Songs That Explain My Life

Hey halo,

Minggu lalu sempet ada obrolan sama temen tentang lagu apa yang lirik dan nadanya paling menggambarkan hidup kita masing2. Gue mikir mikir mikir dan akhirnya gue nemu beberapa, biarlah gue simpen di blog karena blog ini memang diciptakan dengan salah satu tujuannya adalah:

Memuaskan kebutuhan gue untuk menjadi self-centered.

MUAHAHAHA.

Monggo yang mau bikin best song-nya juga, ditrackback aja, ntar akik baca2.

Best song that explained me:

Tapi yang di atas versi covernya Panic! at The Disco, yah. Sejak pertama kali liat beberapa tahun yang lalu, I can’t seem to move on from it.

Banyak alasan kenapa gue suka banget sama Bohemian Rhapsody-nya Queen, dan kenapa gue merasa lagu ini cukup menggambarkan personality dan mood gue secara hampir akurat.

Pertama liriknya. Serious, depressive, contemplative, tapi silly. Mercury menyelipkan banyak hal tentang kehidupan pribadinya di lagu ini. Semua kata, meskipun kayaknya gak berhubungan satu dan yang lainnya, punya makna tersendiri buat yang nyanyi. Beberapa gue bisa relate, bahkan jadi mantra sehari2. I love it too much.

Kedua, nadanya. Cepat, lambat, keras, lembut, kadang serius, kadang berasa kayak sirkus. Kalau soal selera musik gue termasuk yang rangenya lumayan ekstrim sih. Kadang gue pengen denger lagu2 klasik, oldies, blues, jazz, yang mendayu-dayu dan kayaknya nyanyinya sambil nginget trauma masa lalu. Tapi ada kalanya juga gue pengen denger muse, fall out boy, my chemical romance, atau linkin park. Kadang lagu house, kadang Pengantar Minum Racun (I kid you not). Kadang guenya cuma pengen diberisikin aja. Ada kalanya juga gue denger lagu karena liriknya, tapi ada juga kalanya gue pengen denger lagu yang gue gak tau arti liriknya apa, karena kadang gue gamau mikir aja dan gamau orang tau gue lagi nyanyiin apa (that being explained, gue baru akan rada insecure untuk dengerin lagu korea di korea), kadang gue cuma mau nyanyi2 meracau for the sake of expressing myself (itu menjelaskan kenapa gue menyimpan lagu india, korea, perancis, mandarin, dan jepang di spotify gue).

Di luar selera musik, ya gue anaknya emang selalu kontradiktif aja.

And then the title. Jadi beberapa tahun yang lalu saat gue mulai mengenal Pinterest, gue ngepin2 dekor rumah favorit, ngepin quote, desain, korden, pakaian, you name it. And guess what, rata2 yang gue pilih itu bergaya bohemian. Di luar itu, penjelasan tentang apa itu Bohemian pun sedikit banyak menjelaskan pribadi gue saat umur2 kuliah. Sekarang udah ga segitunya, tapi kalo memang situasi memperbolehkan, I could summon that part of me in a heartbeat.

My Love Life:

I kinda love-hate this song. This song explained my love life, but actually I don’t want it to be explained that way, but nothing could best explained my self-battle better than this song.

So that’s that.

SKIP! NEXT!

My sense of humor:

Sepupu gue wimbong suatu hari ngasi gue link video ini sambil bilang: “lo pasti suka.”

Ini adalah rekaman pentas Pengantar Minum Racun di sebuah beerhouse di Jakarta. Gue pernah baca entah di mana (kayaknya di kolom deskripsi link itu juga, tapi uda diganti), yang sedikit banyak menjelaskan bahwa, pengunjung beerhouse itu biasanya manly, tough, sophisticated in a grunge way? Tapi begitu denger PMR, pengunjung beerhouse itu mendadak tahu liriknya, ikut nyanyi, dan joget kayak dari awal ngefansnya ya ama PMR aja.

Dan Jhonny Iskandar dengan pedenya main musik ala2 harmonika pake sisir plastik. I can’t even. I mean, to possess that level of confidence… he’s awesome.

Kalau ditanya, apa gue suka lagunya? Ya… gue inget sih, karena nadanya unik. Liriknya pun memorable. Tapi kalo disuru nontonin lagu dan penyanyi yang sama di video lain, let’s say, video klipnya beneran, gue rasa gue gak akan sesuka itu. Gue secara spesifik suka video ini karena ngeliat antusiasme penonton dan penyanyinya, yang jarang banget bisa diulang dua kali di gig yang lain.

Terus gue sempet mikir: Semisal ada yang first date, terus ceweknya dibawa ke acara kayak gini, wouldn’t that be the worst date ever?

Terus gue nyadar bahwa, it’s probably the best date for me. Gue bisa ketawa sampe nangis di acara, sampe pulang, sebelon tidur, ampe besok2nya juga. Sesuatu yang bisa diceritain sampe ke anak cicit. Yes?

And that’s basically how my sense of humor works.

My work ethic.

I am no leader. Kalau boleh milih, I don’t want to lead anyone or anything. I rather work alone (cukup menjelaskan mengapa gue pengen jadi novelis dan kerja jadi freelance illustrator untuk waktu yang lama), or I rather work as a consultant. Gue lebih suka mikir solusi untuk orang lain, mencari cara terbaik untuk support orang lain, gue merasa lebih puas begitu. Gue suka ada di posisi di mana gak ada yang ketergantungan sama gue, menunggu langkah gue, menunggu perintah dari gue (a big no no), dan gue bisa fokus mendedikasikan tenaga dan pikiran gue untuk satu tujuan.

I can’t delegate. Gue akan terlalu ga enakan dan mikirin apa kata2 gue menyinggung atau orang itu lagi sibuk apa gak. Dan gue gak bisa bayangin kalo orang itu gak lakuin tugasnya, berarti gue harus negor? Kalau gak negor means gue merusak sistem, gue tegor takutnya kelewatan ngomongnya. Kalau bisa, gue kerjain sendiri aja deh.

Anyway, kalo gue berada di posisi dimana kerjaan gue support orang lain, penasihat atau consultant, mungkin. Gue take pride setiap kali support gue emang beneran mempermudah hidup dan kerjaan orang tersebut. I am a genie. I need a master for me to feel belong.

Dan itulah 4 lagu yang sedikit banyak menggambarkan saya dan hidup saya.

Met weekend,

Mandhut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s