Review Film Hollywood: The Shape of Water (2017)

Karena ini fantasi banget banget, nontonnya gak usah dipikirin, dinikmatin aja 😛

Elisa seorang tuna wicara, tinggal sendiri dengan menyewa kamar di atas sebuah teater bobrok. Suatu hari, Elisa menemukan fakta bahwa laboratorium tempatnya bekerja tengah mengurung makhluk amphibi yang menyerupai manusia.

Source: Review Film Hollywood: The Shape of Water (2017)

Advertisements

Review Film Hollywood: Lady Bird (2017)

Merasa terkungkung dalam keluarga dan kota yang membosankan, Lady Bird ingin segera lulus SMA dan kuliah di salah satu universitas Ivy League. Ini adalah kisah gadis remaja keras kepala di salah satu fase kehidupan terpentingnya: merasakan apa bedanya memaksakan diri menjadi dewasa dan terpaksa menjadi dewasa.

Source: Review Film Hollywood: Lady Bird (2017)

Review Drama Series: Phillip K. Dick’s Electric Dreams (2017)

Salah satu adegan favorit di Phillip K. Dick’s Electric Dreams (2017) *iye, judulnya emang gitu*:

Phillip K. Dick’s Electric Dreams bercerita tentang dunia masa depan. Dunia di mana mutasi genetik memungkinkan beberapa di antara kita untuk membaca pikiran satu sama lain. Dunia di mana manusia sudah berhasil menjelajahi setiap galaksi di langit.

Source: Review Drama Series: Phillip K. Dick’s Electric Dreams (2017)

Peduli Kekerasan Remaja dalam film “Posesif”

Masih belum move on, sih. Salah satu film remaja Indonesia terbaik yang pernah gue tonton. Di Iflix ada gak, ya? Mau ah cari terus nonton lagi >.<

Film Posesif yang berhasil meraih 3 Piala Citra atas kategori Best Director, Best Supporting Actor, dan Best Leading Actress ini memang tidak untuk dilewatkan. Utamanya karena kisahnya dengan dalam membahas topik yang cukup penting dan krusial untuk semua remaja, bahkan penting untuk jenjang umur yang lebih dewasa.

Source: Peduli Kekerasan Remaja dalam film “Posesif”

Review The Handmaid’s Tale

Jadi beberapa bulan ini sebenernya gue lagi banyak banget ketemu serial dan film layar lebar yang setelahnya masuk ke list all time favorite gue. Entah mungkin bosen karena 3 tahun belakangan drama korea melulu makanya nonton serial Hollywood ama British jadi agak norak (tapi udah cicil2 nonton drakor lagi kok, aku cuma butuh break sebentar huahahaha), pokoknya hidup lagi bertabur film2 dengan script bagus, jadi tiap minggu ada aja listnya apa yang harus ditonton.

Salah satu serial yang bagus dan fresh-nya (menurut gue) setaraf Black Mirror *karena cinta gue untuk Black Mirror tak berujung–huu gombal* adalah The Handmaid’s Tale.

A18cL9L1vVL._RI_.jpg

 

Continue reading →

Review The End of the F***ing World

end-of-the-world

Gue lemah untuk drama/film bertema coming-of-age, apalagi yang tokohnya quirky. Itulah mengapa sampai sekarang pun gue masih cinta mati sama The Perks of Being a Wallflower-nya Stephen Chbosky, dan gue rasa itu juga mengapa gue lumayan suka sama 13 Reasons Why-nya Netflix yang udah niat direview tapi masih mentok jadi draft mulu berbulan2 =)), ntar ya cari waktu buat digodog lagi and then mungkin beneran gue post :P.

Anyway, kali ini gue mau bahas serial remaja Netflix The End of the F***ing World. Gue pribadi tertarik nonton karena judul dan karakternya: Two misfits against the world. I’m so sold.

Ratingnya dari gue… 8 dari 10 kali, ya. Temanya sedikit dark dan sinis, latarnya dunia remaja british, komedinya lumayan lucu dan kerasa real. Yang bikin gue ngurangin nilai adalah endingnya yang agak kurang sreg di hati, sisanya oke2 aja.

Continue reading →