A Case of Hidden Motives.

Lama gak nulis di sini dateng2 langsung curcol.

Gak apa, ya. Ku sedang butuh cerita2 galao. Ini kayaknya bakal panjang jadi dibagi per-section, monggo dibaca sesuai kemampuan. =))

Elephant in The Brain by Kevin Simler dan Robin Hanson

418wqedxql._sx327_bo1204203200_

Jadi, barusan aja pagi ini baru beres baca The Elephant in The Brain by Kevin Simler dan Robin Hanson. Isinya itu tentang motif sebenarnya dari banyak aspek di hidup manusia, mulai dari edukasi, komunikasi, politik, dll dsb. Yang mana, kalau berdasar dari teori buku tersebut, studi kasus, lalu referensi dari teori2 dari ahli lainnya, semuanya itu (kata si buku) kalau ditelusuri ujung2nya ya power, status, and sex.

Oh yang mau baca review seriusnya ada di sini.

Gue punya pendapat lainnya sih, tapi sebelum ke sana, let me bahas2 itu nanti.

Nah, hal lainnya yang dibahas di buku itu adalah bahwa otak manusia itu sudah berevolusi untuk menutupi/menyembunyikan motif2 utama yang dibilang di buku (power, status, sex) itu dari si manusianya. Jadi contohnya, kenapa seorang manusia harus sekolah? Jawaban yang biasanya ada ya supaya belajar, ada ilmu biar berguna, tapi dari studi kasus yang ada ujungnya bisa jadi ya berbeda: kenyataannya banyak hal2 yang gak applicable di kehidupan sehari2 diajarin di sekolah. Nah terus, kalau emang employer nyari orang yang bisa kerja, kenapa berdasar sekolah dimana dan GPA-nya berapa? Kenapa jarang mau nerima orang yang mungkin uda punya skillnya, udah bisa ngerjain, tapi ga punya ijazah?

Itu contoh paling halus, sih. Di buku ada juga soal loyalty, dan keyakinan, dan teori2nya, but I’m not going to discuss about that here.

Intinya, kenapa otak sampe harus beradaptasi (katanya si buku) untuk bisa menutupi motif2 sebenarnya (dari si manusia) dari motif2 yang lebih mudah diucapkan seperti toleransi, altruism, compassion, curiosity, itu karena si manusia sendiri butuh merasa bahwa dia memiliki hidup yang bermakna, ga cuma soal power, status, and sex. Tapi secara biologis dan psikologis, deep down inside, kita butuh ke-3 hal itu sebagai manusia meski mungkin kadarnya ga selalu sama. Jadi untuk supaya dunia si manusia damai dan ga gonjang-ganjing, sistem dibuat, moral dijunjung, dan otak beradaptasi untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan tanpa perlu bikin si manusia berasa krisis identitas.

That, and we could lie better when we don’t even aware that we have hidden agendas inside.

Agak sinis dan gak sepenuhnya bisa diamini. Seperti yang gue bilang, gue ada pertimbangan lain juga. So that’s that.

The First Phase: Hear my story, 

Throwback ke masa2 muda dulu, masa2 kuliah. Sebelum tahu soal otak dan kelakuan manusia =)), salah satu galao2 moment gue di masa itu adalah karena gue bingung dengan kelakuan gue sendiri.

((BINGUNG DENGAN KELAKUAN SENDIRI))

aaron-blanco-tejedor-768029-unsplash.jpg

No, coba dengarkan dulu =))

Gue mengalami banyak hal di masa2 itu: cinta, persahabatan, kuliah, awal2 mau cari kerja setelah lulus, my father also passed away during that time. So many first times, so many mistakes, awkward moments, ups and downs. I had so many good memories, sama banyaknya dengan trauma. Full of tears and laughter lah.

Ada kalanya di beberapa momen tersebut, seringnya pas gue lagi kecewa, gue bertanya ke diri gue sendiri “Kalau emang ini yang lo mau, Man, kenapa sedih?”, “Kalau emang ini adalah sesuatu yang udah lo prediksi, kenapa sedih?”

Sering banget di masa itu (sekarang juga sih) gue mempertahankan/melepas sesuatu atas dasar for the greater good atau for my own good. Gue pikir, that’s what I should do, that’s the right thing, I should be happy because I did the right thing, right? Kalau pun happy-nya gak sekarang, one day I will.

But I’m not happy, bahkan setelah ditunggu setelahnya. Jadi apa yang salah?

Gue agak bingung menghubungkan antara tindakan dan goal gue setelahnya. Gak matching. Selalu ada yang buat gue ga puas (apakah aku anaknya kurang bersyukuuur?) tapi gue belum bener2 tahu apa.

Lalu ada momen dimana gue bener2 lagi di bawaaaaahhh banget, dan gue mulai memikirkan soal hal2 yang seharusnya (menurut etika dan moral yang berlaku) ga gue pikirkan tentang orang2 di sekitar gue dan tentang gue sendiri. Menakutkan, dan melelahkan, tapi anehnya, those raw emotions feel so real. Kala itu gue baru sadar bahwa motif lainnya bagi gue kayak cuma ada di lidah, kayak ada yang pernah ngasitau gue bahwa ini adalah sesuatu yang harus gue jawab kalau ada orang yang bertanya. dan itu yang gue hapalkan secara ga sadar (contoh: biar masuk surga, berbakti sama orangtua), tapi motif yang gue temukan saat itu, yang waktu itu belum ada namanya, mentok, gue ga nemu akar motif lain selain itu.

Rasanya jangan ditanya, panik, marah, bingung. It almost felt like I found my homunculus in the deepest of my mind. It’s not fun.

Itu juga sih yang melahirkan teori gue bahwa manusia itu ga sepenuhnya baik dan ga sepenuhnya jahat (yang udah gue tulis di Codex Vitae gue hohoho). We all have our own demons. Ingatlah Naruto dan Kyuubi (loh).

Nah, masa2 setelah itu cukup menyiksa.

Setelah itu, sering banget gue bertanya2, motif sebenarnya dari tindakan sehari2 gue itu apa. Kenapa gue curhat? Untuk didengar? Untuk dapet solusi? Untuk diperhatikan? Gue lagi PDKT? Kenapa?

Kenapa gue gambar? Kenapa gue suka gambar waktu sekolah dulu? Kenapa gue gambar di kelas? To prove something? What? Untuk supaya gue ga terlihat miserable because nobody wants to talk with me? Jadi mereka bisa bilang, “Oh Manda ga bisa diajak ngobrol, dia lagi gambar.”, mendingan gitu timbang gue bengong2 menyedihkan?

Kenapa gue ga suka dipanggil ‘Putri’? (There, I said it, don’t call me with my first name). Apakah ini ada hubungannya dengan masalah self-confidence gue sejak kecil (kayaknya iya)? Because I spent almost all of my younger days feeling unattractive. And princess is attractive (standar: disney). Because they’re attractive, they have someone to save their day and I’m not. I have to do everything by myself. When I ask boys to help me, they see my face and they say no. Things are different for other girls with beautiful hair, fair skin, and slim body. So no, don’t remind me about princess-thingy. I’m not one of them.

And that’s how the conversation goes inside my mind. Satu pertanyaan simpel butuh direphrase bertahun2 untuk akhirnya gue mau bener2 mengakui ke diri gue sendiri kenapa gue memilih begini dan tidak itu, kenapa gue lebih suka curhat sama si anu dan bukan si itu. Kenapa butuh waktu lama untuk gue mau bener2 progress untuk diet bahkan sampe butuh sakit2 dulu (gue ga suka bahwa gue harus tunduk pada penilaian publik akan gue). Dan masih banyak lagi.

So yes, I’m always in a debate, with myself. Dan mengingat ini adalah gue, we have so many things to say to each other.

Saking susahnya, di masa itu ada momen dimana gue mencoba menghilangkan beberapa komponen untuk bisa menjaga tindakan gue (menurut gue) tetap genuine, bukan karena motif power, status, and cinta. Doing things anonymously–membantu. No sosmed–membantu. No social life–membantu. I tried so hard to hide my identity di setiap tindakan gue. Untuk ga usah sharing. Ujung2nya kucuma mau membentuk opini publik soal gue kan? Ga usahlah.

Tapi gak seru. Jujur, ga seru.

Karena jadinya pas ketemu temen gue kayak harus sorting mati2an untuk tahu mana yang bisa gue ceritain tanpa gue merasa pathetic setelahnya. Atau kalaupun iya, mana  yang paling mendekati netral.

Sampai akhirnya gue melonggarkan pertahanan untuk mulai blogging lagi di tahun 2012, mencoba kasi gue ruang untuk gue memberitahu siapa gue ke orang2, and it’s been great ever since.

I am a social ape after all.

The Second Phase: People.

Tapi kalau menerima bahwa diri ini punya hidden motives itu stage pertama, stage kedua adalah menerima bahwa orang2 di sekitar kita, yang kita sayang dan kita hormati, kita percaya dan kita rindukan, punya hidden motives juga. 

To see that ugly, toxic, cancerous, hidden agenda in the face of your beloved family member and friend is the worst. It changes you forever.

Dan itu salah satu alasan juga kenapa jadi lebih ragu aja untuk membuka diri (di masa itu). Karena ujung2nya adalah komunikasi ini perihal offer and demand, ada transaksi yang harus dilakukan. Yang satu mungkin ingin dibutuhkan, yang lain mungkin ingin ada status bahwa dia sama seperti yang lainnya, punya keluarga, punya teman, punya support system.

Patah hati lah pokoknya.

The Third Phase: Me, Today.

Lalu, setelah tahu bahwa diri dan orang lain semacam butuh dicuci pake rinsow apakah setelahnya jauh lebih gampang? Untuk soal proses introspeksi diri, iya, I learn how to forgive myself, to be honest with myself. Menerima motif sebenarnya dari tindakan sehari2 jauh lebih smooth lah ketimbang pas awal2, tapi masalah2nya tetep aja suka dag dig dug der daiya, makin tua masalahnya makin wow, cuy. It’s not fun.

Kalau soal orang lain, gue mencoba untuk menghargai apa yang mereka usahakan untuk tunjukkan di hadapan gue, terlepas dari motif mereka sebenarnya. Karena beberapa orang obvious banget kayak akurium. Fakta bahwa mereka berusaha untuk tulus aja pun udah cukup buat gue. Karena gue pun yang tidak tulus ini melakukan hal yang hampir sama.

Jadinya usaha2 belakangan ini lebih ke bagaimana cara memanipulasi tindakan  dan emosi gue untuk supaya tetep bisa memenuhi kebutuhan dasar gue (si motif sebenarnya, karena itulah yang membuat gue merasa hepi) tanpa perlu melakukan apa yang diharuskan norma dan lingkungan lebih dari yang seharusnya.

Singkat kata, ngeboongin diri sendiri dan orang lainnya secukupnya aja lah. Sisanya kalau bisa ya jujur atau ga usah diomongin aja.

In fact, gue kadang suka ngebayang apa jadinya kalau semua orang aware dengan kebutuhan dasar mereka dan bicara apa adanya. I would really like to meet a person that could say out loud to me:

“Be my friend. Tell people you are my friend. Post me in your social media. Please help. I genuinely care about you but I need your help on this.”

“I like your attention but I can’t be with you. Can we be friends? I’ll treat you an ice cream.”

“I want to be a leader in this company. How can I be your leader?”

“I need sex. But let’s do this like everybody else. I just want you to know that that’s my goal in the end. I want to have a child.”

Chaos atau semuanya bisa lebih efektif?

My Questions

Gue rasa yang jadi pertanyaan dari gue setelah baca buku The Elephant Brain by Kevin Simler dan Robin Hanson adalah apakah kebutuhan untuk hidup itu gak dianggap sebagai motif?

Maksud gue, entah kenapa di logika gue power, sex, dan status itu semacam sekunder, di akar itu semua ada yang tunggal dan primer: kebutuhan untuk hidup.

Kenapa gue bilang butuh, karena nafas aja involuntarily. Butuh niat yang teguh untuk nahan napas di udara bebas beroksigen. Pikiran untuk mati karena kehabisan napas itu bukan sesuatu yang cukup oke, makanya beberapa orang memilih untuk mati di situasi di mana tindakan involuntarily-nya ga bisa mencegah itu, yang mereka ga bisa membatalkan: tenggelam, overdosis, racun. So kebutuhan untuk hidup masuk mana?

Atau ini gak dianggap karena ada orang yang gamau hidup, tapi kalau soal power, sex, dan status deep down inside semua orang mau? Bahkan biksu pun bukan berarti gak mau menikah, mereka mau atau enggak, mereka memilih untuk enggak demi loyalitas terhadap keyakinan yang mereka anut = dan ini adalah salah satu bentuk status.

Terus pertanyaan gue berikutnya, kenapa sex? Kenapa bukan kebutuhan untuk terikat secara emosi atau dimengerti? Karena ada orang yang asexual, tapi hampir semua orang butuh dimengerti dan terikat secara emosi, dan ini jadi lebih luas, ga terbatas sama potential lover aja, tapi bisa ama teman atau keluarga. Kadang, kalau sama mereka2 ini motifnya bukan soal power atau status, apalagi soal sex, cuma pengin dimengerti aja.

Atau karena sex, eating, dimengerti, power dan status itu semuanya bukan mengarah pada kebutuhan untuk hidup tapi untuk merasa bahagia?

Atau semuanya berakar pada kebutuhan untuk menjadi makhluk sosial? Karena pada dasarnya saat ga ada manusia lainnya, kebutuhan2 di atas itu udah ga ada? Tapi gak juga kan? Gak ada manusia lainnya masih mungkin mau hidup, mau makan, dan mau berekspresi.

Menurut gue sih paling dasar itu motif untuk bisa punya meaningful life. Bahwa lo mau hidup karena ada harapan bahwa lo akan punya meaningful life. Lo mau punya anak karena lo mau punya meaningful life. Lo mau punya status, kekuasaan, karena mau punya meaningful life. Lo mau have sex karena itulah meaningful life buat lo, to taste, to feel.

Kalau emang iya, then, deep inside, our hidden motive yang terdalam mungkin gak seharusnya disembunyikan, bukan? Meaningful life is a great word, isn’t it?

Unmasking

Sebagai penutup, let me tell you what is a meaningful life for me: gue belum memutuskan. It’s on the tip of my tongue, tapi belum cukup bijak untuk mau mengucapkan gue rasa.

But I can share to you my fear. One of my raw motives:

I’m not afraid to be alone, but I’m afraid to be lonely.

 

Happy holiday, semuanya.

Amanda.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s