Review The End of the F***ing World

end-of-the-world

Gue lemah untuk drama/film bertema coming-of-age, apalagi yang tokohnya quirky. Itulah mengapa sampai sekarang pun gue masih cinta mati sama The Perks of Being a Wallflower-nya Stephen Chbosky, dan gue rasa itu juga mengapa gue lumayan suka sama 13 Reasons Why-nya Netflix yang udah niat direview tapi masih mentok jadi draft mulu berbulan2 =)), ntar ya cari waktu buat digodog lagi and then mungkin beneran gue post :P.

Anyway, kali ini gue mau bahas serial remaja Netflix The End of the F***ing World. Gue pribadi tertarik nonton karena judul dan karakternya: Two misfits against the world. I’m so sold.

Ratingnya dari gue… 8 dari 10 kali, ya. Temanya sedikit dark dan sinis, latarnya dunia remaja british, komedinya lumayan lucu dan kerasa real. Yang bikin gue ngurangin nilai adalah endingnya yang agak kurang sreg di hati, sisanya oke2 aja.

Cerita The End of the F***ing World berawal dari sepasang remaja SMA yang kabur dari rumah dan keluarga mereka:

the-end-of-the-fucking-world-netflix-review-00

Alyssa, 17 tahun, merasa terasing di keluarga dikarenakan ibu kandungnya yang sudah memiliki keluarga baru: seorang suami sukses dan dua bayi kembar yang lucu. Alyssa menjadi kurang nyaman, ditambah dengan sikap ayah tiri Alyssa yang kurang ajar, Alyssa pun membulatkan tekad untuk meminta James mengantarnya mencari ayah kandungnya.

James, 17 tahun, memiliki kecenderungan untuk menjadi psikopat. Sebenarnya dia tak memiliki masalah khusus dengan ayahnya, tapi James setuju untuk menemani Alyssa kabur dikarenakan James berniat untuk membunuh Alyssa di tengah perjalanan nanti.

The End of the F***ing World berfokus pada interaksi antara Alyssa dan James, konflik identitas internal kedua karakter tersebut, juga masalah-masalah yang mereka temui dan sebabkan sepanjang perjalanan. Mulai dari yang simpel kayak, oh I don’t know, *SPOILER* si James nyetir mobil yang dia copet dari bapaknya sampai nabrak pohon dan meledak? Sampai yang lebih parah dari itu. *END OF SPOILER*

Go figure apa yang lebih parah dari itu.

:))

—–

Gue kan kemarin sempet ya mau nulis novel remaja *tapi lagi2 mandeg di chapter 5 karena diriku writer’s block* terus tapi dari hasil survey2, ngumpul2in bahan di awal penulisan *karena gue sefreak itu soal preparation*, gue menemukan salah satu sumber yang ngasi 1 tips untuk menulis novel/cerita yang audiensnya remaja:

Jangan ada pesan moral.

Maksudnya kalau pun mau ngasih pesan moral, jangan tertulis di dalam kata-kata, baik itu berupa narasi ataupun dialog. Cukup kasih intronya, beritahu masalahnya, beritahu akibatnya, dan biarkan mereka menarik kesimpulan versi mereka sendiri. Be crazy, be unpredictable, be irresponsible, karena ya emang itu adalah umur2nya bertindak spontan, berbuat kesalahan, eksplorasi, dan membuat memori yang diingat sampai tua. Belajarnya sih baru entar, kalo udah rada gedean, terus mulai nginget2 masa lalu yang malu2in sebelum tidur, apalagi yang akibatnya masi kerasa ampe sekarang.

*pengalaman pribadi banget*

*liat lutut yang masih suka sakit gara2 mudanya main cikijo heboh banget*

(-_- harusnya gue main pok ame2 aja…)

Nah, berdasar tips menulis cerita remaja tersebut, gue bisa bilang bahwa seri The End of the F***ing World merupakan contoh yang SANGAT baik. Gue bilang baik karena kalau remaja nonton kemungkinan mereka bisa relate dan suka, sementara kalau orangtua atau guru yang nonton kemungkinan kebat-kebit.

the-end-of-the-fucking-world-trailer-e1508422083437
dor! kaget gak?

Both stupid and naive, also relatable yet extreme, The End of the F***ing World cukup mengacak-acak hati dan perasaan saya.

HUAHAHAHAHAHAHA *udah gede tua aja nonton film remaja masih baper*

Percayalah, James dan Alyssa itu manis. Manisnya manis banget. Gue mau ngomong tapi takut spoiler jadi gue cuma bisa bilang manis-manis aja (terima aja ga usa protes). Us against the world-nya kerasa banget. Me likey likey likey.

1231163
liat ini jadi pengen gambar James and Alyssa deh 😀

Oh extra note: soundtracknya bagus. Meskipun latarnya dunia jaman sekarang mereka banyak pakai lagu 70-an, yang mana bikin gue makin tergila2. Ini 3 favorit utama gue:

  1. Laughing on the Outside by Bernadette Carol
  2. At Seventeen by Janis Ian
  3. I’m Sorry by Brendan Lee

Kalo punya spotify, ada playlistnya kok di sini.

Hohoho, met nonton. Open for discussion, ya. Leave a comment and I’ll talk.

Happy Holiday!

Mandhut.

Advertisements

2 thoughts on “Review The End of the F***ing World

Leave a Reply to Ode to James and Alyssa – Racauan Manda Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s