Random Juni 2014

First of all, saya mau mengucapkan selamat berpuasa bagi yang menjalankannya, selamat beribadah, semoga ibadahnya full, maksimal, khusuk, dengan niat tulus hanya mengharap ridha Allah SWT. Semoga dosa2 diampuni, semoga amal diterima dan dilipatgandakan. Semoga doa2 dikabulkan, or better, diberikan yang terbaik. Semoga bulan Ramadhan membuat kita jadi mukmin yang lebih baik lagi :).

Mohon maaf ya kalau ada kata2 yang bikin sebel, bikin sakit hati, baik disengaja maupun tidak disengaja. Mohon diingat kalau gue – sama seperti sebagian besar manusia yang lainnya – berinteraksi dengan niat baik, tanpa ada tujuan untuk menyakiti. Tapi manusia punya lebih dan kurangnya masing2, mereka punya naik dan turun, mereka punya prinsip dan tujuan masing2, termasuk gue. Janganlah dendam karena pandangan dan motif yang bertabrakan, janganlah kesal hanya karena lo terlibat dalam proses pendewasaan gue yang gak pernah mulus jalannya. Gue gak segitu pentingnya untuk merusak hari – apalagi mengotori hati lo. Jadi di sini gue minta maaf dengan tulus dan penuh kerendahan hati :). Please, let it go. 🙂

And btw, Yay! udah Ramadhan aja! 😀 Abis ini mau cerita hal2 random dan jadinya agak panjang ya. Mau baca ampe abis, terimakasih. Kalau enggak, dicicil aja bacanya sambil ngabuburit hohoho.

Continue reading “Random Juni 2014”

Dear Sinetron Indonesia,

Note : tadinya postingan ini cuma sebagian dari postingan yang lain, tapi terus setelah tulis2 kok ternyata yang mau diomongin banyak benjet, jadilah dia postingan yang berdiri sendiri *nyengir kuda*

Dear Sinetron Indonesia,

KENAPA?! *zoom in zoom out zoom in zoom out*

Kira2 itulah inti dari apa yang akan saya tulis hari ini.

Continue reading “Dear Sinetron Indonesia,”

Jangan Fanatik,

Beberapa minggu ini lagi kepikiran soal beberapa public figure yang karena nila setitik, rusak susu sebelanga, alias karena mereka melakukan 1 kesalahan, lalu hancurlah karirnya, nama baiknya. Hal ini terutama terjadi untuk para ustad yang kian lama kian bertambah jumlahnya. Somehow, mereka juga jadi makanan infotainment, dan kesalahan mereka dianggap sebagai sesuatu yang lebih besar dibanding orang lain yang melakukan dosa yang sama. Semua karena, julukan ustad yang mereka bawa, mengharuskan mereka untuk lebih ‘suci’ dari orang kebanyakan.

Continue reading “Jangan Fanatik,”