Topic #7 Rational Thought and Language

102017

Can rational thought exist without language?

(source: Conversation Starters World: 202 Philosophical Questions)

The Beauty of Language

Salah satu hal yang gue pelajari dari menulis novel fiksi adalah metode penerapan bahasa untuk target pembaca tertentu. Bahwasanya, terlepas dari pertimbangan sisi marketing, saat menulis sesuatu dengan tujuan supaya sesuatu itu benar-benar dibaca, cara paling efektif adalah menentukan target pembaca yang ingin kita sasar berdasar umur, pekerjaan, gender, lokasi, hobi, dan lain-lain–the narrower the better. Kemudian setelah menentukan target pembaca, kita harus menulis berfokus pada target pembaca tersebut, bisa dengan menjawab pertanyaan yang ada di benak mereka, menceritakan sesuatu yang bisa relate dengan kehidupan mereka, dan menggunakan kata-kata serta bahasa yang mereka tahu–minimal yang mereka gunakan sehari-hari.

Untuk urusan penggunaan kata-kata dan gaya bahasa, beberapa buku metode penulisan bahkan membatasi maksimal 5 kata-kata sulit per satu novel fiksi, ada penulis lawas yang mengharamkan penjelasan berlebih untuk suatu kata di novel fiksi, ada juga yang memperbolehkan penggunaan footer untuk penjelasan tambahan (contohnya di novel Bartimaeus Trilogy karya Jonathan Stroud – my personal favorite :D).

Untuk saya pribadi, kegiatan menganalisa dan memutuskan kata apa yang pantas mewakili sebuah makna dengan mempertimbangkan tingkat pendidikan, ekonomi, gaya bahasa, umur, gender dari target pembaca yang saya sasar itu termasuk menyenangkan. Bagaimana cara menjelaskan teori relativitas pada pembaca novel fiksi roman remaja mainstream umur SMP pada umumnya dengan perbekalan kata yang mereka tahu? Apakah penggunaan kata baku tertentu tepat digunakan untuk novel fiksi populer? Apakah penggunaan kata slang tertentu akan mengganggu suasana novel yang sudah susah payah dibangun atau justru bisa digunakan untuk memperkuat karakter?

Penggunaan kata-kata bukan lagi sekadar mengungkapkan makna dan menyampaikan cerita, tapi juga harus digunakan untuk memanipulasi emosi pembaca, baik dari segi ketertarikan terhadap konten cerita dan kenyamanan membaca.

Maka secara naluriah pun gue mulai berpikir tentang bagaimana cara efektif dalam menyampaikan informasi tertentu tanpa terkesan terlalu textbook, namun tetap akurat dan efisien (karena pada waktu itu kan gue menulis novel fiksi).

Contoh pertama, kalau gue mau memperkenalkan seorang karakter baru, maka gue harus memberikan sedikit info mengenai karakter tersebut dari sejak gue pertama kali memberitahukan kehadiran si karakter supaya pembaca bisa membayangkan atau mengasosiasikan karakter tersebut di dalam benak mereka–entah warna rambutnya, posisinya di dalam cerita, pokoknya sesuatu yang tidak membuat pembaca merasa karakter tersebut mendadak muncul dari udara kosong. Apakah saat gue mengatakan, tokoh tersebut memiliki rambut berwarna dadu, pembaca akan mengerti? Atau gue cukup berkata, tokoh tersebut memiliki rambut yang mengingatkan tokoh utama akan pemerah pipi wanita–tidak lazim dan jelas bukan warna rambut alami, membuat semua orang menoleh dua kali sebelum akhirnya mengagumi.

Contoh kedua, semisal gue ingin memberitahu soal seorang karakter wanita yang menderita imbalance hormone, maka dari sisi emosional cerita, gue harus menggali apapun dari karakter tokoh yang bisa relate dengan target pembaca, gue harus memastikan bahwa pembaca tahu imbalance hormon itu biasa terjadi pada wanita umur berapa, mereka tahu apa efeknya dan kenapa fakta bahwa imbalance hormon pada wanita itu sesuatu yang cukup signifikan bagi kelangsungan cerita. Apa risikonya, apa bahayanya, apa yang ditangisi si tokoh wanita di saat sendiri terkait imbalance hormon ini? Apa yang membuatnya khawatir, dan sebagainya. Namun, dari sisi bahasa, yang perlu gue pastikan adalah si pembaca tahu apa itu imbalance, apa itu hormone, dan apa arti dari imbalance hormone, dan apakah target pembaca gue cukup menguasai bahasa inggris atau memiliki pengetahuan untuk mencaritahu apa arti dari kata-kata tersebut.

Ibaratnya, gue mau pembaca gue untuk membangun ‘balok-balok’ fantasi supaya mereka bisa membayangkan cerita yang akan gue sampaikan. Gue harus pastikan bahwa mereka punya cukup balok untuk bisa membangun/mengerti cerita secara maksimal. Dan balok-balok itu adalah pemahaman akan kata2. Sementara kronologi cerita adalah urutan balok mana yang terlebih dulu harus disusun supaya bangunan ceritanya kokoh dan benar. Baru setelah bangunan imajinasi itu lengkap, gue bisa tarik emosi apapun yang ada di memori dan persepsi sang pembaca.

Gue menganggap semua proses penulisan di atas sebagai satu kesatuan. Bahwa memang logika dalam penggunaan bahasa dan urutan kronologi informasi itu tidak terpisahkan dan harus ada untuk memperkuat emosi sebuah tulisan. Bahkan di beberapa genre cerita logika dan informasi itu bisa diutak-atik, dihilangkan, disimpan dan dikeluarkan pada bagian-bagian tertentu bab, untuk menciptakan plot twist, atau open ending.

Jadi iya, menurut gue, meskipun bukan satu2nya, bahasa adalah salah satu alat untuk kita membentuk logika. Perbendaharaan kata membantu kita untuk menyampaikan maksud dengan lebih cepat, meski tidak selalu akurat.

Explain it to the Heptapods

Barulah pada tahun 2016 yang lalu, gue benar-benar aware akan bidang linguistik. Sebelumnya gue cuma pernah dengar, tahu, tapi tidak paham. Adalah sebuah scene di film Arrival gubahan sutradara Denis Villeneuve yang membuat saya cukup penasaran soal ilmu linguistik, yaitu scene dimana Professor Louise Banks (diperankan Amy Adams) menjelaskan pada Colonel Weber (Forest Whitaker) tentang mengapa pengenalan kata-kata sederhana seperti ‘makan’, ‘berjalan’ serta dasar-dasar komunikasi lainnya kepada alien yang dijuluki Heptapod (Greek, ‘hepta’ 7, ‘pod’ kaki) penting untuk dilakukan sebelum mengajukan pertanyaan tentang mengapa para alien tersebut memutuskan untuk memunculkan diri pada 12 titik di bumi, apa tujuan mereka, siapa mereka, dan sebagainya.

What is your purpose on Earth? – a still from the movie Arrival

Berikut potongan dialog dari scene yang gue maksud ya:

Louise Banks: So, first, we need to make sure that they understand what a question is. The nature of a request for information along with a response. Then we need to clarify the difference between a specific “you” and a collective “you”. Because we don’t wanna know why Joe Alien is here, we want to know why they all landed.  And “purpose” requires an understanding of intent. We need to find out, do they make conscious choices or is their motivation so instinctive that they don’t understand a “why” question at all. And-And biggest of all, we need to have enough vocabulary with them that we understand their answer.

Gak tau kenapa scene itu nyangkut di kepala gue, but it is. Bahwa bahasa itu merupakan bagian penting dari logika, bahwa bahasa membentuk bagaimana seseorang atau species tertentu berpikir,  menurut gue film Arrival menggambarkan itu dengan sangat baik.

What is Rational Thinking?

Menuju ke topik utama, ya. Sebelum dibahas lebih lanjut, mungkin ada baiknya kita samain dulu persepsi tentang apa itu Rational Thinking atau pemikiran rasional. Karena ini masih dalam ranah filsafat, jadi ini adalah arti rational thinking yang gue pegang dalam hal ini:

Rationality means acting according to reason. It means accepting only that which you have reason to believe. It means using logic to weed out any contradictions. It means when you have to accept the judgment of another, you use your own mind to determine whether you should. Is the person educated in that field? Is it knowledge that someone is capable of having? From what you know about the rest of his ideas, is he someone you believe will be correct?

source: Importance of Philosophy

Gue ambil kalimat utamanya ya, rationality means acting according to a reason. Bertindak berdasarkan sebuah alasan. Contohnya saat lo memilih untuk tidur lebih cepat karena besok lo harus bangun lebih pagi. Sederhananya, keputusan lo untuk tidur lebih cepat itu didasarkan beberapa alasan:

  1. Manusia butuh tidur selama jangka waktu tertentu untuk mendapatkan energi yang dibutuhkan.
  2. Manusia butuh energi untuk beraktivitas.
  3. Elo adalah manusia.

Menilik contoh dan penjelasan di atas, bertindak irrational adalah saat lo bertindak tanpa alasan.

Isolated from the Concept of Language

Pertanyaan gue pun berlanjut. Kalau memang rational thinking itu berkaitan erat dengan kemampuan kita berbahasa, baik itu lewat suara, ataupun simbol dan huruf, tetap saja semua dimulai dari pengenalan kata kan? Pengenalan bahwa semua benda punya nama. Contohnya kalau dari penjelasan rational thinking yang sebelumnya, berarti manusia tersebut butuh tahu apa itu manusia, apa itu energi, apa itu tidur, apa itu lelah, apa itu aktivitas, dan apa itu waktu sebelum tahu hubungan di antara kesemua hal tersebut, dan membuat keputusan untuk mempengaruhi satu dan lain halnya.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang terisolasi dari kehidupan sosial sejak lahir (feral child) atau orang-orang yang lahir dengan keterbatasan sehingga sejak awal mereka tidak dapat melihat simbol, ataupun mendengar suara?

Apa yang mereka pikirkan, bagaimana mereka membuat keputusan, sebelum mereka mengenal bahasa? Sebelum mereka tahu bahwa setiap benda memiliki nama?

Helen Keller terlahir normal, tapi beliau menjadi penyandang tuna rungu dan tuna netra sejak usia 19 bulan, terlalu dini untuk mengenal bahasa apalagi mengingat perbendaharaan kata. Kemajuan metode pendidikan yang masih minim di masa itu (1880) membuat Helen tumbuh menjadi anak yang terisolasi dari informasi dikarenakan ketidakmampuannya untuk mendengar dan melihat. Pada akhirnya, di bawah bimbingan gurunya, Anne Sullivan, Helen akhirnya paham bahwa setiap benda memiliki nama, dan mempelajari cara untuk berkomunikasi dengan dunia luar meskipun dirinya tidak dapat melihat dan mendengar: menggunakan sentuhan. Namun sebelum itu, Helen hanya mampu mengenali keluarganya lewat getaran langkah seseorang pada lantai tempatnya berpijak, dia pun secara naluriah menciptakan bahasanya sendiri untuk kebutuhan mendasar, contohnya makan dan minum, yang hanya dimengerti oleh keluarga dan pengasuh terdekatnya.

Ada juga kisah seorang peneliti bernama Schaller, yang bercerita tentang pertemuannya dengan Ildefonso, pria tuli di sebuah lingkungan yang tidak mengenal bahasa sampai usia dewasa dikarenakan terlahir di situasi lingkungan dan keluarga yang minim pendidikan tentang apa itu tuna rungu dan bagaimana penanganan yang tepat untuk itu. Schaller berkata bahwa saat bertemu pertama kali, Ildefonso berusaha keras untuk meniru semua yang Schaller lakukan. Ildefonso meniru gerakan mulut Schaller, meniru tindak-tanduk Schaller. Semua usaha Schaller untuk berkomunikasi sia-sia selama berhari-hari. Barulah saat Schaller berhenti bicara dengan Ildefonso, dan Schaller berpura-pura melakukan komunikasi di antara 2 orang, di mana Schaller berbicara selayaknya guru, kemudian berpindah posisi dan bertindak sebagai murid yang menjawab pertanyaan guru tersebut, Ildefonso paham bagaimana cara berkomunikasi dengan Schaller, dan paham bahwa setiap benda memiliki nama. Tapi saat diminta untuk menjelaskan bagaimana cara Ildefonso berkomunikasi dengan sesama individu yang tidak mengenal bahasa (language-less), Ildefonso tidak dapat mengingatnya. Ternyata pengenalannya akan bahasa membuat Ildefonso berpikir dengan cara yang berbeda, dan dia tidak dapat lagi berkomunikasi dengan teman2nya yang language-less.

Which One Comes First? Rational Thinking or Language?

Masuk ke inti pertanyaan ya. Jadi dari penjelasan panjang dan lama kayak choky2 yang udah gue jelaskan di atas, kita udah bisa tarik beberapa poin penting:

  1. Bahwa bahasa membentuk cara seseorang berpikir
  2. Bahwa kemampuan berbahasa membantu seseorang untuk menyerap dan menyampaikan informasi secara lebih efektif dan efisien dari lingkungan sekitarnya, dan oleh karenanya membantu orang tersebut mengambil keputusan yang lebih rasional
  3. Bahwa seseorang yang bahkan belum mengenal bahasa yang digunakan banyak orang pun, memiliki caranya sendiri untuk mengenal lingkungannya dan berkomunikasi, meskipun kemungkinan besar hanya terbatas pada kebutuhan2 mendasar

Kalau pengalaman pribadi, sih. Gue gak bisa mengingat bagaimana cara gue berpikir sebelum gue mengenal bahasa karena gue percaya gue masih terlalu muda untuk menyimpan memori secara sadar. Tapi bahasa membantu banget untuk gue berpikir, bahkan di beberapa occasion gue membatin dengan bahasa inggris, karena itu membantu gue untuk berpikir lebih profesional aja.

Kalau asumsinya ‘language’ adalah bahasa yang kita gunakan saat ini, metode komunikasi yang menjadi standar kebanyakan orang, memberi nama pada sebuah benda, baik abstrak maupun non-abstrak, memiliki struktur yang jelas untuk pernyataan, pertanyaan, pengandaian, dan terkait erat dengan konsep waktu, metode komunikasi dengan orang lain, then jawabannya adalah bisa. Menurut gue sih, kalau sekadar bertindak berdasarkan sebuah alasan, gue rasa manusia–meskipun tidak mengenal ‘bahasa’–bisa melakukan itu. Tapi untuk bisa berpikir rasional manusia itu harus menciptakan ‘bahasa’nya sendiri, minimal menamai beberapa benda dengan versinya, untuk dapat berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan membuat keputusan rasional.

Menurut gue, komunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa itu hanya bersifat sebagai katalis, membantu seseorang menyerap semua informasi yang ada di lingkungan sekitarnya, mendapatkan pelajaran dan penemuan dari manusia-manusia terdahulu, mengenal berbagai konsep, untuk nantinya bisa manusia itu gunakan untuk membentuk pemikiran rasional yang lebih kompleks.

Bisa diibaratkan seperti balok2 yang digunakan untuk membangun pemahaman seperti yang gue sebelumnya. Komunikasi menggunakan bahasa membantu seseorang tersebut untuk mengenal lebih banyak balok dengan berbagai bentuk dan warna dengan lebih cepat. Lebih banyak dari jumlah balok yang bisa dia miliki saat dia hanya berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

Tapi bukan berarti saat seorang manusia tidak berkomunikasi dengan manusia lainnya itu berarti dia tidak bisa mengenal semua balok yang ada di dunia. Seorang manusia bisa saja menciptakan bahasanya sendiri tanpa campur tangan manusia lainnya. Bisa. Tapi akan dibutuhkan lebih banyak waktu untuk bahasa yang dia ciptakan itu bisa membantunya membuat pemikiran2 rasional yang cukup kompleks untuk mengubah dunia, dan umur seorang manusia kemungkinan besar tidak akan cukup untuk itu. Dan saat dia mati, karena dia tidak mengenal bahasa, semua balok-balok (pengetahuan2) tersebut ikut terkubur bersamanya. Sehingga manusia berikutnya harus mulai berjuang dari nol lagi.

So, terjawab yah. Can rational thoughts exist without language? Sekali lagi, menurut gue: bisa.

Mau jawab gitu doang, nulisnya udah kayak orang skripsi aja *lebay*

Sampai jumpa di topik berikutnya 😀

Mandhut.

#Mandhut10DeepTopicsBloggingChallenge2017

 

Advertisements

One thought on “Topic #7 Rational Thought and Language

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s