Review Movie: Daysleepers (2018) by Paul Agusta

Jadi ceritanya kapan itu gue sempet liat Kineforum Kemang ada jadwal putar untuk film Daysleepers alias Kisah Dua Jendela karya Paul Agusta.

Baca sinopsis dan trailernya, terus gue tertarik gitu karena ceritanya tentang kaum urban Jakarta dan kejenuhan di rutinitas kerja gitu deh. Itu somehow mirip2 sama novel yang lagi gue garap (Judul sementara: The Two Runaways — 4 tahun lamanya dan ga selesai2), gue lagi berjuang banget untuk dapet feel-nya lagi, karena begitulah nasibnya novel yang lama gak disentuh, lo udah berubah dari diri lo 4 tahun lalu yang mencetuskan cerita itu, ceritanya masih sama, lo masih tau start dan endingnya, but the pain and the joy aren’t the same anymore.

Napa gue jadi tjurtjol? Anyway, pokoknya gue minat nonton. Tapi kagak sempet.

Nah terus tau2 lihat di IG kalau si Daysleepers mau diputer jadi showcase di CGV Grand Indo, sekitar… akhir Oktober lalu? Yauds deh, itu hari Sabtu langsung cusss beli 2 tiket via gotix, terus nyulik kakak gue ikut nonton.

images (2)

Andrea

Tersebutlah Andrea, seorang trader saham yang bekerja di shift malam (eh bener ga sih dia trader saham?). Perbedaan siklus siang dan malam di Amerika dan Indonesia membuat Andrea yang berdomisili di Jakarta harus rela bekerja di saat semua orang sedang terlelap. Jam kerja Andrea dimulai pukul 9 malam saat rekan kerjanya telah bersiap untuk beristirahat bersama keluarga di rumah, dan Andrea baru akan kembali ke rumah di saat adzan subuh berkumandang.

Setiap harinya, Andrea akan bangun di lepas sore. Menggosok gigi, mandi, memilih pakaian yang akan dia kenakan hari itu, menyiapkan bekal roti, mengobrol sejenak dengan adiknya dan berangkat ke kantor menggunakan taksi online.

Satu2nya manusia yang Andrea sapa di kantor setiap harinya hanya petugas yang berjaga di lobi gedung. Setelahnya Andrea akan menaiki lift menuju lantai kantornya, dan menemui ruangan kantor yang sudah gelap gulita.

Andrea akan menyalakan lampu, nonton kartun sejenak, lalu memanaskan popcorn dan kopi, lalu bekerja memantau pergerakan saham. Sebelum pulang, dia akan membersihkan mejanya dari sisa roti dan popcorn, lalu mencuci pemanas kopi dan termos miliknya, mematikan lampu, sebelum pulang menggunakan taksi online dan kembali mengulang hari seperti itu.

Di kala jenuh menyerang, Andrea menguatkan diri dengan mengingat2 adik perempuannya yang sedang kuliah dan butuh biaya. Andrea dan adiknya hanya tinggal berdua, dan Andrea merupakan satu-satunya sumber penghasilan di keluarga.

Suatu hari, Andrea memandang keluar dari jendela di kantor tempatnya bekerja, dan menemukan jendela lain yang masih menyala. Seorang pria terlihat duduk di depan laptop. Menghabiskan waktu sepanjang malam di tempat yang sama. Seperti dirinya.

Andrea pun bertanya dalam hati, siapa dia?

Andrea
Andrea The Daysleepers – Kisah Dua Jendela by Paul Agusta

Leon

Setelah istrinya berpulang, Leon sempat kehilangan inspirasi untuk menulis. Namun waktu berlalu, dan royalti bukunya kian menipis. Leon masih punya tanggung jawab untuk membesarkan anak laki-lakinya–mereka hanya tinggal berdua. Jadi Leon bertekad untuk kembali menelurkan buku yang mungkin akan dilirik lagi oleh produser dan difilmkan.

Tapi semuanya harus dimulai dari rentetan kata di laptopnya. Dan Leon butuh mencari cara agar ide-idenya mengalir kembali.

Menyambut tawaran seorang teman lama, Leon menyambangi sebuah kafe di tengah Jakarta. Rasa kopinya lumayan, harganya tidak terlalu mencekik, suasananya lumayan sepi, ada wifi, listrik, dan tempat itu buka hingga pagi, jadi Leon memilih sebuah meja dan kursi yang menghadap sebuah jendela besar berlatarkan pemandangan Jakarta di waktu malam, dan bertekad mulai menulis lagi.

Malam pertama, Leon tak mendapatkan apa-apa. Tak ada kata yang keluar. Tak ada cerita yang menunggu untuk disampaikan. Nol besar.

Tapi Leon kembali di malam kedua, dan hari itu dia menemukan sesuatu yang ganjil di luar jendelanya. Ada satu jendela lainnya yang menyala di sebuah gedung yang gelap gulita. Sebuah siluet berjalan hilir mudik di dalamnya dan jendela itu tetap menyala di hari-hari selanjutnya.

Leon tidak tahu siapa orang tersebut, tapi dia akan memberinya nama, memberinya cerita, dan memberitahu pembacanya tentang siapa siluet dan apa yang membuatnya rela bekerja di saat semua orang terlelap di luar sana.

Dia akan mulai bercerita.

Leon daysleepers paul agusta
Source: https://www.whiteboardjournal.com/ideas/film/proyeksi-rasa-kesepian-oleh-paul-agusta-di-film-daysleepers/

———

Review

My sister hates it. Tapi gue lumayan suka sih. Kakak gue genre filmnya emang action dan butuh dialog banget, jadi saat disodori film yang banyak menunjukkan rutinitas, kejenuhan, dan minim dialog (terutama scene2 Andrea, karena dia beneran sendirian di kantor), Kakak gue langsung bosen2 gimana gitu.

Tapi gue ngeliatnya lumayan bagus sih, penontonnya jadi ngerasain kejenuhan Andrea, tapi dengan plot yang gak asal2an. Karena sungguh, gue juga udah eneg liat Andrea gosok gigi lagi, milih baju lagi, masak popcorn lagi, nyeduh kopi lagi. Andrea jenuh, gue eneg ampe ngebatin: “Andrea bisa gak hari ini bekalnya gak usah roti lagi? Makanlah capcay, for God’s sake, just take the d*mn capcay. Atau hari ini berangkatlah naik ojek, biarkan rambutmu tersapu2 angin sedikit. Dan jangan makan popcorn tiap hari. Belilah pisang single and eco-friendly yang bisa beli sembari liwat di minimarket. Atau ntar pas pulang mampir dulu pasar pagi beli jajanan pasar.”

Nonton aja ngatur, yes (dan yang diatur makanan semua). Tapi iya sih. Gue eneg banget. Sedikiiit aja ubah rutinitas and it will be fine. Gue ga paham kenapa Andrea bisa gitu terus tiap hari.

Jadi gue rasa tujuan dari pembuat filmnya tersampaikan: membuat penonton merasakan emosi aktor di film: jenuh. 

As for Leon, hidupnya Leon agak lebih berwarna sih dibanding Andrea. Leon masih ada temen ngobrol, kadang masih main catur, ketemu orang2 baru. Gue lumayan bisa relate sama dilema dan writer’s block dia, dan emang, pekerjaan kreatif itu, menulis, gambar, desain, apapun yang butuh ide, ngerjainnya emang paling enak malem. Ngerjainnya ditemenin camilan sama kafein (or hot chocolate and indomie for me). It works like magic.

So yes, gue suka juga karakter Leon.

 

Andrea Dinda Kanya Dewi Daysleepers
Source: https://www.indonesianfilmcenter.com/filminfo/detail/13794/kisah-dua-jendela

We are all lonely and tired

Adapun yang menurut gue rada kurang adalah, penggambaran kesepian dan rutinitas di karakter selain Andrea. Bahwa kesepian, kelelahan, kebosanan, perasaan stuck, itu gak cuma milik trader saham yang shiftnya malem kayak Andrea aja, atau milik Leon si pekerja kreatif yang butuh jadi night owl untuk cari inspirasi. Semua orang bisa merasakannya, bahkan di jam makan siang di kantin yang sesak, di antara karyawan lainnya yang berdesakan di transportasi umum.

Gue ya, kalau lagi pulang naik commuter line atau trans jakarta dan lagi gak kebagian tempat duduk (jadi gak bisa baca), hobinya ngeliatin muka orang, baju orang, sepatunya, terus nebak2 identitasnya, pekerjaannya, mimpinya, umurnya, and how that person’s day went. Jarang banget yang pulang bareng temen, biasanya sendirian gak saling kenal kiri ama kanan. Most of the time, mereka tidur–kadang pura-pura, kadang mangap beneran. Seringkali, mereka liat instagram sama balas chat. Tapi ada juga yang mandang keluar jendela and then beberapa kali, ada yang matanya berkaca2.

Sekali waktu, gue pernah lagi naik tangga JPO di cawang uki, baru aja mesen ojek online, terus liat mba-mba lagi senderan di JPO, satu tangan megang soft case berisi laptop, bahunya bawa tas gembol gede, mbanya pake rok span, terus lagi nunduk2 mijit2 kaki karena hari itu dia pake sepatu hak bertali.

Atau pernah juga liat mba2 naik kereta, rambutnya dicatok, make up (menurut gue) on point, blazer dan celana rapi. Tas besar di salah satu bahu. Tapi satu tangan nenteng tas kecil berisi sepatu haknya, sementara dia sendiri pake sepatu espadril yg bulet2 mendem.

Another day, gue melihat mas2 pake baju kantor, terus masi pake lanyard, tas laptopnya dia puter ke depan dada, berdiri gelantungan tapi tetep baca buku sambil desak2an di kereta, gak peduli dia udah kegempet ampe pintu.

Or that friend of mine yang ambil cuti seminggu dari kantor cuma buat belajar bahasa Inggris lebih mendalam lagi karena dia pengin apply S2. And this time, dia pengin beneran lolos dan dapet.

Hal yang sama yang gue temukan di jam makan siang, baik di mall atau pusat jajanan kaki lima. Di lift kantor yang masuknya butuh nitip KTP atau yang boleh langsung lenggang kangkung aja. It’s everywhere.

We are all lonely, tired, stuck, and bored. It’s a state of mind, not an environment. Dan itu berarti ga cuma Andrea aja. Some of us find ways to lessen the boredom, some of us don’t know how to handle it. Dan menurut gue mungkin pesan filmnya akan lebih bagus kalau dihubungin ke sana juga sih. Akan bisa lebih relate aja ke penonton secara umum. Sekadar shoot wajah2 orang yang nunggu bis, yang juga kerjanya shift malem, di akhir film, juga udah oke.

Anyway, gue berasa kembali inget sama perjuangan gue sendiri, alasan kenapa gue mau nulis The Two Runaways dulu, kenapa tokoh Dilla sama Aryan muncul (tetep ya promo). Meski dari segi naskah dan dialog ada yang bisa lebih dipoles, mungkin nambahin twist supaya bisa mengimbangi rasa bosan (yang emang disengaja) yang dihidangkan selama film, gue cukup puas dan hepi nontonnya.

Ini trailernya, semoga suka dan sempet nonton juga ya:

Tinggal Selamat Pagi, Malam aja nih gak sempet2 mau nonton -_- Nunggu main di Kineforum lagi ah.

Mandhut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s