Review The End of the F***ing World

end-of-the-world

Gue lemah untuk drama/film bertema coming-of-age, apalagi yang tokohnya quirky. Itulah mengapa sampai sekarang pun gue masih cinta mati sama The Perks of Being a Wallflower-nya Stephen Chbosky, dan gue rasa itu juga mengapa gue lumayan suka sama 13 Reasons Why-nya Netflix yang udah niat direview tapi masih mentok jadi draft mulu berbulan2 =)), ntar ya cari waktu buat digodog lagi and then mungkin beneran gue post :P.

Anyway, kali ini gue mau bahas serial remaja Netflix The End of the F***ing World.¬†Gue pribadi tertarik nonton karena judul dan karakternya: Two misfits against the world. I’m so sold.

Ratingnya dari gue… 8 dari 10 kali, ya. Temanya sedikit dark dan sinis, latarnya dunia remaja british, komedinya lumayan lucu dan kerasa real. Yang bikin gue ngurangin nilai adalah endingnya yang agak kurang sreg di hati, sisanya oke2 aja.

Continue reading “Review The End of the F***ing World”

Topic 9 : Tjinta.

Cinta ya bukan Tinj*. Tolong jangan ampe salah baca.

Btw itu bisa salah baca ceritanya apa sih? emang waktu kecil belajar alfabet gimana caranya? coba cerita

*mengalihkan*

Masmot! lo aja deh yang cerita tentang dunia percintaan lo!

“lagi sibuk.”

…….

Ah baiklahh ini topik datang dari ndutyke. huaks huaks huaks. Percayalah sebanci2nya gue soal spotlight, ada beberapa hal yang bikin gue pengen ngumpet ke belakang panggung, dan salah satunya adalah percintaan. Tapi karena udah diminta dan #15DaysBlogging itu semacam refleksi kehidupan, jadi kayaknya emang kurang kalau ga ada topik cinta barang seiprit. Jadi marilah. Toh, sooner or later, pasti ada aja yang minta topik ini.

*memandang laut ibu pertiwi yang luas*

Jadi kali ini saya akan bagi2 resep dimsum ceker. Udah tau belum bahannya? ceker dan mungkin kukusan apa rebusan, air mendidih juga, semuaaa punyaaa? beres beres, ada yang belum punya ceker? pake tempe dulu aja bu.

*dikeplak*

*ketawa2 miris di pojokan*

Continue reading “Topic 9 : Tjinta.”