Tentang Keminggris.

Jadi saya baru bener-bener sadar bahwa beberapa bulan ini saya kalau nulis di blog RM bahasanya campur-campur banget antara Inggris sama Indonesia. Kalau kata orang: gaya anak Jaksel.

=))

Gak. gue bukan anak Jaksel. Gue anak Kalimalang seutuhnya. Gue bangga kalau kalimalang disorot meskipun cuma berita ada anak2 panjat pinang pas 17 Agustus-an. Gue bahkan sedikit takjub waktu Kalimalang disebut2 walaupun waktu itu beritanya agak menyedihkan: curanmor.

Saya cuma anak kalimalang yang belakangan ngomongnya nyampur2 Inggris-Indonesia =))

Percayalah ini baru paragraf kedua, tapi udah kesekian kalinya saya menahan diri (melewati proses hapus2, tulis lagi) untuk gak menyebutkan beberapa kata dalam bahasa Inggris. Cukup sulit karena kadang saya lupa kata tertentu itu inggris apa indonesia. Ribet juga ternyata.

Tapi gak apa-apa. Untuk postingan ini (dan hopefully semoga untuk postingan2 berikutnya), mari berbahasa yang baik dan benar. Inggris ya Inggris, Indonesia ya Indonesia.

Nah, mengenai kenapa bahasanya bisa mendadak campur2 begini, ada 2 alasannya, pertama saya rasa karena… setahun belakangan saya cukup intens nulis dalam bahasa Inggris untuk kerjaan. Jadi otaknya kebiasaan berputar2 di sana, kebawa2 deh sampe ke blog.

Yang kedua, karena akhirnya, setelah sekian lama belajar bahasa inggris, ikut les sana-sini, tapi gak pernah cukup percaya diri untuk ngomong dan nulis dalam bahasa inggris karena ga pernah bisa bener-bener paham sama grammarnya, saya nemu selahnya di pertengahan tahun 2017 lalu. Gue akhirnya ketemu orang yang bener-bener bisa menjawab pertanyaan gue terkait kekhawatiran dan keraguan gue soal grammar (gue barusan mau nulis insecurities, weks), dan gue jadi lebih tenang. Terus yaudah, mulai dari situ, gue jadi lebih pede buat mengaplikasikan ilmu yang pernah saya pelajari, dan terus2annya jadinya bisa belajar untuk cuek aja perihal grammar saya bener apa gak di mata orang lain.

Nah barusan gue mempraktikkan ketidakkonsistenan gue soal bahasa lainnya: mulainya pake ‘saya’ terusannya pake ‘gue’.

Sudahlah. satu2 ya ngebenerinnya.

Perihal kenapa bahasa inggris sempet jadi kegalauan gue, jadi gue selalu merasa bahwa ada bagian dari grammar bahasa inggris yang gak pernah bisa dijawab dengan baik dan benar sama orang2 yang pernah jadi tutor gue. Dan karena gue ga yakin, jadi gue juga selalu ragu untuk mempraktikkan apa yang udah diajarkan.

Contohnya hal2 kecil kayak kenapa pake was/were di kalimat A, kapan harus pake V-ing? Kenapa kalimat yang ini pake gerund padahal bukan menggambarkan kegiatan yang sedang dilakukan? dll, dsb. Butuh waktu untuk akhirnya gue bener2 paham bahwa gerund bisa dipakai untuk noun juga, bahwa ada yang namanya idiom dan preposition, ada banyak hal yang kalau lo tanya alesannya ya ga ada logika sakleknya, emang penggunaannya seperti itu, terima dan hapalin aja.

Mungkin ada orang2 yang modelnya: ah yaudah tabrak aja. Gak yakin yaudah. Gak tahu alasannya kenapa yaudah, tapi kan katanya suruh begitu, yaudah lakuin aja. Tapi kebetulan gue orangnya ga bisa gitu.

Gue bisa tuh terganggu dan terhambat di 1 tempat bertahun2 cuma karena ga nemuin jalan keluar dari apa yang gue pertanyakan dan permasalahkan. Dan dalam hal ini, gue terhambat (mau ngomong stuck dari tadiii) di bahasa inggris karena itu.

Kasus yang sama pernah terjadi antara gue dan pelajaran kimia karena gue merasa bener2 frustrasi melihat ada persamaan senyawa yang kiri dan kanan gak sama karena sebelumnya senyawanya apa, tau2 pas bereaksi ada + 02 atau +CO2.

Mungkin gurunya pernah jelasin tapi gue ga denger, tapi gue mandeg di situ untuk waktu yang lama, merasa kalau pelajaran kimia itu ga konsisten dan itu kenapa saya gak demen. Setelah dapet (dengan sendirinya) logikanya kenapa bisa gitu baru bener2 ngeh. Dan akhirnya baru bisa paham dan berlanjut ke materi lainnya.

Gue emang sekeras kepala dan gak penting kayak gitu soal belajar =))

Back to bahasa inggris yang bikin keminggris. (gak bisa campur2 bahasanya malah jadi alay). Sejak pertengahan 2017 itu yang membuat gue tercerahkan, gue jadi punya banyak ruang untuk mempelajari bahasa inggris lebih dalam. Gue punya energi untuk bedain divert and avert, training dan trainings (dan mengapa training gak lazim dipakai dalam bentuk jamak: trainings), mana bahasa yang lebih terkini, mana yang poetic, mana yang profesional. Menarik sih. Gak nyangka juga kalau gue lumayan suka karena gue jadi punya banyak alasan buat googling huahahahahaha *kusuka googling.

Anyway pokoknya,  moral dari postingan ini, mohon mangap kalau kemarin2 bahasanya campur2, I’ll try saya akan mencoba untuk lebih konsisten ke depannya. Lagian bagus juga buat sayanya karena belakangan mau nulis dalam bahasa indonesia di blog yang lama gak diisi ini tapi perbendaharaan katanya jadi nyampur2 mulu Indonesia-Inggris. 😛

Terima kasih karena meski grammar acakadul dan bahasa campur2 sampai detik ini gak ada yang komen kritik (APA KARENA GAK ADA YANG BACA? HAHAHAHAHA – sedih).

Semoga kalian jauh lebih lunak dan fleksibel dalam belajar, jangan kayak saya 😀

Amanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s