Topic 6: A Healthy Relationship.

102017

What’s the most crucial thing for a healthy relationship?

(source: Deep Question to Ask a Girl)

Woh! *sok2 kaget padahal milih pertanyaan sendiri*

Relationship dalam konteks  ini tuh gak cuma hubungan pernikahan, pacaran gitu2 aja kan ya? Pertemanan juga bisa? *ini sebenernya nanyak siapa*

Kalopun enggak, anggap aja gitulahya biar gue bisa jawab =))

Hal paling krusial dalam sebuah hubungan yang sehat, ya… hmm…

Sebenarnya ini udah jadi pertanyaan internal dari kapan tahu, sih 😛. Secara gue anaknya sangatsangatsangat insecure, mudah panik, curigaan, dan ada sedikit anxiety disorder *paket lengkap lah*, jadilah gue suka bertanya2 aja gimana caranya menjalin sebuah hubungan yang sangat sehat dan fair secara mental (terutama hubungan pacaran/nikah sih, there, I said it -_-).

Hubungan yang saking sehat dan fairnya, saat nanti mungkin salah satu berubah, atau mungkin hubungan terpaksa diakhiri untuk alasan apapun, 2 orang tersebut bisa tetep saling peduli tentang kelanjutan hidup satu sama lain (meski mungkin gak secare dulu), bisa tetep menjaga hubungan baik (apalagi kalau ada anak), dan bisa tetep mau berkorban sedikit buat kebahagiaan satu sama lain dan semua orang yang terkena imbas hubungan mereka (lagi2 misal ada anak dan mungkin anaknya butuh kehadiran keduanya di momen2 tertentu meski dua2nya gak terikat pernikahan lagi, gitu2 deh).

Pikiran ini kayaknya muncul karena gue sering dengar dan lihat sih tentang hubungan 2 orang yang waktu pacaran/nikah manis, terus seseorang berubah, harapan gak sesuai kenyataan, dan putusnya/cerainya messy banget. Saling buka aib, saling rebut2an harta gono-gini, rebutan hak asuh anak, dan sebagainya. Ada juga yang begitu memutuskan untuk mau cerai ya udah gak peduli aja sama pasangannya, disuruh buru2 keluar dari rumah, buru2 pergi, dan sebagainya.

Gue sih percaya bahwa perubahan itu konstan adanya. Jadi wajar sih, kalau misal sifat/perasaan seseorang berubah seiring waktu (alasan lainnya juga pernah dibahas di posting ini). Semisal orang tersebut mendadak punya keinginan yang berbeda dalam hidup dan kehadiran kita sebagai pasangan/teman menghalangi jalan dia, ya menurut gue wajar juga kalau keputusan untuk putus/cerai/berpisah itu menjadi pertimbangan. Gue rasa gak guna juga kalau dipaksa bareng, yang ada tiap hari makin kerasa sepi karena lo bareng sama orang yang hidupnya terhalangi sama lo. Ya gak sih?

Jadi semuanya wajar, kok. It’s for the greater good.

Tapi gue ngerasa agak miris aja bahwa saat nanti akhirnya memutuskan gak bareng lagi, dua orang tersebut jadi saling benci, saling gak peduli, saling sikut, dan saling tuntut. Ada beberapa alasan sih yang kepikiran sama gue tentang mengapa hal2 kayak gini sering terjadi. Apa karena dendam? Kecewa? Merasa udah buang2 waktu dan tenaga, karena udah berkorban segitu banyak dan endingnya adalah orang tersebut gak sesuai sama harapan/gak peduli lagi aja sama kita?

Karena itu gue mikir, bisa gak ya hal2 kayak gitu dicegah/ditangani dari sejak awal hubungan? Supaya dua2nya tetep bisa hepi2 bareng, saling dukung dalam suka dan duka, bermanfaat untuk satu sama lain, kasih perhatian, berkorban, tapi saat hubungan gak bisa lanjut pun masih bisa saling percaya bahwa dua2nya akan melakukan peran mereka dengan sebaik2nya, bahwa kalau seseorang harus keluar dari rumah itu bukan semata karena kecewa, bahwa kalau ada yang mendapat hak asuh itu bukan semata karena ego, bahwa kalau ada harta yang harus diambil alih itu bukan semata karena dendam, bahwa kalau komunikasi setelahnya harus dibatasi itu bukan semata karena benci. Bisa gak ya dua2nya tahu sama tahu bahwa sakit itu pasti ada, tapi bakal dijaga seperlunya aja, gak perlu berlarut2, dan gak perlu berlama2 melibatkan orang lain dalam situasi yang gak sehat?

Bisa gak sih ada hubungan ‘sehat’ kayak gitu? Atau gue terlalu mengada2? Bahwa hubungan fair dan baik itu masih mungkin kalau masih saling sayang tapi saat udah gak sayang ya mustahil aja dua orang tersebut bisa akur tanpa dendam dan benci? Atau mungkin bisa aja tapi semua butuh waktu?

Afterall, cinta dan benci tuh katanya bagai dua sisi logam kan?

Mungkin iya sih, gue cuma idealis aja. Mengada2. :))

Anyway, mengada2 ataupun bukan, gue kepikiran beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencapai hubungan sehat dan fair yang gue omongin di atas itu sih. Gue mikir apakah harus tahu cara mengendalikan emosi, batasi janji perbanyak bukti, jauhi asumsi, banyak komunikasi, saling memaafkan, dll dsb. Tapi dari beberapa hal tersebut, gue pikir elemen paling krusial untuk menciptakan hubungan yang sehat itu adalah kehadiran 2 orang yang punya versi hubungan ‘sehat’ yang sama dan keduanya bener2 sama2 menginginkan itu dan mau berusaha untuk itu.

*Ditimpukin*

Ya gimana abisan emang itu sih menurut gue fondasinya. Kalau 22nya gak sepaham mau maaf seluas samudera dan legowo selebar apapun juga kemungkinan sia2nya masih lebih besar sih. It takes 2 to tango, kan?

Contohnya, karena hubungan sehat versi gue kasarnya adalah saling tahu bahwa one day situasi akan berubah dan dampaknya adalah mungkin kami gak bisa bersama lagi, ya gue musti cari orang yang berpandangan sama. Jadi kami bisa belajar saling memaafkan, saling mengelola ekspektasi diri dan pasangan, saling percaya akan niat satu sama lain, saling mengingatkan bahwa hubungan ini bukan cuma soal kami berdua, sambil kami berdua berbagi segala hal manis dalam hidup, saling menemani dalam suka dan duka, saling jaga supaya satu sama lain gak kesepian, dan saling mendoakan semua hal terbaik untuk satu sama lain.

Dan akan tetap mendoakan dan mengusahakan hal2 baik juga meski mungkin tidak lagi bersama.

Karena yah, gue pengin ada di hubungan dimana mau berantem separah apapun, tetep aja saling care. Dan kalau nanti gue yang gak bisa berpikir rasional untuk alasan apapun dan semisal gue punya anak, gue mau pasangan gue tahu versi rasional gue itu menginginkan apa, dan kalau itu berarti dia harus maksain gue untuk menerima perawatan terapi (atau masuk rsj), atau harus memutus komunikasi dengan gue karena gue segitu toxicnya, dan dia harus rebut hak asuh anak dari gue untuk kebaikan semua orang, so be it. Karena kalau situasinya dibalik, gue akan melakukan hal yang sama.

Tapi bedanya keputusan itu diambil bukan semata karena benci atau dendam sama gue, atau untuk memuaskan ego dia semata aja. Tapi karena sebelumnya udah sama2 tahu apa yang terpenting, dan masih kepingin yang terbaik aja untuk satu sama lain, dan orang2 yang penting buat kami.

Ribet yah. No wonder gak nemu2.

Btw, hubungan sehat versi kalian gimana?

Mandhut.

#Mandhut10DeepTopicsBloggingChallenge2017

Advertisements

3 thoughts on “Topic 6: A Healthy Relationship.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s