Review Black Mirror

Been a long time since I wrote a movie/tv series review, jadi kali ini review2 dikit boleh, ya.

Seperti yang udah disebutin di postingan sebelumnya, saya lagi bosen banget sama beberapa hobi dan interest yang udah beberapa tahun jadi bahan obsesi. Jadilah saya cari bahan obsesi lain. Topik lain. Fandom lain. Kegilaan lain.

Akhirnya dari hasil nginget2 rekomendasi dan ubek2 sana-sini, saya memutuskan untuk mencoba beberapa tv series. Salah satu serial yang akhirnya habis saya tonton dan jadi favorit terbaru adalah Black Mirror.

Black Mirror Book Cover via Random House Header

Like, I really really like this series. Terhitung 2017, udah ada 4 season, tiap season itu maksimal 6 episode, dan tiap episode nontonnya dalem banget, dipikirin berhari-hari ampe kebawa-bawa mimpi.

Kalau dibilang Black Mirror sempurna banget, ya gak juga. Ada beberapa episode yang menurut gue bercelah aja (karena gue kepikiran solusi lainnya) tapi beberapa cukup bikin gue kepikiran sampe sekarang. Dan yang bercelah pun menurut gue masih bisa dibilang bagus karena memberikan ide lain, pandangan lain, sisi lain. Bonus lagi, episode2nya itu standalone macam Doraemon *you know what I mean*, jadi bisa lompat2 sesuai keinginan aja :D.

The Story

Jadi, Black Mirror itu adalah serial yang bersetting dunia masa depan. Kayaknya sih gak terlalu jauh, ya, karena manusianya juga masih mirip2 banget dengan sosok yang kita kenali sekarang (berdasar pada teori evolusi manusia dari artikel yang pernah gue baca entah dimana tapi mirip2 ini), jadi mungkin sekitar 30-40 tahun ke depan. Premisnya diawali dari perkembangan teknologi yang semakin maju, yang kebanyakan merupakan perkembangan lanjut/lebih modern dari teknologi yang sudah kita miliki saat ini (2015-2018). Think about teknologi yang memungkinkan lo merekam memori menggunakan chip di otak instead of pake kamera, mengkopi kesadaran instead of menginterpretasi kesadaran, eksploitasi lanjut media sosial, dll dsb.

Nah, yang digarisbawahi dari serial Black Mirror adalah sebab-akibat perkembangan teknologi tersebut dengan masyarakat dan hubungan inter dan antar personal manusia. Karena saat teknologi sudah memungkinkan kita untuk, let’s say, merekam semua yang kita lihat dalam hidup menggunakan chip di otak, detail, bisa di-share, bisa direwind dan di-delete, kira-kira efeknya pada kehidupan sosial gimana? Efeknya pada pasangan-pasangan muda yang memang menggunakan teknologi tersebut gimana? Apa yang kira-kira mereka bicarakan sebelum tidur? Apa yang mereka pertengkarkan? Apa yang menjadi dilema? Kalau ada yang memilih untuk gak mau pakai teknologi tersebut gimana?

Kangen emang tinggal rewind. Mau sharing tinggal rewind. Patah hati tinggal delete, tapi tentu saja ada masalah lain yang muncul kan? (Black Mirror S01e03 “The Entire History of You”)

grant_channel4_blackmirror103_6403
“The Entire History of You”, Black Mirror S01e03

Seperti yang sudah gue bilang, topik2 bahasan Black Mirror ga selalu berawal dari perkembangan teknologi dan efeknya, ada juga episode yang membahas teknologi2 yang berkembang justru dari perilaku masyarakat kita. Salah satu episode Black Mirror ada yang mencoba menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat saat media sosial itu udah bukan sekadar media ekspresi, tapi udah dianggap nilai tukar selain uang. Gimana kalau lo baru bisa beli rumah kalau lo udah punya duit sekian dan rating sosmed sekian? Gak termasuk itu aja, gimana kalau itu berpengaruh juga pada prioritas pelayanan di maskapai penerbangan, penyewaan mobil, bahkan rumah sakit?

Yang mana sebenernya, seperti yang kita tahu, sekarang ini pun jumlah followers dan rating itu memang sudah menjadi nilai tukar di beberapa bagian kehidupan, meskipun yang eksplisit baru sedikit (yang implisit udah banyak) jadi yah…

Gimana kalau semua kegilaan kita akan media sosial ini bener2 berlanjut jadi kayak gitu? (Black Mirror S03e01 “Nosedive”)

Black-Mirror-Season-3
“Nosedive”, Black Mirror S03e01

The Mirror Part in It (IMO)

Black Mirror recommended banget sih, terutama buat yang suka science fiction sama cerita2 bertema dark dan cynic. Rasa abis nonton Black Mirror itu bisa jadi empty, kesel, berasa sia-sia, kadang takut, kadang berasa disindir, tapi yang paling bikin gue tergila-gila adalah:

Kadang, perasaan yang muncul abis nonton itu sesuatu yang gak lo sangka2. Tadinya lo pikir lo bakal bereaksi A, tapi ternyata lo mengambil posisi dan pandangan berbeda dari yang lo duga. Kadang kayaknya you will absolutely do the right thing, yang sesuai moral, kadang ya ternyata enggak, aja. But then again, moral itu bener dari sudut pandang siapa?

Gitu deh lurus-belok-mentok-mundur ampe pusing terus nyari indomie karena laper *ya gue doang kali*

Kayak cermin, episode yang paling buat lo kepikiran, atau yang buat lo antipati, bisa secara langsung dan gak langsung memberitahu sisi diri lo yang mungkin lo gak tahu. Mungkin ada yang ga nyaman buat itu, tapi kalau gue, gue demen. :))

Episode Black Mirror yang menghantui gue sampai ke mimpi adalah “Arkangel”. Yang buat gue kesel setengah mati adalah “White Bear”. Yang buat gue takut adalah “Nosedive”. Yang buat gue berkali-kali bertanya soal ruh adalah “San Junipero”. Yang buat hati gue bertanya soal eksistensi manusia sama seperti gue abis nonton Interstellar adalah “Hang the DJ”

Monster lo yang mana?

 

*makan indomie lagi*

Mandhut.

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Review Black Mirror

  1. Mandaaa. Haiii.. Dilla nih masih inget diriku nggak? *malah nanya ini dulu*

    Aku lagi nonton Black Mirror jugaa. Tapi lagi rehat karena capekk. Hahaha yap efek nonton Black Mirror di aku adalahh lelahhh.. aku baru nonton sampe Season 3.

    Nosedive is the most favorite (or creepiest) one. Berasa tertampar tapi juga ngangguk2 tapi juga merinding. Campur aduk hehehehe.. Ooh! Satu lagi yg bikin kepikiran terus: Crocodile! Kaget dan amazed sendiri sm jln cerita dan endingnyaa..

    Okee ini udh kepanjangannn. Hehehe..

    1. hei Dilll inget dong Farah Dilla kan 😀

      iya efeknya emang bisa bikin capek sih, aku juga nyicil2 wkwkwk

      Crocodile emang sedih sih, udah nebak plot twistnya kemana tapi tetep aja pas kejadian sedih banget 😦

      Makasih ya Dilla udah mampir dan komen 😀

  2. Mbak Manda….aku pun suka banget sama Black Mirror. dan emang ga bisa buat binge watching dong filmnya. Kayak abis selesai 1 episode kudu rehat dan dibawa tidur dulu. Kalo udah netral baru nonton lagi. Episode yg bikin creepy versi aku adalah Nosedive, karena itu udah berasa bangetkan sekarang-sekarang.

    1. paling keselnya Nosedive tuh orang bisa aja gitu ujug2 seenaknya ngasi rating terus nurunin kualitas hidup kita sampe ke fasilitas rumah, transportasi ama hak mencari nafkah. Ih bisa gila. Mending bertanam kentang aja kalo kayak gitu. ^^;
      Sori nih gak tahan curcol wkwkwkwk. makasih udah mampir dan komen Iraaa 😀

      1. iya..aku pun mending tinggal di desa dan ga usah pake teknologi. Balik ke jaman dulu, nanem padi dan berkebun ajah.
        bener-bener kalo nonton black mirror tuh teknologi beneran pisau bermata dua banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s