aja supaya mikirin kebahagiaan gue. Bisa gitu tau2: ting-tong! Manda apa kabar ya? Gue ajak ngobrol ah dia pasti kangen ma gue (betapa gampangnya hidup kalo begini, gue pasti berasa truman di truman show). Kadang gue marah sama hidup karena gak ngasi gue alasan apapun yang menurut gue cukup pantes buat gue happy. Kadang gue ngarep orang lain ga usah happy supaya gue gak usah berasa nelangsa2 amat. Most of the time, I mock the universe before I sleep, under the shower, karena hari itu gak lebih baik aja rasanya dari hari2 lainnya.

Yes, I am that shallow dan gak tau diri. Tapi lo gak perlu se-shallow dan se-shameless gue.

Mumpung lagi agak waras, sinilah gue ingetin bahwa (perasaan) bahagia itu bukan sebuah hak–karena itu berarti ada yang harus melindungi dan menghormati rasa bahagia lo supaya lo tetep bahagia. Dan kebahagiaan itu bukan sesuatu yang harus lo kejar–karena itu berarti lo bergantung pada kondisi atau approval dari luar untuk bisa bahagia.

I don’t think that’s right. Nobody is in charge of your happiness. Not even your significant other, note even your family, not even universe, not even God.

Tapi tentu saja, sekadar mikir “gue happy” gak berarti lo hepi. Saat kebahagiaan rasanya seret, setau gue lo bisa terapkan beberapa cara untuk supaya bisa menstimulasi itu, atau memanipulasi itu. Kalau mau dicari, ada banyak banget tips buat memancing kebahagiaan di internet dan majalah. Bisa dicoba, cari yang paling sesuai sama lo. Dengan trial dan error, mengenal diri lo lebih baik, harusnya lo udah bisa tahu apa2 aja yang bisa bikin lo hepi, bisa bikin sistem untuk itu.

My Tips for Happiness

Gak usah dipikirin.

Tips gue sesimpel itu. Gak usah dikejar. Gak usah ditunggu. Gak usah dipikirin.

Karena menurut gue bahagia itu kayak siap2 mau tidur sih, kalau diniatin malah gak bisa tidur. Kalau dipikirin, malah terus bertanya2 apakah kondisi yang sekarang udah buat hepi atau belum, terus ujung2nya malah jadi inget yang nyebelin2.

=))

Kalau gue sih lebih prefer melakukan hal2 yang emang sesuai ama personaliti gue aja. Makanya gue pikir banyak2 ikut tes psikologi itu penting, sih (contohnya MBTI sama enneagram). Dari situ gue dapet ancer2 aja tentang kenapa gue mungkin membutuhkan sesuatu yang orang lain gak, kenapa sesuatu bikin gue sakit hati dan orang lain gak, apa yang sekiranya emang cocok sama kualitas personaliti gue, apa yang gak.

Misalnya karena gue INFJ, gue suka di lingkungan yang damai harmonis, mood dan hubungan gue dengan orang2 di sekitar gue itu penting. Gue kayak radar, mode otomatis gue adalah memetakan mood orang2 di sekitar gue dan observasi kepribadian mereka.

Jadi beberapa cara yang membuat gue puas/hepi adalah menghubungkan semua goal masa depan gue dengan orang lain (blogging supaya bisa sharing, nulis novel supaya bisa bantu bagi inspirasi–mungkin ngasi jawaban buat orang2 yang lagi galau lewat cerita fiksi), fokus sama orang lain (dengerin curhat, ngobrol, observasi mood, jalan2, kasih surprise, kasih perhatian) dan kalau untuk diri gue sendiri, sebisa mungkin prepare untuk berbagai macam tipe konflik biar gue gak kaget atau panik (perhatiin deadline, prepare berbagai macam obat, prepare camilan kalau2 ada deadline dadakan, pastiin asupan vitamin, pastiin tidur cukup, pastiin olahraga, maintain expectation, dll dsb).

Itu gue, tapi ada juga tipe kepribadian lain yang sukanya meneliti, buat teori akan sesuatu, salah satu cara buat hepinya adalah sharing teorinya dia dan mendapat apresiasi dari orang lain–bisa berupa masukan atau kritik. Yang begini bisa juga blogging, bikin vlog, atau gabung ke komunitas yang emang minatnya sama supaya bisa diskusi sampai puas. Atau ya sesimpel punya akses internet untuk gooling setiap saat aja.

Ada yang sukanya managing something, memastikan semuanya sudah sesuai dengan plan. Bakal stress banget kalau sesuatu gak berjalan efektif dan efisien. Yang tipe ini bisa juga jadi konsultan, atau ya cari orang yang gak keberatan buat dengerin perintah dan mau diatur2 aja :D, atau ya sedari awal bikin batasan untuk sejauh mana mau ngeplan, kalau bisa plannya cukup sampe ke yang masih bisa dikontrol diri sendiri, sisanya harus siap2 legowo biar gak bete :P.

You know, setelah beberapa tahun utak-atik tes2 psikologi ini gue juga jadi mengerti bahwa memang manusia itu gak ada yang bener2 sama satu dengan yang lainnya, tapi kita juga gak seunik yang kita duga kok. Semua itu beneran ada polanya. Standar yang lo gunakan untuk menilai orang lain itu adalah standar yang lo gunakan untuk menilai diri lo sendiri. Cara lo melepaskan diri dari stress itu berkaitan erat dengan ketidakpuasan yang sudah lama lo simpan. Your insecurities berkaitan erat dengan masa kecil lo. Dan passion lo itu berkaitan erat dengan apa yang membuat lo marah/stress, along with apa yang membuat lo merasa puas/bahagia.

Jadi fokus aja to be the best version of yourself by doing anything you can (tes psikologi, mungkin). Hidup yang seimbang. Set healthy boundaries. Kalau sedih ya dinikmatin aja, count your blessings, fokus ke hal2 yang berjalan baik, cari cara positif buat menyalurkannya (blogging dan sharing tips misalnya -ehem), kalau hepi ya dinikmati aja, disyukurin, diinget2 kenapa, dijaga semampunya.

Tapi dari pengalaman gue sih, ya. Beda dari sedih yang sedikit aja pasti kerasa. Kalau lo masih aware bahwa lo lagi happy biasanya lo gak sehepi itu.

Karena kalau lo bener2 hepi lo akan sibuk senyum, tertawa, dan berbagi. You won’t have the time to think about what kind of feelings you are having at the moment. The minute you’re asking yourself whether you’re happy or not, seperti yang udah gue bilang di atas, adalah saat dimana happy itu berkurang. Your monsters start taking shape, your painful past memories start roaming your head.

Ironis gak sih bahwa nantinya lo akan melupakan sesuatu yang sebelumnya lo kejar2? Giliran beneran dapet, lo gak akan nyadar bahwa lo lagi happy.

Jadi buat apa dikejar dari awal? Ya gak? 😀

Udah gih tes psikologi ntar kabarin dapetnya apaan 😛

Mandhut.

#Mandhut10DeepTopicsBloggingChallenge2017

Advertisements

One thought on “Topic #5: A Theory About Happiness.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s