Topic 8: Trending Apocalypse

102017

Why have apocalyptic games, movies, shows, and books become so popular in the past few years? What does it say about our culture or society?

(source: Conversation Starters World: 202 Philosophical Questions)

Apocalypse for the Weekend

Kalau mau jujur, gue termasuk potret generasi modern yang tergila-gila dengan karya2 bertema apocalypse. Apakah itu pre-apocalypse, apocalypse, ataupun post-apocalypse, gue termasuk yang menunggu2 film dan buku bertema apocalypse muncul di bioskop atau toko buku. Gue suka hampir semua genre apocalypse mulai dari dystopian, wabah, bahkan segitu mendalamnya kegemaran gue sampai pernah gue gunakan sebagai latar tulisan gue, dan my favorite apocalypse genre of all time: zombie (tapi yang bisa dijelaskan secara saintifik kayak 28 Weeks Later, bukan yang bangkit dari kubur, catet). Bagi yang penasaran dan pengen baca2 lanjut, beberapa jenis tema apocalypse bisa dibaca di link ini ya.

Selain genre ceritanya, apocalypse juga bisa dibagi berdasar pembagian waktu, apakah pre-apocalypse (cerita mengambil latar dimana apocalypse belum terjadi tapi tokoh2nya tahu bahwa itu akan terjadi), apocalypse (saat kejadian itu terjadi), atau post-apocalypse (kondisi dunia dan umat manusia setelah apocalypse terjadi). Satu cerita bisa melibatkan 1 atau lebih latar di atas.

Bukan hanya novel, film, atau game. Tema apocalypse ini juga sudah merambah ke dunia reality show, contohnya tv seri Doomsday Prepper yang ditayangkan oleh Natgeo Channel yang menyorot orang-orang yang memutuskan untuk mengambil langkah ekstra guna mempersiapkan diri dan orang2 di sekitar mereka dalam menghadapi kiamat. Ada yang membangun bunker bawah tanah, membangun sistem air bersih sendiri, membangun tenaga listrik sendiri untuk persiapan degradasi ekonomi dan komunitas, bahkan mempersiapkan senjata dan prosedur untuk serangan zombie.

The Big Question

Gue pikir wajar kalau fakta bahwa tema apocalypse ini menimbulkan pertanyaan, terutama dari sisi nurani dan psikologi. Karena sebenernya kalau mau dipikirin lebih lanjut, ada sedikit ironi tentang mengapa manusia menggemari cerita-cerita dimana sebagian besar kisahnya melibatkan kematian/penderitaan/kegilaan kaumnya sendiri dalam skala massal. Do we actually wish to watch our kinds suffered from a deadly plague? Do we secretly hope that robots would actually take over our planet? Do we have this unspeakable expectation of alien encounters? Do we unconsciously admit that one day the earth will actually be submerged in water due to the climate change? Do we wish for the earthquake to happen? Do we find joy in fantasizing about a mass destruction brought by the collision of earth and asteroids?

Tapi bukankah di bumi yang sama tempat kita berpijak dan bernapas, wabah yang menjadi alasan bagi lenyapnya ratusan ribu nyawa pernah terjadi? (Bubonic Plague)

Bukankah di bumi ini, bom yang menelan banyak korban pernah terjadi bahkan meninggalkan bekas permanen yang dibawa umat manusia hingga kini? (Atomic Bombing of Hiroshima and Nagasaki)

Bukankah di bumi ini pula versi dictatorship dengan idealisme dan paham yang menyebabkan hilangnya banyak jiwa pernah terjadi? (Auschwitz Concentration Camp)

Bukankah saat kita berbicara hal ini, kiamat2 kecil sedang terjadi di beberapa tempat di dunia? Perang, tragedi kemanusiaan, eksploitasi, kebobrokan moral. Bukankah risiko Ebola yang pernah menjadi tema sebuah film (Outbreak, 1995) masih menjadi momok di salah satu benua di bumi? Bukankah perubahan iklim memang sedang berjalan? Bukankah kita semua merasakan level air laut yang semakin mengepung? Bukankah kita semua tahu bahwa musim panas semakin terasa panas dari tahun ke tahun? Bukankah kanker dan banyak penyakit tidak menular lainnya adalah bukti bahwa udara, air, dan bahan makanan kita sudah terkontaminasi?

Why we wish to see it more in a bigger scale, on the bigger screen, wrapped in a more ‘sophisticated’ plot, with more depicted casualties on the side?

Ini gue juga bertanya pada diri gue sendiri, ya. Kenapa gue menemukan rasa terhibur saat gue menonton zombie. My fellow human, turned into a cannibal, flesh-eating, blood-thirsty monster, driven by instinctive rage and hunger, and why did I find it interesting?

The Need to Escape

Gue punya beberapa jawaban personal, tapi gue coba baca2 dan cari2 artikel di internet soal alasan kenapa apocalypse menjadi tema yang digandrungi, juga analisis2 tentang mengapa genre apocalypse menjadi bagian dari pop culture kita selama 10-15 tahun terakhir (bahkan sebenarnya sejak abad ke-15). Dari beberapa yang gue temukan, ada yang menyebutkan tentang escapism, yang merupakan keinginan untuk lari/keluar dari kenyataan yang dihadapi.

es·cap·ism

əˈskāpˌizəm/
noun
noun: escapism
  1. the tendency to seek distraction and relief from unpleasant realities, especially by seeking entertainment or engaging in fantasy.
    synonyms: fantasy, fantasizing, daydreams, reverie
    antonyms:realism

Menurut gue sih escapism itu adalah alasan yang sama mengapa orang nonton film untuk genre apapun, mengapa orang belanja, mengapa orang baca buku, mengapa orang travelling, dan mengapa orang punya hobi apapun di luar kegiatan dan tanggung jawab sehari2 mereka: to escape from our very much reality. Gak terbatas pada tema apocalypse aja.

But then, mengapa ada orang yang memilih untuk melarikan diri atau menikmati waktu luang mereka dengan menonton versi dunia yang jauh dari ideal dan damai? Why not opt out for the much peaceful version–the one that doesn’t consist the dead of the human race? Ada juga artikel yang membahas hal tersebut sih, ada yang bahas di artikel Listverse: Top 10 Reasons Humans Are Obsessed with the Apocalypse dan artikel Yes!: Why Do We Love Apocalyptic Movies?, tapi dari alasan2 tersebut, alasan yang paling gue bisa relate adalah:

We are bored. I am bored.

Apocalypse in Details

apocalypse as depicted in the movie 2012

Apocalypse itu berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengungkap sesuatu yang tersembunyi. Yang mana gue artikan menjadi sesuatu yang tidak diduga-duga dan datang tiba-tiba. Atau mungkin sesuatu yang sudah lama bisa kita terka kehadirannya, namun tak akan pernah siap kita hadapi kedatangannya.

A surprise. A twist to a stagnant life. A holiday for a boring day-to-day routine.

Mungkin alasan bahwa gue suka nonton tema apocalypse karena bosan itu terdengar sangat insensitif. Like, I probably not grateful enough for what I have right now, for the peace that universe have granted to me, now and today. So I am bored, and in my free time I wish to watch or read a story of human beings get dissected, impoverished, consumed, confused, lost, purged, and disappeared.

It does sound awful. Isn’t it?

Tapi yang perlu kita tahu bahwa sebuah naskah, sebuah tulisan, sebuah konsep, bahkan sebuah karya seni, bertujuan untuk menyampaikan sebuah pesan. Kalau pesan itu dibungkus dalam bentuk cerita dengan berbagai karakter yang memiliki awal dan akhir, atau sebuah lukisan dengan gaya tertentu, atau sebuah reality show dengan analisa mendalam dan penjelasan saintifik, tujuannya tiada lain dan tiada bukan adalah agar pesan itu masuk ke benak penonton dan pembaca.

Gue coba bertanya ke diri gue sendiri, tentang bagian mana dari film Hunger Games (dystopian) yang membuat gue merasa film itu bagus. Apakah bagian dimana sebuah komunitas memperbudak dan memperlakukan manusia lain sebagai idola sekaligus pion catur dalam sebuah permainan yang menelan nyawa? Ataukah tema propaganda dan politik yang kental di dalamnya? Apakah tokoh Katniss yang inspiratif? Atau Peeta yang super manis? Atau fashion dunia masa depan yang menggunakan teknologi2 yang tidak terduga? Like, really, baju api? I would love to have baju api.

Gue juga coba bertanya bagian mana dari film The Flu (plague) yang membuat gue merekomendasikan film itu setiap kali ada orang yang bertanya film wabah apa yang bagus buat ditonton. Apakah fakta bahwa manusia sebegitu fragilenya bahkan sedikit mutasi virus saja sudah cukup untuk menyapu bersih dan mengacaukan sebuah kota, dan nantinya negara atau bumi? Apakah penggambaran bahwa in the midst of chaos, seseorang bisa membuat keputusan paling tidak manusiawi dengan alasan untuk melindungi sesuatu yang lebih besar lagi? Atau karena gue mau meyakinkan diri aja tentang alasan kenapa cuci tangan dan pake masker di tempat umum itu penting?

Atau bagian mana dari film Interstellar (dead earth) yang membuatnya menjadi masterpiece of all time (versi gue)? Apakah penjelasan tentang teori relativitas waktunya? Apakah perjalanan antariksanya? Apakah penggambaran planet-planetnya? Apakah penerapan hukum sentrifugal pada pesawat antariksanya? Apakah perubahan sistem pendidikan dan kehidupan manusia setelah sadar bahwa bumi tidak lagi sanggup untuk memberikan manusia cukup makanan, cukup air, dan cukup kedamaian untuk menjalani hidup tanpa rasa khawatir? Apakah simply karena itu karya the mighty Christopher Nolan?

There are so much to take from a mere 90-120 minutes of a movie and 300 pages of a book, yes? Bahkan sebuah lukisan tentang kiamat (“The Four Horsemen of the Apocalypse” karya Albrecht Dürer atau “The Last Judgement” karya Stefan Lochner) dapat dimaknai berbeda–bisa menjadi peringatan, penggambaran, atau rekaman untuk disimpan.

As for the 3 movies I have stated above, gue bisa bilang bahwa gue suka semua bagian cerita Hunger Games, The Flu, dan Interstellar. Even the death and destruction means something to me, dan menurut gue memang perlu ada. Karena di dunia penulisan fiksi pun gue mengenal yang namanya teknik memancing emosi, dan salah satu cara paling efektif adalah menyinggung hal paling dasar yang pasti dialami setiap manusia: mati. Because then we could explore the loneliness, the guilt, the pain, the regret. We dive deep to find a hole in your heart and mind, so we could add wisdom into it. Yes, I personally believe that we, writers, are jerk like that 😛

Semisal kisah itu tidak dibungkus menjadi sebuah cerita yang lengkap dengan drama, dilema dan pertanda, gue cuma melihat penggambaran sekumpulan orang yang gue gak tahu siapa, gue gak tahu kapan, gue gak tahu dimana, tiba-tiba mati dan saling bunuh, atau tiba2 ketiban2 batu dari langit, tiba2 buminya berdebu terus mereka naik pesawat keluar dari bumi, gak ada penjelasan, gak ada tokoh utama, apa gue bakal sesuka itu? Kemungkinan besar sih enggak. Gue bahkan suka marah2 sendiri aja gitu kalau ada orang sebar2 foto jenazah, gue juga paling males nonton film2 gory ala Final Destination atau Saw. Jadi gue bisa bilang dengan jelas gue gak bakal suka.

A Form of Introspection

Film/buku/karya apocalypse itu, sama kayak karya2 lainnya. Mereka punya babak. Beberapa di antaranya punya pola (harus ada manusia yang bertahan, harus ada sesuatu yang bisa relate dengan kondisi saat ini). Dan sebagian besar dibuat untuk menarik penonton dengan cara menyelipkan harapan, persahabatan, percintaan, bahkan penjelasan saintifik. Meskipun, mungkin di luar sana beneran ada orang yang mungkin nonton film2 apocalypse for the sake of seeing a mass destruction, gue merasa sebagian besar orang yang melihat film apocalypse itu ya karena pesan moral, pengetahuan, dan inspirasi di dalamnya, atau mungkin realita yang sudah lama mereka simpan dalam hati dan menunggu disuarakan aja.

Kesukaan seseorang akan tema apocalypse menurut gue gak menyatakan posisi mereka terhadap kiamat2 kecil yang benar2 pernah dan sedang terjadi di bumi. Itu hal yang berbeda. Kalaupun ada yang bisa ditarik dari hubungan kesukaan seseorang akan tema apocalypse dan kondisi generasi kita saat ini, itu terjadi sama seperti asal mula pop culture lainnya, seperti kegemaran orang akan karya2 Shakespeare di abad ke-15, seperti munculnya musik2 yang bermakna persamaan hak di tahun 1960-an.

Dunia kita saat ini sedang mengintip dari lubang kunci, melihat seluas apa galaksi, dan sejauh mana kita bisa melihat. Dunia kita saat ini sedang dipusingkan oleh es kutub yang mencair akibat pemanasan global. Itulah yang dibicarakan di media, di berita, dan di forum2, dan itulah yang menginspirasi industri kreatif untuk ikut berpartisipasi, sebagai bentuk lain dari sebuah diskusi.

As simple as that. I believe that human being are as kind as we are thousand years ago, and at the same time, we are as mean as we are thousand years ago, and we are as ignorant as we are thousand years ago. We are both nurturers and predators. We are both beauty and destruction. And similar to our ancestors, we need to escape from our daily life once in a while. It’s in our nature. Hanya karena saat ini pop culture kita banyak soal kiamat dan itu cara kita menginspirasi dan menghibur diri bukan berarti kita lebih bijaksana atau lebih kejam, atau lebih peduli, atau lebih cuek. Nothing special about that.

Kalau gue pribadi, alasan gue suka nonton dan membayangkan my own version of apocalypse (oh, I do fantasize about apocalypse, you can see it here and here–maaf ya pemula :P), mainly karena seperti yang gue bilang di atas, gue bosan. Gue bosan sama social norms, gue bosan sama benteng2 emosi yang secara sadar maupun gak sadar dibangun oleh gue dan orang2 di sekitar gue, gue bosan sama keinginan gue untuk keluar dari comfort zone, gue bosan sama identitas gue sekarang (bukan berarti gak suka ya) dan kadang gue pengen mulai clean slate aja kayak Glen Rhee di The Walking Dead, si pengantar pizza yang jadi keren banget di tengah2 serangan zombie.

Menurut gue, manusia cenderung lebih jujur, lebih unguarded, lebih fragile dan di saat yang sama lebih kuat, di tengah chaos. Dan gue ingin lebih banyak melihat dan merasakan itu. Tapi gue gak tiap hari berada di tengah chaos (dan kemungkinan besar gue juga gakmau), gue gak tiap hari bisa stimulasi adrenalin sama2 orang lain dengan naik gunung atau terjun payung, gue gak tiap hari bisa jujur, gak tiap hari siap untuk posisi dimana gue doang yang jujur, pihak yang sananya sih masih guarded, atau mungkin jujur tapi ya sepet aja rasanya di gue, gue gak tiap hari bisa berani, bisa melakukan hal2 yang gak biasa gue lakukan.

Jadi kalau gue bisa melihat dan merasakan itu lewat film, lewat tulisan, lewat fantasi gue yang membayangkan gimana ya jadinya kalau dunia mati total terus jalan sudirman kosong dan bersalju, apa yang gue lakukan saat gue harus nembak orang pake pistol: would I do it or not, kalau ada zombie gue mau lari kemana, siapa yang gue pikirkan pertama kali saat gue sekarat dan apa yang gue mau bilang ke orang itu? Would I sacrifice myself for humanity?

Kenapa enggak? Gak ada damage buat gue. Cuma kisah yang menginspirasi. Cuma kesempatan untuk merasa tidak sendiri karena seseorang di luar sana menceritakan sesuatu yang sudah lama kita simpan dalam hati. Dan cuma momen untuk introspeksi, jadi besok2 gue lebih mikir aja kalo gue buang sampah sembarangan, gue mikir aja kalo mau pake produk2 yang merusak ozon, gue nyadar aja buat cuci tangan sebelum makan, gue mungkin mau mulai belajar cara mengolah air bersih secara manual, dan gue mungkin mau lebih jujur tentang perasaan gue sama seseorang *kedip*

AMA SAPEEE, TOKOHNYA AJA BELUM ADAAA HAHAHAHAAHA
*giliran lebih jujur isinya malu2in aja*

Tapi yah, kalau bisa sih semua itu gak perlu nunggu sampai apocalypse dulu, ya.

Sampai ketemu di topik berikutnya, guys. Wiii tinggal 2 topik lagi 😀

*balik nonton dan baca*

Mandhut.

#Mandhut10DeepTopicsBloggingChallenge2017

Advertisements

One thought on “Topic 8: Trending Apocalypse

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s