Review The Handmaid’s Tale

Jadi beberapa bulan ini sebenernya gue lagi banyak banget ketemu serial dan film layar lebar yang setelahnya masuk ke list all time favorite gue. Entah mungkin bosen karena 3 tahun belakangan drama korea melulu makanya nonton serial Hollywood ama British jadi agak norak (tapi udah cicil2 nonton drakor lagi kok, aku cuma butuh break sebentar huahahaha), pokoknya hidup lagi bertabur film2 dengan script bagus, jadi tiap minggu ada aja listnya apa yang harus ditonton.

Salah satu serial yang bagus dan fresh-nya (menurut gue) setaraf Black Mirror *karena cinta gue untuk Black Mirror tak berujung–huu gombal* adalah The Handmaid’s Tale.

A18cL9L1vVL._RI_.jpg

 

Serius, lah. Baru 1 season dan gue udah kepincut.  Bikin plot itu ga gampang, jek. Apalagi plot yang mateng kayak The Handmaid’s Tale season 1. Gue uda sampe mikir bahwa kalau season2 berikutnya jelek gak apa2, season 1 aja udah cukup buat gue seneng, karena paling gak gue ada dan hidup, bisa nonton season 1.

*puja-puji lebay ini akan berlanjut sampe akhir posting, you’ve been warned ya :P*

The Tale of Infertility

Jadi, The Handmaid’s Tale yang dirilis di Hulu Original (saingan Netflix?) ini bertema dystopian. Biasanya dystopian barengannya sama sci-fi ya, secara serial dystopian lagi banyak dan yang udah beken duluan itu Hunger Games sama Divergent, Westworld, Black Mirror, Alternate Carbon, dll dsb. Tapi tema dystopian-nya The Handmaid’s Tale ini gak ampe melibatkan mobil terbang dan perjalanan luar angkasa, karena settingnya masih di bumi yang kita tahu dengan sistem yang kita tahu. Kalaupun ada perbedaannya, itu adalah fenomena infertilitas yang mengakibatkan menurunnya jumlah kelahiran bayi.

2017-06-07-the-handmaids-tale01
Bayi menjadi sesuatu yang langka di kisah The Handmaid’s Tale

Pernah nonton Children of Men (2006) yang ceritanya tentang gak ada lagi manusia yang bisa menghasilkan keturunan? Ya anggep aja ini kayak beberapa bulan sebelum kondisinya bener2 sampe kayak di film itu. Salah satu penggambaran situasi di The Handmaid’s Tale itu ruang perawatan bayi di salah satu rumah sakit Amerika yang cuma ngerawat 1-2 bayi (itupun kemungkinan di inkubator), padahal sebenernya ada lebih dari 6 bayi yang lahir semalam sebelumnya, tapi sebagian besar gak bertahan.

Jadi emang udah separah itu, bahkan kalo di cerita, Meksiko itu udah 6 tahun gak ada bayi yang lahir samsek.

Nah, kondisi ini mengantar pada banyak hal, salah satunya adalah sebuah grup religi/paham/organisasi yang dengan spesifik menyalahkan perilaku manusia modern yang (menurut mereka, CMIIW, agak sensitif nih urusannya) menyalahi kodrat dan bikin Tuhan jadi marah. Mereka yakin bahwa kiamat infertilitas itu terjadi karena banyak wanita yang instead of jadi istri dan jadi ibu malah memilih untuk fokus di karir, homoseksualitas, free sex, pil dan alat pengontrol kehamilan, dan masih banyak lagi.

Offred
“your fault!” scene di The Handmaid’s Tale

Grup yang kalo di cerita namanya (CMIWW) Sons of Jacob ini yakin bahwa sekadar sharing pandangan dan preaching udah gak cukup lagi. Mereka mengambil langkah ekstrim, kudeta negara dan ambil alih pemerintahan Amerika. Mereka membangun negara baru dengan nama Gilead untuk merestorasi kembali sistem sesuai dengan yang mereka percaya.

Untuk masalah infertilitas, mereka mengajukan satu solusi: balikin cara hidup manusia sesuai perintah Tuhan, berkiblat pada kitab suci. Untuk soal infertilitas, mereka mengutip sebuah ayat dari King James Bible, Genesis 30:1, yang intinya tentang Jacob dan Rachel yang gak punya anak, terus Rachel mempersilakan Jacob untuk membuahi handmaid-nya Rachel yang namanya Bilhah, yang nantinya anak Jacob dan Bilhah akan diakui sebagai anak Jacob dan Rachel.

Dan itulah, sodara2, asal mula mengapa posisi Handmaid begitu penting bagi negara Gilead. Sangat penting, hingga mereka memburu wanita-wanita subur yang tersisa di Amerika dan menjadikan mereka sebagai handmaid, suka maupun tidak, dengan paksaan maupun sukarela.

—–

Meet Offred,

In case lo-lo semua belum paham benar tentang implikasinya gimana dengan munculnya negara Gilead dan sistem handmaid-nya, marilah reviewnya gue lanjutkan dengan kisah sang pemeran utama, Offred, salah satu handmaid yang lagi tugas di rumah salah satu komandan tertinggi Gilead, Fred Waterfort.

The-Handmaids-Tale_Channel4_CMS-920x584
Meet June a.k.a. Offred

Gue bilang lagi ‘tugas’ karena handmaid emang di-rotate kurang-lebih per-tahun dari satu rumah komandan ke rumah komandan lainnya. Masa tugas diperpanjang kalau si handmaid berhasil hamil dan melahirkan bayi dari sang komandan, minimal menyusui beberapa bulan sampai si handmaid pulih dan bisa dipindahtugas ke rumah komandan lain.

You read that right. Tugas si handmaid melahirkan anak komandan-komandan di bawah perawatan dan pengawasan istri komandan-komandan tersebut. Dengan cara alami, if you know what I mean.

IYA KAN. Just when you think things couldn’t get more bananas than this, the story throws purple two-tail monkeys at you. Ini belon apa2 loh. Welcome to the jungle.

Offred yang aslinya bernama June, dipisahkan dengan paksa dari suami dan anak perempuannya. June dan keluarga kecilnya bermaksud melarikan diri ke Kanada, tak lama setelah Amerika resmi dikudeta oleh Sons of Jacob, tapi gagal, dan dia pun berakhir di Gilead.

Hari-hari June yang tadinya diisi dengan profesinya sebagai asisten editor, perannya sebagai ibu satu anak, sebagai istri dari Luke, pria yang dia cintai, sirna. Tidak ada lagi waktu untuk membeli kopi dan mengobrol bersama Moira, sahabatnya. Tak ada lagi perjalanan ke mall, membeli make up, menonton berita bahkan majalah. Gilead memastikan bahwa tubuh dan pikiran June sebagai Offred, ada dan hanya ada untuk melahirkan bayi bagi kelangsungan Gilead.

Janine-poster
Jadi ini peraturan utama Gilead

Untuk soal pembatasan informasi, pendidikan, dan karir, tidak hanya berlaku untuk para handmaids, tapi semua wanita Gilead, termasuk para Martha (pesuruh dan chef) dan istri-istri komandan. Setiap pelanggaran akan ditindak keras. Potong jari jika membaca buku, hukum gantung jika menyalahi ajaran kitab. Para istri mengawasi handmaid, para komandan mengawasi istri masing-masing, dan semuanya diawasi oleh The Eye yang bertugas memastikan sistem negaranya berjalan dengan baik.

Hidup penuh tekanan, dipaksa untuk mengikuti sistem yang bukan hanya tidak sesuai dengan hati nuraninya, tapi seakan mengeksploitasi dirinya sebagai mesin penghasil anak semata jelas membuat June hampir gila. Tapi June berusaha untuk tetap bertahan dalam perannya sebagai handmaid, semua karena, dia masih ingin bertemu dengan Hannah, anak perempuannya.

e92d12039a34a702911dc76e3b190cdf
June dan putrinya, Hannah, sebelum June menjadi handmaid di Gilead

—–

After The Handmaid’s Tale

The Handmaid’s Tale yang terinspirasi dari novel berjudul sama karangan Margaret Atwood ini mengusik banyak hal dalam diri gue sih. Utamanya mungkin karena gue perempuan, dan meskipun gue gak mengkategorikan diri gue sebagai kaum feminist (btw, buat feminist ini kategorinya jadi horror kayaknya), ceritanya udah cukup bikin gue emosi, marah, sedih, dan gak bisa bayangin aja kalau gue jadi June.

Gue udah di pojokan kali mainan iler sambil kayang. Dipanggil Manda gue gak nengok, lo kasi kue baru gue mau menghampiri (tapi sekarang juga udah gitu, sih). Udah ga paham lah. Jalan-jalan di pinggir sungai aja pake bonus liat mayat digantung. Baca buku aja jari dipotong. Gak mau patuh aja mata dicongkel. Kalau ketemu sesama handmaid obrolannya cuma boleh soal mau belanja apa sama bahas cuaca. Dibentak dan ditampar nyonya rumah karena ga kunjung hamil, seakan gue janjiin dia gue bakal hamil. Dan masih banyak hal2 gila lainnya yang kalau gue rinci di sini bakal spoiler.

000f5698-870
kehamilan dan kelahiran diutamakan banget di Gilead

Tapi kalaupun gue bukan perempuan, gue rasa kisah The Handmaid’s Tale ini tetep aja menimbulkan banyak pertanyaan, utamanya dari kemanusiaan. Pertanyaan-pertanyaan utama gue adalah:

Sejak kapan kelangsungan hidup bersama itu diartikan menjadi kelangsungan hidup suatu kaum sesuai dengan cara yang diinginkan kaum tersebut?

Kalau memang urusannya adalah kepengen mempertahankan kelangsungan umat manusia, kenapa harus diatur yang bertahan itu keturunannya siapa?

Dan masih banyak kenapa-kenapa lainnya, sampai ke pertanyaan berikut (hindari warna coklat karena ini racauan gue aja):

Kenapa kita beranggapan bahwa kita gak boleh musnah? Kalau kita ujung2nya akan mati, dan keturunan kita juga ujung-ujungnya akan mati, kenapa keukeuh banget memastikan bahwa manusia itu akan ada 1000 tahun lagi dan seterusnya? Kalau memang untuk pride, pride-nya siapa? Kalau memang untuk memastikan ekosistem berjalan baik, kita itu bagian mananya keseimbangan ekosistem kalau kebanyakan perannya cuma makan serta hidup dari apa yang alam udah sediakan? Tanpa kita ekosistem tetap berjalan. Kalau ada yang musnah, akan ada bagian lain yang menggantikan. Jadi mengapa kita beranggapan bahwa kita harus ada dan selalu ada? Kalau memang untuk membawa peradaban menjadi maju, memberi solusi saat ada bagian di alam yang gak lagi berfungsi, kenapa peradaban harus maju? Kenapa semua bagian di alam harus berfungsi? Semua yang muncul akan hilang dan musnah pada akhirnya, kan? Terus kenapa kita minta waktu lebih dan lebih, melakukan segala cara untuk selalu hadir dan ada?

Dan seterusnya, deh. Muter2 banget kayak gasing. Semua gara-gara The Handmaid’s Tale.

Tapi meskipun The Handmaid’s Tale bikin stress, bikin nanya melulu merenung2, gue bener-bener amaze sih dengan bagaimana tim writernya meramu cerita. Temanya berani, plot twistnya nyempil dimana-mana, mengusik nuraninya gak kira-kira, terus ditambah dengan pernak-pernik yang memperkuat tema: warna, narasi, dialog. Sepanjang season satu itu kita dikasih lihat perbandingan hidup sebelum dan sesudah Gilead. Tentang pemecatan massal untuk seluruh pegawai perempuan segera setelah Gilead eksis, tentang rekening tabungan para perempuan yang dialihkan pada anggota keluarga pria, tentang majalah-majalah gaya hidup lama yang diperlakukan layaknya obat terlarang karena dilarang peredarannya, artikel di majalah gaya hidup yang gak lagi relevan dengan situasi Gilead, tentang identitas yang dihilangkan dan direbut paksa, dan masih banyak lagi.

Karakterisasinya juga gak semuanya putih dan gak semuanya hitam. June punya ‘dosa’-nya sendiri. Karakter nyonya-nya June, Serena, istri dari Fred Watefort juga punya sisinya sendiri yang bisa bikin penonton relate. Fred Waterfort juga, tokoh2 lainnya juga. Semua, meski gak sama kadar dan jenisnya, merasakan dampak dari terbentuknya republik Gilead.

yvonne-strahovski-as-serena-joy-1493226666
Tokoh Serena Joy yang surprisingly lumayan jadi favorit gue, bahkan kadang lebih dari June

Matang dan memorable, ceritanya dan semua bagian dari The Handmaid’s Tale Season 1 akan gue ingat untuk waktu yang lama.

*huwaaa kenapa season 1 uda abis gue lahap, gue pengen lupa terus nonton dari awal lagi*

Anyway, bagi yang minat nonton, mohon diingat bahwa ini ratingnya DEWASA pake bold dan capslock, jadi dedek2 mohon ditunda sampai frontal lobenya berkembang sempurna, ya, or else, gue takutnya ntar jadi trauma terus mempengaruhi perkembangan otak. Jadi skip aja dulu lah, sana pada nonton yang sesuai umurnya.

The Stranger Things misalnya, meski gue merasa itu traumatis sih. =))

Sekian review panjangnya! 😀 Season 2-nya uda mulai tapi gue masih nunggu ampe lengkap dulu. Yang butuh temen ngobrol silakan tinggalkan komen dan mari diskusi.

Oh iya, review lainnya bisa dibaca di sini dan di sini. Sapatau penasaran.

 

Met nonton dan jangan lupa makan toge!

Mandhut.

 

PS: belum sempet baca novelnya, abis ini cari waktu 😀

Advertisements

4 thoughts on “Review The Handmaid’s Tale

  1. halo manda, sebelumnya salam kenal ya. Saya udah nongkrongin blog kamu dari lamaaa bangeettt (dari zaman misaeng sih sebenernya) tapi baru skrng niat buat komen. Maafin yaa..
    oke langsung saja, serial ini bener-bener bikin saya ‘merenung’ tentang banyak hal. buat balik lagi ke Tuhan sebelum terlambat. Ngeri aja kalo sampe yang di serial itu kejadian hahahah….

    1. Haloooo, waduh makasih banget udah mau mampir2 dan baca :D. salam kenal juga yaaa. Sori banget baru bisa bales, kemarin notifnya ga keliatan.
      Iya nontonnya bikin merenung gila2an :)). Ini season 2nya udah mulai, tapi masih nunggu full dulu soalnya males nunggu penasaran wkwkwkwk 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s