Kisah Jati Wesi si Hidung Tikus di Buku “Aroma Karsa” by Dee Lestari

aroma-karsa-5-1

Image: Gramedia.com

Yip yip!

Sesuai janji saya di postingan yang satu ini, kali ini saya mau nulis review buku Aroma Karsa karangan Dewi Lestari / Dee Lestari.

Ini salah satu novel lokal terbaik yang pernah saya baca, dan enggak, ini bukan hanya karena saya penggemar karya Dee Lestari sebelumnya: Perahu Kertas (yang pernah saya review di sini) dan Madre (review sebelumnya).

Saya bukannya gak ngefans serial Supernova, saya belum nyempetin baca semuanya aja.  Mohon jangan dihujat =))

Back to Aroma Karsa,

Jujur, karena judulnya ada aroma-aromanya, awalnya saya pikir novel Aroma Karsa itu bertema kuliner. Yang mana, karena Dee pernah mengarang Madre, saya gak heran. Dan saya berpikir seperti itu untuk waktu yang lama. Jadi lumayan kaget juga setelah tahu bahwa novel Aroma Karsa itu ada hubungannya dengan TPA Bantar Gebang tempat ribuan ton sampah penduduk Jakarta berakhir setiap harinya, dan parfum. Dan olfaktori (indera penciuman).

Dan genrenya fantasi.

Penasaran gak?

Jati Wesi dari Bantar Gebang

Adalah Jati Wesi, seorang pemuda yang tumbuh dan mengais rizki di antara tumpukan sampah TPA Bantar Gebang, Bekasi. Jati dibesarkan oleh Nurdin Suroso, pengepul sampah setempat bersama banyak anak-anak lainnya yang kehilangan orang tua, dibuang, dan berakhir menjadi pemulung di Bantar Gebang.

dki-akui-pengolahan-sampah-di-tpst-bantargebang-masih-buruk

Jati tak pernah benar-benar tahu siapa orang tuanya, tapi suatu kali Nurdin pernah berkata bahwa ibu Jati mati dibunuh oleh suaminya sendiri, bapak Jati, yang sekarang menjadi linglung dan setengah gila di penjara. Jati tak pernah tahu apakah kisah tentangnya itu benar atau manipulasi Nurdin semata, tapi Anung, begitu penghuni penjara Cipinang tersebut biasa disapa, adalah satu-satunya harapan Jati untuk mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya.

Betapa pun Anung hanya bisa meracau dan berteriak mencari-cari anak dan istri yang tidak Jati kenal dan tak pernah Jati tahu wujudnya.

Namun asal-usulnya bukanlah satu-satunya misteri bagi Jati, ada hal lain yang lama dia sembunyikan, yang awalnya menjadi derita, seringkali menjadi siksa, namun lama-kelamaan menjadi tempatnya lari dan menenggelamkan diri, jauh dari dunia, jauh dari sampah, jauh dari Nurdin dan semua yang membuatnya khawatir dan merana.

6tag-218120004-1705023117696217351_218120004 (Custom) (1).jpg

Jati yang besar dan tinggal di atas kumpulan sampah dapur berbau busuk, melangkah di antara sisa pembalut dan popok bekas pakai, tidur di antara suara anak-anak pemulung baru yang tak tahan memuntahkan isi perutnya di penghujung malam, punya kemampuan penciuman yang luar biasa tajam.

Begitu tajamnya, hingga Jati pernah membantu polisi setempat menemukan aroma anyir bercampur manis serupa nanas di antara riuh rendah aroma sampah TPA Bantar Gebang, yang membawanya pada seonggok mayat pria yang telah menghilang berhari-hari.

Jati bisa mencium semuanya. Dan tidak. Kemampuannya tidak hadir tanpa cuma-cuma.

Misteri Suma Prayagung

Hubungan Jati dan Attarwala, sebuah toko parfum oplosan di timur Jakarta, membawanya pada Raras Prayagung, wanita pemilik Kemara, perusahaan produk kecantikan ternama tanah air.

Jati yang mencium semudah membalik telapak tangan memang memanfaatkan kemampuannya untuk membuat parfum idaman dengan harga miring. Di sela-sela tugasnya mengolah sampah organik di Bantar Gebang menjadi kompos, Jati mengurung dirinya di salah satu kamar di toko parfum Attarwala, meracik dan mengukur, mencampur dan mengendus, untuk menciptakan pewangi bermacam rupa, yang salah satunya adalah Puspa Ananta.

 

dee-lestari-aroma-karsa

Puspa Ananta milik Kemara. Milik Raras Prayagung. Milik Tanaya Suma.

Kasus pemalsuan parfum Puspa Ananta mempertemukan Jati dan Suma. Jati dan Suma memang datang dari latar belakang yang berbeda. Jati di tumpukan sampah, Suma bergelimang harta. Kulit Jati gosong terbakar matahari, kulit Suma dijaga dan dirawat oleh produk-produk terbaik Kemara. Jati mengais rizki dengan mengolah sampah, Suma dididik dan dipersiapkan untuk menjadi penerus salah satu perusahaan bergengsi di Indonesia.  Tapi keduanya memiliki persamaan: sama-sama memiliki indera penciuman yang luar biasa.

Jati si hidung tikus menemukan bau yang tidak biasa dari Suma. Bau yang membuatnya bertanya-tanya. Bau yang membuatnya nyaman sekaligus resah. Rindu sekaligus gelisah.

Tapi bau apa? Apakah ini aroma baru yang tak pernah ditemuinya, atau justru wangi yang telah lama dikenalnya, jauh sebelum dia berakhir menjadi anak buangan di TPA Bantar Gebang?


Review

Semoga gak terlalu spoiler, ya. Sebisa mungkin menyimpan hal-hal penting nih supaya pengalaman membacanya tetap maksimal.

Kalau saya pribadi, novel Aroma Karsa ini menjadi sangat menyenangkan dan menegangkan untuk dibaca karena kemampuan Dee Lestari untuk membawakan cerita. Detail, lalu mengandung alur plot yang berisi, berani, dan tetap mempertahankan kesan cerita yang sama dari awal hingga akhir.

Kalau untuk plot gak usah ditanya. Dee dengan risetnya yang mendalam memastikan semua plotnya matang saat sampai ke tangan pembaca 😀

aroma-karsa-1

Karakterisasi dan latar belakang cerita pun detail. Cukup seru sih melihat bagaimana Dee berfantasi memperlihatkan suka duka seseorang yang punya indera penciuman luar biasa. Tentang bagaimana Jati berpikir dan bertindak, dengan bagaimana Suma mengambil keputusan dan mengatasi masalah pun terlihat perbedaannya. Sesuai dengan latar belakang mereka, tapi tidak menghilangkan esensi pribadi dari keduanya.

Cara Dee menggambarkan bau di novel ini banyak menggunakan majas sinestesia. Ada banyak pertukaran indera yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana bau bisa sebegitu menyengat berisik, namun bisa juga menjadi samar mengalun bagai lagu pengantar tidur. Terkadang kasar, mendesak dan merusak, tapi seringkali mesra, menggelitik dan nakal.

Lewat bau, Dee bisa menggambarkan busuk dan wangi manusia. Bahwa ada kalanya bau yang menggoda bukanlah aroma bunga yang merekah. Bau yang menyesakkan tidak selalu bau muntahan yang telah mengering lama.

Seakan bau bisa dikecap.

Seakan bau bisa didengar, dilihat dan diraba.

Katanya, Dee sendiri merupakan seseorang yang menghargai dan menikmati bau. Itulah alasan mengapa Madre, dengan harum hangatnya roti yang baru keluar dari pemanggang, ada. Itulah alasan mengapa Aroma Karsa, dengan kerumitan dan keindahan ratusan bahkan ribuan bau yang memaksa dan merangkul, ada.

Sebagai seseorang yang juga sensitif terhadap bau. Yang terganggu dengan bau shampoo salon yang tidak saya kenal sehingga saya harus kembali mencuci rambut di rumah bahkan setelah rambut saya rapi menekuk sempurna. Yang pusing mencium bau parfum sendiri kalau saya memakai lebih dari satu semprot–apapun jenis parfumnya. Saya merasa puas karena bisa merasakan dan membayangkan jutaan sensasi dan aroma, bagaikan ledakan warna di udara, lewat novel Aroma Karsa.

Recommended. Gak sabar melihat Aroma Karsa tampil di bioskop. Gak sabar menunggu novel keduanya (semoga ada).

Thank you Dee Lestari. Saya menikmati sekali bermain dan berpetualang bersama Jati, Suma, dan seluruh bau2 di novel Aroma Karsa.

Amanda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s