Blogger yang Lama Menghilang dan Menulis Lagi Karena Merasa Ada yang Hilang.

MAAF UNTUK JUDULNYA. Penginnya bikin judul tipe2 kayak: The Old Man Who Disappeared in the Middle of the Night and Come Back the Next Morning

*gak bukan itu judulnya, gue males googling*

But you get the point, right? Gitu maksudnya. Mau bikin judul kayak gitu.

Jadi… apa kabarnya? Mpuya blog ini lagi sibuk ngeblog di sana sini, baru nyadar kalau blog sendiri (dan yang paling lama jadi tempat ngeblog) lama gak diisi.

Mohon maaf, ya. Dan mohon maaf sekali lagi karena sungguh setelah lama gak ngeblog di RM jadi bingung aja harus nulis apa kalau lagi ga promo2 review :D.

Hmmmmmm…

Ngobrol ngalor ngidul aja ya. Ngomongin kabar2 terkini.

Sebenernya itu sih alasan kenapa tiba2 inget RM, karena mendadak berasa lagi ilang arah aja. Beberapa kali hal serupa pernah terjadi dan cuap2 di RM selalu bisa ngingetin lagi apa yang paling penting buat gue, jadi yah…

Do your magic, RM!

Kabar terbaru? Kabar terbarunya… lagi terlibat dalam situasi dan lingkungan baru yang surprisingly kali ini cukup membuat gue nyaman. Percayalah, gue udah melanglang buana ke sana dan ke sini *cuma pake kereta*, kepentok ke sana dan ke sini, ribut debat terkhianati *lebay*, kecewa dan terhibur lagi dengan kebaikan hati orang *drama*, meet a couple of good friends along the way, made enemies too, dan tempat yang kali ini lumayan oke.

Sukanya terutama karena apa yang harus gue kerjain lumayan berkaitan dengan apa yang gue kerjain selama lebih dari 10 tahun belakangan sih: mempelajari sesuatu, ngubek2 sesuatu, terus ditulis and then ditransformasikan menjadi bentuk konten lainnya.

Dan gue dikasih kebebasan buat eksplor ide gue.

Dan yang kali ini constraintnya jelas, sambil gue harus memikirkan audiens yang membaca.

Dan kali ini ada tujuan akhir yang lumayan bikin tertantang dan penasaran: mengubah mindset banyak orang. Tadinya gak mau ngaku sih tadinya tapi ternyata cocok aja sama gue.

Apakah ini jiwa INFJ, INFP, atau ENFP yang lagi terusik gue gatau deh (karena gue 33nya bisa switch tergantung suasana)

Tapi gak siap berbagi detail lebih lanjut jadi untuk yang lingkungan baru infonya sampai situ aja ya. :))

Kabar terbaru lainnya, karena satu dan lain hal gue abis baca Sapiens dari Yuval Noah Harari dan itu efeknya lumayan bikin mikir selama berbulan-bulan. Sampai akhirnya gue ga tahan terus harus mencari banget temen yang bisa gue curhatin soal hal ini: siapa lagi kalau bukan orang yang promote kenceng2 di FB dan membuat gue tertarik baca dari awal. Tapi tetep aja sih ga puas bahasnya.

Ga enak juga bahasnya. Entar bikin ribut sekampung.

All I could say is that I feel lonelier than before. And it sucks. Kayak celah di tembok, yang mungkin tadinya cuma retak, terus tiba2 dibor dan makin lama makin lebar. Dan gue gak siap aja beneran melihat apa yang ada di balik tembok, meskipun sedikit banyak gue sudah menduga. Apa yang harus gue percaya kalau semuanya kerasa kayak excuse belaka? Excuse topped by excuses accompanied by more excuses — itu sih yang gue pikirin dari jaman gue sekolah.

The world of excuses. That’s not even a proper reason. It’s an excuse. A poor excuse. A lazy excuse.

Tapi yaudah karena ternyata setelah baca itupun dan mengalami galao galao tak jelas, gue baru bener2 ngeh bahwa I need some kind of excuses too to survive. An entity to depend on, kadang disalah2in juga, dinyinyirin, besoknya dipuji2 karena berasa disayang. Humans come and go, feelings disappeared, memories fade, families break, love is just romanticised hormonal reaction, jadi kalau ada yang bisa selalu ada, why not? Even if it’s just an imagination.

3 bulanan ini mencoba cari penjelasan lain yang bisa membuat gue tetep berasa damai dengan apa yang udah gue jalanin, tetep berasa ga sendirian, tapi bisa tetep adaptasi dengan ide2 dan pemikiran dari orang lain.

Karena gue tetep mau tahu apa yang terjadi di luar sana. Gue mau denger. Tapi kalau jadinya galao begini tunggu dulu ya huahuahua.

Nemu sih beberapa penjelasannya, mantra2 yang gue buat dan gue ulang2 supaya gue tetep berasa damai. It works, sometimes. Sisanya berasa lagi main lenong aja. Only I don’t know untuk siapa gue lagi perform dan untuk apa gue perform.

“DUNIA INI PANGGUNG SANDIWARAA CERITANYAAA MUDAH BERUBAAH…” *mendadak nyanyi

No, really. apa mungkin OCD yang membuat gue tetep melakukan kegiatan2 tersebut. I don’t even want to know. Dan gue kayaknya ga baca buku2 Yuval lainnya dulu. Not now.

Salah satu mantra gue: Bahwa karena satu hal salah bukan berarti yang lain benar. Bahwa hanya karena satu hal benar bukan berarti yang lain salah. Ada yang gak kita tahu dan itulah mengapa terlalu gegabah untuk memutuskan mengambil satu sisi.

I could go on and on about this. Tapi simpelnya, tulisan ini sih yang paling mewakili ada di posisi mana gue saat ini dengan… dunia dan isinya. One thing that you all should know, if anybody of you decides to open the link and read it: gue paling males ngejelasin kalau udah dijudge duluan, so, don’t assume. ask. 🙂

Gitu deh pokoknya.

Btw, siapa fans Zat Rana juga? I’ve been a fan of his writings since the day I signed up for medium!

“I still don’t think that I was entirely wrong about my intuition that life is best lived in a fluid way. In a place somewhere between order and disorder. Between routine and autonomy. Between safety and danger.” – Zat Rana

Tuh, adem kan anaknya kayak es jeruk. I don’t even drink es jeruk karena ku ada sinus *jadi gue minumnya jeruk anget* tapi emang adem aja tulisannya. Qusuka.

I am pretty sure that Zat Rana is INFJ. Yaqin. Yaqin pake qiu.

Oke sudahlah.

Buat yang udah baca Sapiens juga dan butuh teman debat atau keluh kesah jangan ragu2 ya. Gue kasih email deh entar biar puas bahasnya panjang2. Lo minta dibayar juga boleh deh, entar gue kasih voucher buku aja T-T *segitu desperatenya nyari temen senasib*.

BAIKLAH CUQYUP SOAL SAPIENS.

Next!

Kabar selanjutnyaa….

Lagi suka masak. Like, suka. Banget. Sesuka itu ampe kalo weekend setahun belakangan ini udah pasti masak dan bisa berjam2 di dapur. Sesuka itu sampai IG gue isinya hasil karya masak2 gue enak maupun enggak. 😀

Sebenarnya, secara gue anaknya kalau lagi suka sesuatu gak bisa gak ditulis, itu hobi masak udah sempet dibikinin blog.

Tapi ya ngisinya ga rajin terus resepnya ga fancy ala2 dewi nigella getoh.

Semacam sayur asem dan sayur bayem. Fotonya pun gak keren gimana gitu, karena gue menempatkan diri sebagai newbie yang baru belajar masak. =))

*halasan

Judul Bibbidi Kitchen itu sebenernya mengutip lagu Fairy Godmother di kartun Cinderella yang liriknya gini: “Salagadoola Mechika Boola Bibbidi Bobbadi Boo! Put ’em together and see what you got, bibbidi bobbadi boo!”, karena gue merasa masak itu semacam magic. Tambah ini tambah itu, jadilah makanan. Tapi barulah gue ngeh kalau nama blog gue kesannya bibik-bibik di kitchen.

Ya gapapa sih. =))

Nah mengenai kenapa gue bisa tiba2 suka masak, hobi ini kayaknya berawal mula dari rasa bertanggung jawab karena suatu hari di rumah gak ada mbak yang biasa masakin (mbanya pulkam dan gak balik) terus gue ngerasa ga tahan aja liat nyokap jajan melulu.

Maksudnya, jajan tuh kan gatau ya mecin seberapa banyak yang ditambahin, berapa garemnya, berapa gulanya, itu minyak abis goreng apa, itu sayur sebelum dimasak udah dicuci belon. Jadi yah…

Yaudah gue belajar masak. Ga enak gapapa, yang penting sehat.

Serius deh gue inget banget waktu itu sekitar 2-3 tahun lalu nyokap pertama kali ngajarin masak sayur bayem. Sayur bayem gue rasanya ga karu2an. tangkainya belum mateng. Garemnya berbentuk bongkahan.

Kacau pokoknya.

Tapi dari situ kayaknya terus gue mulai coba2 resep lain sambil menyempurnakan resep yang udah ada. Lanjut masak sayur asem karena nyokap suka. Cah Kangkung karena ponakan suka. Sayur sop pake fussili karena gue suka. Perkedel kentang karena ku demen.

Tadinya sih ga rutin. Tapi one day suka kesel kalo dapur berantakan karena berarti gue ga bisa masak. Terus yaudah jadi masak terus aja sih.

Kata Mama, mungkin ini turunan dari almarhumah nenek dari almarhum bokap. Nenekku itu suka masak, kalau lagi nginep di rumah nenek, diriku suka dikasih wortel, timun, sama kol terus suru motong2 di pojokan sambil ngeliatin nenek masak, soalnya gue jaman balita suka kepo ngekor nenek gue kemana2 jadi daripada kesiram minyak ya mendingan dikasih kesibukan.

Motong2 sayurlah gue di pojokan. Sayur yang abis itu ga dipake juga =)).

Tapi iya sih. To this day gue masih inget wangi nasi buatan nenek gue yang baru tanak. Bentuk kompornya. Bentuk pancinya. Gimana nenek gue mikirin semua orang. Siapa yang ga suka pedes, siapa yang suka makanan tertentu.

Tapi gue gak inget sih nenek gue masak sambil nyanyi lagu2 Queen dan Louis Prima, so maybe itu gue doang.

Yang gitu2 kayaknya dari almarhum Bokap. I could totally see him dancing to Louis Prima’s. The Baloo Bear from the Jungle Book cartoon, he is.

Jadi gitu. Secara darah blogger mengalir kencang tentu kepikiran pengen vlog masak2 tapi dapurku agak kurang mumpuni yah secara tampilan. masak2 di luar pake kompor kemping kok ya rasanya rada ribet. Jadi yah.

Dipikir2 lagi dulu deh. Sekarang sakmasak suka2 dolo aja.

Kabar selanjutnyaaaaa…

Gak ada sih itu doang 3 hal yang lagi paling gress dan dominan di hidup gue belakangan. Kalian kabarnya apose? Ada ide gak musti nulis apaan? Pertanyaan filosofis mungkin? Komen2 yah biar diriku tak merasa sendiri.

HUAHAHAHAAHAHA *akhirnya ketahuan tujuan awalnya*

Yauds, selamat kerja lagi besok,

cups!

Mandhut.

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Blogger yang Lama Menghilang dan Menulis Lagi Karena Merasa Ada yang Hilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s