Topic #10: This One Life.

102017

What are you going to do with the one life you have?

(source: Conversation Starters World: 202 Philosophical Questions)

Topik terakhir dari blogging challenge gue kali ini dan terus terang topik paling sulit yang mesti gue jawab :D.

I have to be honest that most of the time, I don’t even know why I’m here. I feel like an alien almost all the time, never quite fit anywhere. I feel like, this is not my place, never quite a home to me. I’m constantly missing for a place that I don’t know where, for a person that I don’t know who, longing for a past conversation and a past connection that I can’t even remember with whom and what about.

Kalau tawaran Elon Musk untuk pergi ke Mars itu gratis dan gak ada orang yang mau karena takut *sayangnya yang mau banyak juga selain gue, meh*, dan kebetulan gue gak ada keluarga atau keluarga gue gak keberatan. Gue bakal jadi volunteer. I just don’t care. I probably feel more alive in the space.

Gue merasa, gue terlalu sensitif dan terlalu banyak mikir untuk dunia yang kayak gini. Itu mengapa orang lain bisa santai aja menjalani hidup, bisa lari ngejar mimpi, bisa merasakan banyak hal, tapi gue ya seringkali buat ngelangkah aja ragu, udah sibuk ngurusin babak belur, karena semua yang dialamin kebanyakan jadinya luka yang gak gampang sembuhnya.

I am too scared and too weak to have a normal life, I think. I am positive that in terms of life milestones and achievements, I will always be two or three steps behind. I already waste almost a decade of my life due to my anxiety problem. I have this huge emotional baggage that I need to carry with me all the time.

So yes, I feel like an outcast. But sometimes, I do feel belong. It’s when I write,

…but it is actually more than that.

Gue mulai ngeblog iseng2 di friendster (iya, jamannya FS) sekitar tahun 2006, pas gue kuliah S1 tingkat 2. Itu adalah kali pertama dimana gue sadar bahwa tulisan gue bisa bikin orang ketawa dan gue suka aja. Waktu itu gue cukup bangga untuk dibilang humoris, jadi gue selalu ngelucu kemana pun gue pergi. That way, gue bisa deket sama banyak orang, gue bisa dengan mudah masuk ke banyak situasi, and I need that for my ego–at the time.

Waktu berjalan, tulisan gue pun akhirnya bukan yang lucu2 aja, yang galau2 alay juga *yang mana sudah dibumihanguskan, hahaha*, waktu itu gue juga baru sadar bahwa tulisan gue gak cuma bisa bikin ketawa, bisa juga bikin simpati, tapi ada kalanya juga, bisa menginspirasi dan ngobatin luka orang lain.

Gue rasa itu sih yang buat gue untuk terus lanjut ngeblog dan akhirnya mencoba menulis novel fiksi dan merambah ke creative writing lainnya, sampai hari ini. Seperti gue tersentuh, terhibur, dan merasa dimengerti oleh banyak tulisan2 penulis terdahulu yang bahkan orangnya aja mungkin udah ga ada di sini, gue berharap tulisan gue juga one day akan melakukan hal yang sama, to cure somebody’s broken part, to ease somebody’s pain, to befriend a lonely soul, to make somebody laughs, and continue to do so, even when I’m not around anymore.

Sekitar tahun 2012, gue sempet ngerasa bener2 hopeless dengan sifat gue yang gampang banget sakit hati, kecewa, terus trauma, terus mellow, terus takut. Kayak, buat apa sih sakit2 gini dirasain dan disimpen lama2? Dikoreeek terus tiap mau tidur, gak guna juga. Why can’t I just move along like everyone else? Kenapa semua2nya yang mampir ke kepala dianalisa? Kenapa mood orang lain penting buat gue? Kenapa micro expression orang bisa dengan gampang gue baca? Kenapa gue gak cukup aja terima apa yang mereka omongin supaya hidup gue jadi damai? Why I read between the lines? Why I trust my instinct so much? Kenapa setiap kejadian dibuat jadi studi kasus yang gue buat bercabang kemungkinan2 terburuknya? Why?

De el el de es be.

Tapi terus di tahun yang sama, gue baca novel Memori by Windry Ramadhina *ini kayak kesekian puluh kali gue nyebut novel ini*. Gue tersentuh, dan akhirnya ingin juga menulis novel supaya gue bisa menyentuh orang lain lewat fiksi. Jadi gue belajar, terus saat proses menulis, gue sadar bahwa sifat hyper-sensitive gue akhirnya berguna.

Karena gue merasakan banyak hal dengan kadar berlipat2 ekstra, gue bisa tone down atau set maksimal sesuai keperluan dan gue bisa mengungkapkan itu lewat kata2.

Jadi gue mikir, yaudah sih ya, kalau emang hidupnya nasibnya buat jadi medium, jadi vessel untuk bisa ngerasain dan belajar banyak hal, dan mengolah itu buat jadi cerita yang menggerakkan emosi, to turn a tragedy into a motivation, and turn a happy moment into a tragedy that leads to a moment of introspection, to fill one’s mind with fantasy, and bring back a dreamer into the land of reality. I don’t mind. I don’t mind at all.

Malah jadinya bikin semangat, sih. Kadang gue getol nyoba hal baru supaya one day bisa gue tulis, entah jadi bahan blogging atau fiksi, atau bahkan cuma buat cerita2 aja biar ada yang ketawa.

Jadi yah, karena gak ada yang bisa menebak masa depan, gue cuma bisa bilang, untuk saat ini (dan kebetulan sudah gue jalani selama 5 tahun belakangan) gue selalu mencoba menghubungkan kejadian2 di hidup gue dengan 1 hal sih:

Writing with somebody else in mind.

Dan tentunya (untungnya), gue pelan2 mengumpulkan beberapa hal yang gue pikir gue bisa lakukan dan fokus buat ngisi hidup yang gue jalani sekarang. Tapi gaung dan gemanya di hati belum sekuat soal tulis-menulis ini, jadi biarlah untuk yang lain gue simpan sendiri dulu. I’ll tell you when I’m ready 😉

Btw, dengan adanya topik ke-10 ini blogging challengenya selesai! Sampai jumpa di blogging challenge dan posting2 berikutnya, semoga sedikit banyak tulisannya (yang panjang2 itu) ada yang berguna, ya. Buat gue sih terbukti berguna, ide nulis gue jadi agak lancar lagi kayak abis dikasih oli :P.

 

Love,

Mandhut.

#Mandhut10DeepTopicsBloggingChallenge2017

Advertisements

One thought on “Topic #10: This One Life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s