Topic #9 Philosophy, IMO

102017

Does the study of philosophy ever lead to answers or simply more questions?

(source: Conversation Starters World: 202 Philosophical Questions)

Gue suka bertanya, dan gue suka berpikir, but I don’t know if I could identify myself as a philosopher, moreover someone who knows a lot about the study of philosophy (I am not that person, for real).

Yang gue tahu dengan pasti adalah, gue sebenernya gak terlalu suka sama small talks. Small talks cuma bikin gue merasa menyia2kan waktu yang sedianya bisa dihabiskan untuk membentuk hubungan yang lebih bermakna, dan seperti yang sudah gue bilang berkali2, social norms bored me to death. Gue rasa itu alasan kenapa gue jadi punya banyak pertanyaan dan banyak mikir (or it could be the other way around, gue gak suka small talks karena gue lebih suka mikir), kenapa gue jadi banyak ngayal, play my own version of conversation in my mind, dan kenapa gue selalu menunggu2 saat di mana gue bisa ngobrol soal apapun selain mundane things dengan manusia lain. To escape from daily life, escape from the boring social norms, gue menunggu2 interaksi yang lebih dari sekadar: ‘apa kabar?’, ‘gimana kerjaan?’, dan ‘lagi sibuk apa sekarang?’.

So yes, kalau one day ada yang menghampiri gue (tapi bukan stranger, ya) dan nanya: “what part of your religion doubts you the most?”, atau “what if your significant other is a serial murderer?”, or “do you know about blablabla theory?” or “would you kill me if I ask you to do it?”, chances are, gue akan lebih semangat ngobrolnya. Seriously, I live for that kind of conversation.

Nah makanya dengan segala sejarah gue soal filosofi, gue gaktau nih gue pantes apa gak menilai apakah ilmu filosofi itu lebih banyak menimbulkan jawaban atau menumbuhkan pertanyaan baru. Tapi karena ini blog gue jadi sudahlah. Gue jawab aja ya.

*panjang terus ujungnya gitu doang*

The Thing About Philosophy (IMO)

Gue perlu jelaskan bahwa untuk yang posting ini gue akan bersumber dari diri gue sendiri aja. This time, I googled nothing. Gue pengen tahu juga sejauh mana gue bisa memahami apa itu study of philosophy setelah gue mencoba sendiri untuk 9 posting belakangan ini. Jadi kalau ada yang terasa terlalu mentah mohon dimaklumi :D.

Jadi, menurut pengalaman gue dari hasil jawab2in pertanyaan filosofi di blog ini kemaren2, filosofi itu mencari jawaban dari sebuah pertanyaan yang kemungkinan besar menimbulkan pertanyaan baru.

Gak ada jawaban yang benar-benar merupakan jawaban, tapi pertanyaan adalah mutlak pertanyaan.

Berbeda dari daily life (terutama dunia kerja) yang seringkali answer and result-oriented. Buat gue, pertanyaan baru dalam filosofi gak berarti buruk sih. Karena buat gue, ya memang begitu asiknya jawabin pertanyaan2 filosofis. There’s always a new question to think about, to talk about, to discuss about, to dive into, to play with, to apply the logic and knowledge in it, to train your wisdom, to test your moral, to find the common ground, sometimes to strive for the neutral consideration, sometimes a win-win solution, to connect the dots. Dan dalam prosesnya ya lo menemukan banyak hal aja along the way. Teori baru, cara pandang baru, pengetahuan baru. You could be a bitter cynic or you could be a hopeless romantic. You could strive for harmony, or the truth. You could be a novice, or an expert.

Anything is possible in the face of philosophy (IMO).

*Ini IMO-nya gue sertakan terus takut didemo karena berasa soteu =))

Karena gue tertarik untuk hal2 yang berhubungan sama psikologi, biologi, dan linguistik, ya seperti yang bisa dilihat, pertanyaan2 yang gue cari jawabannya gak jauh dari sana. Eksplorasi dan teori2 gue juga banyak berdasar dari sana. Ya karena itu yang gue tahu, itu yang paling sesuai sama gue. Tapi lantas apakah pendapat gue yang paling bener? Gak juga. Apakah jawaban si fulan lebih bener? Ih ya enggak juga. Apakah pertanyaan2 lanjutannya pertanda bahwa eksplorasi kurang sukses? Kurang mendalam? Menyesatkan? Gue melihatnya sebagai tanda bahwa proses berpikir berjalan dengan baik, gak berhenti di satu tempat dan puas gitu aja.

Itu mengapa gue bilang, in the world of philosophy (IMO), an answer is not an actual answer, but a question is an absolute question. A question always lies within an answer, but the existence of an answer within a question is trivial.

Life After Philosophy

Tapi, menurut gue, sama seperti banyak hal dalam hidup, gak ada yang baik jika dilakukan berlebihan.

Termasuk mikir.

Gue tipe orang yang jauh lebih stress saat gue nganggur ketimbang gue sibuk. Kenapa? Karena saat gue nganggur, pikiran gue melayang kemana2. I have a wandering mind, seriously. Butuh diiket kuat2 biar bisa fokus di satu tempat. Gue bisa nih dengerin orang ngomong terus tiba2 ilang aja gitu mikirin kenapa kacang hijau yang berkecambah dinamain toge, dan kenapa gue gak pernah denger ada yang makanin kecambah kacang tanah, dan apakah dulu ada yang nyoba makan kecambah kelapa, atau jangan2 udah ada yang makan tunas kelapa? *don’t judge, gue belum nemu jawabannya, dan gak, ini bukan pertanyaan sia2, ini soal linguistik, budaya, dan psikologi*, terus gue sempet lost beberapa detik, sadar kalau gue lost, terus maki2 diri sendiri dalam hati karena sekarang gue mesti menggunakan kemampuan deduksi untuk tahu itu orang ngomongnya udah ampe mana.

Itu katanya termasuk indikasi INFJ sih, dan mungkin gue emang INFJ (selalu ada kemungkinan gue cuma pengen jadi unik aja), tapi yah, begitulah. Emang nyebelin kadang2 punya sifat short-term focus kayak gue ini.

Gue gak pernah bosen sama pikiran gue sendiri. I build my own conversation, my own story, my own version of reality, inside my mind. I dissect my theories, searching through my memories. I could spend hours in it. Dari kecil juga udah gitu. Tapi contoh toge yang di atas ya contoh yang dodol2 aja. Most of the times, my mind do scares me, for it’s able to wander to the most cynic and depressing part of my brain. Makanya gue gak mau spending time lama2 di sana, apalagi kalau gak jelas tujuannya.

Toge itu jelas ya tujuannya. Jelas banget.

Ini gara2 niat bikin blog challenge yang beda dari sebelumnya aja gue jadi tau sih kalau philosophy could work as a (surprisingly) healthy distraction, and I would love to do it again next time, tapi sebelum ini, kalau gue gak sibuk gue akan senewen karena banyak mikir soal hal2 yang gue tau gak sebaiknya dipikirin. Dan gue akan masuk ke mode mellow.

Jujur deh, blogging challenge yang kali ini agak bikin tergila2 sih. Gue selalu mikir next question yang mau dijawab yang mana ya. Dan nulisnya panjang2 banget uda kayak orang nulis novel.

Tapi tetep ya, mikirin apapun itu, mikirin masalah pribadi atau dunia dan seluruh isinya, gak baik juga kalau cuma mikir.

Harus diimbangi sama tindakan. Harus diimbangin sama keperluan. Harus diimbangin sama kenyataan. Kadang2 ada beberapa hal yang memang sebaiknya dijalanin aja gak usah pake dipikirin. Apalagi kalau mikir cuma bikin lo jalan di tempat, bikin tertutup sama pengalaman baru dan jadinya menilai sesuatu dari sudut pandang yang itu2 aja.

Sesekali butuh juga keluar dari pikiran. Butuh juga meresapi lingkungan as it is. Be there. Be involved. Be open. Perlu ngerasain hepi dan sakit. Perlu ngerasain seneng dan susah. Butuh jadi pendengar, dan butuh didengar. Perlu punya sistem yang bisa ngasitau lo saat lo udah terlalu asik menilai, tanpa bener2 jadi pelaku.

Jadi semuanya imbang. Jadi selalu ada teori baru untuk memperkaya kegiatan lo mencari jawaban. Bisa berdasar bukti, bukan prediksi. Ya gak sih?

Jadi gitu deh jawaban dan pesan kesan gue soal filosofi. Akan gue hentikan di sini supaya gue gak berkesan lebih soteu. Sekian dan terima kasih (sayang).

=)) à tout à l’heure!

btw, jadi siapa yang tau kenapa toge dinamain toge?

Mandhut.

#Mandhut10DeepTopicsBloggingChallenge2017

Advertisements

One thought on “Topic #9 Philosophy, IMO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s